Jingga Istri Kedua

Jingga Istri Kedua
Tunangan


__ADS_3

Hari ini Adli akan melamar Jingga secara resmi. Syarat dari Pak Helmi telah dipenuhi oleh Adli dengan mendapatkan restu orang tua Jingga. Adli telah mengerahkan usaha untuk mempertemukan Jingga dengan ayahnya yang telah lama berpisah.


Saat ini, mereka sedang bertukar cincin. Adli menyematkan cincin di jari manis Jingga. Begitu pula sebaliknya. Semua tamu undangan memberikan ucapan selamat. Keluarga Lidia tidak diundang karena menurut Adli mereka yang telah membuat Jingga tersakiti tidak perlu lagi hadir di kehidupan Jingga yang baru. Walau pun mereka telah berjasa. Tapi Jingga telah membayar mahal dengan kebahagian yang telah dirusak oleh ulah Lidia.


Setelah bertukar cincin tamu undangan dipersilakan untuk menikmati hidangan. Mereka menggelar acara tunangan secara mewah di sebua ballroom hotel mewah yang ada di kota tersebut.


Violet pun diajak. Pak Harsha sedang menggendong Violet. Tapi Pak Helmi pun gemas ketika melihat wajah bayi itu. Kedua lelaki tersebut bergantian menggendong bayi mungil tersebut.


Rizky dan Mario sangat menikmati acara pesta yang diselenggarakan oleh kakaknya. "Menurut kamu, apa Bang Adli cocok sama Jingga?" tanya Rizky meminta pendapat adik bungsunya.


"Cocok," jawab Mario dengan mulut penuh makanan.


"Ck, elo kok belain abang sih Dek," protes Rizky.


"Kakak kalah cepet sih sama Bang Adli. Coba aja waktu itu kakak nembak lebih dulu, pasti kan Kak Rizky yang sekarang tunangan sama Kak Jingga," ucap Mario.


Setelah acara pertunangan itu, Adli meminta Jingga dan ayahnya menginap di hotel. "Mulai besok aku mau kamu pindah. Aku sudah siapkan rumah untukmu. Aku tidak bisa setiap hari ke luar kota," ucap Adli ketika dia berada di depan kamar Jingga.


Jingga mengangguk dan tersenyum. "Aku akan menurut apa katamu, Mas," jawab Jingga.


"Sekarang beristirahatlah! Besok akan aku antar kamu ke rumah barumu," tutur Adli. Tidak ada ciuman perpisahan atau ritual apapun. Adli dan Jingga masih sama-sama canggung. Hubungan mereka yang belum terlalu lama membuat Jingga malu jika dia berbuat lebih. Begitu juga dengan Adli. Dia tidak mau memaksa Jingga. Adli tahu Jingga masih trauma dengan hubungan pernikahannya dulu.


Jingga menghampiri Violet. Gadis kecilnya itu sedang bermain seorang diri di kamar hotel. "Mama akan menikah dengan Om Adli tapi kenapa mama tidak merasa bahagia ya Vio?"

__ADS_1


Jingga mencoba berbicara pada anak kecil yang belum genap berusia enam bulan itu. Jingga belum mencintai Adli. Dia menerima Adli karena ingin mengisi kekosongan hatinya. Dia janji akan berusaha mencintai Adli. Jingga ingin dia bisa move on dari Fabian.


Di tempat lain, Lidia sedang merajuk. Sudah berhari-hari semenjak kedatangan Erika, Lidia mendiamkan suaminya. "Ayolah Lidia sampai kapan kamu akan membisu seperti ini?" protes Fabian pada sang istri.


"Diam, Mas. Aku masih marah karena kamu berselingkuh dengan wanita itu," jawab Lidia.


"Dia wanita malam yang tak sengaja aku temui di bar. Lagi pula dia yang menggodaku saat aku sedang mabuk berat." Fabian berusaha membela diri.


"Kalian tidur bersama mana bisa aku memaafkan perbuatanmu dengan mudah," kata Lidia.


"Lidia kamu lupa aku juga pernah tidur dengan Jingga, tapi sikapmu tidak secemburu sekarang?" selidik Fabian.


"Karena aku tahu Jingga wanita baik-baik bukan wanita ja*lang seperti wanita yang kemaren datang ke sini?"


"Entahlah," jawab Lidia ketus. Dia berdiri kemudian pergi meninggalkan suaminya begitu saja.


Fabian meraup wajahnya frustasi. Dia tidak tahu cara apalagi yang bisa membuat Lidia memaafkan dirinya. Sesaat kemudian Fabian menerima pesan singkat yang memberitahukan bahwa Jingga telah bertunangan dengan Adli. "Sial," umpatnya kesal sambil memukul sofa yang dia duduki.


"Kenapa harus dengan laki-laki itu, Jingga. Kenapa secepat ini kamu melupakan aku?" Fabian makin kacau karena dia bermasalah dengan wanita-wanitanya.


Keesokan harinya, Adli mengantar Jingga dan ayahnya ke rumah baru yang dijanjikan oleh Adli. Mereka juga mengajak Violet. "Tara... Ini rumahnya. Semoga kamu suka," ucap Adli.


Jingga tersenyum haru. "Mas, rumah ini terlalu bagus. Apa aku pantas menerimanya?" tanya Jingga ragu. Walau ukuran rumahnya tidak terlalu besar dan terdiri dari satu lantai, tapi kesan mewah bisa dilihat dari penataan interior yang minimalis dan elegan.

__ADS_1


"Kenapa tidak? Oh ya Pak silakan masuk!" Adli tidak melupakan ayah mertuanya. Sedangkan Violet saat ini ada di gendongan ibunya.


Adli menunjukkan kamar Jingga kemudian dia beralih ke Pak Harsha. "Terima kasih banyak, Nak. Kamu banyak membantu kami," tutur Pak Harsha yang merasa banyak berhutang budi pada calon menantunya itu.


"Tidak perlu sungkan, Pak. Anggap saya seperti anak bapak sendiri," jawab Adli dengan sopan.


Usai mengantarkan Jingga, Adli kembali bekerja. Dia hanya datang untuk visit sebentar kemudian pergi setelah memastikan tidak ada masalah di toko furniture miliknya itu.


Toko yang dikelola oleh Adli dan ayahnya itu sudah ada turun temurun di keluarga mereka. Bahkan ada beberapa cabang yang dibangun di luar kota.


Ketika Adli pulang ke rumah, dia terkejut dengan kehadiran seorang wanita yang tidak dia sukai. Wanita yang telah lama bercerai dengan ayahnya. Dia adalah istri kedua Pak Helmi dan ibu dari Mario. Namun, Adli tidak pernah akur dengan wanita bernama Karin itu.


"Ngapain dia ke sini?" tunjuk Adli ke arah Karin.


"Kamu masih sombong seperti dulu, Adli," ujar Karin.


"Kak, mama mau tinggal bareng kita di sini," kata Mario dengan wajah ceria. Adli terkejut.


"Apa?"


"Hanya untuk beberapa hari karena rumahnya sedang direnovasi," imbuh Helmi. Dia pun tidak suka jika Karin berada di rumahnya. Namun, demi menjaga perasaan Mario, Helmi mengizinkan mantan istrinya itu tinggal untuk beberapa hari.


"Terserah papa. Tapi aku tidak mau ada keributan yang dia ciptakan. Aku tahu mantan istri papa itu bukan wanita yang mudah dihadapi," sindir Adli. Helmi pun berpikir sama.

__ADS_1


__ADS_2