Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
13. Back To Campus


__ADS_3

Pov Tiar


Pagi ini aku berangkat ke kampus dengan keadaan yang masih sedikit lemah, aku memaksakan berangkat karena hari ini Dita janji akan berangkat setelah tiga bulan lamanya dia ambil cuti.


Dia mengambil cuti karena harus ikut andil mengurus bisnis Ayahnya di luar Kota karena sama sepertiku dia adalah anak semata wayang dari orangtuanya.


Aku bersahabat dengan Dita sejak kami duduk di bangku SMU, bahkan kami sudah seperti layaknya saudara kandung.


tidak seperti biasanya, hari ini aku datang lebih pagi. Setelah sampai di parkiran kebetulan Adam juga baru sampai, namun tiba-tiba perasaanku rasanya tidak enak, seperti malas untuk berinteraksi dengan orang lain.


°°°°°°°°°


Pov Adam


"Udah berangkat memangnya udah sehat?" Aku menyapa Tiar yang baru saja turun dari mobilnya.


"Tadi pagi setelah bangun tidur udah gak ngerasain lemas jadi aku putusin buat berangkat kuliah" Jawabnya canggung.


"Yuk masuk" Ajak ku.


"Duluan, nanti aku menyusul" Jawabnya singkat.


"Loh kenapa gak bareng aja?" Tanyaku heran.


"Masih nunggu Dina sama Dita" Jawabnya.


"Oh Dita udah balik ke kampus ya?" Kembali ku lemparkan pertanyaan kepada Tiar.


"Iya" Jawabnya sangat singkat, aku heran seharusnya yang marah itu aku tapi kenapa malah dia.


"Yaudah aku duluan ya" Aku berlalu pergi meninggalkan dia sendirian di parkiran.


"Iya silahkan" Dia berpaling dariku dan berganti posisi duduk di bawah pohon.


"Nanti pulang kampus bareng ya" Ucapku sebelum benar-benar meninggalkan dia"


🌞🌞🌞


Siang harinya setelah kelas usai aku memutuskan untuk langsung ke kantin. Sedari tadi aku tidak melihat keberadaan Tiar di dalam kelas, juga gak ada yang tau alasan dia gak masuk kelas hari ini, ada apa dengan dia hari ini.


"Apa dia sakitnya kambuh lagi ya, ngeyel sih dibilangin susah" Ujar ku sambil merogoh kantong bagian depan tasku.


Berdering...


Aku menelepon Tiar untuk memastikan keadaannya.


"Halo Dam, tolong kesini sekarang Dam" Jawab Tiar dari seberang telepon.


"Halo Ti, kamu dimana? iya aku kesana sekarang kasih tau lokasinya" Pikiranku menjadi tambah tak karuan.


"Aku ada dirumah sakit" Jawabnya singkat tanpa memberi penjelasan yang jelas.


"Loh! siapa yang sakit? kamu kambuh lagi?" Tanyaku sangat khawatir.

__ADS_1


"Dita sama Dina kecelakaan, aku sendirian Dam" Suar Tiar mulai bergetar.


"Ya ampun,di rumah sakit mana?" Sambil menunggu jawaban Tiar aku berlari menuju mobil.


"Setia Husada" Jawabnya singkat kemudian telepon terputus.


"Ah sial baterainya habis!" Umpat ku karena ponselku mati.


Aku melemparkan ponselku di bangku sebelah kemudi dan bergegas menuju ke Rumah Sakit yang disebutkan oleh Tiar.


Jarak antara rumah sakit dan kampus cukup lumayan karena harus menempuh jarah selama satu jam. Aku melaju dengan kecepatan tinggi, kebetulan jalanan tidak terlalu ramai.


☘️☘️☘️☘️


Saat sudah sampai aku langsung memarkirkan mobilku di halaman Rumah Sakit kemudian berlari menuju ruang administrasi mencari tau keberadaan Dina dan Dita.


Kata perawat yang bertugas mereka masih berada di ruang ICU, aku berjalan mencari ruang ICU sesuai arahan dari perawat. Setelah sampai disana ku dapati Tiar sedang duduk di lantai rumah sakit dengan menyandarkan kepalanya pada dinding Rumah Sakit seorang diri.


Dia terlihat sangat terpukul sekali atas peristiwa yang menimpa kedua sahabatnya.


Aku berjalan mendekatinya menyelimuti tubuhnya dengan jaket yang aku kenakan dan meraih kepalanya, kubawa kedalam pelukanku.


"Tiar! kamu baik-baik aja?" Tanyaku lembut.


"Dina sama Dita didalem" Dengan tatapan kosong dia menunjuk ke arah sebuah ruangan bertuliskan Ruang ICU.


"Mereka pasti baik-baik aja" Aku berusaha menenangkannya.


"Duduk di atas yuk" Ajak ku.


"Baru aja aku senang karena mau ketemu dia lagi setelah sekian lama cuti, tapi dia malah masuk ruang ICU" Isak tangisnya terdengar semakin keras di lorong ruangan yang hanya ada kami berdua.


"Keluarga dari pasien bernama Dita Kusuma" Panggil seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.


"Saya keluarga nya dok" Dengan sigap Tiar langsung berdiri menghampiri dokter.


"Maaf bisa ke ruang administrasi sekarang, karena kami harus memberikan tindakan lebih lanjut kepada saudari Dita karena tidak hanya terjadi gumpalan darah namun pasien juga mengalami pendarahan yang sangat banyak, kita akan segera melakukan tindakan operasi, untuk itu mohon melengkapi biodata persetujuan tindakan dan segala administrasi yang dibutuhkan"


"Saya akan urus administrasinya dok, tapi untuk tanda tangan saat ini sepertinya harus menunggu orangtuanya"


"Dimana orangtuanya? jangan sampai terlambat saya takut akan berakibat fatal" Imbuh dokter.


"Baik dok, sebentar lagi orangtuanya pasti datang" Jawab Tiar, Dia sangat kebingungan mengatasi situasi ini.


"Tiar, apa gak lebih baik kamu yang tanda tangan supaya segera ditangani?" Usul ku.


"Aku gak berhak Dam, sebentar lagi orangtuanya juga datang"


"Yaudah kalau gitu aku temenin ke ruang administrasi ya" Tawar ku.


"Gak usah kamu disini aja, siapa tau kalau ada kabar tentang keadaan Dina dan Dita" Dia melarang ku untuk ikut mengurus administrasi.


"Nanti kalau orangtua Dina atau Dita udah sampai langsung minta ke ruang dokter aja ya" Ujarnya lagi.

__ADS_1


"Iya" Aku mengiyakan permintaannya, sesaat kemudian dia pergi menjauh dariku.


Sepuluh menit berlalu Tiar pergi ke ruang administrasi, nampak dari kejauhan datang dua pasang laki-laki dan perempuan yang aku taksir berusia sekitar tiga puluh lima tahun atau empat puluh tahun dengan tergopoh-gopoh, mereka menghampiriku yang sejak tadi duduk di kursi depan ruang tunggu ICU.


"Nak temennya Dina dan Dita ya?" Tanya salah satu laki-laki dewasa itu.


"Iya benar pak, saya temannya" Jawabku sedikit canggung.


"Gimana keadaan anak saya?" Tanya salah seorang perempuan.


Belum sempat aku menjelaskan kepada mereka, Tiar datang bersama dengan dokter.


"Pasien atas nama Dita harus segera di operasi, silahkan segera di tanda tangani surat persetujuannya"


"Kami orangtuanya dok, kami siap jika memang itu yang terbaik" Jawab seorang wanita yang aku tafsir adalah Ibu dari Dita.


"Lakukan yang terbaik untuk anak kami dok" Pinta Ayah Dita.


"Mari ikut saya ke ruangan" Mereka pergi mengikuti dokter dari arah belakang.


🌝🌝🌝🌝🌝


Sore harinya tepat pukul 17.30 Dita dibawa perawat keluar dari ruang ICU menuju ruang operasi, tangis pecah dari orangtua Dita ketika menyaksikan keadaan anaknya terbaring lemah penuh luka di sekujur tubuhnya.


Tiar juga terlihat begitu lelah, aku membujuknya untuk mengantarnya pulang. Namun, dia sama sekali tidak menghiraukan ku yang sangat mengkhawatirkan dia.


"Aku antar pulang ya, mandi dan bersih-bersih, kamu juga masih belum pulih benar harus banyak istirahat" Bujuk ku.


"Enggak, nanti aja setelah operasi selesai" Tolaknya.


"Operasinya lama Tiar, kamu udah kelihatan lelah banget, please! jangan seperti ini" Aku kembali membujuknya, Ibu Dita yang sejak tadi memperhatikan kami akhirnya menghampiri kami.


"Nak Tiar! Ibu sangat berterima kasih sama kamu, kalau gak ada kamu Ibu gak tau Dita akan seperti apa" Ujar ibu Dita sambil menyeka sisa air matanya.


"Ibu gak perlu berterima kasih, Tiar sayang sama Dita dan juga Dina, mereka sudah seperti saudara bagi Tiar. Jika ingin berterima kasih seharusnya kepada Bapak yang sudah menyelamatkan mereka" Tiar bertutur kata dengan sangat lembut kepada orang yang lebih tua darinya.


"Besok kamu antar Ibu untuk menemui mereka ya Nak, Ibu mau bilang banyak terima kasih"


"Iya pasti, tapi sekarang kita harus fokus sama kesehatan Dita dulu Bu" Ucapku.


"Iya sayang kamu benar" Ujar Ibu Dita.


Aku melihat sekilas ke arah jam yang melingkar di lengan kiri ku, sepertinya Ibu Dita juga memperhatikan hal itu.


"Udah Tiar pulang aja, Ibu dan Bapak sudah datang, kamu pasti capek" Pinta Ibu Dita.


"Enggak bu, Tiar mau nungguin Dita disini" Kembali Tiar menolak permintaan orang lain yang peduli terhadapnya.


"Dita udah diruang operasi, nanti Ibu akan selalu kabari perkembangan kesehatan Dita, sekarang kamu pulang ya nak" Ibu Dita kembali meminta kepada Tiar.


"Baiklah bu, tapi selalu kabari keadaan Dita ya?" Pinta Tiar.


"Iya sayang pasti" Jawab Ibu Dita.

__ADS_1


Kemudian kami keluar menuju parkiran rumah sakit, aku mengantar Tiar pulang kerumahnya.


__ADS_2