Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
17. Menghindar Dari Adam Dan Kejadian Kecelakaan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Pagi ini aku tidak berharap bertemu dengan Adam karena takut bagaimana caranya aku menjawab ajakannya bertunangan kalau papa tidak mengizinkan.


Setelah sampai di kampus aku memutuskan mencari tempat parkir yang berbeda dari biasanya untuk menghindari pertemuan dengan Adam, aku sengaja mengambil parkir di dekat parkiran sepeda motor.


Ketika akan berbelok ke parkirannya mataku terbelalak karena melihat Adam berdiri disebelah mobilnya.


Karena sudah kepalang basah aku tetap memarkirkan mobilku disana dan turun menemui dia.


"Kok tumben parkir disini?" Tanyaku Basa-basi.


"Kamu juga kenapa parkir disini? bukannya biasa parkir di dekat post satpam?" Tanyanya balik.


"Lah malah nanya balik" Ujar ku tanpa menjawab pertanyaan darinya.


"Ya enggak, heran aja gitu soalnya gak biasanya" Katanya lagi.


"Disan parkirnya penuh makanya aku parkir disini, kamu sendiri kenapa?" Tanyaku.


"Sama dong berarti, tadi aku udah sempat kesana tapi sayangnya penuh" Jawabnya.


"Nah itu tau, yaudah masuk dulu ya" Pamit ku.


"Tunggu! kamu gak lagi menghindar dari aku kan Ti?" Pertanyaannya membuatku kaku tidak bisa menjawab.


"Menghindar kenapa? aneh deh kamu" Ujar ku.


"Ya karena apa gitu, siapa tau aja" Jawabnya menebak-nebak.


"Eh Bu Ninda" Sapa ku kepada dosen wanita yang terkenal humoris itu.


"Kalian ngapain disini? pacaran ya? buruan masuk!" Perintahnya tegas.


Aku kemudian berjalan dibelakang mengikuti bu Ninda.


Hari ini aku tidak masuk ke kelas karena akan menyelesaikan uji praktek yang sempat tertinggal karena kejadian yang menimpa dua sahabatku kemarin, selain itu juga aku pakai untuk alasan menghindari Adam.


Setelah Uji Praktek selesai, aku memutuskan untuk melihat ke kelasku terlebih dahulu sebelum pulang.


Ternyata mata kuliah dari Bu Ninda belum selesai, segera aku meninggalkan kampus dan berniat pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Dina dan Dita di rumah sakit.


°°°°°°


Empat puluh lima menit aku mengendarai mobil akhirnya sampai juga di Rumah Sakit, terlihat parkiran sangat penuh sekali dengan kendaraan pribadi.


"Mau masuk ke dalam ya Mbak?" Tanya seorang satpam yang datang menghampiriku.


"Iya pak, bisa gak ya?" Tanyaku.


"Coba saya tanya tukang parkirnya dulu Mbak"


Pak satpam berlalu pergi menghampiri salah satu tukang parkir yang ada disana, aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, beberapa detik kemudian dia kembali bersama tukang parkir.


"Disana ada tempat tapi press sekali untuk satu mobil, kalau boleh saya saja yang memarkirkan Mbak" Izin tukang parkir.


"Oh boleh Mas, yang penting saya bisa masuk" Ujar ku.

__ADS_1


Saat tukang parkir akan masuk kedalam mobilku, datang satu mobil Pajero berwarna hitam yang juga akan masuk ke dalam.


Pak satpam menghampiri pengemudi Pajero tersebut, aku mendengar sepertinya pengemudi tersebut memohon untuk didahulukan.


Setelah lima satu menit bernegosiasi pak satpam menghampiriku kembali, beliau berkata bahwa mobil Pajero sedang membawa pasien darurat.


Karena menyangkut nyawa seseorang aku meminta tukang parkir untuk memindahkan mobilku keluar dari pintu gerbang agar pengemudi Pajero bisa masuk ke dalam.


Pengemudi Pajero menurunkan jendela mobilnya memberikan tanda terima kasih dengan melambaikan tangan dan melemparkan senyuman, aku pun membalasnya dengan ramah.


"Pak mobil saya parkir disini kira-kira boleh gak ya? saya cuma sebentar kok" Tanyaku kepada pak satpam.


Posisi mobilku saat ini berada di luar gerbang Rumah Sakit yang kebetulan masih ada lahan yang sekitar lima ratus meter dari jalan sehingga tidak akan mengganggu pengguna jalan lain.


Setelah mendapatkan izin, aku langsung pergi masuk kedalam, pertama kali aku menjenguk Dina karena sejak kecelakaan itu aku belum menemuinya, hanya saat dia dibawa ke ruang ICU itupun sedang dalam keadaan yang tidak sadarkan diri.


"Ruangan atas nama Dina pasien kecelakaan dimana ya sus?" Tanyaku ke meja administrasi.


"Kamar Raflesia nomor empat, silahkan anda lurus lalu belok ke kiri naik ke lantai dua" Jawabnya.


"Terima kasih ya sus" Balasku.


Aku berjalan mengikuti arahan dari perawat cantik yang ada didepan tadi.


Tok!....Tok!...Tok!... aku mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan kamar raflesia nomor empat.


"Masuk" Suara perintah dari dalam kamar itu.


"Permisi" Ujar ku.


"Silahkan masuk, eh nak Tiar" Ucap ibunya Dina.


"Alhamdulillah sehat tante, maaf ya Tiar baru bisa nengok Dina sekarang" Ujar ku merasa bersalah.


"Gak apa sayang, Dina juga sudah jauh lebih baik kok" Jawabnya.


"Oh iya ini tante ada sedikit bingkisan" Ucapku sambil menyerahkan parsel buah yang sempet aku beli sebelum berangkat kesini.


"Ya ampun kok pakek repot-repot segala sih" Kata ibu Dina.


"Gak repot kok ini hanya alakadarnya, saya mau ke Dina boleh tante?" Tanyaku meminta izin.


"Boleh banget dong" Jawab Tante.


Aku berlalu menghampiri Dina yang masih terbaring ditempat tidur sambil memainkan ponselnya.


"Dina....!" Panggilku mengagetkannya.


"Yaampun hai! Tiar apa kabar?" Kami saling berpelukan melepas rindu.


"Baik, alhamdulillah kamu sudah siuman aku kangen banget sama kamu" Ujar ku girang.


"Dita gimana Ti? katanya dia koma ya?" Raut wajah Dina langsung berubah.


"Aku belum jenguk perkembangannya lagi, udah kamu jangan banyak pikiran ya? yang penting sembuh dulu, kita doakan Dita baik-baik aja" Aku berusaha menguatkan diri.

__ADS_1


"Aku juga yang salah kenapa waktu itu gak berusaha lebih keras untuk larang dia" Ujarnya


"Kamu kenapa nyalahin diri sendiri kayak gitu, ini semua udah takdir dari Yang Maha Kuasa" Ucapku berusaha menenangkan.


"Sebenarnya kecelakaan itu akibat dari keteledoran kami" Ujarnya.


"Maksudnya?" Tanyaku penasaran.


"Iya, kami lalai" Jawabnya.


"Maksudnya gimana sih kok aku masih gak ngerti?" Tanyaku lagi.


"Jadi waktu itu kita malamnya WhatsApp-an karena janjian mau berangkat bareng" Dina mulai bercerita.


"Nah paginya aku dateng lebih awal tuh karena mau ujian kan, tapi sampe rumah Dita masih sepi gak ada satpam satu pun" Imbuhnya lagi.


"Dita gak ada di rumah?" Aku memotong di sela ceritanya.


"Ya ada, tapi pas aku telepon dia kayak baru bangun tidur gitu, terus aku minta bukain pintu gerbangnya dia nyuruh ART nya yang turun" Sesekali Dina menarik napas.


" Pas sampai di kamarnya ternyata dia tiduran lagi, aku dekati terus pegang keningnya panas banget" Jelasnya.


"Aku minta ART nya ambil kompresan sama obat penurun panas yang biasa dia minum, waktu itu ujian mulai sekitar jam delapan jadi masih ada waktu sampai panas Dita turun baru aku tinggal" Ujarnya lagi.


"Sebentar aja panas Dita udah menurun, akhirnya aku pamit karena waktunya udah mepet banget, terus dia maksa buat tetap berangkat karena udah banyak menyusul" Lagi-lagi Dina menarik napas kasar.


"Yaudah aku setujui, pokoknya intinya dia maksa buat naik motor meskipun udah dilarang, karena aku gak bisa naik motor akhirnya dia yang nyetir"


"Posisi lagi sakit?" Tanyaku tak percaya.


"Iya, diajak naik mobil pun gak mau katanya takut telat"


"Nah pas udah sampai di alun-alun abis telepon angkat telepon kamu itu kita nabrak anak kecil yang aku gak tau dari mana munculnya, terus Dita oleng banting setir dan pada akhirnya nabrak trotoar jalan terus terpental sadar-sadar udah disini" Terangnya.


"Yaampun, kalian sampai terpental?" Tanyaku masih tak percaya.


"Iya Ti" Jawabnya yakin.


"Kalian harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki hidup yang kedua kalinya" Ujar ku.


"Iya kamu benar Ti" Jawabnya.


Aku pamit keluar setelah sekitar hampir dua jam kami bercerita, segera aku pergi ke ruangan Dita yang berada di ruang khusus dan harus steril.


Aku tidak masuk kedalam hanya melihat dari jendela yang tirai nya sengaja dibuka untuk orangtuanya mengontrol dari luar.


🌞🌞🌞🌞


Ponselku berdering keras karena aku lupa mengaktifkan mode senyap, segera aku mengambilnya dari dalam tas dan berlari keluar untuk mematikannya.


Karena sudah berada di depan aku langsung pulang tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Saat sampai di tempat aku memarkirkan mobil ternyata ada tukang parkir yang sedang berteduh disebelah mobilku, setelah aku tegur ternyata itu tukang parkir tadi yang setia menunggu mobilku.


Aku masuk kedalam mobil kemudian mengeluarkan uang dua lembar berwarna merah yang aku berikan kepada tukang parkir tadi dan berlalu pergi.

__ADS_1


Ditengah perjalanan pulang aku membuka kembali ponselku, penasaran siapa yang menelepon tadi, ternyata telepon dari Adam.


Aku tidak menghiraukannya dan tetap melajukan mobilku agar cepat sampai dirumah.


__ADS_2