
Varel kini bisa bernapas lega karena ia tadi melihat sendiri jika wanita yang ia cibtai hingga detik ini tersebut baik-baik saja.
Meskipun pikirannya masih menerka-nerka kenapa Adel bisa tinggal dengan Shahila. Apakah ada hububgannya dengan Gema. Tapi, apapun itu, ia harus terima karena Adel berhak bahagia, sekalipun tidak bersama dengannya setelah semua yang terjadi.
Mungkin karena dulu Varel mengatakan tidak akan menunggu jika Adel pergi lagi, makanya wanita itu memilih melupakan dan memulai hidupnya yang baru.
Varel sadar, ia sudah terlalu menyakiti Adelia karena waktu itu lebih memilih menikahi Andini, meskipun itu juga bukan keinginannya saja, melainkan kesepakatannya berdua dengan Adel. Dimana mereka memilih untuk saling melepaskan tanpa kebencian.
"Kalau kamu udah nemuin kebahagiaan kamu, harusnya aku senang kan, Del? Seperti kamu yang merelakan aku menikahi Andini waktu itu, akupun harus merelakan kamu bahagia meskipun orang itu bukan aku," batin Varel di saat mobilnya berhenti di lampu merah.
Di sampingnya, Tristan sudah tertidur pulas tak lama setelah mereka keluar dari take away tadi.
"Ya, aku senang dan bahagia kok buat kamu, kamu memang berhak mendapat yang terbaik, Adelia," gumamnya mencoba menghibur dirinya sendiri.
Setidaknya keputusannya untuk benar-benar membiarkan Adel mencari kebahagiaannya sendiri tepat jika kini wanita itu benar-benar sudah bahagia dengan hidup barunya.
Tepat saat mobil memasuki halaman rumah, Tristan terbangun. Varel menggendongnya yang masih ngantuk masuk ke dalam.
Bu Lidya langsung menyambut kedua putranya. Sejak Adel pergi dan Andini meninggal, bu Lidya memutuskan untuk tinggal bersama dengan Varel. Ia mengkhawatirkan kondisi sang putra pasca semua yang terjadi. Terlebih, ia membutuhkan tempat yang tenang dan sedikit menghindarkan dari stress karena kehamilannya di usianya yang tak lagi muda waktu itu.
Dimana jika di Jakarta ia akan mendengar selentingan-selentingan yang membuatnya stress dari orang-orang sekitar. Belum lagi kepikiran soal bahayanya melahirkan diusianya yang sudah melebihi setengah abad. Om John yang mengalah dengan bolak balik ke Jakarta-kota B, pking tidak seminggu sekali pada weekend seperti ini.
"Ini pesanan mama," Varel menyerahkan paper bag di tangannya. Ada makanan yang ia beli tadi juga mainan Tristan.
"Tumben kamu nggak sambil ngomel-ngomel, biasa kalau dititipin apa langsung merepet!"
"Karena Varel lagi senang," ucap Varel yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Kening bu Lidya mengernyit heran, ini kali pertama ia melihat tersenyum setelah kepergian Adelia.
"Papa cenang, ketemu kakak tantik!" celoteh Tristan. Yang mana membuat bu Lidya semakin mengernyit bingung, "Kakak cantik, siapa?" tanya bu Lidya semakin penasaran. Siapakah gerangan yang berhasil membuat putranya kembali tersenyum meski belum terlalu lepas.
"Itu... Di hape papa! Kakak tantik! Papa cenyum-cenyum cendili dali tadi tlistan liat!" cerita Tristan berdasarkan apa yang ia lihat dan perhatikan tadi.
__ADS_1
Perempuan cantik di ponsel Varel? Sedikit berpikir bu Lidya langsung melebarkan senyumnya, "Benarkah? Kamu ketemu Adel?" tanyanya antusias.
Pasalnya bu Lidya juga tak oernah tahu kabar Adelia selama ini. Syafira selalu menolak membahas Adelia saat bu Lidya meneleponnya dan menanyakan kabar sang adik. Syafira hanya bilang jika Adel baik-baik saja. Sebagai seorang kakak, Syafira hanya ingin Adelia menemukan kebahagiaannya Tanpa terganggu oleh masa lalu.
Varel mengangguk.
"Akhirnya, dia kembali, sayang? Kapan? Sekarang dia tinggak dimana?" tanya bu Lidya.
"Varel nggak tahu, aku belum sempat ngobrol banyak, dia buru-buru tadi. Yang penting dia baik-baik saja, udah buat aku lega," sahut Varel dan bu Lidya mengangguk setuju.
Varel memilih melanjutkan langkahnya.
"Kakak tantik bilang, mau ke makam mama Tlistan!" adu Tristan pada bu Lidya tanpa dosa.
Sontak bu Lidya langsung membulatkan kedua matanya.
"Rel....?" bu Lidya meminta penjelasan pada Varel yang terpaksa menghentikan langkahnya.
"Kamu nggak jelasin?"
"Nggak sempat!" balas Varel yang kembali melangkah menuju ke kamarnya.
"Papa ikut!" seru Tristan sambil menarik kardus mainannya yang belum berhasil di buka. Sedekat itu memang Tristan dengan kakaknya. Jika Varel di rumah, anak itu akan terus mengikutinya kemana-mana. Bahkan kalau boleh ke toilet pun ingin rasanya ia ikut. Tak jarang juga anak itu minta mandi dengan Varel. Benar-benar mirip ayah dan anak.
"Berisik! Panggil papa lagi, aku marah nih!" ujar Varel.
"Ish, abang, dalak!" ucap Tristan. Meski demikian ia tetap mengikuti Varel hingga ke kamarnya dan pria itu membiarkannya.
Bu Lidya hanya menatap kedua putranya itu sambil geleng-geleng kepala.
"Jelasin Andini udah meninggal sempat, tapi jelasin siapa Tristan nggak sempat. Apa kamu malu mengakui Tristan adik kamu, rel?" gumam bu Lidya sedih. Namun, ia tak menyalahkan jika itu benar. Ia bisa mengerti posisi Varel. Pasti orang-orang akan meledeknya jika tahu Tristan adalah adiknya, bukan anaknya.
" Siapa yang malu?" tanya om John yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang bu Lidya. Bu Lidya menoleh, "Mas, kamu kapan datang?"
__ADS_1
"Baru saja, tumben nggak ada yang nyambut," Om John mencari Tristan yang biasanya akan berlari ke halaman untuk meyambutnya jika datang.
"Itu, anakmu lagi ngintilin kakaknya. Duduk mas, aku buatkan minum," kata bu Lidya.
"Duduk sini, aku mau bicara sebentar!" Om John menarik tangan bu Lidya supaya duduk.
"Aku nggak sengaja tadi dengar kamu ngomong kalau Varel malu dengan adanya Tristan. Dengar, sayang. Kehadiran Tristan diantara jita bukan sebuah kesalahan dan juga bukan sebuah aib. Dia itu rizki untuk kita dari Tuhan. Di usia kita yang tak lagi muda, Tuhan masih mempercayai kita untuk memiliki anak. Banyak di luar sana yang menginginkan berada di posisi kita yaitu menjadi orang tua pada usia subur mereka. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Lidya. Kita hanya perlu bersyukur atas rizki yang Tuhan percayakan kepada kita. Aku yakin, Varel tidak malu dengan adanya Tristan. Pasti kamu juga bisa melihat kalau dia begitu menyayangi adiknya. Jadi, buang pikiran negatifmu itu, yang hanya akan merusak kebahagiaan kita," kata om John dengan lembut. Ia tahu bu Lidya kadang masih merasa insecure dengan kehadiran Tristan. Banyak hal yang ia pikirkan. Hal itulah yang membuat om John menyetujui keinginan bu Lidya untuk tinggal di sana.
Bu Lidya mengangguk, ia menyeka air matanya yang menetes begitu saja. sungguh, bukan ia tak mensyukuri kehadiran putra kecilnya yang kini menjadi pelita dalam rumah tersebut. Ia sangat bersyukur, hanya saja terkadang rasa rendah dirinya sebagai manusia akibat omongan julid orang membuatnya merasa sedih.
"Aku buatkan minum dulu, mas," ucap bu Lidya dan om John mengangguk seraya tersenyum. Bu Lidya bakas tersenyum lalu berdiri.
Ya, benar yang di katakan om John, bu Lidya juga bisa melihatnya. Meski Varel sering menggoda adiknya, tapi pria itu sangat menyayanginya. Jika sang adik sudah menangis karena ia goda, Varel akan langsung menenangkannya.
Awal-awal saat tahu bu Lidya hamil, memang terasa berat untuk Varel menerima. Bukan karena ia tak mensyukuri apa yang sudah Tuhan percayakan pada ibunya, tapi ia lebih mengkhawatirkan kondisi sang ibu yang akan sangat rentan jika melahirkan di usianya saat itu. Hal itu sedikit banyak juga menyita pikirannya dan cukup membuat Varel stress.
Mengurus bu Lidya selam hamil, termasuk menuruti ngidamnya bu Lidya jika om John sedang tak berada di sana karena tuntutan pekerjaan, hingga melahirkan sedikit banyak mengalihkan perhatian Varel dari rasa sakit di hayinya akibat perpisahannya dengan Adelia.
Apalagi awal-awal setelah Tristan lahir, bu Lidya sempat sering sakit. Kehadiran Tristan menjadi pelipur lara hati bagi Varel. setidaknya ia bisa menekan sedikit egonya untuk mencari dan memaksa Adelia kembali padanya. Dan ia berhasil melakukannya dengan tidak mengusik wanita itu lagi karena sejatinya ia ingin Adel menemukan kebahagiannya.
Tapi, sekarang di saat takdir mempertemukan mereka kembali, keegoisan untuk memiliki itu kembaki muncul dalam benak Varel. Ia sangat berharap masih memiliki kesempatan, meski ia sadar wanita itu kini sudah menemukan kebahagiannya bersama pria lain. Mungkin.
Dugh!
lamunan Varel buyar saat maianan pesawat milik Tristan menabrak kepalanya.
"Ops, Colly abang, cengaja! Pilotna nih, ndak pintal!" celoteh Tristan seolah mengomeli pesawatnya.
Varel hanya menatap adiknya itu seraya mencebik.
...****************...
Note : yang komen masa bu Lidya masih bisa hamil dan melahirkan, nggak masuk akal dan bla bla bla. Di kehidupan real itu benar-benar bisa terjadi dan memang ada yang seperti itu.
__ADS_1