
Gema memarkirkan mobilnya di cafe milik Rasel. Kebetulan ptia itu sedang berada di sana.
"Khusus yang itu biar aku yang melayani, kamu layani yang lain!" ucap Rasel ketika salah satu karyawannya hendak menghampiri meja Adel.
"Mau pesan apa, nona?" tanya Rasel.
Adel dan lainnya menoleh, "Selamet, kamu di sini?" tanya Adel.
"Ehek hem!" Mendengar nama aslinya di sebut, Rasel langsung berdehem, pura-pura sok jaim, apalagi ia melihat cewek bening selain Adel di sana yang di sinyalir , "Mau pesan apa?" tanyanya mengalihkan pembicaraan soal nama.
"Sha, mau pesan apa?" Adel bertanya kepada Sahila.
"Apa aja deh mas Slam...."
"Rasel, panggil mas Rasel!" Rasel segera meralat kalimat Sahila yang belum selesai.
"Oh ya mas Rasel. Emm apa aja deh yang penting enak. Menu andalan cafe di sini, biar nanti aku kasih review yang bagus dan masukin ke IG aku,"ucap Sahila tersenyum.
" Oh oke-oke. Menu andalan ya, yang lain ngikut aja, kan? "tanya Rasel sembari tersenyum sumringah.
Gema dan Adel hanya mengangguk berbeda dengan Sahila yang bersuara," Iya mas Rasel," ucapnya sengaja di lembut-lembutkan untuk menghoda Rasel yang sejak kedatangan mereka tadi sudah tak bisa mengkondisikan matanya menatap sahila yanh penampilannya malam ini sangat seksi tersebut.
"Oke, tunggu sebentar ya?" Rasel segera ke belakang untuk menyuruh karyawannya membuatkan menu spesial untuk mereka bertiga.
"Jangan genit-genit kamu! Baru juga sampai udah buat ulah," ujar Gema menasehati.
"Ck, kakak nggak lihat tadi dia sebegitu mupengnya lihat aku? Seru tahu ngerjain dia, jadi salting gitu, buat hiburan haha!" seloroh Sahila.
Gema hanya menggeleng heran mekihat tingkah adiknya tersebut, "Lagian kamu kenapa pakai pakaian begini, bajubkurng bahan di pakai. Pokoknya setelah ini baju-baju kmu yang seperti ini nggak bikeh di pakai lagi. Lihat tuh Adel, pakaiannya nggak kurang bahan kayk kau gini tapi tetap terlihat cantik," ucapnya kemudian menatap Adel.
" Ck, iya-iya, percaya yng lagi falling in love, apa-apa terlihat bagus, apalagi nggak pakai baju, lebih bagus malah!" ucap Sahila.
" Astaga, ini mulut punya adek satu benar-benar!"
Adel hanya tersenyum, baru kali ini ia melihat Gema bicara banyak. Mungkin memang seperti itu seorang kakak terhdap adiknya, pasti akan cerewet menasihati, sama seperti kakaknya.
__ADS_1
" Eh Ngomong-ngomong tadi teman kamu del? Kayak akrab gitu aku lihat," tanya Sahila.
"Dia teman om Varel, beberapa kali ke rumah jadi ya kenal," sahut Adel.
"Lo masih serumah sama om lo itu? Lo mau uji kekokohn hati apa bagaimana sih? Kalau gue jadi lo, gue udah..."
Adel langsung melotot menatap Sahila supaya wanita itu tak melanjutkan kalimatnya atau akan merembet kemana-mana dan ia merasa tidak enak dengan Gema yang raut wajahnya kini sudah berubah.
Sahila langsung diam dan menoleh, melihat sang kakak," Gue jadi kasihan sama kakak gue, jangan bilang lo benern jadiin kakak gue pelarian, atau topeng untuk menutupi perasaan lo yng sebenarnya. Kakak kesayangan gue tuh, dia tulus orangnya. Awas aja kalau lo nyakitin dia," bisik Sahila kepada Adel.
"Gue... Gue nggak thu Sha... Ceritanya panjang pokoknya, tapi gue akan berusaha buat ngelupain Varel dan nerima kakak lo," balas Adel yang juga berbisik.
"Ck, nggak yakin gue, lo bisa. Gue tuh tahu banget secinta apa lo sama om-om lo itu. Pokokny jngn pehapein kakak gue, kalau nggak suka bilang langsung,"
Gimana mau jujur, Mereka baru jadian. Ia tak tega untuk menyakti hati Gema sekarang, apalagi pria iti selalu baik terhadapnya, pikir Adel.
Tak berselang lama, Rasel datang bersama seorang karyawannya yang membawa pesanan mereka.
" Sel, kalau banyak kerjaan kamu bisa tinggalin kita kok, nggak apa-apa," ucap Adel.
Meski malas, Adel memperkenalkan keduanya, "Dia Shahila, teman aku yang baru balik dari Kanada. Sha, kenali Rasel, alias Rahayu Selamet!" ucapnya yang mana membuat Rasel langsung cemberut.
"Hi, mas Rasel. Nama panjangnya bagus, boleh panggil mas Slam?"
"Rasel aja, biar lebih mudah," sahut Rasel.
"Oh, oke kalau begitu,"
"Biar lebih mudah tau biar lebih kece," sindir Adel.
Rasel hanya mencebik, ia jembaki fokus menatap Sahila, "Sahila di sini tinggal sama siapa nanti? Nggak mungkin sama my baby bening kan? Dia aja numpang sama Varel," tanya Rasel.
"Enak aja numpang, aku bayar tahu!" Protes Adel tak terima.
Rasel tak peduli dengan ucapan Adel, "Apa mau aku bantu cariin apartemen, dekat apartemenku mungkin? Biar kita tetanggaan,"
__ADS_1
"Ehem!" Gema berdehem.
Rasel meliriknya, "Minum gih kalau serak," ucapnya.
"Gimana Shasha? Mau aku cariin?" tanya Rasel lagi.
"Tidak perlu, Sel. Dia akan tinggal sama saya," sahut Gema cepat.
Rasel langsung menoleh, "Lo mau saingan sama Varel? Dia tinggal serumah sama Adel, dan lo mau serumah sama teman Adel?"
"Aduh my baby bening lihat pria yang kamu akui sebagai kekasih ini, pendendam ternyata dia, mau balas kamu tuh. Bahaya! Pikir lagi deh buat lanjut atau putus!"
Adel langsung mendelik menatap Rasel, semantara Gema hanya menghela napasnya. Shahila terkekeh puas mendengar celotehan Rasel.
" Shasha, jangan mau tinggal sama dia. Mending sama mas Rasel aja, lebih aman! Biasanya diam-diam begini menghanyutkan. Aku mencium bau-bau niat untuk menjadikan kamu pelakor deh!" ucap Rasel.
"Slamet!" ucap Adel memperingatkan supaya Rasel tidak nyerocos terus.
Gema terlihat sudah hampir kehabisan kesabarannya.
"Aku lebih aman kalau tinggal sama kakakku, Mas Rasel," ucap Sahila tersenyum.
"Ya makanya, kalau sama dia.. Tunggu! Apa kamu bilang tadi? Ka-kakak?Dia...?"
Sahila mengangguk. Rasel langsung menelan salivanya, "Mam pus gue!" batinnya. Ia menatap Gema lalu tersenyum meringis.
"Jadi, apa kami bileh makan sekarang?" tanya Gema.
"Oh ya, silakan silakan! Em aku, aku ke belakang dulu masih banyak kerjaan!" Rasel langsung mengundurkan diri dari tempat duduknya. Baru awal perkenalan dengan cewek cantik, tapi sepertinya akan terhalang restu calon kakak ipar karena sikapnya tadi, pikir Rasel.
" Wkwkkw lucu, ya, boleh juga dia cakep! Tapi sayang aku udah ada Marc!" ucap Sahila terkekeh.
"Ganti lagi?" tanya Gema dan Adel bersamaan.
"Kompak benar tanyanya. Emang kenapa? Nggak cocok ya putus, kan? Masa mau di paksa lanjut. Ini Mark aja nanti kalau rewel ya putus, nggak mau ribet gue! Apalagi sekarang LDR gini, nggak percaya dia bisa setia," sahut Sahila. Yang mana membuat Gema dan Adel sama-sama menghela napas panjang.
__ADS_1