
Erik menampar Lidia ketika mendengar ucapannya. "Papa kecewa sama kamu Lidia. Papa kira kamu wanita yang kuat dan tegar. Ternyata ada udang di balik batu. Jangan-jangan dari awal kamu yang merencanakan pernikahan Fabian dan Jingga," tuduh Erik.
"Pa, itu tidak benar," sangkal Lidia. Diva yang tak mau ikut campur memilih pergi meninggalkan kakaknya. Dia juga tidak mau terlibat dengan urusan rumah tangga Lidia.
Erik tak mau mendengar penjelasan menantunya. Lidia mengejar Erik. "Pa, jangan salah paham!" bujuk Lidia.
Erik menoleh. "Papa sengaja mendatangi kamu agar kamu mengizinkan Jingga untuk tinggal di rumah kalian. Papa tahu kandungan Jingga sedang bermasalah jadi papa tidak mau terjadi apa-apa padanya. Tapi ternyata papa mendengar kelakuan busuk kamu!" tunjuk Erik. Dia kecewa berat pada Lidia.
Bahu Lidia meluruh. Saat ini dia tidak bisa memaksa Erik untuk mendengarkan penjelasannya. Maka Lidia membiarkan Erik pergi.
Erik segera memasuki mobil. Dia menghubungi Fabian. "Kamu di mana Fab?" tanya Erik.
"Aku sedang berada di rumah baruku bersama Jingga, Pa."
Hati Erik menghangat ketika mendengar jawaban anak sulungnya. "Syukurlah! Papa ingin kamu terus berada di samping Jingga," pesan Erik pada Fabian.
Setelah itu Erik menutup teleponnya. Tiba-tiba dada Erik terasa sakit. Dia pun menghentikan mobil secara tiba-tiba. Erik meremat kain di dadanya. Rasanya begitu sakit.
Lalu seseorang mengetuk pintu mobilnya. Sesaat kemudian Erik tak sadarkan diri. Orang yang mengetuk pintu itu menyadari terjadi sesuatu pada pemilik mobil sehingga dia membuka mobil tersebut secara paksa. Erik dilarikan ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, kebetulan David lewat ketika perawat sedang mendorong Erik yang terbaring di atas brankar. David pun bertanya pada perawat tersebut.
"Apa yang terjadi?"
"Dokter Erik diduga terkena serangan jantung, Dok," jawab perawat tersebut.
David pun membiarkan Erik dirawat. Sementara itu dia mencoba menghubungi April, menantunya. Kemudian April menghubungi kakaknya, Fabian.
"Kak, papa masuk rumah sakit karena serangan jantung," kata April memberi tahu.
"Apa? Mana mungkin? Beberapa saat yang lalu aku baru saja mengobrol dengannya melalui sambungan telepon." Fabian tak percaya pada perkataan April.
"Cepatlah datang ke rumah sakit!" perintah April pada Fabian.
__ADS_1
"Mas, ada apa?" tanya Jingga.
"Papa kena serangan jantung. Aku akan ke rumah sakit," jawab Fabian.
"Aku ikut, Mas."
"Tidak." Jingga merasa sedih ketika Fabian keberatan saat dia ingin ikut suaminya.
Fabian menghela nafas. "Sebaiknya kamu beristirahat sayang. Aku akan mengajak kamu setelah papa sadar. Oh ya, aku akan kirim barang-barang kamu ke sini," ucap Fabian dengan lembut. Jingga mengangguk paham.
Setelah itu Fabian langsung menuju ke rumah sakit. Di sana April tengah menunggu di depan ruang ICU. "Pril, bagaimana keadaan papa?" tanya Fabian pada adiknya.
"Mas Aksa sedang menangani papa. Kakak tenanglah!" kata April memberi tahu. "Mana Jingga atau Kak Lidia?" tanya April ketika tak melihat kedua istri Fabian.
"Jingga aku suruh istirahat di rumah. Kalau Lidia aku tidak tahu. Aku belum mengabari dia karena aku panik jadi dari rumah Jingga aku langsung ke sini," ungkap Fabian.
"Kakak ke rumah kontrakannya Jingga?" tanya April.
Fabian mengangguk. "Berjanjilah agar kamu tidak bilang pada Lidia. Dia melarangku menemui Jingga." April mengerutkan keningnya. Aneh, itulah yang ada di pikiran April. Karena sebelumnya yang April tahu Lidialah yang mendesak agar Fabian menikahi Jingga.
"Sejauh ini sudah baikan. Kita tinggal menunggu papa sadar," jawab Aksa.
"Apa aku boleh melihatnya?" tanya Fabian.
"Nanti saja! Tunggu papa dipindahkan ke ruang rawat pasien," cegah Aksa. Fabian pun menurut saran adik iparnya itu.
Sore ini Jingga akan memberikan les privat pada Mario seperti biasanya. Helmi, ayah Mario sengaja membayar mahal Jingga agar prestasi Mario di sekolah bisa meningkat.
Jingga pun keluar tanpa memberi tahu pada Fabian karena laki-laki itu pun tak berada di sana sekarang. Jingga menaiki taksi menuju ke rumah Mario.
"Hai, Jingga," sapa Adli. Laki-laki itu sengaja pulang cepat karena dia tahu jadwal Jingga sore ini memberikan les pada adik bungsunya.
"Hai, Marionya ada?" tanya Jingga.
__ADS_1
"Ada. Masuk!" ajak Adli.
Di ruang tengah, Rizky tengah bersantai sambil menonton televisi. "Bu Jingga," sapa Rizky pada teman seprofesinya itu. Jingga mengangguk hormat.
"Tahu gini tadi kita barengan saja," kata Rizky.
"Jingga, ayo aku antar ke kamar Mario," sela Adli. Rizky mengepalkan tangannya ke atas. Adli balas menjulurkan lidah. Kakak adik beda dua tahun, pantas kalau mereka bagaimana teman sebaya.
"Mario," panggil Adli.
Mario berjalan dengan malas ke arah kakaknya. "Tidak ada PR hari ini, jadi lesnya libur dulu." Mario hendak menutup pintu tapi Adli menahannya.
"Jangan coba-coba menolak perintah ayah. Ingat Bu Jingga ini adalah orang kepercayaan ayah. Kamu bisa dilaporkan pada ayah jika dia mau. Jangan harap kamu bisa main games lagi jika itu terjadi," ancam Adli.
Mario mengerucutkan bibirnya. Dia pun terpaksa membiarkan Jingga masuk. "Jingga, jika dia usil padamu, bilang saja padaku!" ucap Adli seraya melirik ke arah Mario. Jingga tersenyum. Setelah itu Adli meninggal Jingga.
Sejak kemaren Jingga berpikir agar memberikan pelajaran pada Mario dengan suasana yang nyaman. Jadi Jingga berencana untuk membuat Mario terbiasa dengannya. Jingga melihat-lihat foto keluarga yang ada di kamar Mario.
"Jangan sentuh apapun yang ada di kamar ini!" bentak Mario.
"Kenapa aku tidak pernah melihat ibumu?" tanya Jingga pada Mario.
"Ibuku sudah lama pergi," jawab Mario dengan wajah sendu. Jingga jadi mengerti kenapa Mario sangat badung. Dia kekurangan kasih sayang ibunya.
"Sejak kecil aku juga hidup terpisah dengan orang tuaku," kata Jingga. Mario menoleh. Dia tampaknya tertarik pada kisah hidup Jingga yang dia anggap tak jauh beda dengannya.
"Kenapa?" Pertanyaan Mario membuat Jingga tersenyum tipis. Itu artinya dia berhasil mengambil perhatian anak itu.
"Orang tuaku bercerai lalu mereka menikah lagi dan melupakan aku karena mereka punya keluarga baru," jawab Jingga. Mario tidak menyangka nasib Jingga lebih menyedihkan darinya.
"Kamu berbohong kan? Aku tahu kamu ingin membuat aku terharu dengan ceritamu," tuduh Mario.
Jingga tersenyum smirk. "Aku pun berharap begitu. Seandainya saja aku tidak perlu mengalami kejadian yang membuat aku menderita sejak remaja," ucapnya dengan wajah sendu. Jingga jadi teringat akan masa lalunya yang menyedihkan.
__ADS_1
Andai saja waktu itu keluarga Lidia tidak menampung dirinya, mungkin dia bisa jadi hidup terlunta-lunta di jalanan.
Mario melihat dengan seksama. "Bisakah kita menjadi teman?" ucap Mario secara tiba-tiba.