
Setelah tiga hari dua malam, Jingga akhirnya siuman. Adli saat itu sedang tidur. Dia lelah menunggui istrinya. Jingga sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa usai kondisinya baik-baik saja.
Jingga belum bisa banyak bicara karena masih lemah. Dia hanya mengusap kepala suaminya pelan. Adli yang merasakan sesuatu di kepalanya menjadi terbangun.
"Jingga, kamu sudah sadar?" Arli menciumi tangan istrinya. Matanya berkaca-kaca karena merasa senang.
Jingga meraba perutnya. Dia sadar kalau anaknya sudah tidak ada. "Anakku?" tanya Jingga sambil meneteskan air mata.
"Mereka lahir dengan selamat meski kelahirannya secara prematur. Dua-duanya laki-laki," ungkap Adli. Jingga merasa lega.
"Aku ingin lihat mereka," ucap Jingga dengan lirih.
"Nanti kalau kamu sudah pulih akan aku bawa kamu melihat mereka," jawab Adli.
Setelah itu dia mengabari keluarganya. Papa Erik juga diberi tahu oleh Jingga karena kebetulan dia bekerja di rumah sakit tempat Jingga dirawat. Siang ini dia langsung mengunjungi mantan istri putranya itu.
"Aku sangat bersyukur kamu selamat, Jingga. Selamat karena telah melahirkan dua anak jagoan yang lucu. Aku sempat melihatnya," kata Papa Erik. Jingga dan Adli tersenyum. Mereka memang sedekat itu dengan Erik.
Pria paruh baya itu tak berlama-lama berada di ruangan Jingga karena dia harus kembali bekerja. Ketika dia hendak keluar, Erik berpapasan dengan Wanda. Keduanya menjadi canggung saat bertemu secara langsung. Sebelumnya mereka selalu bertengkar. Setelah tahu perasaan Erik, Wanda jadi merasa aneh dan selalu ingin menghindar jika bertemu dengannya. Bukannya membenci tapi lebih ke salah tingkah.
__ADS_1
Adli dan Jingga saling bertukar pandang ketika melihat Erik dan Wanda yang sama-sama malu-malu. "Ma, masuk aja!" Suara Adli memecah kecanggungan itu. Erik berlalu sementara Wanda masuk mendekat ke arah Jingga.
"Bagaimana kabar kamu hari ini?" tanya Mama Wanda. Jingga tersenyum.
"Dia sudah mulai membaik, Ma. Kata dokter kalau perkembangannya semakin bagus besok sudah diizinkan pulang," jawab Adli mewakili Jingga.
"Syukurlah." Ada perasaan lega di hati Mama Wanda. "Oh ya, di mana Violet? Kenapa kamu tidak menitipkan dia padaku?" tanya Wanda.
"Sementara Violet ada di rumahku, Ma. Dia aku titipkan ke Rizky," jawab Adli.
"Apa dia tidak kerepotan? Bawalah dia ke rumahku. Aku akan menjaganya selama Jingga sakit," ucap Mama Wanda dengan tulus. Fia memang sudah terbiasa menjaga Violet. Bagaimana pun dia juga anak Fabian.
"Bicaralah di sini!" perintah Wanda.
"Aku tidak bisa. Di sini terlalu banyak orang berlalu lalang. Bagaimana kalau kita ke kafe depan rumah sakit?" usul Erik. Sejujurnya Wanda bisa menebak apa yang akan dilakukan Erik. Entah kenapa dia merasa berdebar.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Erik ketika mereka sampai di kafe tersebut. Tidak banyak yang berkunjung ke kafe itu. Hanya beberapa gelintir orang yang makan langsung pulang. Namun, kondisi tersebut malah menguntungkan Erik.
"Langsung saja! Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Wanda penasaran.
__ADS_1
"Sejujurnya aku ingin kita kembali menjadi suami istri," jawab Erik to the point. Dia memang sudah menyiapkan diri untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung. Entah akan ditolak atau diterima, dia akan memikirkannya nanti.
"Kamu yakin?" tanya Wanda. Dia tidak percaya Erik benar-benar menyatakan keinginannya untuk kembali membina rumah tangga dengannya. Erik mengangguk.
"Bukankah kita sama-sama sendiri? Lagi pula misi kita sama." Ucapan Erik membuat Wanda bingung.
"Misi apa?" tanya Wanda.
"Membahagiakan cucu kita," jawab Erik. Wanda menjadi terharu ketika mendengar ucapan Erik. Tapi dia tidak percaya diri karena mengingat perbuatannya yang pernah membuat mantan suaminya itu sakit hati.
Perselingkuhan yang dilakukan Wanda secara terang-terangan membuat Mama Wanda merasa bersalah. "Apa kamu tidak takut kalau aku akan berkhianat lagi?" tanya Wanda ragu.
Erik menghela nafas. "Aku tidak berfikir kamu akan mengulangi kesalahanmu. Padahal kamu telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki diri." Wanda jadi tertampar ketika mendengar ceramah Erik.
Wanda berpikir sejenak. "Kalau kamu percaya padaku aku bisa apa?" Erik mengerutkan keningnya. Dia masih belum bisa mencerna ucapan Wanda.
"Aku mau menikah dengan kamu, Mas," ungkap Wanda. Erik senang bukan main, dia seperti anak muda yang baru jadian dengan pacarnya.
Erik menggenggam tangan wanita yang kini resmi jadi calon istri tersebut. "Aku akan melamar kamu secara resmi jika Jingga dan anaknya sudah kembali." Wanda mengangguk paham.
__ADS_1