
"Kita mau kemana Dam?"
"Udah ikut aja, kamu pasti seneng liat tempatnya"
Satu jam perjalanan dari rumah sakit, Adam berbelok ke sebuah tempat yang terlihat sangat ramai pengunjung, aku belum tau pasti karena tempat ini masih baru.
Kami turun dari mobil, Adam menuntunku untuk mengikutinya berjalan menuju lantai atas.
"Silahkan duduk Tuan Putri" Ketika sampai di lantai atas Adam mempersilahkan aku duduk di kursi lengkap dengan meja yang tertata rapi dengan lilin menyala diatasnya.
"Terima kasih" Balasku dengan senang hati.
"Suka gak tempatnya?"
"Suka banget" Aku memindai sekeliling,
Ternyata Adam mengajakku ke sebuah Cafe yang bertema outdoor dan tempatnya di dataran tinggi lebih tepatnya puncak, jadi aku dapat menyaksikan gemerlap lampu entah itu sebuah pedesaan atau perkotaan.
"Tiar" Adam menyebut namaku dan meraih kedua tanganku pada genggamannya.
"I..iya, ada apa Dam?" Jawabku gugup.
"Aku tau ini terlalu cepat bahkan waktunya belum tepat karena kamu masih berduka atas kejadian yang menimpa sahabat kamu, tapi aku gak bisa menunggu lebih lama lagi Ti" Sorot matanya menatapku serius.
"Menunggu apa Dam?" Tanyaku penasaran.
Aku hanya terdiam memperhatikannya dengan seksama.
"Aku sayang sama kamu dari sejak kita masih satu kecil, entah kenapa rasa itu terus tumbuh sampai sekarang"
"Hah! Jadi kamu? aku pikir itu dulu hanya omong kosong anak kecil, tapi ternyata beneran?" Tanyaku masih tak percaya.
"Apa kamu juga masih ngerasain hal yang sama?"
Aku tercengang mendengar pertanyaan dari Adam.
"Tiar, kamu dengerin aku kan? kok kamu diem aja dari tadi?" Adam mengibaskan tangannya didepan wajahku.
"I..iya, gimana tadi?"
"Jadi dari tadi kamu gak perhatiin aku?" Ujar Adam sedikit kesal.
"Perhatiin kok" Jawabku singkat.
"Apa coba?"
"Ya itu ini apa tadi aku lupa" Aku melepaskan genggaman tangan Adam.
"Tuh kan kamu bikin bad mod aja Ti!" Ujarnya.
"Maaf! Sebenarnya...." Aku berjalan mendekat ke arah pagar pembatas lantai atas.
"Sebenarnya apa?" Tanyanya semakin penasaran.
"Waktu kecil aku pernah memiliki perasaan yang sama dengan kamu" Aku mengosongkan pandanganku.
"Lalu?" Tanya Adam yang semakin penasaran.
"Awalnya sama, aku kira hanya omong kosong cinta monyet dan setelah dewasa aku kira kita gak bakal ketemu lagi, tapi ternyata Allah masih ngasih jalan"
"Satu hal yang perlu kamu tau, perasaanku pernah mati untuk kamu!"
"Aku selalu berusaha tepati janji aku buat tetap stay sama ucapan kamu yang minta aku nunggu, tapi apa? kamu gak pernah datang sama sekali"
"Oke aku akan jelasin semuanya" Ucap Adam memotong pembicaraanku.
"Oh! satu lagi, selama kamu gak ada disini aku selalu berusaha cari informasi tentang kamu, dan kamu tau apa yang aku temui? sebentar aku ambil ponsel dulu"
Aku mengeluarkan ponselku dari tas dan memberitahukan sebuah foto yang ada di galeri ponselku, foto itu adalah hasil screenshoot yang aku dapatkan dari media sosial Adam, sebuah foto romantis duduk berdekatan bersama seorang wanita.
Adam hanya diam seribu bahasa, aku mempertanyakan kemana saja dia selama ini, apa yang dia lakukan. Namun, semua sia-sia karena Adam terus bungkam.
Aku memberitahukan segalanya tentang penantian ku pada masa itu, masa dimana aku benar-benar bodoh sudah percaya dengan omong kosongnya, menolak banyak pria hanya demi pria yang tidak benar-benar menginginkanku.
__ADS_1
"Tapi malam ini kamu bicara seolah tidak terjadi apa-apa diantara kita dulu"
"Justru sekarang aku masih sayang dan masih mencintai kamu bahkan lebih dari yang dulu"
"Segampang itu ya kamu ngomongnya?" Tanyaku sinis.
"Maafin aku ya Ti, aku gak bermaksud untuk kasih kamu harapan palsu, karena setelah pindah aku gak pernah pulang ke Indonesia dan selalu di Luar Negri" Sesal Adam.
"Aku pun hampir putus asa kala itu Dam, kenapa? kenapa kamu lupa sama janji kamu! janji jika setiap libur semester kita ketemu di rumah pohon? kamu ingat kamu gak pernah datang?"
"Aku selalu dateng Ti! siapa bilang aku gak dateng? aku selalu nunggu berjam-jam, makanya di libur semester berikutnya aku tidak lagi datang karena aku pikir malah kamu udah lupa" Jelas Adam
"Jadi selama ini kamu datang?"
"Iya, selama ini kita cuma salah paham"
"Hahahaha" Aku tertawa.
"Kenapa ketawa?" Tanya Adam
"Konyol ya, kita terjebak sama prasangka kita masing-masing"
"Makanya aku gak mau kehilangan kamu lagi" Adam berdiri menghampiriku.
"Ti.."
"Hari minggu aku akan ke Amerika" Ujarnya.
"Hah?" Entah mengapa seketika badanku terasa lemas.
"Tapi aku gak akan ninggalin kamu gitu aja"
"Apa sih ini maksudnya?" Aku memaksa melepaskan genggaman tangan Adam.
"Tolong dengerin dulu" Adam kembali meraih tanganku namun aku selalu menepisnya.
Bugh! rasanya badanku seperti menghantam benda keras ketika Adam memaksa memeluk tubuhku dengan erat.
Perlahan Adam melepaskan badanku yang sebenarnya sudah terasa sesak karena badannya yang kekar.
"Kamu baru aja bilang kamu sayang sama aku, gak mau kehilangan aku lagi, tapi kamu mau pergi jauh tinggalin aku sendiri!" Maki ku kepada Adam.
"Aku harus pergi karena bisnis Papi disana sedang berkembang sangat pesat, aku diminta untuk menghandle"
"Terus kuliah kamu?"
"Aku bakal lanjut kuliah disana, toh tinggal beberapa semester lagi"
"Gimana dengan aku, kita?"
"Sabtu kita tunangan, jadi sehari sebelum aku terbang"
"Gak bisa secepat itu Dam, aku perlu bicara dan pertimbangkan sama orangtuaku, belum lagi masalah Dita, keadaannya masih belum kondusif" Jelas ku.
"Kita gak perlu meriah, cukup beberapa keluarga ku dan keluargamu aja yang hadir, yang penting resmi bertunangan" Ujar Adam.
"Tapi..."
"Gak usah kebanyakan tapi, ini hari selasa berarti masih ada waktu tiga hari untuk mempersiapkan segalanya"
"Mendadak ini?"
"Aku mohon, aku janji setelah semua urusanku disana selesai akan langsung temui kamu"
"Kamu yakin?"
"Yakin, kali ini bakal aku tepati gak cuma janji"
"Oke aku akan coba bicara sama Mama dan Papa, nanti aku kabarin"
"Ya udah kalau gitu sekarang kita makan dulu abis itu pulang dan kamu segera kabarin aku"
°°°°°
__ADS_1
Keesokan Paginya
"Selamat pagi ma" aku mencium kening mama.
"Pagi sayang, Fresh banget hari ini" tanya mama.
"Iya dong, ma. papa mana ?"
"Ada, sebentar lagi juga turun"
"Oh oke"
"Ada apa kok kayaknya gelisah ? oh iya gimana keadaan Dita, mama belum sempet mau jenguk"
"Dita koma ma"
"YaAllah, kasian sekali. sekarang masih dirumah sakit?"
"Masih ma"
"Yaudah nanti sebelum berangkat ke toko mama akan sempetin untuk mampir ke rumah sakit jenguk Dita"
"Wah...udah pada nungguin papa ya? kenapa gak duluan?" Ucap papa sembari menuruni tangga.
"Nah tu papa udah turun" Balas mama.
"Duduk sini pa duduk" aku merapikan kursi tempat biasanya papa makan.
"Ada apa ini anak papa kok tumben"
"Ih papa mah, orang anaknya mau perhatiin malah gitu bilangnya"
"iya-iya sayang makasih ya" Mengusap punggungku.
"Ma, Pa. Ada hal penting yang mau Tiar bicarakan" Aku mencoba memberanikan diri, terlihat papa dan mama saling bertatapan.
"Apa sayang, Papa sama Pama pasti dengerin" Jawab Mama.
"Mama masih inget anak Tante Reni?" Tanyaku.
"Si Adam maksud kamu? Jawab mama.
"Iya ma, ternyata dia Adam yang sama teman masa kecil Tiar dulu waktu di komplek yang lama"
"Ya tentu mama inget dong, kenapa kenapa? ada apa sama dia?"
"Semalam dia lamar aku ma, dia mau pergi ke Amerika"
"Terus?" Tanya Papa.
"Adam mau kita tunangan hari sabtu ini sebelum dia berangkat"
"Mendadak sekali Nak?" Tanya Mama sedikit kurang suka.
"Papa belum siap menerima cucu sekarang Tiar, kamu masih harus kuliah"
"Tunangan bukan berarti langsung nikah pa, dia juga masih mau mengurus bisnis papinya"
"Ya tapi sama saja, kamu sudah akan menikah. perjalanan kamu masih panjang, karir kamu kedepannya" imbuh papa.
"Lagian kenapa buru-buru sih nak ? kan bisa pacaran dulu?" mama ikut menimpali.
"Adam yang minta ma"
"Usiamu 21 aja belum genap, kok udah mau tunangan. nanti kalau sudah selesai kuliah terserah kamu" papa masih kekeh dengan keputusannya.
"Yaudah nanti aku bilang ke Adam, aku berangkat kuliah dulu"
"Gak sarapan dulu?" tanya Mama.
"Udah kenyang"
Tanpa menunggu lama lagi aku langsung berangkat ke kampus.
__ADS_1