Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 42


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Varel dan Andini sedang makan malam berdua. Meski sedang bersama Andini, namun pikirn Varel kemana-mana. Ia justeu memikirkan Adel sedang berada dimana, sedang apa bersama Gema.


"Mas kenapa? Kok kayak nggak semangat gitu? Makanannya bghaj enak ya?" tanya Andini.


"Nggak kok, enak," sahut Varel tersenyum. Namun ia kembali memikirkan Adel. Entah kenapa, semakin ia sering bertemu dengan wanita itu lagi, semakin ia sulit menghilngkan dari pikirannya akhir-akhir ini.


Andini menghela napasnya. Semakin ke sini, pria di depannya tersebut bukannya semakin mencintainya tapi sepertinya justru sebaliknya. Dua tahun ia berusaha mengambil hati pria ya g berstatus sebagai tunangannya tersebut, namun sama sekali belum mendapatkan hasil.


"Em, mas...," Andini tampak sedikit ragu untuk bicara.


"Ya, kenapa?" tanya Varel.


"Bagaimana kalau kita menikah dua bulan lagi?" ucap Andini.


Mendengar ucapan Andini, Varel menghentikan aktivitas makannya, "Kenapa tiba-tiba?" tanyanya.


"Nggak tiba-tiba juga kan? Kita kan tunangn udah du tahun, udah lama. Lagian bukannya dari dulu mas yang udah nggak sabar ngajak aku nikah, sekarang aku udah siap jadi nyonya Varel," ucap Andini.


"Tapi, waktu dua bulan untuk memeprsiapkan pernikaha bukanlah waktu yang lama, pernikahan butuh persiapan yang panjang,"


"Enggak juga, dua bulan cukup mas. Nanti biar aku yang hadnle semuanya, mas tinggal terima beres gimana?"


Varel terdiam, pria itu tampak memikirkan sesuatu.


"Jangan bilang, mas Varel jadi ragu buat nikah sama aku? Selama ini mas yang bilang kalau kapanpun aku siap, kita langsung menikah. Aku nggak butuh pesta besar, sederhana saja cukup, mas. Nggak perlu persiapan panjang,"


"Baiklah, dua bulan lagi kita menikah, sesuai keinginan kamu," ucap Varel memutuskan.


Adel tersenyum, "Oke, aku akan persiapkan semuanya. Nanti aku telepon ibu, ya? Mau kasih tahu kabar gembira ini sama beliau. Syafira juga asti senag kalau tahu kita akan menikah, mereka udah lama nanyain hal ini," ucap Andini senang.


"Hem, kamu urus aja semuanya," ucap Varel. Ia kembali melanjuykan makannya yang sudah tak berselera lagi sebenarnya.


.


.


.


Gema mengantar Sahila terlebih dahulu ke apartemennya lalu mengantar Adel pulang. Sebenarnya Adel malas untuk pulang malam ini, tapi untuk berlama-lama dengan Gema pun ia merasa tak nyaman. Apalagi sudah tak ada Sahila diantara mereka.


"Apa sebaiknya kamu tidak pindah saja dari rumah Varel?" tanya Gema hati-hati.


Adel menoleh, menatap pria yang sedang mengemudi di sampingnya tersebut.


"Bukn maksud saya untuk sok mengatur kamu tapi..."

__ADS_1


"Sebentar lagi mereka menikah, kalau om Varel nggak mau pindah, nanti aku yng pindah. Kak Gema jangan khawatir," ucap Adel. Ia kembali melihat keluar jendela.


"Saya mengkhawatirkan perasaan kamu, del. Kalau kamu tetap tinggal di sana," batin Gema menatap lekat Adel yang asyik dengan pikirannya sendiri tersebut. Gema tahu dan sadar jika dirinya hanya sebagai pelarian saja, namun entah kenapa memilih pura-pura tidak tahu.


Suasana kembaki hening, Gema melirik Adek. Sepertinya kekasihnya itu tersinggung dengan ucapannya tadi, pikir Gema menduga.


"Saya tidak bermaksud ikut campur urusan kamu, tapi sekarang kan saya pacar kamu, jadi wajar kalau saya mengingatkan kamu. Bagaimanapun kan kalin bukan saudara kandung. Takutnya Andini salah paham juga," ujar Gema dengan hati-hati.


"Iya, aku tahu," sahut Adel singkat.


Tak ada lagi percakapan berarti antara keduanya hingga tanpa terasa mobil telah memasuki halaman rumah Adel.


"Del..." panggil Gema karena Adel melamun.


Karena Adel tak menyahut, Gema menyentuh bahu wanita tersebut, "Adelia...." panggilnya lagi.


"Eh iya, om kenapa?" ucap Adel tersentak kaget.


Kening Gema mengerut, "Om?"


"Em maksud aku, kak. Kenapa kak?" tanya Adel.


"Udah sampai, turun dan masuk gih, istirahat!" kata Gema tersenyum.


"Oh, udah sampai ya," Adel celingukan dan ternyata benar ia sudah berada di rumah, "Benar ternyata, aku turun dulu. Kaka Gema hati-hati di jalan," ucap Adel sebelum ia turun.


Adel mengangguk lalu melambaikan tangannya saat mobil Gema mulai melaju.


Saat hendak memutar badan untuk masuk, Adel melihat mobil Varel masuk ke halaman.


Tak ingin berpapasn dengan Varel, Adel memilih langsung berjalan menuju ke pintu. Dengan cepat Varel turun dari mobil dan menyusulnya. Varel menahan pintu supaya tertutup kembali.


"Apaan sih om?" Adel menatap tajam Varel.


"Aku mau bicara," ucap Varel.


"Bicara ya bicara saja, aku masih dengar maski dengan jarak, minggir aku mau masuk!" Adel menyenggol tubuh Varel hingga pria itu mundur satu langkah.


Varel segera menyusul Adel masuk ke dalam.


"Tunggu, Del! Aku mau ngomong sesuatu sama kamu,"


"Soal?" tanya Adel.


"Andini mengajak aku menikah," jawab Varel.

__ADS_1


Deg!


Adel sudah tahu berita itu, tapi tetap saja rasany nyesek hingga ke ulu hati saat mendengar langsung dari mulut Varel. Ternyata Andini tak bercanda, pikirnya.


"Ya... Bagus dong? Terus apa masalahnya? Nikah ya nikah aja. Toh kalian emang udah tunangan, tinggal nikah aja," Adel berusaha setenang mungkin saat bicara meski hatinya sakit.


"Kamu... Nggak...."


"Udah ya cuma mau ngasih tahu itu kan? Ucapan selamatny nanti aja deh pas hari H. Aku naik dulu!" Adel segera menaiki tangga.


Varel menyusulnya.


"Om lupa dengan peraturan? Om nggak boleh naik ke lantai atas," peringat Adel.


"Oh, baiklah. Kalau begitu kamu yang turun!" Varel menarik tangan Adel suaya ikut turun dengannya.


"Apaan lagi sih om, lepas!" ucp Adel sambil melangkah tergesa mengikuti langkah Varel.


"Aku hanya mau kamu jujur, karena ini akan menjadi pertimbangan aku untuk menikahi Andini," Varel mengunci tubuh Adel di dinding.


Adel meremat kedua tangannya menunggu pertanyaan Varel.


"Apa kamu benar-benar sudah tidak memiliki rasa apapun terhadapku? Apa kamu benar-benar merelakan aku menikahi wanita lain?" tanya Varel.


Sedetik dua detik Adel terdiam. Hatinya bergejolak, jawaban apa yang harus ia berikan. Haruskah ia jujur? Namun, akan ada banyak hati yang tersakiti. Apalagi, langkah Varel dan Andini sudah sejauh ini. Kenapa baru sekarang mempertanyakan kerelaan hatinya.


"Jawab aku, Del!" Varel menarik dagu Adel supaya menatapnya.


"Katakan, kalau kamu masih cinta sama aku, maka aku akan...."


"Tidak!" sahut Adel cepat.


Varel menatapnya penuh harap.


"Sudah berapa kali aku bilang, aku nggak cinta sama om. Dulu dan sekarang sama, perlu om ingat kita tidak pernah menjalin hubungn spesial sebelumnya. Dan sekarang pun sama. Jadi tidak perlu ijin dariku untuk om mau menikah dengan wanita lain, termasuk Andini!" ucap Adel, tangannya mengepak kuat saat mengatakannya.


Varel memejamkan matanya karena kecewa, bukan ini jawaban yang ia harapkan.


" Tatap mataku dan katakan kalau kamu benar-benar tidak mencintaiku!" tantang Varel. Namun Adel bergeming. Ia tak bisa menatap manik mata pria di depannya tersebut. Atau pertahanannya akan roboh.


"Tatap aku, Del! Dan katakan!" Varel menyentuh kedua bahu Adel.


Adel berusaha menatap lekat mata Varel, "Aku, sama sekali tidak mencintai Om!" ucapnya lantang.


"Baiklah, kamu boleh pergi!" Varel melepas tangannya dari bahu Adel dan enggan menatap wanita tersebut. Adel sekuat tenaga menahan tangisnya, namun tetap saja sudah menggunung di pelupuk mata dan...

__ADS_1


Tes...


Adel segera mengusap air matanya sebelum terlihat oleh Varel. Ia lalu berlari meninggalkn Varel menuju kamarnya.


__ADS_2