Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 67


__ADS_3

Tiga tahu sudah Adelia pergi, hal itu membuat rindu Varel kian menumpuk. Mungkin karen itu sekarang ia berkhayal tentang sosok pemilik rindunya tersebut.


Varel memejamkan matanya demia menghilangkan bayangan Adelia dari matanya. Pasalnya kini ia merasa kembali berhalusinasi. Ia melihat Adel sedang berdiri di eskalator menuju lantai satu.


"Kakak tantik!" Tristan menunjuk ke arah wanita yang Varel bayangkan sebagai Adelia tersebut saat tak sengaja wanita itu menoleh ke atas, ke lantai dua dimana Varel dan Tristan kini berada.


"Kamu juga melihatnya?" tanya Varel bingung. Tristan selalu menyebut photo wanita yang ada di ponsel Varel dengan sebutan kakak cantik. Dan sekarang anak itu mengatakannya sambil menunjuk wanita yang sedang turun menuju lantai satu tersebut.


Anak itu mengangguk," Kakak tantik!" tunjuknya lagi, yang mana membuat Varel bingung apakah ia sedang berhalusinasi berjamaah dengan sang adik? Sepertinya tidak! Ia tak salah lihat, itu memang sosok wanita yang ia rindukan.


Varel pun berlari cepat sambil menggendong Tristan menuju ke eskalator, sialnya eskalator tersebut penuh sehingga ia tak bisa menyela. Hanya bis menunggu debgan sabar hingga sampai lantai satu tanpa menerobos pengguna yang lainnya.


Dengan mengedarkan pandangannya, Varel terus mencari sosok perempuan itu. Tristan yang merasa sedang diajak berpetualang sama sekali tidak protes diajak berlari dan berputar seperti orang kebingungan. Ia justru terlihat tenang dan menikmatinya.


Varell mengatur napasnya, ia kehilangan jejak Adelia hingga matanya kembali menangkap sosok yang ia cari tersebut masuk ke dalam sebuah mobil.


Varell langsung berlari ke arah mobil tersebut, namun terlambat. Mobil itu sudah melaju sebelum ia sampai.


Varell langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia mendudukkan Tristan di kursi samoing kemudi, "Duduk yang anteng, ya? Kita berpetualang!" ucaonya sambil memakaikan sabuk pengaman pada Tristan. Anak itu tampak bingung, "Petualangan apa, pa?" tanyanya.


Hah, Varel mndesah, ingin protes dengan panggilan itu, taoi ini bukan waktu yang twoat untuknya berdebat dengan adik kecilnya tersebut. Selain hanya akan berakhir sia-sia karena Tristan selalu tetap memanggilnya papa, juga akan semakin membuatnya kehilangan jejak Adelia.


Varel memilih langsung melajukan mobilnya saja daripada meladeni pertanyaannya Tristan yang pasti dari akar sampai pucuk akan ditanyakan terus.


Lagi-lagi Tristan tampak exited dengan petualangan barunya, dimana Varel saat ini mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, berharap bisa mengejar mobil yang di tumpangi oleh wanita yang sangat mirip dengan Adelia tersebut.


Bukannya takut diajak ngebut, tapi Tristan justru bersorak senang, ia tak tahu kalau kini nyawanya sedang di pertaruhkan oleh kakaknya tersebut.


Tak beruntung, Varel tak berhasil mengejar mobil itu karena terhalang lampu merah di depannya.


"Si al!" Varel mengumpat, ia memukul setir mobilnya


"Ssssttttt!" Tristan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, memperingatkan sang kakak supaya tidak bicara kasar. Menurutnya, bicara keras adalah kasar dan nakal.

__ADS_1


Tristan mulai mengoceh bersamaan dengan kembali melajunya mobil sang kakak. Ia mulai bercerita dan bertanya banyak hal yang hanya di tanggapi sesekali oleh Varel.


"Berisik! Bisa diem nggak? Aku turunin nih di jalan, mau?" ujar Varel pada akhirnya setelah capek mladeni ocehan anak balita tersebut. Selain itu, ia juga masih kesal dan kecewa karena kehilangan jejak sang pemilik hatinya.


"Papa, galak!" kata Tristan.


"Panggil papa sekali lagi, aku turunin beneran nih!" ujar Varel.


"Papa, papa papa!" anak itu justru meledeknya. Yang mana membuat Varel menghela napas pasrah. Tidak mungkin juga ia benar-benar menurunkan Tristan di jalan, bisa-bisa di pecat jadi anak sama bu Lidya.


.


.


.


"Gue pesan ayam geprek aja, cabenya request dua, ya? Nggak usah banyak-banyak!" ucap Shahila setelah mobilnya berhenti di depan sebuah rumah makan.


"Itu aja?" tanya Adel.


Adel mengangguk, ia turun dari mobil lalu masuk, ikut antre dalam barisan yang cukup panjang.


Tak lama kemudian, mobil Varel juga sampai di tempat tersebut, "Astaga, antrenya!" gumam Varel saat melihat antrean yang panjang, ia paling malas sekali kalau harus menunggu lama.


Tadi bu Lidya mengirim pesan, menyuruh Varel untuk take away makan siang di rumah makan tersebut untuk makan siang karena bekiau tak masak.


Karena antrean panjang, Varel mengajak Tristan untuk ikut turun dari mobil. Ia menuntun anak itu, persis seperti seorang papa muda dengan anaknya.


Beberapa saat lamanya, Varel tak menyadari jika wanita yang berdiri di depannya adalah Adel. Hingga tanpa sengaja Tristan yang sejak tadi usil menggerakkan kakinya maju mundur menendang kaki Adel.


"Maaf, mbak anak saya tidak sengaja," ucap Varel yang merasa tidak enak dengan wanita di depannya tersebut.


"Tristan, anteng, diem!" Varel memperingati Tristan.

__ADS_1


Merasa tak asing dengan suara pria di belakangnya, Adel pun menoleh.


Tak hanya Varel yang terkejut melihat wanita yang berdiri di depannya, Adel oun tak kalah terkejutnya. Ia sama sekali tak menyangka akan secepat ini bertemu kembali dengan pria tersebut.


Keduanya saling membatu di tempatnya, tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


"Kakak tantik!" seru Tristan yang mendongak dan langsung mengenali Adelia. Yang mana membuat Adel tersadar lalu mengernyit bingung.


Menunggu pesanan mereka, kini Adel Varel duduk untuk mengobrol setelah sekian tahu tak terpisah lagi. Perpisahan mereka kala itu di lakukan baik-baik, jadi tak ada salahnya sekarang di awal pertemuan mereka kembali juga saling menyapa dengan baik.


"Apa kabar, Adelia?" tanya Varel. Ia terus menatap wanita yng kini duduk di depannya tersebut.


"Baik, om. Om. Apa kabar?" Adel bakik bertanya.


"Seperti yang kamu lihat, makin tua dan... Lumayan baik," jawab Varel setengah bercanda untuk mencairkan suasana.


Jujur ia grogi, tak tahu apa yng harus di bicarakan dengan sang pemilik rindunya tersebut. Banyak hal yang selama ini ia rangkai dan ingin ia utarakan jika memiliki kesempatan bertemu kembali dengan sang pujaan hati, kini ambyar semua, hilang entah kemana.


Varel mengisyaratkan kepada pelayan rumah makan untuk sebentar lagi memberikan pesanan Adelia, karena ia masih ingin sedikit berlama-lama ngobrol dengan wanita tersebut.


Adel sedikit tersenyum mendengar ucapan Varel.


Suasana kembali hening, baik Adel mauoun Varel tak tahu harus bicara apa satu sama lain. Tanya kabar sudah, lalu apa lagi. Padahal Varel masih ingin berlama-lama menatap wanita tersebut.


"Dia anak, om?" Adel menunjuk Tristan yang sedang asyik bermain sendiri kesana kemari.


"Em, apa kelihatan seperti ?" tanya Varel. Ia mengatupkan bibirnya, tak heran jika Adel berpikir demikian. Bukankah semua orang juga begitu? Siapa yang mengira anak kecil itu adiknya.


"Iya, dia sangat mirip dengan om," sahut Adelia.


"Tapi, menurutku dia lebih mirip mamanya," ujar Varel.


Adel langsung menatap Varel, dan tersenyum, "Begitu, ya? Aku yang salah berarti. Andini apa kabarnya?" tanyanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2