Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 92


__ADS_3

Varel dan Adel segera membersihkan diri setelah mereka kembali melakukan penyatuan sebelum akhirnya kembali ke ruangan Varel.


"Abang lapar, ssayang," ujar Varel saat ia dan Adel masuk ke dalam ruangannya.


"Ya, kan aku bilang tadi apa? Makan dulu, abang. Tapi, abang malah minta yang lain. Sebentar, aku siapin dulu makan siangnya," sahut Adelia. Ia lekas menyiapkan makanan yang ia beli sebelum ke kantor suaminya tadi di meja.


Sementara Varel kembali duduk di kursinya meneruskan pekerjaan yang tadi sempat tertunda karena ada misi yang tak kalah pentingnya. Yaitu melestarikan keturunanya. Dan untuk mewujudkannya, ia harus sesering mungkin bercocok tanam. Karena tidak tahu benih mana yang akan tumbuh menjadi buah cintanya dengan Adelia.


"Abang, makan dulu!" Adel menoleh pada suaminya yang kembali sibuk dengan layar di depannya.


"Sebentar, sayang. Nanggung," sahut Varel tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar yang ada di depannya.


Adel mendengus,"Tadi katanya lapar," gumamnya. Ia berinisiatif untuk mendekati suaminya tersebut dengan membawa makanan yang sudah ia siapkan barusan.


"Sibuk banget kayaknya," ucap Adel yng kini sudah beridir di samping Varel.


Varel mendongak lalu tersenyum. Tanda membenarkan ucapan sang istri.


"Tapi, masih sempat buat minta jatah, dua ronde lagi. Buat makan malah nggak sempat," omel Adel menyindir.


Lagi-lagi Varel hanya tersenyum, "Beda cerita dong, sayang," ucapnya.


Adel mencebik," ini makan dulu!" ia menyodorkan tangannya di depan mulut Varel. Pria tersebut langsung menatapnya lalu mengernyit.


Adel mengangguk, "Abang bisa sambil melanjutkan kerja. Aku suapi! Aku pakai tangan aja nggak apa-apa kan? biar gampang nyuwir ayamnya," ucapnya.


Varel langsung mengatupkan bibirnya menahan senyum, betapa bahagianya dirinya sekarang. Memiliki istri yang begitu mengerti dan perhatian kepada dirinya. Tak sia-sia dia mempertahankan gelar jomblonya selama ini kalau pada akhirnya memiliki seorang Adelia seperti sekarang.


Detik kemudian, Varel langsung membuka mulutnya. Menyambut suapan pertama dari Adelia setelah sah menjadi istrinya.


"Gimana? Enak? Ini pertama kali aku nyoba take away di cafe yang ada di ujung sana soalnya," tanya Adel.


"Enak, sayang. Apalagi kamu yang nyuapin. Makin enak," ucap Varel jujur.


"Abang paling bisa ngegombal!" timpal Adel.


"Beneran, apalagi pakai tangan gini nyuapinnya, nikmat mana lagi yang harus abang dustakan coba. Sering-sering begini ya? Abang suka! Kamu juga makan, sayang," ucap Varel.

__ADS_1


Adel tersenyum lalu mengangguk, ia juga menyuapi dirinya sendiri bergantian dengan sang suami hingga tak terasa makanan tersebut habis.


Karena tangan Adel kotor, kini Giliran Varel yang membantu Adel minum air mineral.


Selesai makan, Adel langsung membereskan bekas makan mereka," Abang, aku harus kembali ke butik sekarang," ucapnya.


"Nggak bisa ya di sini aja? Kalau di tungguin gini rasanya kerja jadi makin semangat," sahut Varel.


"Aku kan juga harus kerja, abang," timpal Adel.


"Nanti pulangnya abang jemput, ya?" ujar Varel.


"Siap!"


Varel mengantar Adel ke lobi. Kebetulan Rasel dan Shahila juga ada di sana, mereka baru saja sampai.


"Kenapa lo cengar cengir?" tanya Varel kepada Rasel.


"Lo sendiri kenapa senyum-senyum juga?" tak mau kalah, Rasel malah balik bertanya.


"Si al, lo! Nggak bisa lihat sahabat senang dikit emang!" sungut Rasel.


Adel dan Shahila sama-sama menggeleng melihat Varel dan Rasel yang kebih mirik tom and Jerry tersebut, mereka lalu mengabaikan keduanya.


"Kirain udah balik ke butik, Del?" tanya Shahila.


"Belumlah, aku kan nungguin kamu. Kemana aja sih, lama?" jawab Adel. Pura-pura menunggu, padahal ia sama sekali tak ingat waktu tadi.


"Nungguin, apa nungguin? Bukannya malah senang kalau aku tinggal lama? Baru juga aku pergi berapa lama, udah nambah aja tuh gigitan pak suami!" Shahila menunjuk leher Adel yang ada tanda kepemilikan Varel dengan matanya.


Adel langsung melotot dan membungkam mulut sahabatnya tersebut yang tidak ada filternya menggunakn tangannya,"Sssst, malu kalau di dengar orang, Sha, astaga kamu nih!" bisiknya khawatir. Ia celingak celinguk memastikan tak ada yang mendengar ocehan sahabtanya tersebut.


"Lah, kenapa malu? Orang sah-sah aja, kan sama suaminya, kecuali kalau..." belum juga Shahika selesai bicara, Adel langsung memotong.


"Udah udah, ayo kita balik!" Adel menyeret tangan Shahila. Bahaya kalau sahabatnya itu di biarkan terus mengoceh di sana. Ia sampai lupa berpamitan dengan Varel.


"Sayang...." panggil Varel memperingatkan sang istri.

__ADS_1


Adel langsung menghentikan langkahnya lalu memutar Badan menghadap sang suami, "Lpa sesuatu?" tanya Varel.


Adel tersenyum, ia melepas tangannya yang menggandeng tangan Shahila lalu menghampiri Varel.


"Maaf, abang," ucap Adelia manja. Yang mana membuat Varel gemas. Kalau tidak ingat ada makhluk yang bernama Rahayu Selamet di sana, sudah pasti ia menicum bibir sang istri yang terlau menggemaskan untuknya jika sedang manja dengan bibir bawahnya sedikit maju kedepan seperti saat ini.


Adel langsung meraih tangan suaminya tersebut. Ia mencium punggung tangan Varel dua kali dan terakhir telapak tangannya.Tak lupa Varel mencium kening Adelia.


"Gimana, Met? Pengin nggak kayak gini? Iri pasti, kan?" ujar Varel pamer pada Rasel.


Adel menoleh pada Rasel yang memasang muka cemberut dan masam. Untuk ke tahap seperti sahabatnya itu, entah kapan akan terealisasikan


"Makanya segera halalin sahabat aku, mas Rasel," ucap Adel.


"Maunya sih gitu, tapi susah! Kayaknya Aku harus cariin kakaknya cewek dulu baru bisa halalin dia deh!" Rasel menunjuk Shahila dengan ekor matanya.


Adel hanya tersenyum menanggapinya, "Aku pergi, ya?" pamitnya pada sang suami.


Varel mengangguk, "Hati-hati. Terima kasih buat siang ini. Nanti malam lagi!" sahut Varel yang berbisik di kalimat terakhirnya yang mana membuat wajah Adel langsung merona. Ia menghadiahi sang suami cubitan manja pada pinggangnya.


Adel tidak sadar, kalau apa yabg ia lakukan itu benar-benar membuat Varel jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesonanya.


"Kencengin usaha dan doanya, mas. Aku yakin Shahila sebenarnya punya keinginan yang sama kayak kamu," pesan Adel sebelum melangkah pergi mendekati Shahila.


"Rel...." panggil Rasel.


"Hem..." Sahut Varel, tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri yang semakin menjauh.


"Adel istri lo. Tapi, kok gue ngerasa dia perhatian banget ya sama gue. Dia yang paking ngertiin gue, jangan-jangan jodoh yang tertukar, Rel!" ucap Rasel.


Varel langsung menoleh dan menatap tajam sahabatnya tersebut, "Udah bosa idup, atau gimana lo?" tanyanya.


Rasel langsung menutup mulutnya, "Gue salah bicara, ya?"


"Nggak, lo nggak salah, Met. Yang slah kenapa gue bisa punya sahabat kayak lo! Mana satu-satunya lagi!" cicit Varel. Ia langsung meninggalkan Rasel karena Adelia juga sudah pergi dengan Shahila.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2