Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
28. Kepulangan Dita Ke Indonesia, Mulai Curiga Dengan Adam


__ADS_3

Beberapa menit berlalu setelah menunggu akhirnya Dina mengabari jika sudah sampai di Bandara.


Segera aku menuju carport dan beranjak pergi menuju Rumah Sakit karena Dita sudah dijemput oleh ambulance.


Sekitar dua puluh lima menit lamanya aku berkendara akhirnya sampai di pelataran parkiran Rumah Sakit.


Hari ini sepertinya pengunjung Rumah Sakit tidak terlalu ramai karena lahan parkiran terlihat masih banyak yang kosong.


Aku sengaja tidak langsung turun dari mobil karena menunggu ambulance yang membawa Dita sampai di lokasi.


Sambil menunggu aku memainkan ponselku, akhir-akhir ini Adam jarang menghubungiku karena sibuk dengan pekerjaan barunya disana.


Saat aku melihat story WhatsApp terlintas sekilas nama Adam disana, kembali aku mengetikkan namanya.


"Padahal buat story sempat, tapi sekedar kasih kabar gak ada waktu" Gerutu ku.


Drtt...!Drtt...!


Saat ingin meletakkannya kedalam tas ternyata ponselku bergetar, setelah aku lihat ternyata ada satu pesan dari Adam.


[Sayang maaf akhir-akhir ini aku sangat sibuk, jadi gak sempat mengabari] Tulis Adam dalam pesan itu.


Aku hanya membuka tanpa membalasnya karena ambulance yang membawa Dita sudah datang.


Dengan segera aku turun dari mobil dan berlari menuju ambulance yang berhenti di depan IGD.


"Permisi minggir dulu mbak saya mau angkat pasiennya" Ucap perawat kepadaku.


"Oh iya maaf" Jawabku ramah.


Tubuh Dita yang masih terbaring lemah diatas troli Rumah Sakit yang didorong menuju ruang UGD.


Sampai disana kami tidak diperbolehkan masuk karena akan ada pemasangan alat dan pemeriksaan lebih lanjut oleh team dokter.


Aku berjalan mendekati Ibunya Dita untuk sekedar menenangkan beliau.


"Tante apa kabar?" Tanyaku kepada ibunya Dita yang sejak tadi menundukkan kepalanya.


"Eh Tiar, alhamdulillah baik" Jawabnya dengan tersenyum.


"Ayahnya Dita gak ikut tan?" Tanyaku penasaran karena sejak tadi tidak melihat ayahnya Dita.


"Oh itu, beliau sedang ada perjalanan bisnis yang gak bisa diwakilkan" Jawabnya lagi.


"Tapi om sehat kan tante?" Tanyaku lagi.


"Sehat, alhamdulillah sehat" Jawabnya terlihat berat seperti ada yang sedang disembunyikan.


"Boleh saya bicara sebentar?" Ucap dokter setelah keluar dari ruang UGD tempat Dita diperiksa.


"Boleh dok, dengan siapa?" Tanya Dina yang sejak tadi berdiri disebelah pintu keluar.


"Siapa saja boleh, minimal dua orang ikut ke ruangan saya" Ujar dokter memerintah.


"Yaudah Tiar kamu ikut sama ibunya Dita biar aku yang jaga disini" Pinta Dina.


"Aku? kamu aja Din, biar aku yang berjaga" Jawabku.


"Udah buruan sana nanti keburu dokternya nungguin, aku capek banget soalnya" Ujarnya lagi.


Dengan terpaksa aku menyetujui dan ikut ibunya Dita masuk kedalam ruangan dokter.


"Silahkan duduk" Perintah dokter.


"Begini, mohon maaf sebelumnya jika nanti ada perkataan saya yang kurang pas di hati ibu" Ujarnya sang dokter.


"Ada apa lagi ini dokter?" Tanya ibu Dita khawatir.


"Pihak rumah sakit Singapura sudah menyerahkan tanggungjawab pengobatan pasien atas nama Dita kepada kami" Ujarnya lagi.


"Iya terus kenapa dok?" Tanyaku tak kalah penasaran.


"Dengan berat hati saya harus katakan ini, saya hanya menyarankan saja, apakah sebaiknya peralatan bantu yang dipasang pada tubuh saudara Dita dilepas?" Jawab dokter sangat hati-hati dengan kalimatnya.


"Maksud dokter? anda menyarankan saya untuk membunuh anak saya sendiri? rumah sakit macam apa ini yang merekrut dokter seperti anda" Maki ibunya Dita kepada dokter.


"Bukan begitu maksud saya bu, jadi begini..." Belum sempat melanjutkan ucapannya ibunya Dita kembali memotong pembicaraan dokter.


"Saya kembali kesini demi untuk kesembuhan putri saya! Jadi kalau anda minta saya untuk melepas semua alatnya itu sama saja anda menabur garam diatas luka saya! jika terjadi apa-apa kepada Dita saya akan tuntut dokter! camkan itu!" Ancam ibu Dita kemudian pergi meninggalkan ruangan dokter.


Aku yang masih kebingungan sengaja bertahan didalam dan berusaha mendengarkan penjelasan dokter.

__ADS_1


"Dok? kalau boleh tau separah apa keadaan Dita sekarang sampai-sampai dokter menyarankan itu?" Tanyaku dengan lembut.


"Jadi begini Mbak, pasien Dita ini sudah mengalami kelumpuhan otak sebagian yang diakibatkan oleh benturan saat terjadinya kecelakaan, tidak bermaksud mendahului takdir tapi biasanya kasus seperti ini sekitar dua puluh persen bisa sembuh total, sisanya akan mengalami kelumpuhan seumur hidupnya" Jelas dokter.


"Astaghfirullah, apa itu artinya pengobatannya selama ini sia-sia dok?" Tanyaku lagi.


"Tidak ada pengobatan yang sia-sia, hanya saja akan memakan waktu dan biaya yang cukup besar" Ujar dokter.


"Apa gak ada jalan lain dok?" Tanyaku lagi.


"Ada, yaitu dengan terapi rutin dan pasien paling tidak harus dalam kondisi sadar" Jawabnya.


"Lalu Dita?" Tanyaku.


"Itu dia yang ingin saya bahas disini, tapi ibunya sudah salah paham dulu" Jawabnya.


"Mungkin karena sedang kalut dan mendengar dokter berbicara seperti itu jadi beliau tersulut emosi" Ujar ku.


"Dengan melepas alat belum tentu akan membunuh saudara Dita, justru jika alat dilepas maka keluarga bisa membawa pulang dan merawatnya dirumah, dengan begitu perkembangan kesehatannya bisa saja cepat pulih karena berada di lingkungannya sendiri, keluarga justru bisa membantu terapi penyembuhannya" Jelasnya lagi.


"Jadi begitu ya dok, coba nanti saya bicarakan pelan-pelan dengan ibunya" Ucapku kemudian permisi keluar dari ruangan dokter.


Saat kembali ke ruang UGD aku melihat ibunya Dita terduduk lemas seorang diri.


"Yaampun tante kenapa? Dina mana?" Tanyaku khawatir karena melihat wajah ibunya Dita memucat.


"Dina tadi permisi angkat telepon, ibu baik-baik aja Tiar" Jawabnya dengan lemah.


"Engga! ibu badannya juga panas, kita berobat sekalian ya?" Ajak ku.


"Gak usah nak, ibu cuma kecapekan pasti nanti istirahat sebentar udah enakan" Jawabnya berusaha meyakinkanku.


Dina datang dengan membawa sekantong plastik yang dia tenteng di tangan kanannya.


"Kamu bawa apa Din?" Tanyaku setelah dia sampai dihadapan kami.


"Makanan, dari tadi tante belum makan" Ujarnya.


"Pantesan badannya panas, yaudah tante makan dulu ya biar gak sakit" Pintaku.


Selagi mereka makan, sesekali aku melihat kearah dalam ruangan Dita dirawat, aku bingung dengan sendirinya bagaimana cara berbicara dengan ibunya Dita tentang perihal yang dijelaskan oleh dokter tadi.


Beberapa menit kemudian Dina menghampiriku yang terduduk di kursi ruang tunggu UGD.


"Apa aku harus mulai dari Dina dulu ya? biar nanti ngomongnya enak?" Gumam ku.


"Apa Ti? kamu ngomong apa tadi?" Tanyanya.


"Engga, kamu salah dengar kali?" Jawabku beralasan.


"Serius ah, tadi aku dengar kamu ngomong tapi gak jelas" Ujarnya lagi.


"Iya sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu, ini menyangkut Dita" Kataku.


"Dita? ada apa sama dia?" Tanya Dina penasaran.


"Jadi begini........" Aku mulai menceritakan semuanya kepada Dina tanpa ada satupun yang terlewatkan.


Setelah mendengar semuanya Dina pun setuju untuk membantuku meyakinkan ibunya Dita.


Saat kami akan berbicara kepada ibunya Dita ternyata beliau sedang menerima telepon yang sepertinya sangat penting, jadi kami urungkan niat kami sampai situasinya kondusif.


šŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒž


"Oh ya! gimana kabarnya Adam?" Tanya Dina.


"Alhamdulillah baik, astaghfirullah! aku lupa belum bales chatt dia" Sontak aku terkejut karena baru ingat tadi dia mengirim pesan namun belum aku balas.


Aku permisi sebentar kepada Dina untuk menelepon ponsel Adam, sepuluh detik kemudian telepon tersambung.


"Halo" Ucap seorang wanita dengan nada lemah lembut.


"Ini siapa ya?" Tanyaku penasaran.


"Adam lagi tidur, nanti aja telepon lagi ya" Ujar wanita itu kemudian mematikan ponselnya.


Bak di sambar petir disiang bolong, aku terkejut ketika telepon Adam yang mengangkat adalah seorang perempuan, ternyata disana dia ada main dibelakang ku.


Orang yang sangat aku percaya ternyata pada akhirnya dia juga yang mematahkan kepercayaan itu.


Karena keadaan pikiran yang sudah kacau, aku pamit pulang kepada Dina dan ibunya Dita.

__ADS_1


Aku tau tidak sebaiknya mengemudikan kendaraan disaat emosi, tapi jika berada di Rumah Sakit pikiranku juga tidak bisa fokus.


Kembali aku berperang dengan isi kepalaku sendiri yang datang silih berganti seperti alur sebuah film.


Tin...!Tin.....!Tin......! Suara klakson dari mobil yang ada di belakangku semakin keras terdengar.


"Kenapa sih ini orang! gak tau lampu merah apa ya" Umpat ku dari dalam mobil.


Tok!Tok!Tok! Seorang pria mengetuk jendela mobil bagian kemudi.


"Ada apa ya mas?" Tanyaku setelah menurunkan kaca mobilku.


"Udah lampu hijau mbak masak gak liat, saya sampai harus turun ini!" Ujarnya dengan kesal.


Sontak aku langsung melihat ke arah lampu merah, dan ternyata benar lampu sudah hijau bahkan hampir merah lagi.


"Iya pak maaf pak saya akan jalan" Ucapku merasa bersalah.


Kembali aku naikkan kaca mobil kemudian bergegas melaju ke depan, aku lolos dari lampu merah namun mobil yang berada di belakangku kembali terjebak lampu merah lagi.


Tanpa pikir panjang aku langsung melaju dengan kecepatan tinggi untuk menghilangkan jejak jikalau mereka mengejar kendaraan ku karena tersulut emosi.


"Gila ya? bisa diamuk orang banyak aku, bodoh banget sih Tiar" Gumam ku.


Kali ini aku tidak pulang kerumah melainkan mampir ke toko mama untuk membeli keperluanku makeup ku yang habis sekalian menenangkan pikiran, meskipun toko milik mama sendiri tetapi aku wajib membayar jika membeli sesuatu barang karena ada gaji karyawan yang harus mama tanggung.


"Selamat sore Mbak Tiar" Ucap seorang pegawai mama.


"Sore kembali Ani" Balasku.


"Mbak Tiar mau cari sesuatu atau kontrol toko?" Tanyanya lagi.


"Mau ini dong cari apa masker sama body shower nya abis dirumah, mama ada?" Jawabku.


"Ohh iya silahkan Mbak, kebetulan kemarin barang baru dateng, kalau ibu seharian ini belum kesini Mbak" Jawabnya ramah.


"Mungkin ke toko lain ya? yaudah kalau begitu aku mau lihat-lihat dulu ya" Pamitku kepada Ani.


"Mau ditemenin Mbak?" Dia menawarkan diri untuk menemaniku.


"Gak usah, kamu jaga kasir aja aku mau lama soalnya" Balasku.


"Ya sudah kalau begitu Mbak, selamat berbelanja" Ujarnya seperti menyapa pelanggan lain.


Aku berlalu meninggalkan Ani dan pergi ke rak-rak yang penuh dengan skincare, disini surganya para wanita, semua produk kecantikan ada disini, mulai dari untuk usia remaja sampai yang dewasa bahkan lanjut usia, tidak heran jika toko mama selalu ramai karena menjadi pusat tujuan utama satu-satunya di kota ini.


"Body scrub, Shampoo, Body Shower, Parfum, Kapas, Day Cream sama Pembersih Wajah juga habis" Gumam ku sembari mengambil barang yang ada di hadapanku.


"Masker Wajah, Body Cream, Kondisioner, apa lagi ya?" Aku memilah milah dan mengingat lagi apa yang sudah habis dirumah agar sekalian belinya.


Setelah dirasa sudah lengkap semua yang dibutuhkan, aku segera menuju kasir tempat Ani.


"Udah selesai Mbak belanjanya? ini aja?" Tanyanya.


"Iya An, kayaknya itu aja" Jawabku.


"Tumben sedikit Mbak?" Tanyanya lagi.


"Males stok banyak An, kalau dikit-dikit gini kan jadi sering keluar gitu" Jawabku sambil tersenyum.


"Ya sudah saya masukkan ke Paper Bag dulu ya" Izinnya ramah.


"Oke" Jawabku singkat.


"Mau masuk tagihan Ibu Vina atau gimana Mbak?" Tanyanya lagi.


"Eh jangan dong, eee... di total aja aku bayar An" Jawabku.


"Jadi total semuanya Rp.655.000,00 Mbak, barang segini habisnya lumayan ya Mbak, apa karena Day Cream nya yang mahal ya?" Ujar Ani ramah.


"Ah enggak juga sih An aku pakek cream murah kok, nih uangnya" Aku memberikan tujuh lembar uang berwarna merah.


"Jadi kembaliannya Rp.45.000,00 ya Mbak" Ujarnya lagi.


"Gak usah An ambil aja buat kamu, tips karena kamu ramah dan cekatan kerjanya" Kataku.


"Eh gak usah Mbak karena itu sudah kewajiban saya sebagai karyawan senior disini untuk memberi contoh kepada yang lain" Tolaknya ramah.


"Gak apa An itu gak seberapa, terima ya buat jajan" Paksa ku.


Setelah ia mengiyakan, aku kemudian pergi keluar toko dan masuk kedalam mobil untuk meneruskan perjalanan pulang kembali.

__ADS_1


__ADS_2