
Adel Tak sempat protes dengan apa yang di lakukan oleh Varel karena pria itu langsung menariknya dan suasana jalan cukup ramai saat itu karena weekend.
Sesampainya di mobil, Adel menatap tangannya yang masih di gandeng oleh Varel yang sedang mengambil kunci mobilnya di saku jaketnya.
"Ayo masuk!" ucap Varel setelah membukakan pintu mobil untuk wanita terspesial dihatinya tersebut.
"Bisa om lepaskan?" ucap Adel ia menunjuk tangannya menggunakan matanya.
"Eh, maaf!" ucap Varel yang langsung melepas tangannya dengan salah tingkah.
Adel tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Varel menggedikkan bahunya setelah menutup pintu mobil untuk Adel lalu masuk ke belakang kemudi.
"Om habis belanja?" tanya Adel saat melihat beberapa kakeng susu di jok belakang, sekedar basa basi untuk mengusir kecanggungan diantara mereka karena ini kali pertama mereka semobil setelah tiga tahun berpisah.
"Iya, susunya Tristan habis," jawab Varel.
Adel mengangguk paham. Mobil pun melaju menuju rumah yang tak jauh dari sana.
Tak butuh waktu lama, mobil Varel memasuki halaman rumahnya.
Mata Adel berkaca-kaca saat melihat rumah yang menjadi rumah impiannya sejak dulu tersebut tak banyak berubah setelah ia tinggalkan.
"Rumahnya masih sama, nggak banyak berubah," gumamnya.
"Karena aku nggak mau merubah kenangan bersama seseorang yang sangat berarti dalam hidupku di rumah ini. Meski hanya sebentar, tapi kenangannya tetap abadi di rumah ini," jelas Varel.
Perkataan Varel membuat Adel tertegun. Masih jelas dalam ingatannya saat pertama kali mereka bertemu di rumah tersebut.
"Kenapa?" tanya Varel yang melihat Adel sedikit tersenyum.
"Nggak apa-apa, hanya ingat dulu pertama kali aku ke sini," ucap Adel dan di bakas senyumn oleh Varel, "Masuk, Del!" ajaknya.
"Iya, om," sahut Adel. Ia mengekori Varel yang berjalan selangkah lebih cepat di depannya.
"Ma! Coba lihat siapa yang datang!" teriak Varel.
"Siapa memangnya?" sahut bu Lidya yang baru saja dari dapur.
"Adel... Sayang! Ya allah!" Bu Lidya langsung berlari mendekati Adel, "Ini beneran, Adelia?"
Adel tersenyum lalu mengangguk, "Iya buk, ini Adel," ucapnya.
"Ya ampun, ibuk kangen banget sama kamu, sayang,"
Adel langsung memeluk bu Lidya," Adel juga kangen sama ibuk. Maaf ya, Adel bandel nggak pernah kasih kabar sama ibuk," ucap Adel.
"Bahkan kakakmu juga tidak pernah mau memberitahu kabar kamu sama ibuk," adu bu Lidya sedih.
"Kemana aja kamu selama ini, sayang?" tanya bu Lidya, "Eh ayo duduk dulu, sampai lupa nggak nyuruh kamu duduk, ibuk terllu senang soalnya," bu Lidya menuntun Adel untuk duduk.
"Ngobrol dulu sama mama, ya. Aku mandi dulu sebentar, bau oli campur keringat, nggak enak!" ucap Varel sambil mengendus kaos yang ia kenakan. Adelia mengangguk, ia tahu kalau tadi Varel cukup berkeringat saat mencoba membenarkan mobilnya.
"Nggak lama kok!" Varel tersenyum sebelum menaiki tangga menuju kamar yang dulu menjadi kamar Adel.
Adel menatap punggung pria itu, hingga tak terlihat.
__ADS_1
"Ibuk buatkan minum ya, sebentar!" kata bu Lidya.
Suara bu Lidya membuyarkan lamunan Adel "Nggak usah repot-repot, buk," ucapnya sungkan.
"Nggaklah sayang, cuma air kok repot," bu Lidya meninggalkan Adel sendiri di ruang tamu.
"Ada tamu siapa buk? Sampai di buatkan minum sendiri sama ibuk, pasti spesial, ya?" tanya mbak sum.
"Iya, spesial banget. Calon mantu!" jawab bu Lidya tersenyum. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena kemungkinan hilal jodoh putranya yang tertunda sudah di depan mata. Semoga.
"Wah, yang benar buk. Penasaran saya seperti apa orangnya yang bisa meluluhkan hati mas Varel. Kirain mau menduda ting-ting terus, buk. Soalnya kan selama saya kerja di sini mas Varel nggak pernah terlihat ngajak cewek ke rumah, baru kali ini," ucap mbak Sum.
Bu Lidya tersenyum," tolong nanti bawakan camilan ke depan ya mbak, saya bawa minuman ini ke depan dulu,"
" Baik, buk. Sekalian saya pengin lihat calon istrinya mas Varel. Penasaran, hihi!" sahut mbak Sum.
.
.
.
Adel masih mengedarkan pandangannya, mengamati interior rumah tersebut yang masih sama dengan segala kenangannya saat bu Lidya datang.
" Di minum, sayang!" bu Lidya meletakkan segelas minuman rasa jeruk di depan Adel. Karena cuaca cukup panas sehingga minuman itu dirasa lebih sekedar dariada secangkir teh panas.
"Makasih, buk," balas Adel. Ia segera mengambil gelas itu dan meminumnya sedikit untuk menghargai usaha bu Lidya.
"Ibuk senang akhirnya kamu kembali, sayang. Kamu apa kabar? Ibuk sampai lupa tanya kabar kamu tadi,"
"Mana ada awet muda, makin tua iya. Selama ini tinggal dimana? Apa di New york lagi?"
Adel menggeleng, "Adel pergi ke Korea, buk. Pengin cari pengalaman lain di negeri ginseng itu,"
"Pantas, waktu Varel pergi ke New york, dia nggak nemuin kamu. Padahal semua tempat udah dia datangi waktu itu. Tapi kamu nggak kecantol oppa-oppa kan di sana?"
Adel menggeleng sembari tersenyum. Ia benar-benar tak menyangka kalau Varel pernah pergi ke New York, apa untuk mencarinya? Mungkinkah itu?
Bu Lidya tersenyum lega. Ia berharap masih ada jodohnya dengan Varel.
"Ini camilannya, nona!" ucap mbak Sum yang datang membawa snack.
"Makasih, mbak," sahut Adel ramah. Mbak Sum memperhatikan Adel sampai tak berkedip, "Pantas mas Varel rela menduda lama, cantik banget yang ini, nggak sia-sia kalau akhirnya dapat yang begini," gumam mbak Sum.
Adel langsung mengerutkan keningnya saat mendengar gumamna mbak sum tersebut.
"Mbak, kalau sudah ke dapur, itu tanaman belakang belum di siram juga," ucap bu Lidya yang mendengar gumaman pujian mbak Sum UntukAdel.
Bu Lidya menggekengkan keoalanya melihat mbak Sum kembali ke dapur membawa nampan yang tadi di bawa bu Lidya.
"Tristan mana, buk?" tanya Adel. Sejak tadi ia tak melihat anak itu.
"Lagi tidur di kamarnya, kecapean tadi habis pergi soalnya," jawab bu Lidya dan Adel hanya ber-oh-ria.
Bu Lidya memandang Adel, penasaran apakah Varel sudah menceritkam perihal Tristan atau belum. Apa perlu dia yang menceritakan, tapi juga takut salah.
__ADS_1
"Kalian ngobrolin apa?" tanya Varel smbik berlari kecil menuruni anak tangga. Oria itu terkihat kebih segar dengan rambut setengan basah, memakai kaos putih polos dan celana chinos berwarna krem.
"Belum banyak yang diobrolin, sih, baru tanya kabar aja," jawab bu Lidya.
"Emm, mama mau lihat Tristan dulu, mungkin sudah bangun. Ibuk tinggal sebentar ya?" bu Lidya semgaja memberi waktu untuk mereka berdua.
"Mau ngobrol, di taman?" tawar Varel.
"Boleh," sahut Adel tersenyum.
.
.
.
"Udah lama ibuk tinggal di sini, om?" tanya Adel. Kini mereka sudah duduk berhadapan di taman.
"Sejak ada Tristan, ibuk memilih menemani aku di sini," sahut Varel.
Sebenarnya Adel penasaran, tepatnya kapan Andini meninggal, apakah setelah melahirkan Tristan, atau belum lama. Tapi, untuk bertanya rasanya ia tak enak hati.
"Kamu memperpanjang kontrak rumah ini, om?" tanya Adel.
"Aku membelinya, karena yang punya rumah ini sempat ingin menjual rumah ini kepada developer, rumah ini mau di hancurkan. Jadi aku beli saja," jawab Varel.
"Pasti sangat mahal, pasti pemilik rumah menggunakan kesempatan untuk menaikkan harga dari harga yang sebenarnya, kan? Kenapa om nggak pindah aja, dan beli rumah yang harganyanya wajar, atau membuatnya," ucap Adel ia ingat bagaimana menyebalkannya pemilik rumah itu dulu.
Varel tersenyum tipis mendengar kalimat Adelia yang menggebu," Karena rumah ini penuh kenangan. Dan aku masih berharap akan membuat kenangan lebih banyak di sini dengan orang yang sama. Harga tak masalah," ucapnya yang mana membuat Adel langsung terdiam, menatap lekat pria di depannya tersebut. Tak menyangka sedalam itu arti kenangan mereka.
"Semarah itu sama aku sampai nggak pernah kasih kabar dan memutus komunikasi dalam bentuk apapun denganku? Sebesar itu aku menyakitimu, Adelia?" tanya Varel penuh sesal.
Adel menggeleng, "Aku nggak pernah marah dan benci sama, om. Om nggak salah, situasi yang membuat kita harus memilih jalan masing-masing. Bukankah aku yang memutuskan untuk pergi dari om? Jadi, aku nggak ada alasan buat marah,"
"Tapi kenapa harus benar-benar menghilang, Del? Aku bahkan hampir gila rasanya waktu itu,"
"Aku hanya ingin memberi om waktu untuk menerima Andini tanpa ada bayang-bayang ku yang akan membuat om sulit melakukannya,"
"Kamu tahu, kan kalau waktu itu kamu minta aku buat stay sama kamu, aku akan melakukannya tanpa pikir panjang,"
"Aku tahu itu, makanya aku tak melakukannya dan memilih pergi. Karena Andini membutuhkan om,"
"Lalu kamu, apa kamu nggak butuh aku?"
Adel diam, ia tak bisa menjawab. Karena pada kenyataannya dia juga tersiksa jauh dari Varel, "Andini lebih membutuhkan om, saat itu," ucapnya lirih.
Varel mengembuskan napasnya, "Kamu benar-benar ingin melupakan semuanya hingga merasa enggan kembali ke sini?" Varel ingat ucapan Adel dan Rasel tadi.
"Karena om sendiri yang bilang, tak akan pernah menungguku kembali,"
Deg!
Sedalam itukah Adelia memaknai ucapan Varel saat pria itu merasa kecewa karena Adel memilih pergi meninggalkannya waktu itu?
...****************...
__ADS_1