
#POV Adam
Akhir-akhir ini sikap Tiar sedikit berubah, di telepon sering sibuk bahkan jawabannya pun selalu ketus, aku bingung karena memang tidak tau alasannya mengapa dia bisa berubah secara tiba-tiba seperti itu.
Karena hal itu aku jadi berpikir buruk tentang dia, berpikiran dia sudah memiliki pria lain disana secara Tiar anaknya pintar, cantik, dan modis, siapa yang tidak tertarik dengannya.
Aku menjadi gelisah tak menentu efek dari hasil pikiranku sendiri takut apa yang aku pikirkan benar terjadi, tapi kembali aku yakinkan diriku bahwa Tiar bukan tipe wanita seperti itu.
********
Saat ini mungkin di Indonesia sudah lebih dulu pagi, jadi aku memutuskan untuk menghubungi Tiar melalui panggilan WhatsApp.
Sambungan telepon berdering beberapa kali tanpa ada jawaban.
"Halo" Suara parau terdengar dari seberang telepon.
"Selamat pagi sayang" Ucapku setelah dia mengangkat telepon.
"Pagi" Jawabnya singkat.
"Baru bangun tidur ya lemes amat jawabnya" Tanyaku penuh kelembutan.
"Iya" Lagi-lagi Tiar membalas singkat.
"Kok cuek gitu jawabnya?" Tanyaku lagi.
"Kan tau kalau baru bangun tidur" Ketusnya.
"Iya tapi apa harus jutek gitu?" Tanyaku masih berusaha sabar menghadapinya.
"......" Tiar hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan ku.
"Tiar?" Panggilku.
"Iya" Jawabnya singkat.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini kayaknya berubah? masih banyak tugas atau gimana?" Tanyaku lagi.
"Kamu kenapa sih pagi-pagi udah mau ngajak berantem Dam?" Bentaknya.
"Loh ngajak berantem gimana?" Aku benar-benar bingung dibuatnya.
"Aku lo biasa aja kamu bilang berubah" Jawabnya tambah ketus.
"Iya aku tau, jangan bentak-bentak ya? kan aku nanya nya baik-baik" Ujar ku menenangkannya.
__ADS_1
"Biasa aja, siapa yang bentak-bentak? lagian kamu nuduh yang enggak-enggak" Jawabnya enteng.
"Ya bukannya gitu, aku ngerasa aneh aja karena kamu akhir-akhir ini beda banget, marah-marah gak jelas tanpa aku tau alasannya, sering sibuk setiap aku hubungin" Jelas ku.
"Jadi sebenarnya kamu peka? kamu ngerasa?" Tanyanya.
"Iya, dan alasannya apa juga aku gak tau" Jawabku yakin.
"Alasannya udah jelas kok Dam, masak kamu masih kurang paham?"
"Apanya yang jelas? aku bahkan gak tau kenapa kamu bersikap seperti ini"
"Semua alasannya itu ada di kamu, harusnya kamu tanya sama diri kamu sendiri! udah lah kamu gak usah ngelak dan pura-pura gak tau lagi" ketusnya.
"Apa sih? aku masih gak paham, kemarin juga kamu bilang disini ada yang lebih baik dari kamu itu maksudnya gimana ya?" Aku masih bingung dengan apa yang dimaksudkan Tiar.
"Iya kan memang disana kamu ada main sama cewek lain, sebenarnya wajar sih ya kamu juga dari kecil sekolah disana jadi banyak kenalan dan pergaulan kamu pun beda, udah berapa kali kamu tidur sama dia?"
"Tiar jaga ya bicaramu! maksud kamu apa? jangan asal bicara! kamu perempuan"
"Loh emang iya gitu kan kenyataannya? emangnya kenapa kalau aku perempuan? aku gak berhak marah kalau tunangan ku ada main api dibelakang? aku harus bungkam? sementara kamu senang-senang disana?" Jawabannya semakin ngawur.
"Gila tau gak! omongan kamu tu semakin diladeni semakin menjadi!" Bentak ku berusaha menghentikan ocehannya.
"Kenapa? kamu gak terima sama yang aku bilang!" Dia semakin meninggikan nada bicaranya.
"Kurang jelas? sebelum Dita meninggal saat dia masih kritis aku telepon kamu buat sekedar ngabarin, dan kamu tau? yang angkat itu cewek Dam! dia bilang nanti aja teleponnya Adam masih tidur! kamu masih mau ngelak?!" Ujarnya.
"Tunggu! Dita udah meninggal? kapan?" Aku terkejut ketika Tiar bilang Dita sudah meninggal, karena sama sekali aku tidak mendengar kabarnya.
"Iya Dita udah gak ada hampir sebulan" Jawabnya sedikit tenang.
"Kok gak ada yang ngabarin?" Tanyaku penasaran.
"Memang apa perlunya ngabarin kamu kalau disana kamu masih sibuk sama wanita mu!" Ketusnya lagi.
"Hahaha" Aku tertawa ringan.
"Siapa yang suruh ketawa?" Dia sepertinya kesal karena aku tertawa receh.
"Ya kamu sih lucu, apa-apa itu harusnya ditanyain dulu baik-baik" Ujar ku.
"Udah gak perlu ya yang seperti itu dibicarain baik-baik!" Jawabnya ketus.
"Cewek yang kamu bilang selingkuhan ku disini itu salah besar, dia itu Gita keponakan papi yang artinya adik aku sendiri" Aku berusaha menjelaskan.
__ADS_1
"Alah gak mungkin lah, lagian ngapain dia di kamar kamu?" Jawabnya tak percaya.
"Itu bukan di kamar sayang tapi di kantor, dia yang bantuin aku ngembangin perusahaan papi disini karena dia pintar dan sudah berpengalaman dengan klien disini" Aku kembali menjelaskan.
"Kok aku gak pernah tau atau pun dikenalin?" Ujarnya.
"Ya karena dia sejak kecil udah disini, papanya asli orang Amerika makanya dia gak pernah di Indonesia kalau gak ada acara besar" Jawabku meyakinkan.
"Kamu gak lagi bohongin aku kan Dam?" Tanyanya masih tak percaya.
"Ya enggak dong masak bohong" Jawabku lembut.
"Tapi tetap aja kamu salah" Sangkal nya.
"Salahnya dimana lagi?" Tanyaku bingung.
"Ya salah karena gak ngabarin aku dan gak pernah cerita sama aku tentang Gita"
"Yaudah oke aku ngaku salah, udah sholat subuh belum?"
"Lagi engga"
"Oh lagi engga...."
"Dam buruan udah ditunggu diruang meeting"
"Iya duluan aja bentar lagi nyusul, em...sayang maaf banget ya aku ada meeting sama klien"
"Iya gak apa, yaudah aku matiin ya? bye..."
Setelah Tiar mematikan sambungan telepon aku langsung keluar ruangan untuk segera melaksanakan meeting.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pov Tiar
Aku segera bangun dan mandi karena hari ini jadwal kuliah sangat padat.
"Nanti pasti terlalu sibuk lupa ngabarin lagi, semenjak di Amerika Adam jarang banget ngabarin"
"Non Tiar sudah ditunggu dibawah"
"Oh iya Bik ini juga udah selesai sebentar lagi turun kok"
••••••••••••
__ADS_1
Sekitar jam sembilan aku sampai di halaman kampus kemudian memarkirkan mobil di tempat biasanya, hari ini sepertinya full sampai sore aku di kampus.
Aku berdiri membelakangi mobil sejenak sebelum masuk ke dalam aku memandangi tempat biasanya kami bertiga duduk dibawah pohon besar, kini sudah tidak terasa Dita pergi sudah hampir sebulan rasanya pun masih gak nyangka.