
Setelah menemui Andini, Adel. Langsung kembali ke butik. Sejak kembalinya dari cafe tadi, wanita itu terus saja melamun, lsrut dalam pikirannya sendiri.
Adel masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Andini, namun ia juga tak meragukan pengakuan Andini tadi.
Jika sebelumnya ia kekeh ingin bertahan dengan Varel, kini keinginan itu masih sama. Hanya saja, rasa kemanusiaan dalam dirinya melawan keteguhan tersebut.
"Del, helow!" Shahila melambaikan tangannya di depan wajah Adel. Mmebuat wanita itu tersadsr dari lamunannya.
"Kenapa, Sha?" tanya Adel.
"Ko yang kenapa, Del. Perasaan dari kembali tadi lo melamun terus, kayak memikirkan sesuatu. Lo mikirin apa, sih? Emang tadi lo pergi kemana? Gue khawatir lo kesambet, Del. Tadi pagi pas datang lo kelihatan happy, sekarang beda banget, kenapa sih?" tanya Shahila.
"Gue cuma lagi kurang enak badan aja, Sha. Pusing kepala gue," sahut Adel tanpa menjelaskan apa yang membuatnya sakit kepala.
"Gue antar periksa kalau gitu, yuk!" tawar Shahila.
"Nggak usah, ntar juga enakan. Nggak perlu ke dokterlah. O ya, ada apa nyari gue?" Adel mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Pacar lo tuh!"
Adel mengernyit, "Pacar?"
"Kak Gema maksudnya, kalian masih berstatus sebagai kekasih kan? Dia khawatir tuh dari tadi chat lo katanya nggak di balas, telepon juga nggak lo angkat. Kebiasaan deh, lo, ah!"
Adel mengambil ponselnya, ternyata benar. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan juga pesan. Bujan hanya dari Gema, tapi juga dari Varel.
" Ntar deh, aku telepin balik kaka Gema, sekarang mau selesaiin ini dulu," ucap Adel.
" Yaudah deh, gue cuma mau kasih tahu lo itu aja, gue balik ke ruangan gue," Shahila kembali ke ruangannya meninggalkan Adel yang sebenarnya sedang gakau berat.
.
.
.
Varel yang merasa diabaikan oleh Adel karena baik pesan maupun panggilannya tak di balas, sore itu langsung mencari keberadaan wanita tersebut saat pulang. Namun, rupanya Adel sedang mengobrol dengan Syafira sembari bersenda gurau dengan Nala. Hal itu membuatnya tak bisa langsung mengajak Adel bicara berdua. Ia memilih memutar badan menuju kamarnya.
Adel yang menyadari keberadaan Varel saat ia dan Nala sedang bercanda barusan, hanya sedikit melirik pria itu, sama sekli tak menatapnya.
__ADS_1
"Udah pulang, Rel?" sapa bu Lidya yang sedang berada di ruang makan sambil ngemil.
"Hem," sahut Varel. Ia menghentikan langkahnya, mengamati apa yang sedang ibunya makan. Teryata rujak mangga muda. Varel pun mengambil satu potongan mangga muda lalu ia cocol ke sambal.
Varel langsung melepeh mangga dalam mulutnya, "Astaga, ini mangga apaan. Asem banget!" ucapnya, lidahnya sampai menjulur, matanya merem dengan kening mengkerut karena terlalu asam.
"Masa sih, dari tadi mama makan nggak asam, kok. Enak, segar malah!" sahut bu Lidya.
Varel langsung menatap curiga mamanya tersebut, "Lidah mama kayaknya bermasalah deh, udah macam orang ngidam aja," ucapnya tanpa menunggu sahutan bu Lidya, ia langsung melanjutkn langkah kakinya menuju ke kamarnya.
.
.
.
Hingga waktu makan malam tiba, Varel sama sekali tak memiliki kesempatan untuk bicara berdua dengan Adel. Wanita itu sepertinya memang menghindarinya.
Bahkan, di meja makan, Adel sama sekai tk melirik ke arahnya. Tidak seperti biasanya dimana wanita itu sellu mencuri pandang terhadapnya saat makan malam.
Varel sengaja mengeraskan bunyi sendok dan garpunya demi menarik perhayian Adel, namun sia-sia. Adel sama sekli tak terganggu oleh ulahnya. Justru Nala yang protes, "Uncle! Berisik ih! Makan apa mau main drum?" protesnya.
Sementara Syafira segera menghentikan si kecil Zayn yang bersiap akan memukul piringnya dengan sendok, meniru unclenya.
Varel tak menyahut, ia melirik Adels ekai lagi. Wanita itu tetap cuek," Ck, ada apa dengannya," decaknya lirih. Ia lalu meletakkan sendok dan garpunya begitu saja, tak melanjutkan makan padahal belum ada setengah yang masuk ke dalam mulutnya.
"Mau kemana, Rel?" tanya bu Lidya.
"Udah kenyang, ma. Mau ngadem di luar, di sini panas!" ucap Varel.
"Panas? Perasaan dingin gini deh, buk," ujar Syafira.
Bu Lidya melirik Adel, wanita itu diam sesaat setelah kepergian Varel sebelum akhirnya kembali melanjutkan makannya.
Bu Lidya tahu, kedua anak itu pasti sedang da maslah pikirnya.
"Ya mungkin karena kita nggak terbiasa di sini, sayang. Kita terbiasa dengan udara panas di Jakarta, jadi di sini terasa dingin," ucap bu Lidya dan Syafira setuju.
"Apa Adel juga merasa panas, sayang? Mungkin mau ngadem juga?" tanya bu Lidya kepada Adel.
__ADS_1
Adel tercengang mendengarnya, ia menatap bu Lidya, "Enggak buk, aku biasa aja. Nggak panas atau dingin, kok," ujarnya.
Sementara di luar sana, Varel benar-benar merasa tidak tenang. Entah kenapa perasaannya tidak enak sama sekli atas sikap Adelia dari siang hingga malam ini. Padahal sebelumnya mereka baik-baik saja, sangat baik malah.
Seperti biasa, selesai makan, Adel mencuci peralatan makan di dapur. Kesempatan itu Varel gunakan untuk menemuinya.
Selesai mencuci piring, Adel memutar badannya, berniat akan naik ke kamarnya. Namun, ia sedikit terkejut saat melihat Varel sudah berdiri di depannya. Seperti biasa, pria itu masuk dari pintu belakang.
"Aku mau bicara," ucap Varel.
"Em tidak, maksudku, kita. Kita harus bicara, sayang," ralatnya cepat.
"Aku capek, om. Mau istirahat!" ujar Adel, ia melewati Varel begitu saja.
Pria itu langsung mencegahnya dengan meraih tangannya. "Kenapa kamu menghindariku? Apa aku ada salah? Katakan, Adelia. Jangan seperti ini, kita bicarakan baik-baik," ucapnya.
"Nggak ada yang perlu di bicarakan, semuanya sudah jelas," ucap Adel.
Varel mengernyit bingung, "Maksudnya? Apa ini soal Andini? Kamu tahu kan aku belum ada waktu bertemu dengannya, di terlalu sibuk akhir-akhir ini,"
"Terlalu sibuk, atau memang om yang nggak mau lepas dari dia sebenarnya?"
Varel semakin bingung, "Kok ngomongnya gitu? Sudah jelas kan siapa yang akan aku pilih?"
"Dan sayangnya, aku bukan pilihan itu. Aku udah lelah berpura-pura," ucap Adel yang mana membuat Varel semakin tak mengerti.
"Apa maksud kamu?" cecar Varel.
"Ya, aku lelah pura-pura suka sama om, hanya karena aku merasa bersalah karena dulu pernah nyakitin om.Tapi , ternyata hati nggak bisa di bohongi, aku tetap nggak bisa. Aku sudah lelah bersandiwara karena memang nggak ada rasa sejak awal,"
Degh!
Rasanya Varel tak percaya dengan apa yang Adel katakan.
" Jangan bercanda, sayang. Ini nggak lucu. Setelah kita lalui banyak hal, bercandaan kamu ini yang paling aku nggak suka,"
" Maaf, kalau om nggak suka. Tapi, emang begitu kenyataannya. Permisi!" Adel melempar lap yang ia gunakan untuk mengeringkan tangannya ke atas meja lalu ia berlari keluar dapur.
...****************...
__ADS_1