Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 59


__ADS_3

Hingga pukul sepuluh malam Varel masih berada di luar rumah. Pria itu sedang memikirkan apa yang tadi Adel katakan. Berkali-kali ia berdecak tak percaya dengan apa yang diucapak oleh Adel.


Varel mengirimkan pesan kepada Adel, "Temui aku di taman!"


Menunggu beberapa saat lamanya tak ada balasan, Varel pun kembali mengirim pesan, "Atu aku yang akan ke kamarmu!"


Adelia yang sedang menangis diam-diam. Di kamarnya merasa kesal karena Varel yang keras kepala, "Mau apa lagi sih, harusnya yang aku katakn tadi sudah cukup jelas," gumamnya.


Dengan malas ia membasuh mukanya sebelum keluar menemui Varel.


"Apa lagi sih, om? Semuanya udah jelas kan? Aku udah berusaha buat menebus rasa bersalah aku sama om taoi nyatanya susah, aku nggak bisa bohongi diri sendiri!"


Varel tak memberikan respon apa-apa mendengar Adel yang langsung nyerocos saat tiba di hadapannya. Ia justru lanhsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


Adel berusaha memberontak," Lepasin om, apaan sih!"


"Katakan, apa yang membuatmu berubah seperti ini?" Varel masih berusaha sabar.


Adel terdiam sesaat, ia sudah berjanji kepada Andini untuk tidak memberitahu Varel karena katanya wanita itu sendiri yang akan mengatakannya. Bahkan, setelah mereka menikah barulah Andini mau berobat ke Singapura.


" Aku tidak minta banyak darimu, Del. Bahkan cintanya pun nggak aku minta, aku hanya minta raganya, sebentar saja. Paling tidak sampai aku pergi," Adel teringat kata-kata Andini.


"Tidak ada yang berubah, aku masih sama dengan Adel yang dulu, egois. Aku nggak bis pura-pura bahagia bersama om, padahal hati aku adanya kak Gema,"


Varel langsung melepas pelukannya. Ia menatap Adelia nanar, "Kau tahu, dari dulu kamu itu nggak pandai berbohong. Nggak pandai buat jadi gadis yang jahat. Aku tahu, kau juga mencintaiku, Adelia," ucapnya. Ia tahu sebenarnya Adel menyembunyikan sesuatu darinya yang entah itu apa, ia masih menerka.


"Aku nggak bohong, kalau aku nggak cinta sama kak Gema, buat apa aku pacaran sama dia. Coba om ingat-ingat, kapan aku mengatakan kalau aku cinta sama om? Nggak pernah! Jangan mencari-cari alasan untuk mengikatku, om. Karena itu hanya sia-sia!" ucap Adel.


" Matamu nggak bisa bohong kalau kamu cinta sama aku. Katakan itu dengan menatap mataku, kalau kamu berani!" tantang Varel.


Tangan Adel mengepal, memberi kekuatan pada dirinya sendiri untuk menatap manik mata pria di depannya," Aku, tidak ernah cinta sama, om!" ucapnya, berusaha setegas dan selantang mungkin saat mengatakannya, meski di barengi dengan hati yang hancur.


Hancur sudah rasa percaya diri Varel. Ia tahu Adel bohong, tapi kenaoa wanita itu begitu keras kepala.


" Lebih baik om urus saja Andini, dia lebih membutuhkan om daripada aku. Aku udah ada kak Gema. Om jangan jadi pengecut, lanjutkan apa yang sudah om janjikan. Tetaplah menikah dengannya sesuai rencana awal," lanjut Adel kemudian.


"Andini menemuimu?" tanya Varel curiga. Adel bergeming tak berniat menjawab.

__ADS_1


"Apa yang dia katakan padamu? Apa di yng memintamu melakukan ini semua? Jawab aku, Del?" Cerca Varel.


"Karena Andini atau bukan, tidak akan merubah keputusanku untuk menyudahi sandiwaraku selama ini," balas Adel.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau jujur, aku akan cari tahu sendiri jawabannya!"


Tak berkata apapun lagi, Varel meninggalkan Adel.


Tes!


Adel segera mengusap air matanya yang menetes setelah Varel pergi, ia menatap nanar punggung pria itu yang sama sekali tidak menoleh sampai bayangannya tak terlihat lagi.


" Kenapa om sekeras kepala ini. Jangan buat aku semakin merasa bersalah. Seharusnya aku nggak ke sini. Kalau aku nggak ngeyel mau tetap tinggal di sini, semuanya tidak akan seperti ini. Om pasti akan menikahi Andini. Harusnya aku nggak ke sini," sesal Adel dalam hati.


" Ternyata benar, kamu menyembunyikan sesuatu dari kakak," tepukan di bahu Adel, membuatnya menoleh. Ia langsung memeluk Syafira.


" Kakak sudah mendengar semuanya tadi, kenapa kmu menyembunyikan masalah ini sama kakak, dek? "tanya Syafira. Ia tak sengaja tadi mendengar percakapan Adel dan Varel.


Syafira tadi keluar kamar karena mencari sinyal yang tiba-tiba sangat susah di kamarnya. Selesai menelepon Bara, ia berniat langsung kembali ke kamar, tapi langkahnya terhenti saat melihat Adel. Keluar menemui Varel. Ia sengaja mengintip apa yang di lakukan oleh dua orang itu.


"Katakan, apa yang membuat kamu seperti ini, sejak kakak datang ke sini, kakak bisa lihat kalau kamu itu masih mencintai Varel. Tapi, tadi yang kakak dengar sebaliknya. Apa karena Mereka akan segera menikah?"


Adel pun meminta untuk masuk ke kamar Syafira. Disana ia menceritakan semuanya kepada sang kakak tanpa terlewatkan, dari awal mula hingga pertemuannya dengan Andini tadi siang.


" Aku harus bagaimana kak, seharusnya aku nurut sama kakak untuk pulang ke Jakarta. Atau aku tidak usah pulang sekalian. Awalnya aku kira aku bisa mengatasi perasaanku ke om Varel. Tapi makin hari malah semakin susah, apalagi saat tahu om Varel juga masih menyimoan rasa yang sama untukku. Aku jahat kak, aku benar-benar jahat. Aku nggak mau kalau sampai Andini kenapa-kenapa, sakitnya sudah parah sekali, satu-satunya semangat yang ia miliki cuma om Varel. Aku nghak mau jadi wanita egois. Kalau Andini kenapa-kenapa, aku nggak bisa maafin diri ku sendiri!" tangis Adelia pecah setelah mengeluarkan unek-uneknya.


Syafira memeluk adiknya tersebut, ia tak menyangka kisah cinta Adel serumit ini. Gadis itu dihadapkan pada dua pilihan, tetap menggenggam cintanya tapi dengan resiko yang mungkin fatal , atau kembali melepas cintanya untuk kedua kalinya.


Malam itu, Adel mencurahkan perasaannya dalam dekapan sang kakak, hingga tak terasa ia tertidur di kamar kakaknya tersebut.


Berbeda dengan Varel, pria itu bahkan tak bisa memejamkan kedua matanya sama sekali hingga matahari kembali melakukan tugasnya menyinari bumi.


.


.


.

__ADS_1


Sore hari....


Sepulang bekerja, Varel melihat bu Lidya dan Syafira sedang duduk santai di ruang tamu.


"Sudah pulang, Rel?" sapa bu Lidya.


"Iya, ma. Anak-anak mana?" tanya Varel.


"Ada di belakang, lagi main," Syafira yang menjawab. Ia memandang pria yang dulu pernah diam-diam menyukainya tersebut. Wajahnya terlihat tak semangat sama sekali, pakaiannya juga sudah berantakan dengan dasi yang sudah di kendorkan.


Syafira paham bagaimana perasaan Varel saat ini, pasti sama-sama terlukanya dengan Adel, namun ia tak bisa ikut camour terlalu dalam terhadap privasi Keduanya. Bagaimanapun Varel dan Adel sudah dewasa.


Ketika Varel melangkah menuju kamar, ia melihat Adel turun dengan pakaian rapi, wanuta itu tamoak cantik dengan dress selutut berwarna peach dengan rambut terurai.


Adel terus saja berjalan tanpa menoleh kepada Varel, "Mau kemana kamu?" tanyanya. Tangnnya mencekal pergelangan tangan Adel.


"Lepasin!" ucap Adel lirih, Adel melihat ke arah Syafira dan bu Lidya yang sedang mengobrol. Varel mengikuti arah mata wanita tersebut, dan dia tak peduli dengan peringatannya. Tak peduli jika mamanya dan juga Syafira melihat apa yang ia lakukan.


"Jawab dulu pertanyaanku, kamu mau kemana?" Varel mengulangi pertanyaannya.


"Apa sekarang om beralih profesi menjadi tukang kepo? Hingga urusanku mau kemana juga harus om tahu?" ucap Adel.


"Lepas, pacarku udah datang, nanti dia bis salah paham kalau melihat om begini," imbuh Adelia saat Gema datang dan menyapa Syafira juga bu Lidya.


Varel tak juga melepas tangan Adel hingga wanita itu terpaksa menghentakkannya.


"Jadi, ini pilihan kamu?" tanya Varel.


"Ini bukan pilihan, ini memang sudah seperti seharusnya," sahut Adel ia langsung melangkah menuju ruang tamu.


"Apa salahku, Del?" tanya Varel saat wanita itu baru melangkahkan kakinya dua langkah dari depannya.


Adel sempat menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Varel tersebut. Namun, ia tak berniat menjawabnya. Ia memilih kembali melanjutkan langkahnya untuk menemui Gema yang akan mengajaknya kencan dan makan malam. Pria itu baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya.


...****************...


Note: maaf kalau tidak sesuai ekspektasi kalian, author membuat cerita ini sesuai judulnya. Dan percayalah, setelah ada badai hujan, angin topan akan ada pelangi.

__ADS_1


__ADS_2