
Adel ingin menolak bantuan Gema, ia tak ingin merepotkan pria itu lagi. Sudah cukup rasa bersalahnya dan ia tahu diri untuk tidak menyeret pria itu ke dalam urusan pribadinya lagi.
Rasanya sangat tidak tahu diri jika Adel meminta pria yang baru saja menyandang status sebagai mantan pacarnya untuk diantarkan ke pria yang ia cintai. Jahat sekali rasanya.
Namun, disana Adel tak bisa menemukan taksi, di tambah cuaca mulai gerimis di tempat itu yang membuatnya lagi-lagi terpaksa merepotkan Gema. Ia pun masuk ke dalam mobil Gema.
Setelah Adel masuk, Gema langsung menyusul masuk dan melajukan mobilnya.
Sepanjang jalan menuju lokasi dimana terjadi kecelakaan, Adel sama sekali tak lepas dari rasa cemas dan khawatir. Ia terus berusaha menghubungi nomor ponsel Varel namun tidak aktif.
Melihat Adel yang sangat gelisah, Gema berusaha menenangkannya, "Semuanya akan baik-baik saja, Varel pasti selamat," ucapnya.
Namun, perkataan Gema tersebut tak lantas membuat Adek bisa tenang begitu saja, ia harus memastikan oria itu baik-baij saja dengan mata kepalanya sendiri. Butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk bisa sampai di tempat kejadian kecelakaan tersebut.
Setelah sampai, Adel langsung turun dari mobil. Ia tak mengindahkan ucapan Gema yang memintanya untuk menggunakan payung karena di sana masih gerimis. Ia langsung berlari menuju ke tempat kejadian perkara.
Adel langsung mencari dimana Varel berada dimana Proses evakuasi korban masih berlanjut. Beberapa irang sibuk ke sana kemari mengevakuasi para korban yang jumlahnya cukup banyak.
Adel terus berjalan dari satu korban ke korban lainnya yang sedang dievakuasi oleh petugas. Tak ada satupun diantara mereka adalah pria yang ia cari.
"Om Varel!" Adel terus berteriak memanggil Varel sambil terus berjalan. Hingga ia menemukan mobil Varel.
Adel mendekat dan mencari pria itu di sana, tidak ada,"Om kemana? Om nggk boleh kenapa-kenapa," gumamnya sedih. Mobil ori itu rusak cukup parah bagian depan, hal itu membuatnya semakin lemas, adakah kemungkinan pria itu selamat.
Adel berjalan sudah seperti orang yang hampir gila, pikirannya sudah tak karuan melihat betapa parahnya kecelakaan beruntun tersebut. Diantara korban-korban selamat itu ia tak melihat Varel di sana. Pikirannya pun sudah putus asa.
Adel melihat jam tangan yang sama dengan yang biasa Varel pakai pada korban yang sedang di evakuasi. Bisa di pastikan korban tersebut meninggal dunia karena di tutupi kain seluruh tubuhnya, hanya tangannya yang jatuh ke sisi tandu.
Adel langsung berlari dan menghentikan petugas yang membawa tandu tersebut. Tangis Adel langsung pecah saat ia meraih tangan korban dan memastikan jam tangan itu memang persis milik Varel.
"Om, nggak boleh gini. Nggak boleh... Om nggak boleh pergi dalam keadaan begini, nggak boleh..." ucap Adel histeris.
__ADS_1
Gema yang sejak tadi juga ikut sibuk mencari ke tempat lain, mendekati Adel.
"Maaf pak, apa kalian mengenali korban? Karena kami tidak menemukan identitas korban di mobilnya," kata petugas pada Gema karena Adel sejak tadi sibuk memeluk jenazah tersebut sehingga menghambat kerja petugas. Di tanya ileh petugas apakah dia kenal, Adel tak menjawab, ia terlalu takut kalau itu benar Varel.
" Ini jam tangan Om Varel, kak. Dia nggak boleh giniin aku, aku nggak mau dia pergi secepat ini, dia bekum tahu kalau aku benar-benar cinta sama dia," ucap Adel dengan derai air mata.
Petugas pun sedikit kesal, pada Adel karena sejak tadi tidak mau melihat korban taoi juga tak mau beranjak dan terus memeluk jasad tersebut.
"Luka di kepalanya sangat parah, tapi wajahnya masih bisa di kenali," lanjut petugas.
"Apa saya boleh melihatnya untuk memastikan, apakah dia benar teman saya atau bukan," ucap Gema dan petugas memperbolehkan.
Petugas tersebut membantu membuka kain yang menutup bagian kepala korban. Gema yang melihatnya sekilas langsung melengos, tak tega melihatnya.
" Del... " Gema menyentuh bahu Ade," Bangun, itu bukan Varel," ucapnya.
Adel mendongak, menatap Gema, "Maksud kak Gema?"
Adel langsung berdiri dan mengusap wajahnya, ia juga meminta maaf kepada petugas Evakuasi karena telah mengganggu kerja mereka.
Meski tetap belum tenang sebelum menemukan Varel dalam keadaan baik-baik saja, namun ia masih memiliki harapan kalau Varel masih hidup, meski sedikit.
Adel kembali mencari dan mencari, ia sama sekali tak menggiraukan Gema yang berkali-kali memintanya untuk menggunakan payung.
Adel Beberapa kali menghentikan petugas evakuasi lagi untuk memastika korban yang mereka bawa bukan Varel, hingga ia merasa putus asa.
"Aaarrhgggh,,,, om dimana? Jangan giniin aku om, aku nggak sanggup! Om nggak boleh pergi, nggak boleh kayak gini. Aku nggak sanggup, om... Om nggak boleh... Aku bekum bilang kalau aku cibta sama om... Hiks hiks hiks," Adel berjongkok dn menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
" Om boleh marah sama aku, tapi jangan gini... Aku nggak bisa.. Hiks hiks hiks, "
"Kalau cinta kenapa nggak pernah mau ngaku? Malah pengin menjauh?" suara itu, Adel langsung mendongak, ia melihat Varel berdiri di depannya.
__ADS_1
Adel berdiri, "Om... Ini beneran,?" matanya kembaki berkaca-kaca.
Tak menyahut, Varel langsung menarik Adel ke dalam pelukannya, "Dasar bodoh! Apa perlu aju mati dulu biar kau bgaku kalau cinta sama aku?" ucapnya.
Adel menggeleng, "Jangan bilang begitu, aku hampir gila tadi," sahut Adel. Varel semakin mengeratkan pelukannya terhadap pria itu.
Gema yang mencari Adel karena tadi berpencar mencari Varel, berdiri mematung melihat dua manusia itu kini sedang berciuman.
Meski sakit, tapi Gema juga senang karena Varel baik-baik saja. Ie mamilih pergi dari sana tanpa pamit. Ia tak ingin mengganggu mereka yang sedang meluapkan kelegaan satu sama lain tersebut.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Gema mengeluarkan kotak cincin dari saku. Ia menatap nanar cincin tersebut, "Ck, sekalinya jatuh cinta, patah hatinya nggak nanggung-nanggung," gumamnya dengan sedikit tersenyum miris.
Adel menyentuh wajah Varel yang terluka, "Bagaimana bisa im selamat, aku lihat mobil om rusak parah," Adel masih berasa mimpi jika Varel kini baik-baik saja.
"Kenapa? Apa kamu berharap aku terluka parah?"
"Bukan begitu, aku masih nggak percaya aja. Terima kasih karena om baik-baik saja," balas Adel.
"Aku nggak baik-baik saja, Adelia," Varel menyelipkan rambut Adel ke belakang telinga.
Adel menatapnya bingung, "Ini, ini dan ini, perlu diobati," Varel menunjuk luka di di keningnya akibat membentur stir mobil, wajahnya yang tergores pecahan kaca dan terakhir dadanya.
"Aku butuh kamu untuk mengobati semuanya,"
"Aku...."
"Aku udah dengar semuanya tadi, apalagi yang mau kamu sangkal, hem?"
Adel menggelengkan kepalanya, ia tak ingin menyangkal apapun saat ini. Ketakutannya tadi sudah cukup membuatnya hampir gila. Begitu takut kehilangan pria tersebut.
...****************...
__ADS_1