Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
26. Hasil Pemeriksaan Dokter, Dan Tiar Mendapat Kabar Dari Dina


__ADS_3

"Silahkan masuk, dokter sudah menunggu didalam" Ujar perawat.


Saat akan menuju meja kerja dokter aku menatap Nenek yang sedang berbaring lemas diatas tempat tidur pada ruangan bersekat tirai.


"Silahkan duduk dulu Mbak" Pinta dokter dengan ramah.


"Bagaimana keadaan Nenek saya dok?" Tanyaku penasaran.


"Ini yang akan saya jelaskan, kami sudah melakukan Scanning dan Rontgen kepada beliau, dan ini hasilnya" Dokter mengeluarkan Amplop coklat besar.


"Saya akan bacakan, jadi ini untuk hasil scanning bersih tidak ada masalah atau tanda-tanda stroke hanya sedikit syok makanya beliau pingsan" Jelas dokter kemudian menyerahkan amplop cokelat pertama kepadaku.


"Dan untuk hasil Rontgen ini yang sangat mengkhawatirkan, karena terdapat robekan pada selaput tulang" Terang dokter.


"Maksudnya dok?" Tanyaku kebingungan.


"Sebenarnya tulang beliau yang dulu retak dan patah bagian pangkal paha sudah hampir menyatu kembali, namun karena jatuh dan terjadi benturan maka mengakibatkan selaput yang sudah hampir menyatu sempurna menjadi robek kembali" Jelasnya.


"YaAllah" Hanya itu kata-kata yang mampu keluar dari mulutku.


"Ini sama saja memulai pengobatan dari awal lagi" Jelas Dokter.


"Akibat yang ditimbulkan apa dok?" Tanyaku khawatir.


"Jika kemarin sudah bisa jalan meskipun memakai tongkat, kali ini harus istirahat total jangan banyak bergerak dulu, bahkan rasa sakitnya melebihi yang sebelumnya" Imbuh dokter.


"Baik dok terima kasih atas penjelasannya" Ujar ku.


"Nanti akan saya buatkan resep baru" Ujarnya.


"Kalau begitu saya tinggal ke ruangan Nenek ya dok?" Pamit ku.


"Iya silahkan" Dokter mempersilahkan dengan ramah.


Aku kemudian menghampiri Nenek yang belum sadarkan diri, kata dokter beliau hanya syok ringan.


Sepuluh menit aku duduk di samping ranjang Nenek, dua perawat masuk membawa peralatan medis.


"Selamat sore, mau izin memindahkan pasien ke ruang rawat inap Bu" Ujar salah satu perawat wanita dengan ramah.


"Oh silahkan sus" Izinku.


Nenek dipindahkan ke ruang rawat Inap kelas satu sesuai permintaanku, aku mengikuti dari belakang perawat yang mendorong ranjang Nenek.


Saat melewati lobi administrasi aku melihat Mama berdiri sepertinya akan mencari tau keberadaan Nenek.


"Ma! Mama Vina!" Panggilku dengan suara sedikit keras karena takut mengganggu yang lain.


Mama menoleh ke arahku kemudian segera menghampiri, aku berdampingan dengan Mama menuju ruang yang akan ditempati Nenek.


"Tadi aku telepon Papa, belum juga aku ngomong apa-apa udah dimatiin lagi katanya sibuk lagi meeting" Aku menceritakan kelakuan Papa yang membuat kesal.


"Iya sayang Papa sibuk banget hari ini, bahkan nemenin Mama aja gak sempet, untung tadi pas pingsan pak Tarno sigap" Jelasnya.

__ADS_1


Drtt!....Drtt!...Drtt!...Drtt!....


Ponselku bergetar, sebentar aku berhenti dan menyuruh Mama duluan masuk ke ruangan Nenek sementara aku mengangkat telepon, sebelumnya tadi ponselku sempat aku titipkan ke Bik Inah untuk mengisikan dayanya.


"Adam?" Aku menatap layar ponsel, ternyata Adam yang menelepon.


"Halo Assalamuallaikum" Ucapku setelah mengangkat telepon.


"Wallaikumsalam cinta, kemana aja dari tadi WhatsApp gak dibalas, ditelepon gak aktif?" Tanyanya.


"Tadi handphonenya kehabisan baterai dan aku gak tau kalau kamu kirim pesan, soalnya aku lagi di Rumah Sakit" Jawabku.


"Loh ngapain? siapa yang sakit? kok gak ngabarin?" Dia bertanya tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab.


"Udah bisa dijawab belum?" Tanyaku.


"Hehe udah sayang" Balasnya dengan sedikit menggodaku.


"Nenek tadi siang jatuh, terus dibawa ke Rumah Sakit" Jawabku.


"Kok bisa? terus gimana sekarang keadaannya?" Tanyanya lagi.


"Ceritanya panjang, kalau kata dokter sih cuma syok tapi ada robekan lagi di pangkal paha"


"Kok lagi? memang sebelumnya?" Dia kembali bertanya.


"Sebelumnya udah pernah patah tapi hampir menyatu lagi makanya Nenek bisa jalan, karena jatuh tadi jadi robek lagi yang katanya hampir menyatu tadi" Jelas ku detail.


"YaAllah, kasian Nenek" Ujarnya merasa kasihan.


"Iya sayang selalu kabarin perkembangannya ya? oh iya akhir-akhir ini aku akan mulai sibuk di kantor, bisa jadi jarang ngabarin" Ujarnya.


"Iya gak apa aku ngerti kok" Jawabku percaya diri.


"Kamu jaga hati dan jaga semuanya buat aku ya?" Pintanya.


"Siap bos" Jawabku lantang.


Dia menyudahi panggilannya setelah kami sempat berbicara beberapa kali.


Tidak lama kemudian ponselku mati karena kehabisan baterai lagi, mungkin tadi hanya terisi beberapa persen aja.


Aku berlalu masuk ke ruangan Nenek dan mencari stop kontak untuk mengisi daya handphone.


"Nenek belum sadar Ma?" Tanyaku begitu memasuki ruangan Nenek.


"Belum sayang, kamu hubungi Papa ya? bilang kalau Mama udah disini" Perintahnya.


"Gak mau, Mama aja" Tolak ku.


"Yaudah nanti mama sendiri yang akan menghubungi"


Beberapa menit berlalu aku menghidupkan kembali ponselku, aku langsung membuka aplikasi WhatsApp, bekasnya Dina meneleponku sampai beberapa kali, tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak dan cemas.

__ADS_1


Aku menelepon balik ke ponsel Dina, tapi selalu dalam panggilan lain, setelah beberapa kali mencoba akhirnya panggilanku masih dan langsung diangkat olehnya.


"Halo Din ada apa? kayaknya tadi kamu menelepon aku berulang kali" Tanyaku setelah ada jawaban darinya.


Dina menangis tersedu-sedu yang membuat aku semakin khawatir.


"Ngomong Din, kenapa kamu nangis?" Tanyaku.


"Dita Ti, aku gak tau harus gimana?" Jawabnya setelah beberapa detik terdiam.


"Ada apa sama Dita? dia gak apa-apa kan? ngomong yang jelas Din!" Aku sedikit membentak Dina karena sangat khawatir.


"Dita Kritis disana, dan katanya mau operasi lagi" Jelas Dina.


Seketika tubuhku rasanya lemas dan terjatuh ke lantai, aku tidak mampu berbicara apa-apa lagi.


"Halo Ti, Tiar kamu masih dengar aku kan" Panggilan dari Dina menyadarkan ku.


"Masih Din, nenek juga masuk Rumah Sakit hari ini, aku gak mungkin bisa kesana sekarang" Jawabku.


"Nenek kenapa Ti?" Tanyanya.


"Jatuh di kamar, aku belum tau pasti karena nenek belum sadarkan diri" Jelas ku.


"Yaudah kamu jaga nenek aja gak usah khawatirkan yang lain, aku yang akan ke Singapura" Ujarnya.


"Tapi yakin kamu sendiri Din?" Tanyaku khawatir.


"Yakin, aku akan kasih kabar terus tentang perkembangan dia disana" Jawabnya.


Hari ini dua kabar mengejutkan yang aku terima, kasihan sekali Dita jika harus menjalani operasi kedua, kalaupun sembuh itu pasti akan menjadi hari-hari yang berat untuknya.


Kemudian obrolan kami terputus ketika nenek sudah kembali sadar, beliau memanggilku untuk meminta minum, karena di ruangan itu hanya ada aku dan nenek sementara mama masih sholat isya.


Aku kembali meletakkan ponselku diatas meja dan segera membantu nenek untuk bangun agar minumnya tidak tumpah.


"Tiar kamu sendiri sayang?" Tanya Nenek.


"Sama mama kok nek, tapi lagi sholat" Jawabku.


"Mama kamu udah pulang?" Tanyanya lagi.


"Dadakan tadi aku minta pulang soalnya khawatir sama nenek"


"Orang nenek gak apa-apa kok" Ujarnya.


"Gak apa-apa gimana? dari tadi siang sampai sekarang baru sadar gitu" Kataku.


"Yaudah nenek sekarang istirahat lagi aja, soalnya udah malem juga" Pintaku.


"Tapi nenek laper Tiar" Ujarnya.


"Yaudah Tiar belikan makam didepan, tapi nunggu mama kesini dulu ya" Izinku.

__ADS_1


Setelah beberapa menit kemudian mama masuk membawa dua kresek putih yang berisi tiga kotak nasi, ternyata selesai sholat beliau langsung keluar mencari makanan.


Kami bertiga makan bersama, nenek sangat lahat makannya beda dari biasanya, badannya juga terlihat lebih sehat dari tadi pagi.


__ADS_2