Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 68


__ADS_3

Adel bisa melihat raut wajah Varel yang lanhsung berubah saat ia menanyakan kabar Andini. Pria itu tak langsung menjawab, membuat Adel penasaran.


Tiba-tiba saja, Tristan melompat ke pangkuan Adel.


"Tristan, sini! Jangan genit!" ucap Varel.


"Tidak apa-apa, om," sahut Adel. Ia justru membenarkan posisi Tristan yanh duduk di pangkuannya.


Adel kembaki menatap Varel, ia amsih menunggu jawaban atas pertanyaanya tadi.


"Andini, dia... Baik, sangat baik. Bahkan sekarang dia udah nggak sakit lagi," jawab Varel kemudian.


"Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang dengarnya, om," ucap Adel.


"Maksudku dia... Tuhan lebih sayang dengannya," jelas Varel. Yang mana membuat Adel terkejut.


"Maaf, aku kira.. Em aku turut berduka buat kepergian Andini, om. Om yang tabah, ya?" Adel mendadak kasihan dengan Tristan. Anak sekecil itu sudah harus kehilangan ibunya, pikir Adel.


Mungkin karena itulah Tristan terlihat langsung tertarik dengannya, mungkin karena anak itu emrindukan sosok seoranh ibu, pikir Adel lagi.


Ia juga merasa iba dengan Varel, membesarkan anak seorang diri pasti sangat sulit.


Melihat raut wajah Adel, Varel merasa harus meluruskan sesuatu. Namun, sebelum ia bicara lagi, Adel menoleh saat namanya di panggil.


"Itu pesananku udah ready!" ucap Adel. Ternyata pelayan rumah makan tersebut tak bisa di ajak kerja sama lebih lama lagi oleh Varel.


Adel langsung menurunkan Trista lalu berdiri untuk mengambil pesanannya.


"Aku duluan, om!" ucap Adel setelah mengambil pesanannya. Karena ia ingay Shahila sedang menunggunya di mobil. Tak lupa ia mengusap pipi Tristan lembut dan tersenyum sebelum ia pergi.


"Adelia...." Varel mencekal pergelangan tangan Adel. Wanita itu berhenti lalu menoleh.


"Kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya Varel. Rasanya pertemuan ini terlalu singkat. Ia masih ingin membicarakan banyak hak dengan wanita itu.


"Kalau takdir menghendaki, kita pasti ketemu lagi," ucap Adelia tersenyum.


"Dimana kamu tinggal sekarang?" tanya Varel lagi, masih belum rela melepas tangannya.


"Aku tinggal dengan Shahila, maaf aku harus pergi sekarang, om!" Adel menatap tangan Varel yang masih memegang pergelangan tanganya, pria itu langsung melepasnya dengan berat hati.


"Kakak tantik!" seru Tristan, ia juga tak rela melihat Adel pergi.

__ADS_1


Adel kembali mengusap pipinya, "Nanti kalau ada kesempatan buat kita bertemu lagi, kita ke makam mama kamu, ya?" ucapnya lalu mengusap lembut kepala anak itu sebelum ia benar-benar pergi.


Tristan hanya mangguk-mangguk setuju meski tak paham apa yang di maksud oleh wanuta yang selalu menghiasi layar ponsel sang kakak tersebut.


Varel melihatnya dengan tak rela, padahal masih banyak pertanyaan yang iangin ia tanyakan dan tunggu, tadi Adel bilang ia tinggal dengan Shahila? Apa itu artinya ia tinggal dengan Gema juga? Jangan-jangan... Pikiran Varel malah menjadi tak karuan.


Mendadak ia panik dan takut. Ia harus segera pulang dan mendesak bu Lidya untuk menghubungi Syafira, ia ingin wanita itu memberitahunya apa yang terjadi. Selama ini, Syafira tak pernah sekalipun mau memberi tahunya dimana Adelia bahkan nomor teleponnya juga tak pernah di kasih.


Syafira sebenarnya kesel dan kecewa dengan Varel makanya ia tak mau Adiknya kembali berhubungan dengan Varel dalam bentuk apapun. Ia tak ingin Adelia terluka dan kecewa lagi. Untuk itu, Syafira memilih menyembunyikan fakta apapun baik dari Adel maupun Varel yang ia tahu. Cukup sampai padanya saja, tak pernah ia teruskan ke yang lainnya termasuk saat Andini meninggal tepat di hari pernikahannya dengan Varel.


Syafira sengaja tak memberi taju Adel, ia ingin adiknya tersebut meraih kebahagiaannya di tempat lain. Sudah cukup Adel menderita selama ini, pikir Syafira.


.


.


.


"Lama banget sih, Del. Keburu maghku kumat nih!" omel Shahila sesaat setelah adel masuk ke dalam mobilnya.


"Nunggunya lama ini," jawab Adel.


Shahila langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya.


Ketidak ingin tahuannya selama tiga tahun ini tentang pria yang bahkan sampai sekarang masih menempati hatinya tersebut, benar-benar membuatnya tak tahu apa-apa, termasuk tentang kematian Andini.


Tak di pungkiri, ada sedikt rasa kecewa dalam dirinya karena ternyata dari pernikahan mereka ada seorang anak. Itu artinya pria itu benar-benar berusaha menjadi suami yang baik selayaknya seorang suami terhadap Andini semasa hidupnya.


Meski sudah ikhlas, tapi ternyata rasa cemburu masih saja mengausai dirinya.


"Tadi gue ketemu om Varel saat take away ini," ucap Adel kemudian. Ia merasa perlu berbagi cerita dengan Sahabatnya tersebut.


"Serius, lo?"


Adel mengangguk.


"Terus? Kalian sempat ngobrol? Gimana kabar pernikahannya, masih langgeng?" tanya Shahila penasaran.


"Andini sudah meninggal," sahut Adel.


"Bagus deh! Ops! Maksud gue innalillahi wainnailaihi rojiun," ujar Shahila yang keceplosan menunjukkn kegirangannya. Bagaimana tidak, karena keegoisan Andini membuatnya harus mengurus butik sendirian selama ini. Ya, walaupun Adel sebenarnya tetap bekerja melalui online. tapi tetap saja Shahila merasa kewalahan. Apalagi setelah Kakaknya, Gema memutuskan untuk menetap di kuar negeri dua tahu terakhir ini.

__ADS_1


"Duda dong ya, sekarang om om lo, benar-benar udah jadi om-om sekarang. Masih keren nggak? Duren nggak?" tanya Shahila yang semakin penasaran.


Adel tak menjawab, karena baginya Varel terlihat masih sama, bahkan sekarang terlihat lebih matang, apalagi status pria itu yang ia pikir sebagai papa muda atau bisa di bilang hot daddy, auranya makin-makin meresahkan pokoknya. Adel tak menampik hak itu.


"Malah bengong, pasti lagi mikirin si duren, ya? Duda keren!"


"Apa sih, enggaklah, siapa yang lagi mikirin om Varel,"


"Lah, emang aku ada nyebut nama? Duren kan bukan cuma dia doang, Del," goda Shahila.


Adel mencebik, "Kamu selama ini benar-benar nggak pernah ketemu sama Om Varel, Sha? Selama aku pergi maksudnya, nghak dengar kabar kematian istrinya?" tanya Adel penasaran.


"Enggak tuh, sejak lo pergi, gue blokir tuh orang-orang yang dekat sama dia, termasuk mas Rasel, sakit hati aku tuh rasanya. Gara-gara dia kamu jadi pergi, padahal udah di belain nyia-nyiain kakakn gue yang udah tulus sama lo, suka kesal sendiri gue tuh. Jadi mending aku menghindari mereka," jawab Shahila.


Pernah Shahila hampir berpapasan dengan Rasel di suatu tempat, tapi ia langsung menghindar dengan menatap sebal pada Rasel terlebih dahulu dari kejauhan.


" Apes-apes, salah apa aku ini, kenapa ShaShaku jadi antipati begini sama aku," gumam Rasel kala itu. Iapun memberanikan diri mengejar Shahila dan mempertanyakan sikap wanita itu.


"Karena teman mas Rasel, sahabatku jadi menderita. Jadi kebih baik mas Rasel nggak usah nunjukin muka di depan aku lagi, takutnya kamu jadi bahan amukan aku kalau lagi capek gara-gara kerjaan yabg harus aku handle sendiri!"


"Tapi Sha, sekarang Varel..."


"Pergi! Atau aku bakal benci mas Rasel selamanya!" potong Shahila, padahal Rasel ingin memberitahu soal status duda Varel. Tapi melihat kekesalan dan kemarahan Shahila atas apa yang terjadi pada Adel, Rasel memilih mengalah dan pergi. Sejak saat itu mereka tak pernah bertemu lagi. Mungkin memang bukan takdir mereka berjodoh.


Pada akhirnya mereka sibuk dengan urusan masing-masing, Shahila dengan butik yang semakin berkembang pesat yang tak lepas dari kerja keras Adelia dadi jauh juga. Rasel yang juga semakin sibuk setelah jabatannya naik menjadi wakil General Manager dan juga cafenya yang kini sudah memiliki beberapa cabang.


"Berarti lo juga nggak tahu soal Tristan?"


Pertanyaan Adel membuyarkan lamunan Shahila.


"Tristan? Cowok mana lahi tuh? Cowok yang lo jadiin pelarian lagi? Udah deh, kalau emang belum bisa move on, mending jujur aja. Duda juga nggak apa-apalah!" celoteh Shahila.


"Ck, Tristan tuh anaknya om Varel sama Andini," ucap Adel.


"What? Jadi, duda anak satu? Ck, lo harus besarin anak wanita jahat itu dong kalau balik sama Varel?"


"Sssst, nggak boleh gitu. Nggak baik ngatain orang yang sudah nggak ada,"


"Habisnya suka kesal kalau ingat bagaimana egoisnya sama kamu dulu. nggak nyangka sih, katanya Varel cinta sama lo, tapi buat anak juga sama Andini. Cowok mah gitu!"


Adel terdiam, benar yang di katakan Shahila. Tapi, sah-sah saja bukan? Mereka pasangan suami istri, dimana salahnya kalau sampai punya anak? Toh dia juga dulu yang meminta Varel untuk berusaha menerima Andini sebagai istrinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2