
"Baik lah semua apa sudah siap, kita akan segera mengelilingi daerah sini. " Teriak buk Intan.
Semua anak anak itu nampak dengan semangat karena mereka akan menelusuri daerah perkemahan yang masih tergolong asri itu, disisi lain Aleska dengan malas berjalan mengikuti rombongan nya.
"Lo kenapa skaa mabok lagi, pagi pagi dah manyun. " Ucap Indah.
"Gak papa agi mager aja. " Sahut Aleska malas.
Mereka terus berjalan dengan jalanan yang masih berbentuk tanah itu pemandangan dipagi hari benar-benar sangat lah indah, kicauan burung dan suara sunyi alam terbuka.
Kenan berjalan sembari memperhatikan Aleska yang masih saja menekuk wajahnya, mungkin dia masih kesal dengan kejadian malam itu.
"Wahhh udaranya benar-benar asri guys... " Pekik seorang siswa.
"Iyaa gak rugi lah kita disini.. " Timpal yang lain.
Mereka berjalan terus menelusuri hutan itu dengan senang dan semangat, beberapa tumbuh yang hidup liat pun menjadi pemandangan lain untuk mereka.
Terlihat suara gemuru air di sebrang sana, para guru sudah sering pergi ke tempat itu sejak alumi pertama jadi mereka sudah hapal betul tempat didalamnya.
"Pak kek ada air terjun yaaa.. " Pekik Indah dengan senyuman lebarnya.
"Iyaa sebentar lagi kita sampai ada air terjun mini di sebelah sana, tapi sebelum itu mari kita istirahat dulu. " Gumam pak Dodi guru matematika mereka.
Akhirnya mereka duduk dibawa pohon besar yang rindang ditemani dengan angin yang sejuk dan suara kicauan burung dan monyet, mereka terduduk lelah sembari meminum air yang sudah di siapkan.
Mereka saling berbicara dengan sangat seru tanpa terkecuali Aleska yang mulai menikmati pemandangan indah bumi perkemahan yang juga bersebelahan dengan hutan yang terawat.
Aleska megikat rambutnya keatas dan menampakkan leher jejangnya yang mulus, Kenan yang sedari tadik diam menatap Aleska tak berkedip. Aleska nampak cantik dengan rambut terikat tinggi.
Kenan memperhatikan kalung yang berada di leher Aleska sama persis dengan kalung yang dulu dia berikan pada teman kecilnya, namun Kenan tidak terlalu peduli karena yang memiliki kalung itu tidak hanya dirinya.
__ADS_1
"Namun jika benar itu kalung ku, bearti Aleska adalah Aleska kecil ku. Aku harus membuktikan kalau kalung itu adalah milikku dulu. " Batin Kenan.
Aleska yang sedang tertawa bersama sahabat nya kemudian merasakan sesuatu berada di punggung nya, dia merasa sesuatu sedang berjalan di tubuh nya.
Aleska mulai tidak nyaman dengan binatang yang terus berjalan di punggung nya, kemudian tangan nya bergerak ke dalam bajunya dan menyentuh sesuatu yang agak lembab.
"Apa an nih kok kek lembab gitu... " Gumam Aleska mulai panik.
"Kenapa loh Aleska.. " Ucap Indah.
Aleska mulai berteriak karena sesuatu itu terus berjalan di punggung nya sebagai anak anak itu juga ikut panik saad melihat Aleska, kemudian Laras mengintip apa yang ada dibalik baju Aleska.
Laras berteriak takut dengan hewan yang sedang bergerak di punggung sahabat itu.
"Laras apa an tuh jangan bikin gue panik" Pekik Aleska.
Kemudian kehebohan terjadi di rombongan itu melihat itu Kenan mendekati Aleska yang sudah menangis karena takut, namun saad kenan ingin membuat baju Aleska menolak karena dirinya adalah seorang pria.
"Baik baik buk Intan tolong kau periksa, sebelum gadis ini membuat kekacauan di rombongan kita. " Gumam Kenan menjauhi Aleska.
"Ada dua ekor lintah pak di punggung Aleska. " Gumam Bu Intan pelan.
Para guru pun agak panik namun membuat suasana menjadi lebih tenang dengan mengatakan itu bukan sesuatu yang bahaya.
Kenan mendekati Aleska dengan korek api ditangan nya.
"Stop pak Kenan, anda ingin apa saya tidak mau anda menyentuh saya. " Pekik Aleska.
"Aleska biarkan pak Kenan membuat sesuatu di punggung mu nak, karena jika ibu yang melakukan nya ibu tidak bisa. " Sahut bu Intan ngeri.
"Memang apa yang ada di punggung saya buk.. " Gumam Aleska takut.
__ADS_1
Kenan menghampiri Aleska dan menyuruh anak anak yang lain untuk menjadi dirinya, Kenan membuka sedikit kaos Aleska dibagian atas untuk membakar bintang itu.
Kenan terlihat kesusahan saad akan membakar binatang itu karena hewan itu ada di tengah-tengah punggung nya, mau tidak mau Kenan akan menyuruh Aleska untuk membuka bajunya.
"Bisakah kau membuka baju mu. " Ucap Kenan seketika.
Aleska terkejut dengan permintaan Kenan yang menurutnya sangat lah vulgar, Aleska berbalik dan marah pada Kenan.
"Anda jangan kurang ajar ya pak, disini ada kepala sekolah juga. " Pekik Aleska.
Kenan mengeluarkan ponsel miliknya kemudian membalikkan tubuh Aleska dan Memotret nya lalu memberi tahu Aleska apa yang sedang ada dipunggung nya itu.
Aleska terpekik kaget saad melihat poto dua ekor Lintah sedang menikmati dirinya hal itu hampir membuat gadis itu jatuh pingsan untuk Kenan cepat menangkap tubuh gadis itu.
"Pingsan nya nanti saja sekarang cepat buka bajumu. " Gumam Kenan.
"Tapiii didepan mereka semua. " Gumam Aleska.
Kenan yang tahu maksud Aleska kemudian menyuruh semua orang untuk berbalik dan tidak melihat ke arah Aleska, Kenan juga memberikan jaketnya kepada Aleska untuk menutupi bagian depan tubuh nya.
Dengan rasa malu dan takut Aleska membiarkan Kenan menyingkap kaosnya ke atas dan sudah pasti Kenan melihat tubuh mulus nya dengan leluasa.
Kenan menatap punggung Aleska dan terdiam sesaat kemudian dia mengerjabkan mata lalu mulai membakar binatang itu, Aleska terpekik saad api itu mengenai punggungnya dan Kenan yang tahu akan meniupnya agar tidak terasa sakit.
Dua binatang itu sudah berhasil lepas dari punggung Aleska kemudian Kenan menutup kembali tubuh Aleska yang terbuka, Kenan menarik nafas nya dalam mau bagaimana pun dia laki-laki normal melihat hal seperti itu akan membuat dirinya terbang jauh.
"Sudah selesai binatang itu juga sudah mati. " Balas Kenan.
Aleska bernafas lega mendegar ucapan Kenan namun disisi lain dia sangat lah malu karena Kenan sudah melihat sebagai dari tubuh nya.
"Pak Kenan jantung aman pak? " Celetuk seorang anak laki-laki sembari terkekeh.
__ADS_1
Mereka semua tertawa dengan kajadian yang sangat memalukan bagi Aleska, pipinya kian memerah dan bersemu malu.
Disisi lain seorang anak laki-laki tidak suka dengan kejadian tersebut bahkan dirinya tidak menganggap hal itu lucu dan pantas bagi seorang guru.