Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 71


__ADS_3

"Mobilnya kenapa?" tanya Varel sekali lagi.


"Ah ini, nggak tahu kenapa tiba-tiba mogok, om," jawab Adel.


"Boleh coba aku lihat?" tanya Varel dan Adel mengangguk. Ia menggeser tubuhnya demi memberi tempat kepada Varel.


Varel menarik jaket yangbia kenakan hingga ke siku dan mulai memeriksa mobil mogok tersebut.


Adel terus memperhatikan Varel. Pria itu terlihat masih sama. Meski usianya sudah memasuki tiga puluh lima, pria itu tetap masih tampan. Dan justru semakin terlihat matang dan tampan diusianya kini.


Sementara Rasel, ia masih bengong, tak percaya jika wanita didepannya adalah Adelia.


"Mas Rasel apa kabar?" Adel menyapa Rasel.


"I-ini beneran Adel? My baby bening? Apa cuma mirip? Jangan-jangan aku ketularan Varel yang suka mengkhayalkan Adel?" tanya Rasel.


Mendengarnya, Adel sedikit tersentuh, rupanya Varel masih sering memikirkannya. Varel hanya melirik sekilas kearahnya saat. Pria itu tak mengiyakan maupun menyangkal. Varel kembali mengutak-atik mesin mobil.


Varel yang ia kenal kini sedikit berbeda, lebih pendiam. Atau itu hanya perasaan Adel saja? Entahlah.


"Iya, benar! Ini aku!" ucap Adel tersenyum.


"Oh astaga! Kemana saja kamu, Varel hampir gila gara-gara di tinggal kamu pergi!" Rasel bersiap untuk memeluk Adelia, namun deheman keras Varel membuatnya urung melakukannya.


"Sory-sory. Salaman aja, nanyi ada yang ngamuk kalau aku peluk!" sindir Rasel, ia mengulurkan tangannya.


Adel terkekeh, ia membalas uluran tangan Rasel, "Kabarku baik, semoga mas Rasel juga, ya?" ucapnya.


"Ya ginilah, masih jadi jomblo happy. Soalnya calon makmumku aku perkirakan doanya yang susah-susah, terlalu kencang, jadi ya akunya di paksa jadi bujang terus sampai halalin dia," celoteh Rasel yang mana membuat Adel kembali tersenyum.


"Semoga secepatnya doa calon mas Rasel di kabulkan ya? Biar kalian cepat ketemu. Bagaimana dengan Shahila? Apa masuk kriteria calon makmum?"

__ADS_1


"Hah, dia mah berat. Benci banget kayaknya sama aku, teman kamu itu. Padahal aku nggak tahu apa-apa,"


"Yang sabar, ya. Kalau jodoh nggak akan kemana kok," ujar Adel tersenyum. Dan senyum itu berhenti pada sosok pria yang tadi katanya mau membantu membetulkan mobilnya namun ternyata diam-diam mencuri pandang terhadapnya.


Varel yang merasa ketahuan karena telah diam-diam memperhatikan senyum yang ia rindukan itu langsung salah tingkah. Ia kembali fokus pada mesin mobil di depannya.


Kini giliran Adel yang kembaki memperhatikan Varel. Ia kemudian tersenyum tipis.


"Bisa nggak, Rel? Nanti takutnya malah makin parah rusaknya kalau lo yang benerin!" celetuk Rasel.


Adel juga ikut menunggu jawaban dari Varel, ia benar-benar ingin mendengar suara pria itu. Namun, sayang, Varel tak menyahut.


Rasel berdecak, "Oh ya, kamu kapan balik ke sini? Balik dalam rangka apa nih? Cuma untuk bernostalgia atau ingin kembaki tinghal di sini?" tanya Rasel. Pertanyaan itu mewakili apa yang ingin Varel tanyakan sejak pertemuannya dengan Adel minggu lalu. Dan kini ia siap memasang telinga untuk mendengar jawaban Adel.


" Emmm, sebenarnya sih aku udah enam bulanan balikdan tinggal Jakarta, mas,"


"Enam bulan? Kemana aja lo, Rel. Do'i udah di Jakarta selama itu dan lo nggak tahu!" batin Varel merutuki kebodohannya.


"Aku juga lagi buka cabang butik di sana. Dan baru dua mingguan ini balik ke sini. Kalau bukan karena pekerjaan sih sebenarnya aku malas ke sini. Tapi, ya mau gimana lagi, ada klien yang maunya aku turin langsung mengerjakan gaun pengantin untuknya. Kebetulan rumahnya nggak jauh dari sini. Aku baru dari rumahnya, eh malah mobilnya mogok. Shahila kayaknya jarang servis mobilnya, baru aku pakai sekali udah mogok gini!" sahut Adel panjang lebar.


" Oh gitu, terus sekarang tinggal dimana? Udah married belum nih kamu? Atau malah udah punya baby yang unyu-unyu?" tanya Rasel lagi. Yang kembaki snagat mewakili Varel. Pria itu merasa banyak yang ingin di tanyakan tapi lidahnya kelu, justru grogi malahan dia rasa, macam abg yang sedang jatuh cinta saja.


" Selama di sini, aku tinggal di rumah Shahila, mas. Soalnya nggak kama aku di sini, dua mingguan lagi aku udah harus ke Jakarta lagi. Apa kelihatannya aju udah pantas jadi ibu, mas? Tapi sayangnya belum ada jodohnya," ucap Adel, ia melirik Varel.


Pria itu tersenyum mendengarnya, rasanya seperti mendapat oase di tengah gurun pasir. Mak nyessss, rasanya. Ternyata sang pemilik hatinya masih single. Ingin rasanya ia sujud syukur.


Meskipun di sayangkan kenapa harus tinggal di rumah Shahila, kan ada Gema. Pikir Varel.


"Ehem! "


Varel mendekati Adeld dan Rasel, "Kayaknya mesti di bawa ke bengkel mobilnya. Biar aku telepon bengkel langganan aku ya?"

__ADS_1


"Apa nggak merepotkan, om?" tanya Adel.


"Sama sekali enggak. Emmm... Mau ke rumah dulu? Udah dekat ini, mama pasti senang kalau tahu kamu di sini. Daripada menunggu di sini, sepertinya akan butuh waktu yang cukup lama," ucap Varel memulai aksi modusnya.


Adel menoleh ke sebelah kiri, memang benar, temoat itu sudah dekay dengan rumahnya dulu.


" Boleh, deh kalau nggak ngerepotin," ucap Adel kemudian. Ia juga merindukan rumah itu. Apalagi kenangannya.


Varel tersenyum, dalam hati ia bersorak ria.


"Sel, lo tungguin di sini, ya. Sebentar lagi montir datang. Kalau harus di bawa ke bengkel, lo ikut aja, biar ntar bisa bawain mobilnya pulang,"


"What?" Rasel mencebik, ia tahu sebenarnya Varel bisa membenarkan mobil itu. Dan dalih harus panggil montir yang lebih ahli hanya alasannya saja.


"Lo beneran nggak bisa benerin emang? Tumben biasa lo jahi kalau soal ginian," ucap Rasel sengaja iseng.


Varel menatapnya tajam, nggak peka banget sih jadi sahabat, pantesan awet jomblo, pikir Varel sebal.


"Gue juga cuma manusia yang banyak kurangnya, nggak semuanya gue bisa, Selamet!" ucap Varel, matanya berkedip memberi kode.


"Mata lo kenapa? Belekan?" ledek Rasel.


"Anj...." hampir saja Varell mengumpat, "breng sek, lo!" tetap saja mengumpat akhirnya meski lirih.


Rasel tergelak, merasa menang mengerjai sahabatnya tersebut, "My baby bening, ikut aja duda satu ini, ya. Mobilnya biar Aa' Rasel yang urus!" ucap Rasel pada Adel.


Itung-itung membantu temannya yang hampir sekaratt karena cinta itu untuk untuk kembali berusaha, pikir Rasel. Ia senang jika Varel bisa menemukan kebahagiaannya kembali.


Bagaimana tidak di katakan sekaraat, pria itu seperti kehilangan jiwanya. Kalau saja tidak ada Tristan yang harus Varel pikirkan masa depannya, pasti udah nyerah dia.


Wanita itu hanya mengangguk seraya tersenyum.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Varel. Tanpa sadar ia menggandeng tangan Adel untuk menyebrang jalan menuju mobilnya.


...****************...


__ADS_2