
Tristan terus merengek meminta perut adelia untuk di buka. Dalam pikirannya, Abangnya nakal karena menyembunyikan oleh-oleh di perut kakak iparnya.
"Hadeh, ini bayik!" Varel jongkok untuk menyeimbangi tinggi badan sang adik yang masih merengek.
"Dengar Tristan sayang, maksud abang oleh-oleh nya itu calon bayi. Abang sama kakak cantik mau kasih ponakan buat kamu. Tunggu ya tujuh bulan lagi, nanto Tristan ajak main," Varel coba menjelaskan.
"Bayi? Ada bayi?" tanya Tristan yang seketika diam dari tangisnya.
Kini giliran Adel yang menyahut, "Iya, Nanti Tristan jadi ada teman main. Tapi, harus nunggu dulu sampai dedek bayinya lahir," jelasnya lembut.
"Lebih tepatnya saingan, bukan teman bermain," ucap Varel. Untung saja Triatan tak paham dengan maksud sang kakak. Anak itu masih melihat perut Adelia. Berpikir bagaimana bisa ada bayi di sana.
"Mah, ada bayi!" Tristan menoleh pada ibunya.
"Beneran ini? Kalian nggak lagi ngeprank mama kan?" tanya Bu Lidya memastikan.
Varell baru akan menjawab, namun segera Adelia cegah. Ia mengisyratkan kepada suaminya untuk diam. Sudah di pastikan kalau suaminya yang bicara akan ambyar jadinya. Bari sampai rumah saja sudah membuat Triatan menangis.
"Iya bu, alhamduliallh udah dua bulan, jalan tiga bulan sekarang. Makanya jadwal kepulangan kami harus di undur sampai dokter mengijinkan," jelas Adelia.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya bisa pamer cucu! Nggak ada yang bakal ledek mama lagi yang katanya mama nggak mau ngalah sama anak karena hamil Tristan. Nggak ada yang ngatain punya Varell karatan saking tuanya belum pernah di pakai. Nyatanya tokcer, langsung jadi. Mau mama tampar mereka yang suka ngeledek dengan kabar bahagia ini," celoteh bu Lidya. Yang mana sebenarnya mengungkapkan perasaanya yang ia pendam sendiri selama ini.
Hamil dan melahirkan diusianya bukanlah hal yang semua orang bisa memaklumi. Tetap saja ada yang nyinyir karena tidak atau bekum merasakan berada di posisi bu Lidya. Belum lagi status Varel yang sampai diatas kepala tiga belum juga memdapatkan jodoh sering menjadi bahan bulan-bulanan teman arisan bu Lidya.
"Kok kedengarannya menjengkelkan ya, teman-teman mama itu. Saking tua dan karatannya itu loh, menyakitkan sekali di dengar. Padahal mereka kalau ketemu aku udah kayak ukat keket, nempel mulu bawaannya. Varel saranin deh mama ganti circle pertemanan. Cari ibu-ibu majelis taklim, kayaknya lebih aman. Malah bagus diusia mama gini, bekal buat menghadap," ucap Varel yang gemas sendiri dengar cerita bu Lidya tentang salah dua temannya yang julid.
" Menghadap siapa nih maksudnya?" tanya bu Lidya.
"Yang ngasih hidup!" jawab Varel.
"Dasar emang ya? Baru pulang udah bikin emaknya darah tinggi! Kamu doain mama cepet nyusul kakak kamu, gitu?" sembur bu Lidya.
"Canda ma, gitu aja keluar tanduk. Varel berdoa supaya mama panjang umur, biar bisa mama bisa bantu rawat anak-anak aku nanti, bahkan Varel berdoa sampai Varel jadi kakek, mama masih ada di antara kami, makanya mama harus sehat-sehat. Jangan pikirin teman mama yang julid itu, biar aja, dia julid kita bahgia, migrain migrain dah ruh kepalanya biar!" Varel memeluk erat ibunya tersebut.
Bu Lidya berdecak," Ck, dasar anak nakal!" ucapnya tersenyum. Dari sudut matanya keluar cairan bening, tanda betapa bahagia dan harunya karena sang putra sulung kini benar-benar telah menemukan kebahagiannya.
" Nakal-nakal gini udah pintar buat anak, ma," ucap Varel.
"Selamat ya, udah mau jadi papa," ucap bu Lidya tulus.
Adelia yang melihat pemandangan itu, ikut terharu.
"Lepas!" Tristan mencoba memisahkan ibu dan kakaknya yang sedang pelukan layaknya teletubies..
"Apa sih ini bayi! Merusak suasana aja!" omel Varel.
"Mama Tlistan, tuh!" ucap anak itu.
"Mama abang juga kali!" ucap Varel tak terima.
Tristan manyun, "Mau peluk juga!" ia merentangkan kedua tangannya.
Varel langsung mengangkat Tristan ke delam gendongannya, "Makin montok aja ini bayi satu. Di kasih makan apa sama mama? Besi, ya?" celoteh Varel sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Tak lupa ia menggandeng tangan Adel," Jangan sampai istriku ketinggalan," ucapnya pada Adel sembari mengedipkan sebelah mata.
__ADS_1
Adel tersenyum lalu mengusap lengan suaminya tersebut.
"Dah turun, itu oleh-oleh buat Tristan ada di koper warna hitam, nanti minta mama buat buka," ucap Varell sembari menurunkan Tristan.
Namun, bagi anak itu tetap saja oleh-oleh di perut Adelia yang paling menarik, "Ndak mau! Mau yang di pelut kakak tantik! Napa cembunyiin di pelut bayinya? Tlistan mai liat, abang!" anak itu mulai kembali merengek.
"Nyesel gue bahas oleh-oleh lagi," gumam Varell.
......
"Mandi, sayang?" tanya Varell saat ia dan Adel sudah berada di dalam kamar mereka.
"Sebentar lagi, Bang. Rasanya masih jet lag!" ungkap Adelia.
Varell duduk di samping sang istri lalu memeluknya, "Sekarang mau apa? Makan sesuatu?" tanya Varell. Ia meletakkan dagunya di bahu Adelia.
"Mau istirahat aja, capek banget. Udah kangen banget sama kasur ini, kasur ternyaman," jawab Adelia.
"Ya udah, abang mandi dulu, kalau gitu," ucap Varel. Ia bangun lalu mencium bibir Adel sekilas sebelum ke kamar mandi.
........
Sore hari....
Sehabis mandi, Adelia dan Varel duduk santai di ruang tamu sambil mengobrol.
"Nanti anak kita mau di kasih nama siapa?" tanya Varel. Ia kini tengah berbaring dengan berbantalkan paha Sang istri.
"Ya siapi aja dua, siapa tahu nanti kembar," celetuk Varel.
"Emang bang udah ada nama?" tanya Adel.
"Udah, namanya...." belum juga Varel menyebutkan, bu Lidya sudah datang ikut bergabung.
"Lagi pada ngobrolin apa?" tanya bu Lidya.
"Nama anak Varell ma, mama mau tahu belum?" tanya Varel balik.
" Ya belumlah, kmu belum kasih tahu mama. Siapa emang?" tanya bu Lidya.
"Rahasia, kepo! Si donat gula mana? Nggak kelihatan,"
"Masih tidur. Kecapean nangis dia tadi gara-gara kamu, udah mau punya anak tapi kelakuan masih kayak anak-anak," sindir bu Lidya.
"Iya emang masih anak mama kan? Itu apa ma?" matanya fokus ada sebuah kotak yang di bawa oleh bu Lidya.
"Hadiah buat menantu mama karena udah kasih mama cucu," jawab bu Lidya. Ia mengangsurkan kotak tersebut kepada Adelia.
"Buat aku, buk?" tanya Adelia.
Bu Lidya mengangguk.
Adel membuka kotak tersebut yang ternyata isinya satu set berlian.
__ADS_1
"Ma, ini terlalu berlebihan. Terlalu mahal, Adel nggak bisa terima, mama simpan saja, ya?" ucap Adel.
Bu Lidya menyentuh tangan Adel, "Ini tidak sebanding dengan apa yang kamu berikan untuk anak mama, yaitu kebahagiaan yang kamu berikan buat anak bandel ini, terima kasih, sayang," ucapnya tulus.
"Sama-sama, buk. Buat Adel abang adalah kebahagiaan Adel juga. Sebenarnya nggak perlu kasih apa-apa buat Adel," ucap Adel.
"Udah, simpan saja sayang. Itu nggak ada apa-apanya sama koleksi berliannya mama. Nggak kerasa mama mah ngasih segitu. Iya, kan ma?" ucap Varel.
"Awas ya, jangan kamu suruh jual buat beli susu anak nanti," timpal bu Lidya.
Varel nyengir, "Padahal baru kepikiran buat nyicil beli popok," selorohnya, yang mana membuat bu Lidya dan adel berdecak bersamaan.
"Kalau itu kan tanggung jawab abang sebagai papanya," ujar Adel.
"Iya, sayang," sahut Varel lembut.
"O ya, kalau kamu pengin sesuatu, bilang aja. Jangan kamu pendam. Manfaatin suami kamu di masa ngidam, jangan biarkan dia santai-santai. Cuma keenakan buatnya, buat dia juga merasakan susah saat ngidam," kata bu Lidya kepada Adel.
Adel hanya mengangguk setuju.
" Ih mama, ajarannya sesat!" ucap Varel.
" Kakau Varel yang ngidam gimana mah, mama mau kabukin nggak?" lanjut Varel.
" Emang kamu ada ngidam juga? Pengin apa?" tanya bu Lidya.
"Teman aku yang punya shorum mobil baru ada mobil baru mah, bagus. Beliin donh, aku ngidamnya di beliin mobil baru sama mama," Varel nempel-nempel pada bu Lidya.
"berapa harganya?" tanya bu Lidya.
"Cuma dua belas em!"
Plak! Bu Lidya langsung mengeplak anaknya tersebut, "Di kira duit segitu tinggal gunting aja? Atau bisa di ganti daun semua?"
"Nanti cucu mama ileran gimana,"
"Itu mah akal-akalan kamu aja!" omel bu Lidya.
Varel terkekeh, "Minta om John ah, suami mama itu aku tahu duitnya banyak. Usahanya aja tercecer dimana-mana. Minta bapak tiri ah!" ucapnya.
"Jangan ngadi-adi kamu! Itu untuk masa depan Tristan! Lagian John kerja banting tulang dari muda sampai sekarang, malah mau kamu palakin hasilnya," omel bu Lidya.
"Terus yang mikirin masa depan Varel siapa, ma?" Varel menunjukkn muka sok sedih yang mana membuat Adel geli sendiri.
"Udah setua ini, udah bukan waktunya mikirin siapa yang nanggung masa depan kamu, tapi sudah waktunya kamu yang mikirin masa depan anak dan istri! Jangan kayak orang susah deh, kamu nggak semiskin itu sampai tega mau malak orang tua!"
"Tuh kan, istriku aja belum buka suara soal nhidam udah dikasih berlian. Aku baru mangap langsung kena ceramah dari sabang sampai merauke. Padahal nggak minta di buatkan candi dalam semalam aku tuh!"
Adel menggelengkan kepalanya, keinsengan sang suami memnag tiada duanya," Abang," peringatnya.
Varel terkekeh," Canda sayang," bisiknya.
...****************...
__ADS_1