Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 65


__ADS_3

Varel tak langsung pergi ke rumah sakit. Kini ia duduk merenung di dalam mobilnya. Ia merasa jiwanya kini kosong seolah tak bernyawa. Bagaimana tidak, wanita yang ia cintai kembali pergi meninggalkannya.


Varel dan Adel sama-sama terluka, sama-sama berusaha merelakan satu sama lain demi menguatkan hati masing-masing.


Meski berat, pada akhirnya Varel kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ini waktunya dia meneruskan dan memaksimalkan pengorbanannya selama ini. Ia sudah melajukan mobilnya dengan lambat, namun pada akhirnya tetap sampai juga pada titik dimana ia tak bisa lagi menghindar.


Varel turun dari mobilnya setelah memarkirkannya di parkiran rumah sakit. Dengan langkah tak semangat ia menuju ke ruangan dimana semua orang sudah menunggunya, termasuk penghulu yang akan menikahkannya dengan Andini.


Dan kini ia sampai juga di depan ruang rawat Andini. Varel berhenti tepat di depan pintu yang tertutup tersebut. Ia menghela napasnya panjang. Ia melakukannya beberapa kali sebelum tangannya perlahan bergerak membuka pintu tersebut.


Semua orang, termasuk Bara dan om John yang sudah berada di sana beberapa saat lamanya, memfokuskan pandangan mereka kepada Varel yang melangkah masuk ke ruangan dengan tersenyum. Yang tentu saja sebagian dari mereka tahu jika itu hanyalah senyum kamuflase untuk menyembunyikan hatinya yang sudah tak berbentuk.


"Mas, kamu datang?" ucap Andini. Ia tersenyum melihat kedatangan Varel. Wanita tersebut kini sudah mengenakan gaun yang di rancang oleh Adelia. Sangat pas dan cantik di tubuhnya. Make up tipis tak mampu menutupi wajahnya yang pucat.


Varel mendekat, "Maaf ya, aku baru bisa memberikan pernikahan yang jauh dari kata layak buat kamu, nanti kalau kamu sudah sehat, kita bisa mengadakan pesta seperti impian kamu," ucapnya, ia merasa bersalah karena mereka akan menikah dengan cara sangat sederhana, tak ada pelaminan seperti yang sudah di rencanakan karena keterbatasan keadaan Andini saat ini.


Andini tersenyum," tidak apa-apa, mas. Ini sudah lebih dari yang aku harapkan," ucapnya. Dalam hati ia sebenarnya merasa bersalah pada pria tersebut.


"Maafin aku, mas," hanya itu yang bisa Andini katakan sebagai penyesalannya.


Varel mengangguk, ia tahu maksud wanita tersebut,"Kita menikah sekarang, ya? Pak, kami siap!" ucap Varel, pandangannya beralih kepada pak penghulu.


Dan kini Varel dan Andini sudah berada di depan penghulu dengan batas meja persegi panjang di dalam ruangan VVIP rumah sakit tersebut. Varel Kembali menghela napasnya beberapa kali untuk menguatkan hatinya sebelum tangannya menjabat tangan pak penghulu di depannya.


Di tempat lain, tepatnya masih di Bandara, rupanya Adel belum pergi. Tadi ia hanya beralasan kepada Varel kalau pesawat yang akan ia tumpangi sudah siap berangkat, tapi itu pesawat tujuan lain, bukan tujuannya.


Saat ini ia sedang menatap layar ponselnya yang tersambung dengan ponsel Syafira dengan sesekali mengusap air matanya.


Meski rasanya akan luar biasa sakit, Adel ingin sekali ikut menyaksikan pria yang ia cintai itu menikah. Ia ingin ikut mengaminkan doa untuk mereka. Melihat langsung pria itu mengucap ijab untuk wanita lain, akan membuatnya benar-benar sadar jika itu bukanlah mimpi belaka. Sadar kalau Varel memang bukan takdirnya.


"Kalau kamu nggak kuat, mending nggak usah dek. Kakak akhiri saja VC-nya, ya?" ucap Syafira lirih. Entah apa yang adiknya inginkan, sekuat itukah hatinya? Sampai seperti ini. Ia saja yang tak mengalaminya sendiri merasa hancur, apalagi Adel. Entahlah terbuat dari apa hati sang adik, Syafira tak habis pikir.

__ADS_1


"Jangan kak, aku nggak apa-apa kok, aku sudah mengikhlaskan," ujar Adel tersenyum dalam lukanya.


"Dek!" justru Rasanya Syafira yang ingin menangis meraung-raung sekarang. Mungkin inilah definisi cinta yang benar-benar tulus, yang bisa merelakan dan mengikhlaskan meski hati terluka.


Adel menggeleng, ia tersenyum, "I'm fine," ucapnya.


Namun, tak Adel pungkiri kalau hatinya teriris saat Varel mulai mengucapkan ijab. Matanya terpejam, dalam hatinya ia mendoakan yang terbaik untuk Varel dan meminta kelapangan dada untuk dirinya sendiri. Pria itu kini sah menjadi suami wanita lain.


"Dik, are you okey? Tunggu kakak ya , kakak akan ke sana, kakak nggak bisa ngelepasin kamu begitu saja!" ucap Syafira.


Adel menggeleng, "Tidak usah, kak. Aku udah waktunya pergi, kakak jaga diri baik-baik, ya. Nanti aku sering-sering hubungi kakak. Maaf, Adel selalu buat kakak khawatir. Assalamualaikum,"


Tangis Syafira pun pecah saat Adel memutus panggilan videonya. Ia langsung keluar ruangan karena tak ingin membuat keributan di dalam karena tangisnya.


Bara langsung menyusul sang istri. Ia langsung menarik Syafira ke dalam pelukannya, membiarkan wanita yang sudah melahirkan kedua buah hatinya tersebut menangis dalam pelukannya.


"Anak itu keras kepala sekali, mas. Bahkan dia nggak ngijinin aku buat antar ke Bandara. Aku tahu itu karena Adel nggak sanggup lihat aku sedih. Dia memilih meninggalkan aku lagi, dia memilih menyembuhkan lukanya sendiri," ucap Syafira di sela tangisnya.


Sementara di dalam ruangan, entah apa yang saat ini Varel rasakan setelah kata Sah terdengar memenuhi ruangan tersebut. Yang jelas, ia merasa saat itu dunianya benar-benar sudah berakhir. Ia hanya mengikuti instruksi yang di berikan oleh penghulu dengan pikiran yang sudah blank. Bahkan saat Andini menyalami tangan dan menciumnya, Varel dengan kesadarannya membayangkan kalau yang melakukannya adalah Adelia. Ia akui itu salah, tapi setidaknya itu adalah sedikit obat rasa sakitnya.


Setelah semua urusan selesai, penghulu pamit karena masih ada pasangan lain yang menunggu untuk dihalalkan.


Bu Lidya langsung memeluk Varel dan memberikan harapan dan doa terbaiknya untuk sang putra. Ia juga memeluk Andini, dan juga mendoakan kebaikan untuknya.


"Maafkan Andini, ma. Maaf!" hanya itu yang bisa Andini ucapkan ketika wanita yang kini berstatus sebagai mertuanya tersebut memeluk dan mendoakannya dengan tulus.


Seluruh keluarga yang hadir pun bergantian mengucapkan selamat dan mendoakan pernikahan mereka sebelum pamit, menyisakan Sepasang pengantin baru tersebut. Karena tidak mungkin mereka terus berada di sana dan mengganggu kenyamanan rumah sakit, terutama Andini yang memang adalah pasien di sana yang butuh ketenangan.


Karena kondisi Andini yang memang masih lemah, Varel menggendong tubuhnya untuk kembali berbaring di atas ranjang. Ia duduk di samping ranjang Andini. Wajahnya datar, sesekali ia tersenyum kepada wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya tersebut yang terus menatapnya lekat.


"Mas, terima kasih sudah mengabulkan permintaanku. Maaf atas semuanya," Andini yang selama ini tak pernah menangis di depan Varel, yang selalu terlihat baik-baik saja, kini ia menangis.

__ADS_1


"Maafin aku," ucap Andini lagi. Selama ini bukannya di tak punya hati, bukannya dia tak tahu dan tak memikirkan bagaimana perasaan Varel dan Adel. Jika orang bisa melihat bagaimana isi hatinya, mereka akan tahu bagaimana selama ini ia menyimpan rasa bersalah terhadap dua manusia yang saling mencintai tersebut.


"Ssst, jangan pikirkan apapun. Sekarang aku udah jadi suami kamu, tidak ada yang perlu di maafkan. Jangan mikir yang macam-macam. Biar cepat sehat, kita akan segera ke Singapura untuk pengobatan di sana," Varel mengusap wajah Andini yang basah oleh air mata.


Andini mengangguk lemah. Ia menggerakkan tangannya, ingin meraih tangan Varel. Pria itu memberikan tangannya.


Andini tersenyum," Mas ganteng pakai jas pengantin itu," ucapnya.


Varel tersenyum tipis, "Kamu juga cantik pakai gaun itu," ia balas memuji.


"Aku tahu, Adel membuatkan gaun terbaik untukku. Sampaikan maaf dan terima kasihku untuknya, ya?"


"Nanti kalau kamu sudah sembuh dan dia kembali, kamu bisa mengatakannya langsung kepada orangnya,"


"Mas aja yang sampein. Wakilin aku, mas kan suami aku, aku tidak akan bertemu dia lagi,"


Varell mengaguk, "Baiklah," ucapnya. Ia bahkan tidak tahu apakah akan bertemu lagi atau tidak dengan Adel.


"Terima kasih. Aku sangat lelah,mas. Aku mau istirahat,"


Varel mengangguk, ia tahu sejak tadi Andini menahan sakitnya,"Tidurlah!" ucapnya.


"Boleh aku tidur dalam pelukan mas?"


Varel tak menjawab, namun ia langsung bangkit dari duduknya dan berpindah posisi duduk di ranjang. Ia membantu memposisikan kepala Andini untuk bersandar di dadanya, "Nyaman?" tanyanya, tangannya memeluk tubuh sang istri.


Andini mengangguk, "Nyaman. Aku tidur ya?" ucapnya lemah.


Varel mengangguk. Dengan nada bergetar, Varel berkata lirih,"Tidurlah, sayang,"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2