Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 98 (End)


__ADS_3

"Besok kita pulang, ya?" ucap Varel. Ia tengah bersiap untuk bertemu ivestor penting untuk hotel miliknya.


Varel sendiri heran dengan pola makan sang isteri akhir-akhir ini. Istrinya tersebut sangat tidak berselera makan, ia jadi tidak tega. Makanya setelah pertemuannya dengan investor hari ini, ia akan mengajak Adel kembali.


"Abang pakai parfum apa sih? Baunya nggak enak banget gini! Buat aku makin pusing!" ucap Adel sembari menutup hidungnya.


"Pakai parfum biasanya, yang kamu belikan waktu itu, sayang," sahut Varel.


"Yaudah, nggak usah di pakai lagi, baunya nggak enak gini bikin enek!"


Varel mengernyit heran, kenapa Adel akhir-akhir ini begitu sensitif. Bahkan kali ini wanita itu bicara dengan nada ketus.


"Baiklah, tapi sekarang abang harus pergi, kamu baik-baik ya di sini," Varel mencium bibir Adel sebelum pergi.


"Pulangnya bawain permen kapas! Aku ingin sekali memakannya!" teriak Adel. Varel berbalik dan mengangguk sembari memberikan mini love dengan tangannya.


Varel merasa kesabarannya akhir-akhir ini benar-benar sedang diuji oleh Adelia. Ada saja tingkah sang istri yang hampir saja membuatnya jengkel. Mulai dari susah makan yang membuatnya khawatir kalau istrinya sakit, sampai kejadian pagi ini dimana Varel harus mandi ulang hanya karena bau sabun mandi. Padahal baisanya ia memakai sabun itu. Belum lagi soal parfum tadi.


Varell sendiri juga heran dengan dirinya sendiri, ia menjadi sangat pencemburu tidak jelas beberapa hari terkahir. Padahal jelas-jelas Adelia tak mengenak siapapun di sana selain dirinya. Hanya melihat Adel bicara dengan lawan jenis saja membuatnya cemburu. Untung saja ia masih bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya kepada sang isteri atau akan mendapat omelan panjang lebar atas sikapnya yang tidak masuk akal tersebut. Tingkat keposesifannya semakin tak terkondisikan.


Seperti saat ini misalnya, dimana ia tak sengaja melihat sang istri tengah bicara dengan penjual permen kapas di taman yang berada di depan hotel tempat mereka menginap. Karena tak sabar menunggu di belikan oleh Varel, Adel memutuskan untuk turun ke taman dan membelinya sendiri.


Hanya karena penjual permen kapas berbentuk hati itu seorang pria yang lumayan tampan, Varel langsung di landa api cemburu. Padahal tidak ada indikasi perselingkuhan sama Sekali. Interaksi Adel dan penjual itu terlihat biasa saja.


"Kenapa nggak nunggu abang beliin? Sengaja ya pengin ketemu penjualnya?" tanya Varel saat mereka sudah beradad di dalam kamar hotel kembali.


"Apaan sih abang? Aku cuma nggak sabar buat makan ini permen, takutnya abang pulangnya lama. Kenapa marah?"


"Abang nggak marah, abang hanya..."


"Itu apa namanya kalau tidak marah, sewot gitu. Cemburu tuh pada tempatnya. Nggk cuma kali ini loh abang begini, kemarin juga sama manajer toko pas aku beli tas," ucap Adel.


"Ya makanya jangan bersikap aneh-aneh. Jangan terlalu ramah sama pria lain!" astaga, Varel langsung merasa bersalah, ini kali pertama ia berkata sedikit keras kepada sang istri. Tapi, hatinya yang sudah di landa cemburu tak bisa mengontrol kalimatanya.


"Abang capek! Mandi sana, aku udah pesan makan," ucap Adel. Ia meletakkan permen kapas penyebab perkara hari itu.


"Yang antar cewek apa cowok?" tanya Varel. Yang mana membuat Adel melotot tak percaya.


"Cowok, udah tua lebih tua dari om John!" jawab Adel asal.

__ADS_1


"Nggak jadi di makan permen kapasnya? Katanya pengin?" ucap Varel mengalihkan pembicaraan.


"Dah gak selera! Nanti dikiranya aku baper sama yang jual!"


Varel mencoba tersenyum, "Cieeee. Ada yang marah!"


"Nggak, udah sana mandi! Bau nih!" Adel. Mendorong pelan dada Varel ke kamar mandi.


Varel menghela napasnya, jangankan Adel. Iapun merasa kesal kenapa menjadi pencemburu tak jelas seperti itu. Bahkan setelah selesai makan pun kecemburuan Varel kembali kumat dimana Adel memesan kopi untuknya dan yang mengantar seorang pria.


Varel tidur miring dengan wajah memberengut. Adel merasa yang tidak beres bukan hanya dirinya melainkan snag suami juga. Tiba-tiba saja ia ingat sesuatu yang ia letakkan di laci nakas lalu tersenyum. Mungkin itulah sebabnya sikapnya dan sang suami terasa aneh akhir-kahir ini.


Adel merangkak naik ke ranjang, ia menyentuh lengan Varel yang tidur membelakanginya, "Abang sayang, udah dong cemburunya," ucapnya lembut.


"Abang nggak cemburu, hanya gak suka kamu menatap dan bicara dengan pria lain!" ucap Varel masih mode ngambek ceritanya.


"Itu namanya abang cemburu, karena abng cinta sama aku. Iya, kan?"


"Cintanya iya, cemburunya enggak benar!" sahut Varel.


"Hadeh, sama aja Ferguso!"


Yang mana membuat Adel terkekeh, kalau lagi mode cemburu begini, otaknya nggak kepake, pikirnya.


"Malah tertawa, gitu ya sekarang? Udah nggak cinta sama abang?"


Lama-lama gemas juga Adelia, "Ya udah kalau mau ngambek karena cemburu nggak jelas gitu. Harusnya kan aku yang ngambek!"


Adel bersedekap dada. Sepasang suami istri itu saling diam sambil melirik satu sama lain. Nggak mau marahan karena terlalu cinta, tapi ada juga gengsinya.


Varel kembali miring, Adel segera mencegahnya supaya tetap terlentang. Ia peluk Varel dan merebahkan kepalanya di dada suaminya tersebut,"Aku cintany cuma sama abang, jangan ragu akan cintaku abang," ucapnya lembut.


Varel mengusap kepala Adel lalu mencium puncak kepalanya, "Maafkan abang, abang juga cinta sama kamu. Melihat kamu di tatap pria lain, rasanya abang gak rela. Abang percaya denganmu, tapi tidak dengan mereka,"


Adel mengangguk, ia mendongak, mengusap rahang suaminya pelan, "Aku tahu kenapa akhir-akhir ini kita berdua bersikap aneh," ucapnya.


"Apa?" tanya Varel.


Adel bangkit lalu mengambil kotak kecil di laci nakasnya, "Mungkin karena ini sebabnya," Adel menyodorkan kotak tersebut kepada Varel.

__ADS_1


Varel duduk lalu menerima kotak itu dan membukanya. Diambilnya benda di dalam kotak tersebut.


"Apa ini?" tanya Varel masih belum mengerti.


"Itu tespeck abang, dua hari lalu aku telepon kakak, ceritain apa yang aku rasain akhir-akhir ini dan kakak suruh aku coba cek dan ini hasilnya," jelas Adel tersenyum. Ia menunggu reaksi suaminya. Namun, menunggu beberapa saat, Varel belum bereaksi. Pria itu masih belum mengerti maksud dari benda di tangannya.


Tak sabar dengan kelemotan reaksi sang suami, Adel pun gemas sendiri," Abang bakal jadi ayah, senang nggak?" tanyanya.


Varel menatap Adelia, "Maksudnya?"


"Itu tespeck hasilnya posisitif abang, itu artinya di sini ada calon anak kita. Aku hamil!" Adel mengusap perutnya yang masih datar.


Varel tertegun, "A-abang bakal jadi papa?" tanyanya memastikan.


Adel mengangguk, "Selamat ya, delapan bulan lagi abang bakal resmi jadi seorang papa,"


Varel menatap tespeck di tangannya tak percaya. Antara senang dan terharu menjadi satu. Matanya sudah berkaca-kaca saking bahagianya hingga ia tak bisa berkata-kata lagi.


"Abang nggak happy, ya?" tanya Adel.


Varel segera mengusap sudut matanya, ia sampai lupa dengan Adelia yang menunggu responnya. Di tariknya sang istri ke dalam pelukannya, "Abang terlalu bahagia sampai nggak tahu bagaiman harus bereaksi. Abang senang sekali, akhirnya,"


Varel menghujani wajah Adel dengan ciuman, "Terima kasih sayang, ini adalah hal paking membahagiakan buat abang, terima kasih," ucap Varel tiada henti.


Adel mengusap wajah suaminya, "Abang jangan nangis," ucapnya sembari menahan air mata karena ia pun ingin menangis rasanya. Tak menyangka respon sang suami sebahagia ini.


"Abang terlalu happy, sayang. Akhirnya, abag akan jadi papa. Abang berhasil, sayang. Terima kasih,"


Adel hanya bisa mengangguk ia tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagianya yang ia wakilkan lewat air mata.


Varel menyentuh perut Adelia, "Hello baby! Sehat-sehat ya di dalam sana, sampai bertemu delapan bukan lagi, sayang," ucapnya dengan nada bergetar karena terlalu bahagia.


Tidak ada kata yang ingin Varel ucapkan selain rasa syukur. Di usianya yang bisa di bilang tak lagi muda, yaitu tiga puluh lima tahun ia merasa mendapat semua kebahagiannya. Tuhan begitu baik terhadapnya, mungkin inilah buah dari kesabaran mereka dalam menghadapi ujian cinta mereka yang berliku selama ini. Kini, baik Varel maupun Adel tengah bersiap menyambut penyempurna kebahagiaan mereka. Kebahagiaan yang sesungguhnya telah menanti mereka di delapan bulan berikutnya.


TAMAT


...****************...


Kali ini benar-benar tamat ya, happy ending. Tapi, insyaallah akan ada bonchap buat yang masih penasaran dengan kisah Selamet dan Shahila dan juga masa kehamilan Adel. See you di cerita author yang lainnya.....

__ADS_1


__ADS_2