Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 50


__ADS_3

"Kamu yakin, Ndin. Semalam yang ada di sini merawatku, kamu?" Varel masih enggan untuk mengkhianati keyakinannya kalau Adel-lah yang semalaman di sana untuknya.


"Kenapa mas bertanya seperti itu. Mas meragukanku? Mas nggak percay kalau au yanga sudah merawat mas Varel? Bahkan aku belum tidur sama sekali demi merawatmu, mas. Kalau bukan aku, lalu menurut mas siapa yang lebih berhak untuk merawatmu?," ucap Andini dengan wajah sedih.


"Belum ada yang berhak maupun berkewajiban untuk melakukannya, Andin. Kita bekum menikah," sergah Varel.


"Iya aku tahu. Tapi, aku ini calon isterimu, tidak ada yang lebih khawatir melihatmu sakit seperti ini, kenapa mas malah meragukanku?" mata Andini sudah berkaca-kaca.


Varel merasa bersalah melihat Andini yang terlihat bersedih karena pertanyaannya tadi. Mungkin memang benar kalau semalam Andini yang sudah bersusah payah mengurusnya. Dan hanya halusinasinya saja yang menganggap Andini adalah Adel.


"Andini, aku minta maaf. Aku bukannya meragukanmu. Tahu sendiri semalam aku tak sadar apa-apa. Kau tahu itu," ucap Varel lemah karena memang kondisinya masih sangat lemah.


"Mas istirahat dulu, aku akan buatkan bubur buat mas," Andini tak menanggapi perkataan Varel, ia memilih menghindari obrolan serius dengan pria itu. Ia langsung bangkit dari duduknya dan beranjak membuka pintu.


"Andin," panggil Varel saat wanita itu menyentuh gagang pintu. Andin menoleh, "Ya mas?" jawabnya.


"Tidak usah buatkan aku bubur, duduklah sini, ada yang ingin aku bicarakn denganmu. Ini tentang pernikahan kita," ucap Varel.


"Sebaiknya jangan membahas apapun sekarang, mas. Kondisi mas Varel sedang sakit begini. Kalauoun ada yang mau di bicarakan tunhhu mas sehat dulu. Lagian, semuanya baik- baik saja, tidak ada yang perlu di cemaskan. Aku ke dapur dulu," entah kenapa, perasaan Andini tak enak setiap kali Varel ingin mengajaknya bicara serius. Ia memilih menghindari itu sekarang. Andini segera keluar menuju ke dapur.


Di sana, Andini melihat Adel yang sedang menggulir kayar ponselnya.


" Adel, sedang apa?" tanya Andini.


Adel menoleh, "Eh, ndin. Em ini aku lahi mau buatin om Varel bubur," jawab Adel.


Andini mendekat, "Tidak perlu repot-repot. Biar aku yang buatkan. Lagian, apa kamu bisa membuatnya?" tanya Andini. Nadanya biasa saja, namun Adel merasa tak enak.


Adel menyembunyikan ponselnya di belakang, ia tadi sedang melihat yurubcar membuat bubur ayam, kebetulan bahan-bahannya ada di kulkas.


"Kebetulan kamu udah di sini, kamu saja yang buatkan. Aku... Aku mau siap-siap ke butik," ucap Adel.


"Baiklah, silakan kalau mau bersiap. Biasanya juga aku yang buatkn kalau dia lagi sakit gini,"


Adel hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Andini.


.


.


Di butik, Adel tak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. Ia terus kepikiran soal Varel uanh sedang sakit. Tapi, lebih dari itu ada yang mengganjal hatinya, yaitu tak sengaja tadi ia mendengar jika berbohong, mengatak jika dirinya yang menjaga pria itu semalaman. Ia kecewa dengan sikap Andini, tapi juga tak bisa menyalahkan wanita itu.


"Del, makan di luar yuk! Laper nih!" ucap Shahila dari pintu. Adel menatap layar ponselnya, sudah lewat jam makan siang. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan bangkit dari duduknya, "Yuk!" ucapnya.

__ADS_1


Mereka memilih sebuh restauran yang di rekomendasikan oleh beberapa food Vloger yang sering dilihat oleh Shahila di yutub.


"Di sini katanya makanannya enak," kata Shahila. Adel tak berkomentar, suasananya memang nyaman sekali. Mereka memilih tempat duduk llu memesan makanan.


"lo semalam beberan sakit perut?" Shahila mulai menginterogasi Adelia sembari menunggu pesanan mereka datang.


Adel mengangguk, "Lo jadinya pergi sendiri?" ia balik bertanya.


"Iyalah, di sini kan gue jomblo happy, eh tapi nggak jadi sendiri, gue ketemu sama mas Selamet, jadi ya gue gabung aja sama dia," sahut Shahila.


Adel hanya ber-oh-ria. Ia sedang malas membahas apapun. Pikirannya masih tertuju pada kondisi Varel.


Di tengah makan siang mereka, melihat Andini kelaur dari sebuah ruanga yang siapapun tahu itu adalah ruangan pemilik restoran. Tapi wanita itu sepertinya tak melihat Adel yang mungkin tertutup oleh punggung Shahila.


" Jadi ini restoran milik Andini?" gumam Adel.


"Kenapa, Del?"


"Kenapa apanya?"


"kok malah tanya, kamu ngomong apa barusan. Aku nggak dengar," ujar Shahila.


"Kalau Andini di sini, terus yang jagain om Varel siapa?" Adel tak mendengar ucapan Shahila, ia larut dengan pikirnnya sendiri.


Alih-alih meneruskan makannya, Adel justru berdiri, "Aku harus pulang sekarang, Sha. Ini uang buat bayar, aku pergi dulu!" Adel mengambil uang dadi tasnya dan mletakkan di atas meja lalu pergi begitu saja. Yang mana membuat Shahila keheranan, "Tuh anak kenapa sih,"


.


.


.


Setelah membayar taksi yang dia tumpangi, Adel buru-buru masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan tasnya di sofa ruang tamu. Tempat pertama yang ia tuju adalah kamar Varel.


Saat Adel masuk, Varel baru saja keluar dari kamar mandi. Pandangan mereka bertemu.


Varel melihat jam di tangannya, lalu kembali memandang Adel, "Kok udah pulang?" tanya Varel.


"Em itu... Tadi pekerjaan nggak banyak jadi pulang cepat, iya gitu," Adel salah tingkah. Ia tak mungkin mengatakan kalau dia mengkhawatirkan pria di depannya tersebut.


Varel tersenyum, ia maju beberapa langkah mendekati Adel, "Kalau khawatir, bilang aja," ucapnya seraya mengusap lembut pipi Adelia. Membuat gadis itu menunduk, menyembunyikan rona wajahnya.


Varel melebarkan senyumnya melihat tingkah menggemaskan Adel.

__ADS_1


"Om, bagaimana? Udah enakan?" tanya Adelia kemudian.


"Tuh, kan khawatir. Kalau peduli kenapa nggak berkabar? Malah di tinggal kerja juga," Varel pura-pura manyun.


Mata Adel membulat, ia tak terima jika di tuduh tak peduli, "Semalam kan...." Adel tak melanjutkan kalimatnya. Ia ingat kalau Andini mengaku yang merawatnya semalaman.


"Apa? Semalam kenapa? Hemm?" Varel maju selangkah, hingga jarak di antara mereka hampir terkikis.


"Se-semalam ada Andini yang merawat, om," jawab Adel kikuk karena jarak mereka yang begitu dekat.


Varel mengerutkan keningnya, "O, ya? Andini menghabiskn waktu semalaman di kamar ini denganku dan kamu nggak cemburu?"


Bahaimn mau cemburu, orang semalm yang di kamar itu bahkan ketiduran di ranjang yang sama adaah Adel sendiri.


Adelia menggeleng, "Nggak, kan om sakit, jadi ya kakian nggak bisa ngapa ngapain. Andini cuma merawat om,"


"Ah, padahal aku ingin diapa-apain sama yang merawat aku semalam,"


Adel kembali melotot, "Sepertinya om, beneran udh sehat, udah mesum gitu otaknya. Aku ke atas dulu, mau istirahat!" Adel langsung balik badan, ia memang merasa capek dan ngantuk karena semalam. Mungkin hanya ketiduran satu jaman saja.


Varel menahan tangan Adel, "Mau kemana? Aku kan belum selesai bicara," ucap Varel.


"Nanti lagi om, ngobrolnya, aku beneran capek, mau tidur sebentar," sahut Adel, mencoba melepaskn tangnnya dari cengkeraman Varel. Namun, bukannya lepas, mereka malah kehilangan keseimbngan hingga akhirnya terjatuh ke ranjang.


Sepersekian detik mereka diam dengan posisi adelia berada di atas Varel. Varel merasa kurng nyama dengan posisi itu, ia membalik posisi menjadi diatas, mengukung Adel di bawahnya.


"Makasih, ya. Udah merawat aku semalaman," ucap Varel lembut.


"Ommm?"


"Aku tahu, kamu yang merawat aku semalam, bukan Andini," ucap Varel tersenyum.


Adel terkejut, aa itu artinya Varel mendengar apa yang dia ucapkan semalam.


"Meski aku nggak ingat, tapi di sini bisa ngerasain," Varel menarik tangan Adel supaya menyentuh dadanya.


Perkataan Varel menunjukkan kalau pria iru memang tak ingt apapun semalam.


Mereka saling menatap, perlahan wajah Varel turun, bibirnya semakin mendekati bibir wanita yang berada di bawahnya tersebut.


"Astaga! Apa yang kalian lakukan?"


Varel dan Adel yang kaget mendengar suara itu langsung menoleh ke pintu masih dengan posisi yang sama.

__ADS_1


__ADS_2