
Hari-hari berikutnya, Varel selalu di buat pusing oleh keinginan Adelia yang aneh-aneh. Kalau masih batas wajar dan dia bisa menurutinya sih tidak masalah. Namun, terkadang keinginan Adelia di luar nalarnya. Pernah sekali Adel ingin pergi berkencan dengan Gama dan itu bagi Varel sangat-sangat di kuar nalarnya. Dia tidak mungkin mengijinkannya. Sekalipun nanti anaknya ileran karena tidak keturutan, ia masa bodoh. Varel tak ingin mengundang badai dalam rumah tangganya.
Alhasil, seharian Adelia mendiamkannya. Bahkan istrinya tersebut menangis karena tidak diijinkan pergi hanya berdua oleh Varel.
"Yang lain sajalah, sayabg ngidamnya. Jangan yang satu itu, ya?" bujuk Varel, "Kalau lainya apapun itu abang akan kabulkan," imbuhnya.
Kalimat itu sedikt mengurangi rasa kesal Adel padanya, "Apapun itu?" tanya Adelia. Dan Varel mengangguk pasrah.
"Kalau gitu, aku mau abang pergi ke bulan, lalu..." belum juga Adelia melanjutkan kalimatnya, Varel sudah mendengus keras. Ini lebih-lebih tidak masuk akal, pikirnya.
"Tuh kan! Katanya apa aja boleh!" keluh Adelia.
"Bukan begitu sayang, tapi abang bukan astronot, mana bisa pergi ke bulan. Bisa tolong lebih masuk akal sedikt tidak ngidamnya?" Varel membelai rambut Adelia namun di tepis oleh wanita tersebut.
"Pergi sama kak Gema yang masuk akal, orangnya ada dan nyata aja nggak boleh, harus gimana lagi, aku tuh!" mata Adelia mulai berkaca-kaca.
Varel hanya bisa menghela napas. Benar-benar menghadapi mood swing ibu hamil satu ini butuh kesabaran ekstra, "Tapi, abng cemburu berat loh kalau kamu pergi sama Gema, cuma berdua saja. Kamu nggak mikirin perasaan abang? Saking cintanya sampai nggak bisa lihat kamu ketemu, jangankan ketemu, cuma saling pandang dari jauh aja abang cemburu, sayang," ucapnya mengeluarkan jurus gombal receh.
"Terus gimana, dong?" tanya Adelia lirih.
"Kencannya sama abang aja, ya? Lebih asyik pasti!" bujuk Varel.
Adel menggeleng, "Bosan! Abang lagi abang lagi!" ucapnya yang mana membuat Varel langsung kena mental.
"Kok gitu? Abang sedih nih jadinya. Tega amat!"
__ADS_1
"Ya gimana, bang. Maaf!" sesal Adelia. Ia sendiri kadang bingung dengan moodnya yang berubah-ubah. Padahal ia juga secibta itu dengan Varel. Kadang dia inginnya nemepel terus kayak perangko sama sang suami hingga Varel ke kantorpun dia ikut. Tapi, kadang tiba-tiba kesal dan sebal tanpa alasan kepada pria tersebut.
Suasana menjadi hening, tak ada solusi untuk ngidamnya Adel kali ini. Apapun alasannya, Varel tidak akan memberi celah buat Gema dekat dengan Adelia.
Meski kini di perut Adel ada buah cinta mereka, namun itu tak bisa menjamin jika perselingkuhan tidak akan terjadi. Sekecil apapun itu, jika di kasih kesempatan, bisa saja terjadi. Orang kalau sudah khilaf yang tuman, tidak akan peduli meski dirinya tengah hamil atau apapun itu. Dan Varel tak mau hal itu terjadi.
"Abang nggak percaya sama aku?" tanya Adelia.
"Bukan gitu sayang, abang percaya, sangat percaya sama kamu, tapi abang nggak percaya sama Gema!" balas Varel dan Adel tak lagi protes.
Di tengh obrolan mereka, bu Lidya datang dengan menggendong Tristan.
"Kamu nggak ke kantor, Rel?" tanya bu Lidya.
"Pengin apa? Kenapa nggak bilang aja sama mama? Siapa tahu kan mama bisa membelikan atau mencarikan," ujar bu Lidya.
Ucaoan bu Lidya membuat Adel tersenyum, siapa tahu mertuanya itu mau mengabulkan keinginannya tadi, pikirnya.
Namun, Varel segera menutup mulut Adel sebelum wanita tersebut mengutarakan keinginannya.
" Nggaklah, ma. Cuma Varel yang bisa mengabulkannya. Emang mama bisa buat Adel melayang?" ucap Varel.
Bu Lidya langsung menutup mulutnya, pikiranya langsung kotor saja, "Ya kalau enak-enak sih ya cuma kamu yang bisa kasih, Rel," ucapnya.
Varel tersenyum, "Itu tahu!"
__ADS_1
"Terus udahan?" tanya bu Lidya penasaran.
"Ih mama kepo! Gitu aja masa harus laporan!" sahut Varel.
Sementara Adelia hanya mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Mama sendiri ngapain, tadi kayaknya panik? Apa ada masalah?" tanya Varel.
"Ah iya, kan jadi lupa mama. Mama baru aja dapat kabar kalau papanya Tristan kecelakaan,"
"Innalillahi, terus keadaan om John gimana, buk?" tanya Adelia.
"Alhamdulillah katanya nggak parah, cuma ya itu. Dia tetap butuh mama buat merawat di Jakarta. Tapi, kan mama nggak bisa bawa Tristan, mama harus fokus sama kesembuhan om John. Mama titip Tristan sama kalian, nggak apa-apa, kan? Nggak lama kok, cuma sampai om John baikan," ucap bu Lidya.
" Ya enggak bis.... "
" Bisa kok, bu!" Adelia memotong kalimat Varell.
Varel langsung mendelik melayangkan protes. Mengurus satu bumil aja udah bikin pusing kepala, bagaimana kalau tambah satu balita, pikirnya.
"Ibu temang aja, Adel dan abang akan jagain Tristan. Itung-itung latihan kalau anak kami udah lahir, iya kan, bang?" ucap Adelia percaya diri. Ia pikir tidak akan kesulitan jika harus mengurus Tristan yang sebenarnya tidak terlalu rewel cuma kadang aja ngeselin tingkahnya, mirip abangnya.
"Hem!" sahut Varel. Sok-sokan mau urus si donat Gula, urus moodnya aja belum bisa, pikirnya.
...****************...
__ADS_1