Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 73


__ADS_3

"Kamu percaya kata-kataku waktu itu, aku lagi kecewa saat itu, Adelia," Varel segera meluruskan perkataan kala itu dan Adel hanya diam.


"Berarti memang benar kamu semarah itu sama aku, maafkan aku," lanjut Varel dengan nada rendah namun tetap terdengar oleh Adel.


"Aku nggak marah, om!" sanggah Adel cepat.


"Lalu?" Varel tak puas dengan jawaban Adelia.


"Kenapa om nggak ada nyari aku?" tanya Adel, raut wajahnya tampak kecewa saat mengatakannya. Jika Varel masih mengharapkannya, kenapa setelah Andini meninggal tidak berusaha mencari.


"Aku melakukannya," jawab Varel.


Adel menatap manik mata milik Varel."Om ke New York buat cari aku?" tanyanya memastikan apa yang di bilang oleh bu Lidya tadi.


"Syafira sama sekali tak mau memberitahu keberadaanmu, aku memutuskan untuk mencarimu dengan caraku sendiri. Aku pikir kamu kembali ke New York. Satu bulan aku di sana, semua tempat aku datangi. Tapi, sepertinya takdir memang masih senang bermain-main denganku. Aku kembali dengan harapan kosong, sejak saat itu aku hanya bisa menyebut namamu dalam doaku, meminta kebahagiaan untukmu, meskipun mungkin orang itu bukan aku lagi," jelas Varel.


Mata adelia berkaca-kaca mendengarnya," Doa om terlalu kenceng, pantas aku gagal move on lagi," ucap Adelia bergumam.


"Apa?"


Adel mendongak, "Enggak apa-apa," ucapnya. Ia malu jika Varel mendengar gumamannya barusan.


Varel mengembuskan napasnya sedikit kecewa, tapi juga senang. Sebenarnya ia mendengar gumaman Adel barusan, namun ia ingin memperjelasnya. Sayangnya, Adelia malu untuk mengakuinya.


Obrolan mereka kembali terputus saat Tristan datang, anak itu sudah mandi, wangi dan mukanya cemong karena bedak bayi.


"Papaaa!!! Pecawat keltas Tlistan ilang!" adu anak itu hampir menangis. Ia sangat teliti dengan semua mainanya.


"Nanti di buatkan lagi. Ini apa? Udah kayak donat gula aja," jawab Varel. Ia mengusap pipi Tristan yang cemong, mirip donat yang di kasih gula halus.


"Bial cakep kata mama!" ujar Tristan.


"Kakak tantik di cini?" Tristan baru sadar akan keberadaan Adel. Ia langsung mendekat dan minta di pangku.


"Ck, ini anak tahu aja yang bening-bening," gumam Varel.


Baru juga nempel di pangkuan Adel, Tristan ingat mainannya. Ia ingin menunjukkannya pada Adel. Anak itu berlari masuk ke dalam rumah untuk mengambil pesawat yang minggu lalu dibelikan okeh Varel.


Tak berselang lama Tristan kembali.


" Tlistan puna pecawat badus! Bisa telbang cendili, wuuuussa liat!" anak itu memamerkan pesawat mainanya. Beberapa kali diajari, ia langsung bisa menggunakan remot pesawat tersebut dengan baik.


"Waaahh, keren ya, Tristan mau jadi pilot, ya?" tanya Adel tersenyum.


"Kapten pilot Tlistan!" seru anak itu.


"Idih, Kapten kok cengeng!" ledek Varel.

__ADS_1


Anak itu melirik sebal pada sang kakak, "Capa ya? Ndak tenal!" ucapnya.


"Dih, udah punya temen baru yang cantik jadi nggak kenal lagi. Udah sana main, nanti nggak dibuatkan pesawat kalau di sini terus,"


"Iya iya!" sahut Tristan.


Namun, baru satu langkah anak itu pergi, sudah berhenti saja, alu menoleh, "Papa janji mau dalan-dalan danau, mau cali ikan besal!" ucapnya menagih janji.


"Besok, sekarang kan ada tamu," jawab Varel. Kenapa ingatan anak itu kuat sekali, pikirnya. Padahal itu hanya alasannya supaya tadi mau pergi dengan bu Lidya dan om John. Baewl ingin bebas sebentar dari gangguan makhluk kecil itu saat kibur seperti ini.


"Cekalang! Olang dewaca cuka boong nih! Bilangna cole-cole, ndak bole ingkal, doca tau! Ajakin anak kecil, ndak badus!


"Pergi aja nggak apa-apa, om. Kasihan Tristan. Om kan sudah janji, biar aku pamit aja, udah mau sore juga," kata Adel.


Tentu saja Varel tak akan membiarkan Adel pergi begitu saja. Ia memutar otaknya sejenak untuk memikirkan bagaimana supaya tetap bisa bersama Adel, tapi juga memenuhi keinginan Tristan. Pasalnya, anak itu akan terus menagih tanpa jika sudah di janjikan sesuatu, yang mana membuat Varel pusing sendiri dengan rengekannya.


"Emmmm, bagaimana kalau kamu ikut saja. Kita pergi bertiga ke danau? Enak kayaknya sore-sore gini main di danau," ucap Varel.


Adel diam sejenak, mempertimbangkan ajakan Varel.


"Nanti aku antar kamu pulangnya, ini Rasel bilang kayaknya mobil kamu harus menginap di bengkel, mungkin besok baru jadi mengingat udah sore dan bengkel udah tutup," jelas Varel, ia pura-pura membaca pesan dari Rasel padahal tidak ada.


"Apa, om nggak keberatan kalau antar aku nanti?"


"penginnya sih kamu menginap malahan, jadi aku nggak perlu antar," sahut Varel yang langsung mengatup.


Adel hanya tersenyum menanggapinya, "Ayo, keburu sore nanti!" ucapnya sembari bangkit dari duduknya.


Varel mengangkat tubuh kecil Tristan "Nanti abang belikan mainan baru, pesawat tempur!" bisiknya.


"Acik, pecawat tempul! Wuuuuussss!" seru Tristan girang.


Varel dan Adel berpamitan kepada bu Lidya yang sedang duduk bersantai di ruang tamu bersama om John. Setelah om John bertanya kabar dengan Adel. Mereka langsung berangkat ke danau.


"Nanti pulangnya ke sini lahi, ya? Sekalian makan malam di sini, ibuk masakin yang spesial, kesukaan kamu," kata bu Lidya sebelum mereka pergi.


Sebenarnya Adel ingin menolak, tapi ia merasa tak enak hati melakukannya.


"Iya, nanti pasti Adel makan malam di sini. Manut sama sopirnya pokoknya!" bukannya Adel yang menyahut melainkan Varel. Dan Adel hanya bisa mengangguk pasrah.


.


.


.


Tak jadi ke danau yang bisa untuk mancing ikan, Varel mengajak Adel dan Tristan ke danau buatan yang dulu pernah mereka datanhi berdua.

__ADS_1


"Kok cini, di cini ndak ada itannya!" protes Tristan, pasalnya beberapa kali Varel pernah mengajaknya ke tempat tersebut sekedar untuk mengenang Adel.


"Berisik! Yang penting nanti kan di belikan pesawat tempur!" ucap Varel.


"Iya iya! Tulunin!" Triatan minta di turunkan dari gendongan Varel.


Anak itu langsung berlari, asyik bermain kesana kemari.


"Awas mainnya jangan jauh-jauh. Jangan dekat-dekat danau, nanti kecebur, tenggelam!" peringat Varel dengan nada sedikit mengancam.


"Ish, belicik! Tlistan tau! Ada buaya besalll!" sahut Tristan.


Adel hanya bisa terkekeh melihat interaksi sepasang ayah dan anak menurutnya tersebut. Tawanya langsung berhenti saat menyadari Varel sedang menatapnya penuh arti.


"Kalian lucu, kayak tom jerry," ucap Adel.


"Bukankah mirip kita dulu? Kayak tom jerry, tapi sebenarnya sayang?" balas Varel yang lagi-lagi membuat Adel mengatupkan bibirnya.


"Tristan kelihatan bahagia ya om, ceria anaknya," kata Adel mengalihkan pembicaraan.


"Iya," sahut Varel singkat.


"Om, kenapa tidak menikah lagi setelah Andini meninggal? Bagaimanaoun, Tristan masih butuh kasih sayang seorang ibu, kasihan dia," Adel tiba-tiba menatap iba pada Tristan yang sedang berjongkok m, sepertinya mengajak semut atau serangga lainnya bicara.


"Kalau begitu, kamu saja yang jadi ibunya, bagaimana?" entahlah, Varel malah asal bicara bukannya menjelaskan. Kasih sayang Adel yang terlihat tulus buat Triatan malah membuat Varel rela jika Tristan benar-benar anaknya. Karena anak itu salah satu jalan yang membuat ia bisa kembali sedekat ini dengan Adelia. Dan Varel masih ingin sedikit memanfaatkan kesalahpahaman Adelia tersebut.


Adel terkejut mendengar ucapan Varel, ia menatap pria itu sebentar lalu membuang pandangannya ke sembarang arah. Tak kuat terus menatap mata yang selalu menatapnya penuh arti tersebut.


Adel berjalan mendekati pohon dimana tertulis tulisan mereka berdua. Varel mengikutinya. Adel menyentuh tulisan itu, lalu menoleh kepada Varel yang berdiri di belakangnya Dengan tangan di masukkan ke dalam saku celananya.


"Om sering kesini?" tanya Adel.


"Iya, karena di sini salah satu tempat yang ada kenangan kita," jawab Varel. Ia maju selangkah hingga bersejajar dengan Adel.


"Pertama aku baca ini, rasanya di sini sakit. Maafkan aku karena udah buat kamu menderita," Varel menunjuk tulisan Adel lalu beralih ke dadanya. Bahkan waktu ia membaca untuk pertama kalinya, air matanya tak bisa terbendung, menetes behitu saja mewakili perasaannya.


" Kamu tahu, sampai detik ini. Doaku masih sama seperti ini!" Varel menunjuk harapan dan doa yang ia tulis dulu.


Adel terdiam, ia tak bisa berkata-kata. Lebih tepatnya, ia tak tahu harus menanggapi seperti apa.


"Del..." panggil Varel.dan wanita itu menoleh kepadanya, "Apa masih ada kesempatan untuk kita melangkah bersama? Mewujudkan doa dan harapanku ini?"


"A-aku...."


Melihat keraguan di mata Adel, membuat Varel sedikit kecewa, "Kenapa, Del? Apa... Doa dan harapanmu sudah tak sama lagi denganku?"


"Aku..."

__ADS_1


"Aaargghh, di didit cemut! Huaaaa cemut nakaaallll!!!!" teriakan Tristan membuat Adel dan Varel menoleh kearahnya.


...****************...


__ADS_2