Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
15. Operasi Dita Berjalan Lancar


__ADS_3

Sekitar pukul 19.00 aku sampai di Rumah Sakit diantarkan oleh Pak Muh sopir pribadi Mama.


"Keluarga pasien atas nama Dita?" Keluar perawat dari ruang operasi, kami semua yang berada tidak jauh dari sana berlari mendekat kepada perawat.


"Bagaimana keadaan anak saya sus?" Tanya ibu Dita.


"Ibu dan Bapak ikut saya ke ruangan, nanti dijelaskan" Ujar seorang perawat yang berkulit putih dan tinggi, Ibu dan ayah Dita mengikuti perawat di belakangnya.


Sementara orangtua Dita masuk ke ruang dokter, aku yang menggantikan menunggu di depan ruang operasi.


Tiga puluh menit kemudian Dita dikeluarkan dari ruang operasi menuju ruang rawat inap, tampak dia belum sadar dari biusnya.


"Teman saya belum sadar ya dok ?" Tanyaku kepada salah satu dokter yang keluar bersamaan dengan Dita.


"Doakan saja yang terbaik" Hanya itu jawaban yang dokter berikan kepadaku.


••••••••••


"Tiar, nak bangun sayang" Terdengar ada suara yang membangunkan ku sambil menggoyang-goyang tubuhku.


"Eh Ibu, maaf Tiar ketiduran" Ujar ku ketika baru membuka mata.


"Pulang aja nak udah malam, Ibu sama Bapak yang menunggu disini, kamu keliatan capek banget" Ujarnya.


Ku pandangi jam yang melingkar ditangan ku, tidak terasa sudah tiga jam aku berada disini.


"Tapi Tiar pengen nungguin Dita Bu" Pintaku.


"Yang berjaga hanya boleh dua orang sayang, udah kamu pulang aja besok kesini lagi jenguk dan mudah-mudahan Dita udah sadar"


"Dita baik-baik aja kan Bu?"


Tanpa menjawab pertanyaan dariku Ibu Dita terus membujukku agar mau pulang.


Aku beranjak dari tempat duduk untuk segera menuju parkiran, saat di koridor Rumah Sakit dari kejauhan aku melihat beberapa orang mendorong tempat tidur pasien yang sepertinya akan berpindah ruangan.


Ku percepat langkahku, ketika berpapasan dengan rombongan tadi aku melihat sosok Dina yang sedang berbaring, astaga! mengapa aku lupa jika Dina juga ada di Rumah Sakit ini.


Segera aku berputar arah mengikuti dari belakang, ketika sampai didepan sebuah ruangan dokter dan perawat membawanya masuk. Namun, kami semua diminta menunggu di luar.


"Tante" Aku mendekati bundanya Dina.


"Tiar, kamu juga ada disini Nak" Tante dewi memelukku sebentar kemudian melepaskannya lagi.


"Iya Tante, Dita baru aja selesai operasi" Jawabku.


"Gimana operasinya berjalan lancar sayang? maaf Tante belum bisa jenguk Dita" Tanyanya.


"Alhamdulillah berjalan dengan baik, gak apa Tante Dita pasti baik-baik aja yang terpenting Dina cepat pulih"


"Iya kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua"


"Dina kenapa dibawa ke sini Tan?" Tanyaku penasaran.


"Dia tiba-tiba drop Nak"


"Kasian Dina, gak biasanya naik motor kenapa nekat coba" Tak terasa buliran bening menetes dari sudut mataku.


Jika membayangkan wajah kedua sahabatku rasa khawatir selalu menyelimuti, entah apa yang akan terjadi kepadaku jika aku kehilangan mereka berdua.


•••••••••


Sepuluh menit lagi jam besuk akan segera berakhir, aku pamit kepada Tante Dewi dan juga Om Hans.


Saat berada diparkiran aku sulit untuk mencari mencari Pak Muh karena beliau tidak membawa ponselnya, ketika sejenak aku berhenti terdengar suara seseorang yang sangat tidak asing bagiku.


Segera aku mengangkat kepala dan mencari sumber suara tersebut.


Aku menoleh ke kiri dan kanan, tapi tak kutemui seorangpun disana, lalu aku kembali berjalan. Saat melewati sebuah mobil Pajero berwarna hitam, aku memperhatikan ke arah kiri yakni celah sempit diantara dua mobil yang terparkir, secara spontan aku pun terkejut karena Adam dan Pak Muh lah yang sedang mengobrol .


Aku masih tak bergeming karena terkejut ada Adam juga disini, padahal aku tidak memberitahunya kalau akan kesini.


"Pak Muh yuk pulang" Panggilku memutus obrolan yang sepertinya masih seru diantara mereka.


"Baik Non, mobilnya saya ambil dulu itu diujung sana" Ujar pak Muh.


"Lah Pak Muh ngapain disini kalau mobilnya diparkirnya disana?" Tanyaku menginterogasi.


"Tadi abis ke toilet umum Non" Jawabnya jujur.


"Yaudah ambil dulu pak" Perintahku.


"Em...Pak! Bapak pulang saja dulu, biar Tiar saya yang antar" Ucap Adam.


"Tapi Mas?" Jawab Pak Muh ragu.


"Gak apa saya cuma mau ajak cari makan setelah itu langsung antar pulang" Jelas Adam untuk meyakinkan Pak Muh.


"Iya yaudah Pak Muh saya sama Adam aja, kalau Mama tanya bilang saya sama anaknya Tante Reni"

__ADS_1


"Kalau begitu saya tinggal dulu ya" Pamit Pak Muh.


Kemudian Pak Muh berlalu pergi meninggalkan kami berdua diparkiran.


•••••••••


"Udah! yuk pulang" Ajak ku.


Adam menekan kontrol mobilnya untuk membuka kunci, ternyata mobil pajero berwarna hitam disebelah kami berdiri adalah mobilnya.


Dia melajukan mobilnya dengan santai, kali ini aku benar-benar menikmati perjalanan ketika pergi bersama dengan dia.


Jika diperhatikan semakin hari Adam semakin tampan dan mempesona, gak salah lagi kalau di kampus banyak yang suka sama dia.


"Gimana keadaan Dita?" Pertanyaan Adam memecahkan perhatianku.


"Baik" Jawabku singkat.


"Kenapa singkat gitu jawabnya?" Tanyanya.


"Enggak kok cuma ya memangnya mau jawab apa lagi kan emang baik" Jawabku asal.


Setelah itu di perjalanan kami hanya saling diam, sesekali aku meliriknya begitupun juga sebaliknya.


Tiga puluh menit kemudian kami berhenti didepan street food dekat rumah sakit karena Adam mengeluh bahwa dia sangat lapar.


Kami turun dan memesan makanan, aku duduk tepat disebelah dia, sesekali dia curi pandang kepadaku.


••••••••


Selesai makan kami segera melanjutkan perjalanan karena hari sudah semakin larut, Adam melajukan kendaraannya menembus pekatnya malam dengan sangat hati-hati.


"Udah sampe Ti, Tiar?" Terdengar suara lirih membangunkan ku.


"Hah!" Ketika terbangun ternyata aku baru sadar kalau ketiduran.


"Kaget ya? maaf! tapi kita udah sampai"


"oh udah sampai? dari tadi Dam?"


"Enggak, palingan baru tiga puluh menit yang lalu, kamu tidur pules banget jadi kasian mau bangunin"


"Yaampun kenapa gak bangunin? nanti kamu kemalaman jadinya, yaudah aku turun ya? atau kamu mau mampir dulu?"


"Enggak, lagian udah malem. Kamu buruan masuk dan titip salam sama Tante Vina ya" Ujarnya.


"Oke! nanti aku sampaikan, thanks ya Dam"


Kemudian dia berlalu pergi, setelah mobil Adam sudah tidak terlihat lagi di halaman rumah aku langsung masuk ke dalam.


Sampai di kamar aku segera bersih-bersih mandi dan berganti pakaian karena habis dari rumah sakit, selesai beberes aku langsung merebahkan diri diatas tempat tidur.


********


Tidak terasa hari sudah pagi, berarti semalam aku langsung tertidur pulas.


tok! tok! tok!


"Non, ini Mbak Lastri" Seru suara dari balik pintu.


"Iya Mbak, Tiar udah bangun" Jawabku dari dalam kamar.


"Sarapan sudah siap Non, mau dibawa ke atas atau gimana?" Tanyanya.


"Biar nanti aku aja yang turun ke ruang makan Mbak" Jawabku.


"Baik Non kalau begitu Mbak Lastri tinggal ya"


"Iya Mbak" Jawabku malas.


Setelah suara Mbak Lastri tidak terdengar lagi aku mencoba meraih ponselku yang terletak jauh dipinggir tempat tidur, untungnya tidak terjatuh ke bawah.


Saat ku periksa ada empat pesan masuk baru dan ratusan pesan lama yang belum terbuka. Aku buka satu persatu, bagian atas tertulis nama Adam kemudian ibunya Dita, dan juga Mama.


Yang pertama kali aku buka adalah pesan dari ibu Dita, karena penasaran dengan perkembangan keadaannya.


[Assalamuallaikum Nak Tiar, Ibu gak sempat telepon jadi mau sampaikan sesuatu lewat WhatsApp, kalau bisa Nak Tiar segera kerumah sakit hari ini] Isi pesan dari ibunya Dita yang dikirim dari pukul 07.45 dan sekarang sudah pukul 08.05.


[Sebentar lagi Tiar kesana Bu] segera aku membalas pesannya.


Setelah dirasa tidak ada balasan lagi aku langsung bersiap untuk menuju Rumah Sakit.


••••••


Di Rumah Sakit,


"Tiar" Dengan langkah gontai ibunya Dita menghampiriku.


"Loh Ibu, ada apa kok keliatannya abis nangis?"

__ADS_1


"Dita Nak" Kembali Ibunya meneteskan air mata.


"Kenapa Bu? ayo kita duduk dulu, coba jelasin sama Tiar apa yang terjadi" Aku memapah tubuh Tante Dewi untuk duduk kursi ruang tunggu yang ada disana.


"Dita koma Tiar, Ibu harus gimana?"


"Astaghfirullah!" Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, buliran air bening membasahi pipiku, Tante Dewi memeluk tubuhku erat dan aku pun membalas pelukannya.


"Engga, ini gak mungkin" Ucapku tak percaya.


Tangis histeris Tante Dewi menggema sudut ruangan yang hanya ada kami berdua disana.


"Tante yang kuat ya? kita berdoa sama Allah Dita pasti sembuh, dia kuat! dia pasti bisa melawannya dan sadar dari komanya" Ucapku menenangkan Tante Dewi.


"Ibu gak kuat kalau sampai terjadi apa-apa dengan dia"


"Yakin! Allah pasti ada bersama kita, sekarang Ibu pulang dulu istirahat dan bersih-bersih gantian Tiar yang jaga, nanti sore Ibu kesini lagi, yang penting sekarang istirahat dulu kasian Dita kalau Ibu juga nanti ikut sakit" Pintaku.


"Ibu gak mau ngerepotin kamu nak" Tolaknya merasa tak enak.


"Jangan kayak sama orang lain Bu, kita ini saudara"


"Terimakasih ya sayang, Ibu beruntung Dita memiliki sahabat sebaik kamu" Kembali memeluk erat tubuhku lagi.


"Ya sudah kalau begitu ibu pulang sebentar nanti segera kesini" Ucapnya sembari melepaskan pelukannya kepadaku.


"Iya" Aku usap punggung ibu Dita untuk menguatkan.


Kali ini aku menunggu di rumah sakit seorang diri, sebenarnya tadi pagi Adam sempat menghubungi namun tidak aku respon karena tidak ingin merepotkan dia.


🌞🌞🌞🌞🌞


Sepertinya hari sudah sore, Adam kembali menghubungiku bahkan sempat mengirim pesan WhatsApp berulang kali namun tidak satupun yang aku baca hanya melihat sekilas kemudian memasukkan ponselku kembali ke dalam tas.


Selang satu jam dari mengirim pesan, dari kejauhan Adam berjalan mendekat ke arah tempat dudukku, dengan melemparkan senyum manisnya kepadaku dia terus berjalan dan semakin dekat.


"Hai Ti" Sapa nya.


"Ha..hai, kamu kok udah sampe sini?" Tanyaku canggung.


"Iya, nunggu balasan pesan mu lama, palingan juga gak bakal dibalas" Jawabnya kecewa.


"Hehe maaf" Aku tersenyum merasa tidak enak dengan Adam.


"Gimana keadaan Dita?" Tanyanya.


"Dia di dalam, Dita koma Dam" Jawabku lirih menahan air mataku agar tidak jatuh dihadapannya.


"Astaghfirullah, kasian Dita. kok kamu disini sendiri? Orangtua Dita dimana?"


"Aku minta untuk pulang tadi, kasian ibunya kelihatan lelah sekali mungkin sebentar lagi kesini"


"Kamu bawa mobil Ti?"


"Bawa, gimana?"


"Minta sopir kamu buat ambil bisa?"


"Sekarang? kenapa kok pakek segala suruh sopir ambil mobil?"


"Tahun depan aja Ti! ya sekarang lah! aneh-aneh aja loh pertanyaannya"


"Hahaha" Aku tertawa receh.


"Ketawa lagi! jadi nanti rencananya sepulang dari sini aku mau ajak kamu makan malam, ada yang mau aku omongin"


"Oh begitu, kenapa gak disini aja?"


"Tempatnya kurang tepat Ti"


"Oke" Jawabku singkat


Perbincangan kami berdua terhenti setelah orangtua Dita datang membawa banyak barang bawaan, aku segera menghampiri mereka untuk membantu membawakan barang bawaannya.


"Sini Bu Tiar bantu" Aku mengulurkan tangan mengambil barang yang berada ditangan sebelah kirinya.


"Eh gak usah Nak biar Ibu aja" Tolaknya halus.


"Gak apa aku bisa kok Bu"


"Yaudah ini" Beliau menyerahkan kotak yang aku sendiri tidak tau apa isinya.


"Ibu tadi masak dirumah, yuk makan bareng-bareng"


"Gak usah bu, Tiar masih kenyang"


"Kenyang darimana? kapan makan? kan tadi nungguin Dita disini seharian, udah jangan nolak ayo makan"


"Iya deh" Aku melemparkan senyum haru kepada Ibu Dita yang juga memperlakukanku seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


Selesai makan aku dan Adam pamit untuk pulang, seperti yang dijanjikan Adam, kami pergi menembus pekatnya malam yang entah akan dibawa kemana.


__ADS_2