
Pov Tiar
"Kamu tadi gak masuk kelas?" Tanya Adam memecah keheningan didalam mobil.
"Iya Dam, tadi setelah kamu masuk aku tetap diparkiran nunggu mereka datang"
Flash Back,
[Sajam lamanya aku menunggu kedatangan mereka namun tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan sampai, terakhir memberi kabar sudah berada dekat alun-alun kampus yang jaraknya sekitar satu kilo meter dari Universitas.
Karena bosan aku memutuskan untuk pergi ke kantin sebab tadi pagi belum sempat sarapan, baru menginjakkan dua langkah kaki didepan pintu kantin ponselku berdering dan ternyata setelah aku lihat itu telepon dari nomor Dina
"Halo Din, udah nyampe mana katanya tadi udah di alun-alun kok lama banget nyampe nya?" Tanyaku tanpa memberi kesempatan lawan bicaraku untuk mengatakan satu kalimat
"Halo Mbak, maaf sampean dengan siapa ya? saudaranya atau temennya yang punya hp?"Jawab laki-laki yang aku tafsir usianya sekitar dua puluh lima tahun sampai tiga puluhan, sontak aku terkejut mengapa bisa laki-laki yang membawa ponsel Dina.
"Halo Mbak halo" Suara pria itu menyadarkan lamunanku.
"I..iya halo Pak, ini saya temannya. kenapa ponsel teman saya ada di Bapak?" Tanyaku khawatir.
"Gini Mbak saya mau ngasih kabar teman kecelakaan dan sekarang dilarikan ke Rumah Sakit Husada karena lumayan parah, untung handphone nya ada yang bisa dibuka jadi saya ambil terus lihat panggilan terakhirnya nomer sampean" Terang pria itu dengan suara yang tergesa.
Bak disambar petir disiang hari, seluruh badanku rasanya kaku dan mati rasa.
"Mbak halo Mbak, segera kesini ya Mbak" Sambungan telepon terputus.
Aku menguatkan diri untuk berjalan menuju mobil, tidak ada pikiran lain selain segera sampai Rumah Sakit untuk melihat keadaan Dina dan Dita, bahkan tidak aku hiraukan mata kuliah penting yang seharusnya tidak ditinggalkan.
Dengan keadaan yang kacau dan masih syok aku memaksa melajukan mobilku menuju Rumah Sakit seorang diri.
Setibanya di rumah sakit aku segera menuju ruang ICU, di depan pintu ruangan ICU ada empat orang bapak-bapak, aku berjalan menghampiri mereka dengan tergopoh.
"Mbak keluarga pasian yang ada didalam ya?" Salah satu dari mereka menegurku.
"Iya pak, saya diberi kabar bahwa teman saya mengalami kecelakaan" Jawabku.
__ADS_1
"Dua wanita ya mbak?" Tanya seorang lagi.
"iya betul pak" Jawabku.
"Temannya sedang ditangani dokter, Mbaknya tunggu disini aja" Ujar salah satu pria sambil menepuk kursi kosong disebelahnya mengisyaratkan agar aku duduk.
"Ini ponsel temannya Mbak" Suara yang tidak asing lagi di telingaku, setelah aku menoleh ternyata benar suara pria yang sama ketika meneleponku menggunakan nomor Dina.
"Mbak yang kuat ya, tadi saya yang menelpon Mbak dan kami berempat yang bawa temen sampean. Ini tasnya, dompet dan segala macamnya juga masih ada didalam saya gak ambil apa-apa boleh di cek" Ujarnya
"Terima kasih banyak ya Pak, Bapak orang baik. Saya gak tau lagi kalau gak ada bapak-bapak sekalian gimana teman saya"
"Sama-sama mbak sesama manusia memang kita wajib saling tolong menolong" Ujar salah satu dari mereka.
"Kalau boleh tau cerita kejadiannya seperti apa ya pak?" tanyaku penasaran.
"Kecelakaannya tunggal mbak, kalau ndak salah tadi ada nenek-nenek nyebrang sendirian, dan sepertinya teman mbak kaget atau bagaimana tidak bisa mengimbangi jadi banting setir nabrak pembatas jalan, mereka memang ngebut Mbak"
"YaAllah! mereka memang gak terlalu mahir mengendarai motor Pak, biasanya bawa mobil atau naik taksi, mungkin tadi karena buru-buru kesiangan mereka bawa motor"
"Hari apes memang gak ada di kalender Mbak, ya sudah karena Mbaknya sudah disini kami pamit dulu ya, kalau ada apa-apa kabarin aja ini nomer hp saya" Sambil menyodorkan secarik kertas bertuliskan nomer handphone.
Mereka meninggalkan aku seorang diri di ruang tunggu, aku membuka tas maroon yang diberikan oleh bapak tadi, setelah aku buka dompetnya ternyata itu tas milik dina Dina, langsung aku mencari ponselnya untuk menghubungi nomor telepon orangtuanya.
Aku memberi kabar kepada orangtua Dina yang pada saat itu sedang berada di luar kota acara tour bisnis.
Tidak berselang lama ponselku berdering, ternyata panggilan dari Adam, aku langsung meminta Adam untuk datang ke Rumah Sakit.
°°°°°°°°°
Sebelum Adam datang aku sempat dipanggil keruangan dokter, beliau berkata bahwa Dita harus segera dioperasi karena ada gumpalan darah di kepalanya.
Seketika aku syok mendengar ucapan dokter, ditambah lagi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Dokter memintaku untuk secepatnya memberi keputusan atas tindakan yang harus dilakukan.
__ADS_1
Dengan pikiran panik kembali aku menghubungi orangtua Dita, ternyata mereka sedang terjebak kemacetan.
Aku terkulai lemas dan pasrah dengan keadaan saat ini, sampai Adam datang pun aku tidak menyadarinya karena sedang merenung.
Dokter kembali menemui ku dan menjelaskan bahwa Dina harus segera mendapatkan donor darah karena sudah kehilangan banyak darah. Beban pikiranku bertambah, apa yang terjadi dengan mereka? aku takut, jika terjadi sesuatu yang fatal kepada mereka.
"Maaf Mbak, jika tidak segera diberi tindakan maka akan fatal akibatnya" Jelas dokter.
"Beritahu saya apa yang bisa saya lakukan dok! saya benar-benar buntu"
"Darah yang dibutuhkan Dina apa dok?"
"Golongan darahnya B+, tapi di bank darah kami masih ada persediaan"
"Baik kalau begitu lakukan yang terbaik dok, saya akan urus administrasinya"
Aku berjalan keluar ruang dokter menuju ruang administrasi, sementara aku cukupkan keperluan tindakan yang harus ditangani oleh dokter, seusai kembali ternyata didepan ruang ICU sudah ada orangtua Dina dan Dita yang sedang mengobrol dengan dokter juga Adam yang sengaja aku minta untuk tetap tinggal didepan ruang ICU.
"Alhamdulillah" Ucapku lirih. aku berjalan mendekati mereka, isak tangis memecahkan kesunyian ruang tunggu.
Akhirnya operasi terhadap Dina bisa segera dilaksanakan, kecemasanku sedikit berkurang]
"Begitulah ceritanya, aku sempat gak percaya atas kejadian ini"
"Kamu yakin dan sabar, terus doakan yang terbaik untuk mereka",
"Iya Dam, terima kasih kamu selalu ada buat aku"
Adam hanya mengusap rambutku pelan tanpa berbicara apapun.
Perkiraan operasi berjalan selama tiga sampai lima Jam, setelah mandi nanti rencananya aku akan kembali ke Rumah Sakit.
Aku ingin memastikan langsung keadaan Dina dan Juga Dita, tidak mungkin aku bisa hanya berdiam diri dirumah saat kedua sahabat baikku berjuang melawan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
°°°°°
__ADS_1
Setelah mengantarku pulang Adam langsung berpamitan, kebetulan sekali dia tidak mampir jadi aku gak perlu berdebat dengan dia lagi.
Aku segera mandi dan bersiap diri, ku pandangi jam dinding dari cermin meja rias ku, ternyata hari sudah malam.