Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
25. Anak Bungsu Pak Man Harus Dirawat Inap, Dan Kabar Duka Dari Pak Tarno


__ADS_3

Dokter keluar dari ruangan setelah beberapa lama memeriksa putrinya pak Man.


"Kami sudah memberi penanganan,sekarang sudah tidak kejang lagi tapi tetap harus dalam pantauan" Ujar sang dokter.


"Apakah saya boleh masuk kedalam dok?" Tanya Pak Man.


"Boleh, nanti kalau sudah stabil kita pindah ke ruang rawat inap" Ucap sang dokter memberi izin.


"Ayo masuk Bu, ayo non Tiar juga ikut masuk" Ajak Pak Man.


"Gak usah pak saya diluar saja, sebentar lagi sudah waktunya nenek makan dan minum obat jadi harus pulang" Tolak ku dengan halus.


Setelah mereka masuk aku memutuskan untuk tetap menunggu diluar sampai keadaan benar-benar membaik.


Aku mengambil ponsel dari dalam tas coklat yang berada diatas pangkuanku, ternyata jam dilayar ponselku sudah menunjukkan pukul 15.00 sore itu waktunya nenek makan dan minum obat lagi


Tanpa menunggu pak Man dengan istrinya keluar aku bergegas pergi meninggalkan Rumah Sakit dan segera pulang ke rumah, karena aku tadi langsung pergi dengan pak Man tanpa mengabari Bik Inah dan Mbak Lastri.


Tin....!Tin....!Tin....! Aku membunyikan klakson berulang kali namun tidak ada yang keluar membukakan pintu gerbang.


Aku memutuskan turun dan memencet bel rumah, siapa tau mereka sedang sibuk dibelakang jadinya tidak mendengar kalau kendaraan ku datang.


Sepuluh menit aku menunggu tapi tidak kunjung ada pergerakan dari dalam rumah, sesaat akan masuk mobil kembali, datang motor pak Tarno dari arah luar.


"Mbak gawat, kenapa ponselnya gak bisa dihubungin?" Ujarnya dengan tergesa.


"Gawat kenapa pak? aku gak tau kalau handphone nya mati" Jawabku kebingungan.


"Nyonya sepuh tadi jatuh saat akan turun dari tempat tidur mengambil obat, dan sekarang sedang dilarikan kerumah sakit, ini saya pulang mau ngecek rumah sudah dikunci semua atau belum" Jelasnya.


"Astaghfirullah Nenek" Seketika kakiku lemah tak berdaya.


"Lebih baik kita segera ke Rumah Sakit sekarang Non" Ajaknya.


"Yaudah pak pakek mobilku aja, bapak yang nyetir aja" Ujar ku.


"Sebentar saya cek kedalam dulu ya Non sudah dikunci apa belum" Ujarnya.


Setelah mungkin ada sekitar lima menit pak Tarno kembali keluar dan mengunci gerbang dari luar.


Aku memintanya cepat-cepat agar segera sampai di Rumah Sakit, pikiranku tak karuan jika mengingat kejadian yang diceritakan oleh pak Tarno tentang Nenek, betapa sakit yang beliau rasakan ketika jatuh tadi, untung saja ada yang mengetahuinya, kalau tidak sudah pasti aku akan sangat merasa bersalah.

__ADS_1


Pak Tarno mampu menempuh jarak hanya dengan dua puluh lima menit, sampai di Rumah Sakit aku berlari menuju ruang UGD, disana sudah ada Bik Inah dan Mbak Lastri yang menunggu di luar.


"Gimana keadaan Nenek Bik?" Tanyaku setelah menghampiri mereka.


"Nyonya sepuh sedang ditangani oleh dokter didalam Non, kita tunggu dulu hasilnya" Ucap Bik Inah.


"Non sebaiknya memberi kabar kepada Nyonya besar terlebih dahulu" Saran Mbak Lastri.


"Iya Mbak, aku akan telepon Mama" Jawabku menyetujui saran dari Mbak Lastri.


Aku kembali mengobrak abrik isi tasku, setelah menemukan ponselnya aku mencoba menghidupkan layar kunci namun layarnya tidak bisa hidup, baru aku ingat sebelum pergi kesini ponselku memang mati karena kehabisan baterai.


"Mbak Lastri atau Bik Inah ada yang bawa handphone gak?" Tanyaku pada kedua Asisten Rumah Tangga.


"Ndak bawa Non, tadi buru-buru jadi tertinggal" Jawab mereka.


"Pak Tarno bawa gak ya?" Tanyaku lagi.


"Coba ditanya dulu Non" Saran Mbak Lastri.


Aku keluar ruang UGD dan mencari keberadaan pak Tarno, setelah celingukan sendirian akhirnya aku menemukan keberadaan beliau dibawah pohon rindang sedang berteduh.


"Pak Tarno!" Panggilku dari kejauhan.


Dengan setengah berlari beliau menghampiriku, tanpa berlama-lama aku langsung menyampaikan maksudku memanggil beliau.


Panggilan ke nomor Mama berdering namun tidak ada jawaban, apa mungkin karena nomor pak Tarno jadi Mama tidak langsung mengangkatnya, untuk panggilan berikutnya aku mengirim pesan terlebih dahulu bahwa aku yang menelepon karena ada kabar penting.


Akhirnya tidak lama kemudian Mama mengangkat telepon, belum sempat beliau bicara banyak aku sudah memotongnya dengan mengatakan kalau Nenek sedang berada di Rumah Sakit, sempat tidak ada sahutan ketika aku memanggil Mama, mungkin beliau pingsan atau syok entah aku tidak tau keadaannya, hal itu menambah kepanikan ku.


Beberapa menit setelah Mama terdiam ada terdengar ada suara seorang pria yang mengambil alih ponsel Mama.


"Halo" Ujarnya.


"Iya halo, ini siapa?" Tanyaku khawatir.


"Oh Non Tiar? ini pak Muh Non, Nyonya besar pingsan di Cafe" Jelas pak Muh.


"Mama lagi gak sama Papa pak?" Tanyaku heran.


"Tuan Frans sedang ada meeting dengan klien di kantor jadi saya yang diutus untuk mengantar Nyonya keluar" Ucap pak Muh menjelaskan.

__ADS_1


"Ya sudah dulu Non, saya bawa pulang Nyonya ke Rumah Sakit dulu" Pamitnya.


"Gak usah pak, minta tolong kalau ada wanita disitu untuk bantu menyadarkan Mama dari pingsannya setelah itu langsung antar pulang kesini aja" Perintahku kepada pak Muh.


"Loh kenapa Non mendadak sekali?" Tanyanya.


"Udah gak ada waktu lama pak, segera laksanakan biar nanti aku yang hubungi Papa" Perintahku lagi.


Aku menutup telepon kemudian beralih menelepon ke nomor Papa, menghubungi Papa sulitnya sama halnya dengan menghubungi Mama.


Setelah aku coba beberapa kali baru ada jawaban dari beliau, belum juga aku menyampaikan maksudku Papa sudah izin mematikannya lagi dengan alasan sibuk rapat.


Dengan perasaan kecewa aku mematikan telepon dengan paksa dan mengembalikannya kepada pak Tarno.


"Nih pak handphone nya, terima kasih! nanti kalau pak Muh sudah kelihatan datang langsung tuntun Mama ke ruang UGD saya tunggu disana" Ketus ku dengan pak Tarno karena merasa kesal pada Papa.


"Baik Non akan saya laksanakan" Jawabnya tegas.


Aku kembali masuk ke ruang UGD, belum ada tanda-tanda dokter akan keluar.


"Gimana sih Bik tadi kejadiannya?" Tanyaku membuka bicara kepada Bik Inah.


"Tadi Bibik kan ke kamar Nyonya sepuh bawa makanan sore ini sama air minum, tapi beliau minta dibuatkan bubur sumsum,ya terus saya langsung ke dapur air minum sama obat tak tinggal dimeja lampu samping kanan beliau, setelah pas saya udah balik lagi ke kamar Nyonya sepuh sudah dibawah gak sadarkan diri gelasnya berantakan dan lantainya basah" Jelasnya.


"Berarti Nenek jatuh dari tempat tidur?" Tanyaku lagi.


"Dari keadaan yang saya lihat dikamar sepertinya begitu Non, terus saya langsung teriak panggil Lastri sama pak Tarno" Jelasnya sedikit ketakutan karena beliau yang saat itu ada di kamar Nenek.


"YaAllah semoga gak terjadi hal yang lebih buruk dari ini" Ujar ku.


"Keluarga pasien atas nama Ibu Aminah" Panggil perawat kepada keluarga atas nama Nenek.


"Saya sus" Jawabku.


aku berdiri dari kursi kemudian berjalan mendekati suster.


"Mari ikut masuk ke dalam" Ajak sang suster.


"Ada apa ya sus? Nenek saya baik-baik aja kan?" Tanyaku sangat khawatir.


"Nanti akan dijelaskan oleh dokter didalam" Ujarnya.

__ADS_1


Aku menurut saja dan mengikuti perawat masuk kedalam ruang UGD.


__ADS_2