Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
30. Berharap Mendapat Penjelasan Dari Adam


__ADS_3

Hari ini aku kembali ke kampus karena akan ada ujian akhir semester, tidak terasa sebentar lagi kuliahku selesai.


Walaupun tanpa Dita tapi kehidupan kami harus tetap berjalan tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, begitulah kata hatiku yang berusaha menguatkan diri ini.


Meskipun sebenarnya kuliah rasanya kurang semangat, bahkan aku maupun Dina menghindari tempat-tempat yang sering kami kunjungi bertiga agar tidak terlalu mengingat-ingat kenangan dengannya, karena ujian ini adalah penentu kelulusan kami jika pikiran tidak fokus bisa-bisa tidak lulus.


Usai ujian selesai aku langsung pulang kerumah karena nenek juga sedang sakit dan sangat manja sekali denganku jadi sebentar-sebentar mama meneleponku agar cepat pulang.


Jika dirumah beliau maunya makan, mandi dan tidur bersamaku, tidak mau sama sekali dengan Mbak Lastri.


"Nenek udah makan?" Tanyaku setelah duduk ditepi tempat tidur nenek.


"Belum lah Tiar, kan nungguin kamu" Jawabnya ringan.


"Loh kok gitu? kalau Tiar kuliah pulangnya malam gimana?" Tanyaku lagi.


"Ya ndak apa nenek akan tunggu" Jawabnya lagi.


"Ya gak boleh gitu nek, gimana nenek mau sembuh kalau susah begini?" Ujar ku membujuk nenek.


"Nenek gak sembuh juga gak apa yang penting bisa dekat Tiar terus" Jawabnya enteng.


"Jangan bilang gitu ah, nenek harus sembuh lagi sampai Tiar sukses terus nikah sampai punya anak" Celetukku.


"Nanti anaknya harus kembar ya?" Ujar beliau.


"Kok gitu?" Tanyaku terkejut.


"Ya biar rumah ini rame" Balasnya tersenyum.


"Iya deh, ya semua itu tergantung sama Yang Maha Kuasa ngasih rezekinya" Ujar.


"Yaudah yuk kita turun makan siang dibawah nek" Ajak ku.


"Ayuk! let's go!" Balasnya dengan penuh semangat.


Aku membantu nenek turun dari tempat tidur dan beralih duduk di kursi rodanya, kami turun dengan menaiki elevator, meskipun rumah kami hanya dua lantai tapi papa sengaja membangun elevator agar memudahkan membawa nenek naik turun keluar kamar karena letaknya berada di lantai dua.


Kami makan di taman belakang sambil menikmati pemandangan bunga yang sedang bermekaran dan sebagian pohon buah yang sudah mulai berbuah.


Makan siang kali ini Bik Inah memasak udang sambal padang, ayam goreng, dan sayur lodeh yang tidak lupa dengan sambal terasinya yang nikmat.


Biasanya jika papa dirumah mama lah yang memasak dari menu sarapan sampai makan malam sementara Bik Inah hanya membantu sekedarnya, berhubung papa sedang di Singapura jadi yang memasak adalah Bik Inah.


"Gimana kabarnya Adam? kok nenek gak pernah dengar kamu cerita tentang dia?" Tanya nenek tiba-tiba.


Seketika aku tersedak karena terkejut mendengar pertanyaan dari nenek.


"Loh kenapa? minum! minum! minum!" Perintah nenek sambil menyodorkan segelas air putih kepadaku.


"Kamu kok makannya gak pelan-pelan sih, jadi tersedak kan" Ujarnya lagi.


"Maaf nek" Balasku merasa bersalah.

__ADS_1


"Yaudah ayo lanjut makan lagi" Perintahnya lagi.


Aku kemudian melanjutkan makan lagi, nenek masih terus memperhatikanku tapi aku pura-pura tidak menyadarinya.


"Pelan-pelan" Ujar beliau mengingatkanku lagi.


"Iya nek" Jawabku singkat.


"Eh gimana tadi nenek tanya belum kamu jawab?" Tanyanya lagi.


"Oh itu, Adam baik-baik aja kok nek, cuma memang akhir-akhir ini kita sibuk dengan aktivitas masing-masing jadinya jarang komunikasi" Jawabku sedikit berbohong.


"Ya syukurlah kalau kalian baik-baik aja, semoga awet sampai tiba waktunya nanti" Ucap beliau.


"Oh ya nek, Tiar boleh tanya sesuatu gak?" Tanyaku.


"Boleh, tanya apa sayang?" Jawabnya setelah menelan suapan terakhirnya.


"Dulu katanya papa sama mama nikah tanpa restu ya nek?" Tanyaku lagi.


Seketika nenek terdiam sejenak sebelum beliau menjawabnya.


"Kamu tau darimana?" Tanya beliau penasaran.


"Pernah dengar cerita dari mama" Jawabku sedikit ragu.


"Seharusnya hal seperti itu tidak diceritakan sama kamu" Gumam beliau.


"Nenek akan ceritakan" Jawab beliau.


#Flash Back Versi Cerita Nenek


Dulu ketika kakek masih muda memiliki sahabat baik yang bernama Budianto, beliau orangnya sangat baik dan bijaksana, pernah suatu ketika perusahaan kakek akan bangkrut dan Budi lah yang menolongnya.


Namun persahabatan itu tidak bertahan lama, kala itu kakek dan Budi membuka usaha baru yang di kelola bersama, mereka berdua mencari dan mempromosikan sendiri kepada koleganya, awal kerenggangan persahabatan mereka bermula ketika istri Budi berselingkuh dengan kolega pertama di perusahan baru.


Kakek adalah orang pertama yang mengetahui skandal itu dan memberitahukannya kepada Budi, tapi memang ular pandai bersilat lidah istrinya Budi mengelak bahkan menuduh kakek merayunya dan ingin meniduri istrinya Budi, karena saking cintanya dengan sang istri Budi pun percaya saja tanpa mencari kebenarannya, Budi mengancam akan memenjarakan kakek bahkan menyuruh anak buah untuk menculik kakek agar bisa memberi pelajaran kepada kakek.


Akhirnya entah bagaimana kolega itupun juga memutuskan kontrak begitu saja tanpa perundingan, dan kakek pamit mundur dari perusahaan baru yang sekarang di kelola oleh papa mu.


Dua puluh tahun kemudian mama mu memperkenalkan seorang laki-laki muda yang tampan dan sepertinya anak orang kaya, kami sebagai orangtua yang hanya memiliki satu putri dengan senang hati menerimanya.


Mereka menjalin sebuah hubungan selama dua tahun dan pada tahun ketiga pria itu datang untuk melamar mama mu, nenek dan kakek setuju saja karena mama mu senang, tapi saat pria itu yang tidak lain adalah papa mu membawa orangtuanya datang kami jadi terkejut, karena ternyata papa mu adalah putra kedua dari Budi.


Kami menolak mentah-mentah dan memberitahukan alasannya kepada papa mu, demi mama mu dia rela di usir dari keluarganya begitupun sebaliknya terhadap mama mu.


Satu tahun setelah pernikahan Budi meninggal dan istrinya sakit-sakitan, mama mu mengabari nenek karena kamu telah lahir tapi tidak pernah memberitahu keberadaan kalian.


Selang beberapa bulan istrinya Budi juga meninggal dan menyerahkan seluruh warisan bahkan perusahaan yang dulu dibangun bersama kakek kepada kami, kakek terus mencari keberadaan kalian sampai wafatnya beliau berpesan untuk memberikan seluruh harta kekayaan yang telah diwariskan Budi dan juga peninggalan kakek mu kepada kamu.


"Jadi sebab itu nenek tidak merestui papa dan mama?" Tanyaku setelah nenek selesai bercerita.


"Iya Tiar, nenek menyesal karena sampai akhir hayatnya kakek belum bisa mempertemukan beliau dengan cucu semata wayangnya" Tidak terasa butiran bening keluar dari sudut mata nenek.

__ADS_1


"Nenek jangan sedih dong, kakek disana nanti ikut sedih, kan sekarang kita sudah berkumpul" Ujar ku sambil memeluk dan berusaha menenangkannya.


"Iya sayang, terimakasih kalian mau terima dan rawat nenek dirumah kalian" Ujarnya lagi.


"Em.....sayang nenek" Ucapku mengeratkan pelukanku.


Drtt....!Drtt.....!Drtt....!


"Ponsel kamu bunyi tu, mungkin dari Adam, angkat dulu sana!" Perintahnya.


"Eh iya dari Adam nek, aku permisi angkat dulu ya" Pamit ku kepada nenek.


°°°°°°°°


"Halo Dam" Sapa ku setelah mengangkat telepon darinya.


"Kok Dam sih sayang?" Protesnya.


"Aku lagi sibuk, ada apa?" Ketus ku.


"Lagi PM ya kok jutek amat?" Tanyanya.


"Enggak, lagi banyak pikiran aja karena banyak tugas" Jawabku sedikit mengakrabi keadaan.


"Kamu kenapa sih sayang?" Tanyanya lagi.


"Apa pentingnya sih? kamu masih inget sama aku? bukannya disana udah ada yang lebih baik?" Tuduh ku tanpa dasar.


"Maksudnya?" Balasnya kebingungan.


"Permisi pak sudah ditunggu di ruang meeting" Ujar seorang perempuan yang terdengar samar-samar.


"Oke lima menit lagi saya kesana" Jawab Adam.


"Udah sana nanti ditunggu!" Perintahku.


"Nanti lah, kan masih ngobrol sama kamu" Ujarnya.


"Aku mau joging udah ditunggu ibu-ibu komplek" Tanpa menunggu jawaban darinya aku langsung memutus sambungan telepon kami.


Kembali aku menyimpan ponselku di dalam saku dan menghampiri nenek.


"Loh udah teleponnya?" Tanya nenek karena aku hanya mengobrol tidak ada lima menit.


"Oh ini nek Adam mau meeting" Jawabku berbohong.


"Nenek mau naik ke atas atau mash mau disini dulu?" Tanyaku kepada nenek.


"Disini aja dulu, kamu kalau mau keatas istirahat gak apa kan nenek udah ada Mbak Lastri" Jawabnya.


"Yaudah kalau gitu Tiar ke atas dulu ya nek?" Pamit ku.


Aku berlari menuju kamar, rasanya segera ingin menyegarkan diri dan rebahan, letih sekali karena pikiran sedang tidak tenang.

__ADS_1


__ADS_2