
Jika biasanya Tristan tidak ikut makan malam karena sudah tidur seleas isya', lain halnya dengan malam ini. Anak itu berusaha kerasa supaya matanya yang sebenarnya sudah sangat mengantuk untuk tetap terjaga.
Bukan tanpa alasan balita yang sangat aktif itu ikut bergabung di meja makan malam. Ia memiliki misis khusus, yaitu untuk membujuk abangnya supaya mengajaknya pergi membeli madu dan bayi.
"Tumben anak bayik belum tidur. Biasanya jam segini udah ke alam mimpi," Varel mengusap kepala Tristan lalu duduk di sebelah pria kecil tersebut.
"Belum ngantuk katanya," timpal bu Lidya.
Varel menoleh, ia melihat mata Tristan sudah merah, tanda anak itu sebenarnya sudah mengantuk. Ya, untuk seaktif Tristan biasanya akan tidur lebih awal karena kelelahan.
"Matanya tinggal setengah waat lagi tuh, bobok gih! Udah mam, kan?" ucap Varel ada adik kecilnya tersebut.
Tristan menggeleng, kedua tangannya menopang dagunya di atas meja makan dengan susah payah karena meja tersebut terlalu tinggi untuknya. Kakinya yang menggantung di udara ia goyang-goyangkan di bawah sana supaya tetap bertahan melek.
"Ini, bang!" Adel menyodorkan nasi dan lauknya kepada Varel.
"Makasih, sayang," ucap Varel dan di balas senyuman oleh sang istri.
Mereka pun mulai makan, kecuali Tristan yang memang sudah makan habis maghrib tadi. Bu Lidya sudah berkali-kali mengajak Tristan untuk tidur, tapi anak itu kekeuh menolak.
Adel yang duduk di depan Varel dan Tristan melihat Tristan semakin mengantuk, bahkan anak itu tersentak karena matanya terpejam. Adel memberi kode kepada Varel supaya menoleh pada sang adik.
Varel ingin tertawa melihatnya, tapi lebih kepada tak tega. Pasti anak itu ingin sesuatu, pikirnya.
"Bayi jaman sekarang, ada aja kelakuannya," gumma Varel.
"Donat gula kesayangan abang, mau apa sih? Sampai bela-belain nggak bobok, hem?" tanya Varel.
Bu Lidya dan Adel ikut menatap Tristan. Mereka juga penasaran.
"Abang Palel paling ganteng, Tlistan boleh ya di ajak beli madu sama bayi?" ucap Tristan.
Gubrak!
Varel menghela napasnya panjang, ternyata drama sore tadi masih berlanjut.
"Emang mau beli madu dimana sih Rel? Iyain aja kenapa, kasihan adik kamu sampai segitunya," ucap bu Lidya.
Varel menatap ibunya, "Siapa yang mau beli madu sih? Anak bayi mama nih yang salah paham, dikiranya aku mau jajan kali. Padahal aku bilangnya mau bulan madu buat dapat bayi sendiri," jelas Varel.
__ADS_1
"Bulan madu?"
"Iya buk, rencana aku sama abang mau bulan madu ke swiss. Cuma tadi sore abangnya iseng sama Tristan. Eh tristan pahamnya malah mau beli madu sama bayi," Adel ikut menjelaskan.
"Wah, nak. Kamu nggak boleh ikut kalau begitu," kata bu Lidya pada Tristan. Balita tampan yang sudah mengantuk itu hampir menangis lagi karena memag tidak paham maksud pembicaraan orang-orang dewasa di sana. Ia menangkapnya tetap beli madu dan bayi, dan dia dilarang ikut.
"Abang, mama, semua udah gak cayang Tlistan!" keluh Anak itu. Matanya semakin berkaca-kaca. Tapi, bukannya menangis, Tristan malah langsung merem, mirip orang pingsan karena terlalu mengantuk.
Varel dan yang lainnya tentu saja tertawa lirih melihat tingkah bocah tersebut.
" Ada aja kelakuan anak bu Lidya nih," ucap Varel.
"Heh, kamu juga anak mama! Mending dia kemana-mana. Dulu kamu malah lagi pup tidur ngorok. Tahu deh sekarang masih ngorok apa enggak. Kalau masih bekap aja mulutnya pakai bantal, Del!"
"Buka aja aibku semuanya, ma. Nggak mempan! Istriku ini udah cinta mati sama aku, iya kan sayang?" ucap Varel sembari mengangjat Tristan yang sudah tertidur dengan posisi duduk tersebut.
"Dih, nggak sadar, dianya padahal yang bucin akut! Kok betah sih kamu sama cowok kayak gitu, Del" sindir bu Lidya.
"Namanya juga cinta, ma. Gimanapun abang ya Adel terima,"
"Ngerti kan sekarang kenapa anak mama yang ganteng ini bisa bucin akut sama mantu ini? Mana bisa aku tak jatuh cinta dengannya setiap saat kalau di buat klepek-klepek terus. Adeliaku diam aja, aku suka. Apalagi dia bergerak, uh mantap!"
"Astaga! Suamimu, Del! Udah sana, bawa Tristan ke kamar!" usir bu Lidya.
"Tristan biar tidur sama kami malam ini," ucap Varel. Ia menatap Adel, meminta persetujuan istrinya tersebut. Dan dengan senang hati Adel mengangguk. Karena itu artinya ia akan terbebsa dari terkaman sang suami.
"Emang nggak ganggu kalian?" tanya Bu Lidya.
"Nggaklah, buk. Tristan pasti seneng nanti kalau kebangun ada di kamar abangnya," ucap Adel.
Varel segera membawa Adik kesayangannya tersebut ke kamar, sampai di kamar, Tristan membuka matanya, "Mau ikut abang beli madu," ucapnya lirih dan kembali terpejam.
"Iya, besok beli madu sama abang di IndoMei," ucap Varel. Ia heran apa bagi balita itu sesuatu yang sangat penting dan meyenangkan sampai terngiang-ngiang segitunya.
.
.
.
__ADS_1
Adel terus bergelayut manja pada lengan suaminya. Saat ini mereka sedang berada di pesawat menuju ke Swiss untuk bukan madu sesuai rencana. Lebih tepatnya, sesuai kado dari Gema.
Tentu saja, mereka harus melewati drama si donat Gula dulu sebelum benar-benar bisa lepas berangkat.
"Makasih abang sayang, aku happy banget, deh!" ujar Adel saat menatap wajah datar suaminya.
"Jangan berterima kasih padaku, ini sumbangan dari mantanmu," jawab Varel.
Adel berdecak lalu mencubit pinggang suaminya, "Gitu amat, abang ih! Yang penting kan hati dan cintaku buat aku bukan sumbangan dari kak Gema juga," omelnya.
Varell langsung tersenyum, ia mengacak rambut sang istri dan di bonusi sebuah kecupan pada puncak kepala wanitanya tersebut.
"Eh tapi bisa jadi sih, apa namanya coba, kan sebelumnya aku kekasihnya, terus hati aku di sumbangin ke abang gitu?" ucap adel sengaja menguji sang suami.
Benar saja, Varel langsung memiting kepala Adel, "Sembarangan kalau ngomong!" ucapnya
Adel terkekeh, "Ampun ampun, abang. Bercanda! Abang kan paling tahu isi hati aku. Bukan sumbangan, sepenuhnya milik abang, sejak awal,"
"Abang tahu," hanya itu jawaban Varel , ia terus memiting dan menghujani sang istri dengan ciuman.
"Ampun abang, lepasin," mohon Adel semanri terkekeh.
"Nggak mau!" tolak Varell.
"Ish, bau ketek!"
"Nggak peduli! Nggak sadar apa tiap malam. Kalau tidur sukanya ngusel ketek abang!"
Adel pasrah di uyel-uyel Varel. Untung saja mereka berada di pesawat jet yang sengaja Varel sewa. Jadi mereka bebas mau jungkir balik sekalipun. Sewa ya, buat beli sendiri, Varel belum sesultan itu.
Lelah bercanda, mereka kembali beremsraan dalam diam.
"Abang senang nggak? Kita mau bulan madu, loh!" tanya Adel kemudian.
Varel menarik tangan Adel yang sejak tadi tak pernah lepas dari genggamannya tersebut lalu di ciumnya.
"Lebih senang kalau pakai uang sendiri, bukan sumbangan. Yang bikin seneng cuma kamu, sumbangannya enggak," ucap Varel.
Adel berdecak, suaminya masih saja cemburu dengan Gema. Dan itu buat Adel gemas. Ia mencium bibir suaminya dengan kecupan singkat beberapa kali.
__ADS_1
...****************...