Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bonchap 6


__ADS_3

Akhirnya setelah mencari hingga ke pelosok, Varel menemukan yang namanya rambut jagung di ladang seorang penduduk setempat.


Setelah melalu perjuangan cukup melelahkan, akhirnya Varel bisa membuat istrinya senang. Adelia kini sedang bermain dengan Tristan menggunakan timun suri dan rambut jagung yang beberapa saat lalu ia bawa pulang tersebut.


"Ih gemoy banget deh, lucu!" saat sedang ngadem, Varel mendengar suara ceria sang istri. Tanpa sadar ia ikut mengangkat sudut bibirnya. Senang sekali rasanya bisa membuat istrinya bahagia meski hanya dengan rambut jagung saja.


"Abang!" tak lama kemudian terdengar suara teriakan Adelia. Dengan sigap Varel berdiri dan menghampiri istri dan adiknya.


"Lihat ini, gemoy banget kan? Anak kita nnti seperti ini tidak, ya?" Adel menunjukkna bayi-bayian dari timus suri tersebut dengan wajah berbinar.


Varell bingung harus menanggapi seperti apa, karena jujur, ia justru geli-geli gimana melihat mainan istrinya tersebut. Bagaimana bisa Adelia kini menjelama seperti anak kecil yang menggemaskan karena bawaan bayinya.


Ingin jujur, kalau dia sama sekali tidak tertarik tapi pasti Adel ngambek dan ini akan beresiko terhadap kenyenyakan tidurnya nanti malam yang sudah pasti akan di usir dari kamar.


"I iya. Ya, lucu sekali. Gemoy, pengin cubit rasanya. Atutututu anak siapa sih ini, menggemaskan sekali," akhirnya Varell ikuti saja permainan sang istri dengan gaya sok imut dan menggemaskan layakanya anak kecil. Yang mana itu justru membuat Adel dan Tristan melonggo heran kepadanya.


Varel langsung mengatup, merasa dirinya sudah over akting kali ini.


"Itu mainan, abang. Butan bayi benelan. Ih abang aneh!" Seru Tristan. Varel beralih menatap istrinya.


"Iya abang, ini cuma mainan kenapa Abang anggapnya serius begitu?" ucap Adelia meringis.


Gubrak, hancur sudah reputasi Varel di depan istri dan adiknya. Bukankah mereka berdua yang mulai, kenapa sekarang malah dirinya yang terlihat aneh di sini.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼 🌼 🌼


"Bawa apa itu?" tanya Gema pada Rasel setelah dia masuk ke ruangan rawat Shahila. Nadanya sengaja ia buat seketus mungkin.


"Ini makanan buat Shahila, dia nggak suka makanan rumah sakit katanya," jawab Rasel.


"Sini coba!" Gema memintanya dan langsung Rasel berikan.


"Apa sih kak? Itu kan buat aku," ucap Shahila Saat Gema melah menyuap makanan itu ke mulutnya.


"Iya, kak itu buat my baby ShaSha!" Rasel ikut protes.


"Jangan panggil saya kakak, saya bukan kakak kamu!" sahut Gema.


"Percaya diri sekali kalau saya bakal restuin kamu sama adik Saya. Belum apa-apa saja kamu udah hampir bunuh dia," ucap Gema mengintimidasi


"Yaelah, itu kan tidak sengaja. Beneran, swearr! Kalau tahu jadi begini mah nggak bakal aku kasih dia makan, biar aku saja yang keracunan,"


"Emang kamu alergi kacang juga?" tanya Shahila.


Rasel menggeleng, "Ya enggak sih," ujarnya meringis, "Kan misalnya, beb," imbuhnya.


Gema mendengus, "Lebay!" sindirnya.

__ADS_1


"Kak, itu kan makanan buatku, kenapa malah dimakan sih?" protes Shahila yang ingat akan makanannya.


"Kakak cuma cek aja, siapa tahu kan di kasih racun sama dia," Gema langsung menyodorkan makanannya kepada Shahila.


"Aman kan? Kakak ipar nggak boleh suudzon begitu. Gini-gini aku tahu dosa, kalau niat racun baby ShaSha, aku berdosa. Bukan cuma itu, nanti aku jadi jomblo seumur hidup dong kalau baby ShaSha kenapa-kenapa, kan dia jodohku,"


"Kenapa kamu terlalu tidak punya malu? Sudah saya bilang, saya akan bawa Shahila ke luar negeri dan akan cariin dia pasangan di sana,"


"Harus! Tidak punya malu itu harus di terapkan demi bisa meminang wanita yang kita cintai. Harus buang urat malunya saat berjuang untuk bisa menjadikan wanita spesial ini menjadi ibu untuk anak-anakku kelak," balas Rasel lantang.


"Aaaah, so sweeettt," ucap Shahila dan Rasel tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Sementara Gema, hanya menunjukkan ekspresi ingin muntahnya mendengar ucap Rasel.


Bukannya ingin mengatur atau mengekang Shahila. Tapi, sebagai kakak, Gema ingin yang terbaik untuk adik satu-satunya tersebut. Hanya Shahila yang ia punya dan ia ingin memastikan jika adiknya itu tidak salah dalam memikih pasangan.


"Punya apa kamu sebagai jaminan bakal bahagiain Shahila?" tanya Gema kemudian.


"Cinta!" Jawab Rasel tegas. Ia tahu jika Gema ingin mulai membicarakan hal serius dengannya. Ia pun mengambil kursi lain lalu duduk di seberang Gema, "Aku tahu, kalau soal materi, tentu Shahila jauh lebih memiliki segalanya dariku secara dia memang sudah dari bayi terlahir sebagai anak sultan. Sedang aku lahir dari kasta rendahan, untuk Bisa memiliki sesuatu harus benar-benar berjuang dari nol..."


"Saya sedang tidak ingin mengadu nasib," sela Gema.


"Oh oke-oke. Aku lanjutkan. Aku hanya punya jaminan cinta yang benar-benar tulus untuk Shahila. Aku janji, akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk kebahagiaan Shahila. Aku tidak akan menjanjikan materi sebagai jaminan kebahagiaannya kelak jika hidup denganku. Tapi, bukan berarti materi tidak penting. Aku tetap akan melakukan yang terbaik untuk kehidupan dia, tidak akan mungkin membiarkan dirinya merasa kekurangan. Diriku sendiri adalah jaminan dari kebahagiaannya kelak,"


Baik Gema maupun Shahila hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa. Ternyata si slengekan ini bisa juga berbicara serius dan sedalam ini. Sungguh di luar ekspektasi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2