Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bonchap 4


__ADS_3

Pagi hari, Adel dan Varel tengah bersiap ke rumah sakit untuk menjenguk Shahila. Namun mereka tak bisa pergi begitu saja karena Tristan merengek ingin ikut. Sejak pagi setelah mandi, ia terus berada di kamar abangnya. Duduk bersila dengan mata menatap kesana kemari mengikuti setiap langkah aktivitas yang di lakukan oleh Varel dan Adel. Ia Sama sekali tak mau beranjak sedikitpun dari atas ranjang sang kakak.


"Ayolah, donat gula! Abang cuma mau menemani kakak ke rumah sakit, kamu keluar gih main sama Moly!" usir Varel. Karena ada adik kecilnya itu sejak tadi dirinya jadi tak bisa bermanja-manja dan bermesraan dengan Adelia.


"No! Tlistan mau itut! Ntal abang pelgi beli madu lagi, Tlistan di tinggal! Lama, came bocan nundunya! No no no!" ucap Tristan sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.


"Heh!...." baru juga ingin ngegas, Varel sudah di peringati oleh Adelia melalui sorot matanya, "Jangan galak-galak!" ucap Adel.


"Ck, dia mah mau di galakin kayak apa juga kebal, nggak ngerasa di galakin," ucap Varel enteng dan memang begitu adanya.


Adelia mendekati ke arah Tristan dan duduk di tepi ranjang, "Tristan Sayang..." di panggil sayang oleh Adelia, Tristan langsung menatap pamer pada Varel.


"Dih baru di panggil sayang aja sombong," cibir Varel.


"Combong-combong! Ndak combong ya... Pamel!" sahut Tristan.


"Sama aja donat gula! Ih gemesin deh! Nggak heran sih, anaknya bu Lidya," ucap Varel.


"Abang juda!" Tristan menunjuk Varel.


"Abang mah nggak nyadar, dia berasa keluar dari batu kayaknya," ucap Adelia terkekeh.


"Aaaahh, ayang kok gitu sih...." dengan manjanya Varel mendekat dan mendusel-dusel Adel.


"Ih, abang minggil!" Tristan berusaha mendorong Varell.


"Enggak mau, kak Adel punya abang, week!" Goda Varel.


Tristan langsung bersedekap dan cemberut.


"Abang, ih. Nanti makin susah kita buat pergi kalau dia nangis, mending abang keluar dulu, biar aku yang bujuk Tristan," ucap Adel.


Mengingat jam juga sudah mulai siang, akhirnya Varel menyudahi keisengannya dan menuruti ucapan sang istri.


"Tristan, kak Adel sama abang cuma pergi sebentar kok. Nggak lama, cuma mau jenguk teman yang lagi sakit. Kalau di rumah sakit kan banyak orang sakit, anak-anak nggak boleh ikut, nanti bisa tertular virus. Boleh ya kakak pergi?" bujuk Adelia lembut.


Tristan hanya menggeleng, ia merasa seperti akan di tipu lagi. Takut kalau Adel dan Varel pergi lama seperti sebelumnya.


" Atau, Tristan mau di suntik juga sama om dokter nanti?"ucap Adel.

__ADS_1


" Cuntik mah kecin! Tayak didit cemut! Ndak tatut!" timpal Tristan.


Hadeh, Adel menepuk keningnya. Bingung juga bagaimana cara membujuk bocah laki-laki satu itu. Tapi, dia tak menyerah dan masih punya seribu satu cara untuk membujuk Tristan.


Menunggu Adel membujuk Tristan malah membuat Varel ketiduran di ruang tamu karena semalam ia tak bisa tidur gegara anak itu.


Adelia sebenarnya tak tega membangunkan Varel, tapi ia juga ingin segera memastikan keadaan Shahila.


"Abang, ayo kita berangkat," bisik Adel mesra di telinga Varell. Varel langsung membuka matanya dan tersenyum, "Pantas, serasa ada suara bidadari yang membangunkan," ucapnya tersenyum.


Adel langsung mencubitnya, "Apaan sih, gombal terus. Receh!" ucapnya yang mana membuat Varel terkekeh.


Mereka segera menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke kamar rawat Shahila. Di sana Ada Rasel yang sedang menunggui kekasihnya itu.


"Kok bisa keracunan sih, Sha?" tembak Adel langsung begitu masuk dan langsung memeluk sahabatnya tersebut.


"Tahu tuh, gara-gara dia kasih aku makan yang nggak bisa aku makan, aku jadi alergi parah. Sengaja kali mau bunuh aku," Shahila melihat ke arah Rasel. Yang dilihat salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal tapi rasanya pengin di garuk.


" Kok gitu sih, Sha? Ya enggak mungkinlah aku sengaja racunin kamu. Kalau aku tahu kamu alergi kacang tanah, aku juga gak bakal kasih kamu makanan berbahan itu," Rasel membela diri.


"Katanya pacar? Masa pacarnya gak tahu kalau alergi, sih? Yakin Sha mau lanjut sama dia?" dasar Varel iseng jadi kompor meleduk.


"Ck, sahabat macam apa Anda? Jangan dengerin orang sirik Sha. Tandanya dia tak mampu!" cebik Rasel.


Rasel. Dan Shahila menatap Adelia, "Serius?" tanya mereka kompak.


Varel dan Adel mengangguk mantab, "Yoi, hebat kan Gue, met?" ucap Varel jumawa.


Rasel mendengus, "Gue kayaknya makin ke sini makin ke sana deh, jauh. Apalagi setelah kakaknya tahu kalau Shahila masuk rumah sakit gegera aku, pasti dia...." belum juga Rasel menuntaskan kalimatnya, pintu ruangan tersebut terbuka, semuanya menileh dan muncullah sosok yang sedang Rasel bicarakan tersebut.


"Tuh kan, baru juga diomongin, udah muncul aja...." bisik Rasel. Seperti anak kecil yang ketakutan, ia meremat ujung baju Varel.


Varel hanya menatap mantan rivalnya itu datar. Sementara Adel, langsung menyambut Gema dengan senyuman. Bagaimanapun, Gema adalah salah satu pria baik dan tulus yang pernah ada dalam hidupnya.


Gema langsung mendekati ranjang Shahila, dan abai dengan orang-orang yang ada di sana selain Shahila, seolah mereka tak ada wujudnya. Terlihat jelas jika ia sangat mengkhawatirkan adiknya tersebut.


"Bagaimana keadaanmu? Dokter bilang apa? Kenapa bisa sampai parah gini sih?" tanya Gema cemas. Ia bahkan langsung terbang dari luar negeri setelah mendengar kalau adiknya masuk rumah sakit. Tak peduli dengan meeting penting yang ia tinggalkan.


"Aku nggak apa-apa, kak. Kakak jangan khawatir. Kok kakak udah sampai sini aja, sih? Yang bilang aku sakit siapa?" tanya Shahila.

__ADS_1


Mendapat pertanyaa demikian, Gema langsung mencari sosok yang meneleponnya, "Dia!" ucapnya menunjuk Rasel. Terlihat wajah tak bersahabat saat ia melihat Rasel.


Shahila langsung melotot kepada Rasel sebagai tanda protes, "Kamu gali lubang kuburanmu sendiri!" ucapnya dari sorot mata.


Rasel hanya nyengir sambil mengusap tengkuknya. Ia benar-benar panik dan khawatir, takut Shahila kenapa-kenapa dan sebagai lelaki gentle, ia menghubungi Gema, satu-satuny keluarga yang Shahila miliki. Meski dengan resiko Gema akan marah kepadanya karena penjelasannya yang menceritakan penyebab Shhila masuk rumah sakit tanpa ada yang di tutupi.


"Hanya salah paham, kak. Cuma. Miss komunikasi aja, dia nggak tahu kalau aku alergi kacang dan bisa separah ini," Shahila mencoba membela Rasel.


Rasanya Rasel terbang di bela seperti itu oleh Shahila. Apa itu artinya Shahila memaafkannya.


"Belum apa-apa, dia sudah mau mencelakaimu. Cepat sembuh, lalu ikut kakak ke luar negeri!" ucap Gema yang tak peduli dengan pembelaan Shahila.


Baik Shahila maupun Rasel langsung tercengang. Bahkan Varel dan Adel yang sejak tadi hanya diam, mereka prihatin dengan nasib Rasel kedepannya.


"Kakak, apaan sih? Aku nggak mau, aku udah nyaman di sini. Kalau mau kembali ke sana, kakak sendiri saja. Aku bisa jaga diri sendiri di sini! Di tempat kelahiran mama!" ucap Shahila.


"Kakak akan lebih tenang jika kau ikut kakak, Sha. Sudah cukup selama ini kamu jauh dari kakak. Mau tidak mau, kamu akan ikut kakak! Keputusan kakak sudah bulat!" putus Gema.


Shahila mendengus sebal. Sedangkan Rasel, untuk saat ini ia tidak ingin memperkeruh keadaan. Bukannya menyerah, tapi bukan waktu yang tepat untuk sekarang bernegosiasi dengan Gema yang terlihat sekali kecewa, sedih dan takut, takut kehilangan adik satu-satunya itu. Dan Rasel bisa memahami perasaan Gema.


Setelah beberapa saat, Gema baru menyapa Adelia dan Varel. Rasel memilih keluar untuk membeli makanan dan camilan untuk Shahila.


Varel yang memang tak begitu menyukai Gema karena pria itu pernah menjadi kekasih istrinya, hanya diam dan menatap datar kepada Gema yang tengah mengobrol dengan istrinya.


Sebenarnya ia tak suka melihat Adel bicara dengan Gema. Takut, jika istrinya terjebak kisah lama yang terpaksa usai karena dirinya itu. Cemburu? Sudah pasti Varel rasakan, karena memang dasarnya dia bucin akut sejak dahulu kala.


Varell menarik lengan Adel pelan, saat Gema mengambilkan minum untuk Shahila, "Apa sih, bang?" tanya Adel.


"Jangan lihatin dia terus! Nanti kamu membatin dan anak kita jadi mirip dia. Abang nggak mau! Nggaj ridho!"


Adel mengernyit, "Gimana konsepnya? Abang yang buat, gimana bisa mirip kak Gema?"


"Pokoknya jangan lihatin dia terus, abang nggak suka. Nanti abang curiga kalau anak kita mirip dia loh!"


Adel memutar bola matanya, " Heh bambang! Cemburu pakai logika! Yang rajin menyiram sari pati siapa? Kok nyalahin orang. Di jamin anak kita mirip abang, karena aku sebal lihat abang. Katanya kan jagan sebal-sebal, kalau terlalu sebal nnti anak kita mirip," ucap Adelia bercanda.


"Kok gitu, sayang?" Varell cemberut.


"Biar mirip abang katanya," seloroh Adel.

__ADS_1


"Cieee, malah pada pacaran. Kasihan kakakku masih jomblo ini!" sindir Shahila terkekeh. Seketika Adel merasa bersalah meski Gema terlihat biasa saja, namun hati orang tak ada yang tahu bukan?


...----------------...


__ADS_2