
Karena kehamilan Adelia yang di bilang masih sangat muda dan rentan. Varel tetpaksa mengundur jadwal kepulangan mereka ke tanah air. Namun, Adelia terus merengek ingin segera pulang. Ia sudah sangat merindukan rumah.
Barulah akhirnya sebulan kemudian mereka benar-benar kembali. Tentunya setelah melalui konsultasi dokter terbaik yang ada di sana. Setelah dokter menyatakan aman,
barulah Varel mantab untuk melakukan perjalanan ke tanah air.
Dan kini pasangan suami istri yang tengah berbahagia menyambut calon buah hati mereka itu tengah berada di udara. Lebih tepatnya di dalam pesawat Jet.
Naik pesawat jet tersebutlah yang menjadi pertimbangan dokter mengijinkan Adelia untuk melakukan perjalanan jauh.
"Dia baik-baik saja, kan?" Varel mengusap perut Adelia.
"Aman, abang," sahut Adelia. Entah sudah berapa kali Varel menanyakannya.
"Udah nggak sabar deh pengin cepat ajak dia main bola," ucap Varel.
"Sabar, baru juga dua bulan. Lagian, emang abang tahu kalau anak kita laki-laki. Gendernya aja belum kelihatan," tanya Adel.
"Ya, feeling aja. Kalaupun perempuan, nggak masalah kan main bola. Biar kayak ronaldowati," celetuk Varel.
Adelia hanya menggelengkan kepala menanggapinya.
"Abang udah nggak sabar buat kasih tahu mama kalau anaknya ini tokcer! Biar mama bisa pamer sama teman arisannya," ucap Varel.
"Iya, pengin tahu juga reaksi tri stan gimana mau jadi om, om kecil!" sambung Adel.
Tiba-tiba saja, wajah Adel cemberut, hal itu langsung mengundang kekhawatiran Varel.
Jika Varel berpikir bahwa kehamilan adel adalah gerbang menuju kebahagiaan yang sempurna, memang benar adanya. Tapi, ia tak tahu jika untuk menuju ke sana, masih harus melalui proses yang panjang. Ujian kesabarannya justru baru saja akan di mulai. Yaitu dimana sang istri mulai merasakan yang namanya ngidam.
Tanpa Varel sadari, Adel sudah mukai ngidam saat mereka masih berada di Swiss. Maklum, masih baru dan belum berpengalaman. Usia tak menjamin kepekaannya dan pengetahuannya soal kehmilan.
"Kenapa? Anak papa mau apa, hem? Katakan, jangan di pendam, nanti ileran," ucap Varel sembari mengusap perut Adel.
"Pengin cilok," jawab Adel.
__ADS_1
"Aduh, di sini mana ada cilok, sayang. Bisa di tunda dulu ngidamnya? Kita lagi di udara, loh!" sahut Varel dengan penuh rasa penyesalan karena setelah paham istrinya sedang masa ngidam, ia justru tak bisa mewujudkannya.
Adel semakin cemberut, "Maunya sekarang. Di kasih kuah, terus sambalnya yang banyak, segar, pedas, enak, hangat," Adel sampai menelan ludahnya sendiri membayangkan.
"Kalau sekarang ya nggak ada. Sabar ya, nanti sampai langsung cari, kalau perlu abng beliin sama yang juao seklian, biar kamu bisa makan cilok tiap hari," ucap Varel.
Adel terpaksa mengangguk. Padahal rasanya ia sudah ingin sekali makan.
Tak tega melihat istrinya, juga tak ingin buah hati perdananya ileran nantinya, Varel sampai bertanya pada pramugari apakah ada di sediakan cilok di pesawat. Tentu saja jawabannya tidak ada.
"Kasihan banget istriku, cuma cilok aja masa nggak keturutan," Varel mengusap kepala Adel yang kini tengah terlelap.
"Ini!" Varel mengasongkan seplastik penuh cilok kepada Adel. Kebetulan saat perjalanan menuju ke rumah, mereka melihat kang cilok di pinggir jalan. Varela meminta sopir taksi online yang menjemput mereka untuk berhenti untuk membeli cilok tersebut.
Adelia menggedek, "Udah nggak pengin. Buat abag aja!" tolaknya tanpa dosa.
"Dimakan dong sayang, buat nebus ngidam kamu di pesawat, biar lunas ngidam soal ciloknya. Biar anak kita nggak ileran," bujuk Varel.
"Nggak mau ya nggak mau! Abng ngeselin ih! Jadi tukang maksa gini, Aku nggak suka!"
"Pak, dulu istrinya waktu hamil ngeselin nggak?" tanya Varel pada sopir. Siapa tahu ia bisa menimba pengalaman dari senior yang lebih dulu menghadapi wanita hamil. Karen jujur, saat belum tahu kalau Adel hamil, Ia hampir kehilangan kesabarannya dengan ujian yang Adel berikan.
"Masih mending, istrinya cum ngidam cilok, mas. Saya dulu lebih parah. Istri saya setiap hari nyuruh saya ronda di pos ronda nggak boleh tidur di rumah katanya dia sebel lihat muka saya, katanya juga saya bau," jelas Sopir.
Varel ikut prihatin mendengarnya. Sejauh ini Adel tidak atau mungkin belum separah itu. Tak suka bau parfumnya memang iya, tapi masih mau di peluk kalau tidur. Juga masih mau nempel-nempel dengannya.
Jangan sampai Adel juga tak mau melihat mukanya, bisa nangis kejer Varel kalau Adel tak mau tidur dengannya, amit-amit jabang bayi, pikir Varel.
"Nikmati saja, mas, Masa ngidam istrinya. Kita sebagai pria juga harus bisa mengerti mood wanita hamil itu tidak stabil. Kadang maunya a, tiba-tiba jadi b. Udah b, eh tiba-tiba mau a lagi. Nikmati saja prosesnya, karena mungkin tidak akan terulang lagi keseruannya. Nanti hamil ank ke dua bisa beda lagi cerita ngidamnya soalnya. Dan yang paling penting, jangan bandingkan istei kita dengan perempuan lainnya. Dia kok nggak manja, padahal sedang hamil juga, sedangkan kamu manja. Dia kok kuat, kamu lemas banget. Saat nggak hamil aja nggak boleh banding-bandingkan, apalagi saat hamil. Bawaan bayi setiap wanita itu beda-beda mas. Malah ada yang sampai tujuh bulan kehamilannya harus diinfus terus. Syukuri saja selama istei dan anak kita sehat dan baik-baik saja," ucap sopir panjang lebar.
Mendengar panjangnya kalimat pak sopir, Varel serasa di bacakan dongeng saja, ia malah jadi mengantuk.
" Dengerin, tuh!" Adel mencolek lengan Varel.
"Iya, abang dengar, telinga abang masih berfungsi dengan baik, sayang. Terima kasih pak, sudah berbagi ilmu dengan saya. Saya pasti akan ingat wejangan bapak," ucap Varel.
__ADS_1
"Ck, kemarin aja udah ngatain aku gendutan, apa kalau bukan body shaming namanya? Apa kabar nanti kalau anakmu makin besar di sini?" omel Adel.
Varel mengernyit, "Iyakah? Kapan abang bilang begitu? Aba bilanyanya kamu makin padat, seksi, gemoy! Bukan gendut, istriku," Varel mencubit gemas pipi Adel.
.....
Sampai di rumah, Varel dan Adel sudah di sambut oleh bu Lidya dan juga si donat gula, Tristan.
"Abang pelgi lama! Tlistan ndak diajak! Nakal!" omel Tristan langsung begitu Varel dan Adel turun dari taksi. Anak itu bersedekap dengan wajah manyun. Namun tak ada seram-seramnya karena wajahny yang penuh bedak bayi, jatuhnya jadi lucu malahan.
"Lah, abangnya pulang langsung di omeli. Nggak kangen emang?" tanya Varel.
"Ndak ya! Kilain kakak tantik abng culik, mau lapol polici aku!" ucap Tristan.
Adel tersenyum mendengarnya, "gemes banget sih kamu, celotehan kamu tuh bikin kakak kangen tahu!" ucapnya.
"Oleh-oleh mana?" Tristan menengadahkan tangannya meminta oleh-oleh.
"Oleh-olehnya ada di perut kak Adel," jawab Varel.
Tristan langsung melihat ke arah perut kakak iparnya, "Mana?"
"Ada di dalam perutnya, dong. Abang mau punya bayi sendiri dong!"
Tristan masih belum paham. Ia malah menangis, "Abang nakal, oleh-olehnya di cembuyikan pelut kakak. Buka pelut kakak! Tlistan mau ambil oleh-oleh!" teriak anak itu sambil menangis.
"Heh! Mana bisa, donat gual," sahut Varel.
"Pakai dunting!"
"Ngarang, emang buka ciki! Pakai gunting," omel Varel, "Aduh-aduh! Sakit sayang!" Varel meringis karena Adel mencubitnya.
"Abang sih, iseng banget sama adiknya,"
...****************...
__ADS_1