Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 47


__ADS_3

Akibat semalam tidak bisa tidur, keesokan harinya, baik Adel maupun Varel sama-sama bangun kesiangan.


Bedanya, jika Adel sibuk mempercantik diri di dalam kamarnya sebelum turun, Varel lebih memilih langsung keluar kamar dan berkutat di dapur untuk membuat sarapan.


Selesai dengan segala keperluannya di kamar, Adel buru-buru ke dapur untuk sekedar minum air putih, di sana ia melihat Varel yang sedang memasak.


Varel menoleh, "Pagi," sapa mereka kompak secara bersamaan. Mereka tersenyum, "Telat bangun?" tanya mereka bersamaam lagi. Yang mana membuat keduanya terkekeh.


"Iya, aku udah telat ke butik. Hari ini aku harus menyelesaiakan gaun Andini. Soalnya nanti sore Andini mau memastikan kalau gaunnya benar-benar sudah selesai dan sesuai keinginan dia, kalau belum sesuai, aku harus mengubah lagi, mumpung Masih ada waktu, om," jelas Adel. Ia meneguk air putih di tangannya.


Varel mengerutkan keningnya, "Kamu nggak amnesia, kan?" tanyanya.


Adel menggeleng, "Nggaklah, kenapa memang?" ia justru balik bertanya.


Varel mematikan kompor lalu balik badan. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada dengan bersandar pada meja dapur, "Bukankah semalam kita sudah sepakat? Kenapa masih lanjut ngurusin gaun Andini?" tanyanya heran.


"Bagaimanapun nantinya, gaun pengantin itu adalah tanggung jawabku. Aku tetap harus menyelesaikannya, om," jawab Adel. Ia kembali meneguk air putih di tangannya lalu meletakkan gelas di tempatnya semula.


Varel maju beberapa langkah hingga berada tepat di depan Adel, ia menyentuh kedua bahu Adelia," Mas, abang, kakak, kalau perlu sayang. Panggil aku dengan salah satunya, Adelia, aku bukan om kamu," ucapnya.


"Tapi juga bukan, kakakku, masku, abangku apalagi sayangku, om,"


Varel mendengur mendengarnya, "Beneran nggak sayang aku?" tanyanya manyun.


Adel menggeleng, namun bibirnya tersenyum, "Nanti, kalau sudah waktunya. Aku akan memanggil om dengan salah satu dari pilihan itu, atau mungkin aku akan punya panggilan lain,"


"Apa?"


"Ya enggak tahu, kan aku bilang mungkin, dan belum nemu juga," sahut Adel.


Varel tersenyum mendengarnya, "Kamu nggak usah mikirin apa-apa. Kalau ketemu dengan Andini nanti , bersikaplah biasa, jangan merasa bersalah karena ini bukan salahmu. Aku yang memutuskan mengambil langkah ini. Biar nanti ini jadi urusanku. Kamu nggak perlu lakuin apa-apa, aku yang akan menyelesaikannya dengan Andini. Aku akan cari waktu yang tepat untuk mengatakannya. Kamu yang sabar, ya?" ucapnya.


Masih mencari waktu, sampai kapan. Sedangkan pernikahan mereka bisa di katakan hanya tinggal menghitung paki jari. Semakin dekat harinya, itu akan semakin terkesan kejam, bukan?


Adel hanya bisa mengangguk," Hati-hati kalau mau bicara sama Andini, om. Kasihan, dia terlalu bersemangat untuk pernikahan kalian, aku lihat dia sampai pucat kemarin karena kecapean sepertinya. Aku. .. Benar-benar tidak enak, merasa menjadi wanita jahat. Harusnya aku nggak pulang saja, aku.... " mata Adel sudh berkaca-kaca.

__ADS_1


Meski Varel mengatakan jika ini lebih baik, karena jika di teruskan pun akan membuat mereka bertiga sama-sama terluka. Ia ingin egois dengan cintanya, namun tetap saja ia merasa bersalah. Varel merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya.


"Jangan terlalu di pikirkan. Semuanya akan baik-baik saja. Lebih baik sekarang sarapan, sebelum berangkat," ucap Varel.


"Udah terlalu siang, aku buru-buru," jawab Adel.


Varel terlihat kecewa, padahal dia buru-buru masak untuk Adel.


"Buat bekal aja, boleh? Nanti aku makan di butik," ucap Adel kemudian karena tak enak hati dengan pria di depannya.


Varel tersenyum lalu mengangguk, "Kamu duduk aja dulu, sebentar aku siapkan," ia sedikit mendorong bahu Adel supaya duduk.


"Aku bisa melakukannya sendiri, om. Nggak perlu kayak gini," ucap Adel.


"Nggak apa-apa, sekalian aku yang udah bau dapur. Kamu kan udah cantik gini," sahut Varel. Ia mulai menyiapkan tempat bekal untuk Adel. Tak lupa buah anggur dan pir yanh sudah di kupas ikut menjadi menu bekal Adelia.


"Minumnya, sekalian?" tanya Varel.


Adel menggeleng, "Kan ada di butik. Udah itu aja cukup, om. Aku jadi nggak enak malah om yang layanin aku kayak gini," Adel benar-benar merasa tak enak hati meski Varel melakukannya dengan senang hati.


Varel yang mendengarnya langsung menutup tempat bekal di tangannya lalu menyerahkannya kepada Adelia, "Dengarkan aku, bisa masak atau tidak, bukanlah satu-satunya patokan untuk mencari pasangan. Kalau bisa masak itu anggap sebagai bonus, kalau tidak, masih banyak cara lain untuk menyenangkan suami selain dengan mengenyangkan perutnya," ucapnya.


Adel diam tak bisa menanggapi apa-apa selain ucapan terima kasih atas bekalnya.


" Kekurangan kamu mungkin cuma nggak bisa masak, tapi kelebihanmu jauh lebih banyak. Lagian aku cinta bukan karena masakanmu. Kan dari dulu emang gitu, jadi jangan merasa insecure dengan hal satu itu, ya?" Varel mengusap lembut pipi Adel. Wanita itu reflek langsung mengangguk.


" Tunggu sebentar, aku antar ke butik, ya? "ucap Varel.


Mata Adel mengerjap," Om nggak kerja? "tanyanya.


" Nanti siang, aku harus ke cabang luar kota besok baru pulang. Makanya sekarang aku mau antar kamu, ya? Boleh?" tanya Varel.


Adel kembali mengangguk. Varel mengacak rambut Adel gemas," Bocilku udah dewasa sekarang, nggak sebar-bar dulu," ujarnya sebelum melangkah untuk bersiap.


" Ck, udah aku bilang. Jangan panggil aku bocil! Suka ngeselin ih!" sungut Adel sambil merapikan rambutnya.

__ADS_1


Varel berhenti lalu menoleh, "Oh iya, lupa. Maunya di panggil sayang kok, ya?" cicitnya.


"Ish, tahu ah!" Adel memberengut, namun wajahnya langsung bersemu. Ia tersenyum menatap kotak bekal yang ada di pangkuannya, "Konsepnya salah nggak sih? Harusnya cewek yang buatin bekal cowoknya, tapi ini kebalik," gumamnya dengan wajah yang masih bersemu karena ucapan terkahir Varel tadi.


Tak butuh waktu lama, Varel sudah keliar dari kamarnya dengan hanya mengenakan kaos dan celana chinos.


"Ayo!" ucap Varel. Adel yang menunggu di ruang tamu langsung berdiri dan menoleh, "Kok cepat? Nggak mandi?" tanyanya.


"Mandilah, tapi kilat, mandi bebek. Katanya tadi kamu buru-buru, makanya mandinya kilat, kalau berendam dulu segala macam biar daki luntur, nanti kamu ngomel lagi? yang penting tetep ganteng kan?" ucap Varel percaya diri.


"Ck, narsis!" ucap Adel. Ia melangkah keluar terlebih dahulu di susul oleh Varel.


"Jangan lupa di kunci, om!" seru Adel dan Varel melakukannya.


Adel masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, sembari menunggu Varel mengunci pintu.


Mobil melaju dengan kecepatan standar meninggalkan rumah. Di jalan, mereka tak banyak ngobrol. Hanya sesekali saja.


" Makasih, udah nganterin," ucap Adel. Setelah mobil sampai di butik. Ia melepas seat belt lalu membuka pintu.


"Om hati-hati nanti, aku masuk dulu!" ucap Adel lagi sebelum turun dari mobil.


"Bekalnya!" ucap Varel.


"Oh iya, lupa. Makasih juga buat ini?" Adel mengambil kotak bekalnya.


"Kembali kasih, sayang," balas Varel.


Adel langsung menoleh, "Ommm...".Adel memperingatkan Varel supaya tidak memanggilnya seperti itu.


"Kenapa? Mau lagi? Sayang sayang sayang," kata Varel dengan senyum lebarnya.


"Tahu ah!" Adel menutup pintu dan langsung berjalan cepat masuk ke dalam butik.


Varel terkekeh melihat Adel yang salah tingkah. Bahkan wanita itu sampai hampir menabrak pintu kaca butik karena saltingnya.

__ADS_1


"Baru di panggil sayang, udah salah tingkah begitu. Gimana kalau ku panggil Isteriku, nanti?" gumam Varel.


__ADS_2