Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 101 (bonchap 3)


__ADS_3

Varell sedang duduk bersandar di kap ranjang ketika Adelia selesai dengan skincare malamnya.


"Sini!" Varell meminta Adelia untuk naik. Istrinya tersebut hanya menurut saja.


"Apa kabar anak papa hari ini?" Varell mengusap perut Adelia.


Tak puas dengan mengusap, Varel menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan perut sang istri, ia menempelkan telinganya di perut Adelia tersebut, "Oh, dedek kangen sama papa? Mau di tengok papa, ya?" ucap Varel seolah mendengar bayinya bicara.


Ia melirik ke atas, dimana sang istri sudah menatapnya tajam, "Itu sih maunya abang!" ucap Adel.


Varell meringis, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih dan rapi, "Abang kangen, udah lama nggak kasih Vaksin kamu loh sayang. Emang kamu nggak kangen?" ucapnya, tangannya sudah menelusup masuk melalui bagian bawah piyama yang Adelia kenakan.


"Sebelum pulang kan udah, abang?" kata Adel. Namun, ia membiarkan saja tangan suaminya bermain di dalam bajunya sana.


"Kapan? Abang nggak ingat, kayaknya udah lamaaaaaa banget!"


"Ck, klau abang mah setiap hari begitu juga di bilangnya lama pasti. Bilangnya bisa bertahun-tahun, terlalu drama!"


Varell terkekeh, "Habis kamu bikin candu banget sih!" Varell memilin sesuatu yang ia temukan di balik baju Adel yang mana membuat wanita itu melenguh tanpa sadar.


Tak sabar lewat bawah bajunya, Varel dengan rajin membantu melepas kancing bagian atas piyama tidur Adel.


"Udah kunci belum pintunya?" peringat Adel.


"O iya, lupa! Donat gula tiba-tiba nongol pas indehoy kan lucu! Anak itu pasti mau ikutan nimbrung main kuda-kudaan," Varel terpaksa menyudahi kesenangannya sejenak. Ia turun dari ranjang untuk menutup pintu.


Benar saja, saat ia celingak-celinguk melihat keluar pintu, ada makhluk kecil sedang berjalan menuju kamarnya. Tristan menyeret selimut kecil miliknya di tangan kiri, sementara tangan kanannya memeluk boneka berbentuk pesawat.


"Huft dasar pengganggu datang. Baru juga diomongin, udah nongol aja itu anak panjang umur? donat gula!" panggil Varel. Ia keluar dari kamar menunggu adiknya sampai ke depannya.


Tristan celingak-celinguk, "Panggil capa, ya? Ndak kenal!" ucapnya yang tak suka di panggil seperti itu oleh abangnya.


"Ck, gayamu! Mau ngungsi kemana malam-malam bawa selimut? Di usir mama kamu?" tanya Varel.


"Ndak ya, Tlistan anak baik. Mama cayang, ndak mungkin usil Tlistan. Tlistan mau bobok sama kakak tantik! Tlistan lindu! Lama ndak nina bobokin cama kakak!" ujar anak itu.


Varell mendengus, "Besok ajalah minta di kelonin kakaknya, sekarang giliran abang dulu, ya?" tidak tahukah Tristan jika Varel sudah on saat ini, ia harus menuntaskan yang sempat tertunda tadi.

__ADS_1


Anak itu justru menggeleng, "No! Abang besal, abang ngalah cama yang masih kecin! Pelmici!" Tristan melewati Varell begitu saja tanpa ampun.


Varell meleyot ke lantai, "Ya ampun gini amat punya adik balita! Kira-kira anakku nanti ngeselin kayak makhluk kecil satu itu nggak ya? Kan turunannya sama, bu Lidya," gumamnya.


"Nggak nggak! Nggak boleh ngebatin, nanti anakmu mirip omnya yang balita itu, repot kamu rel!" Varel menggelengkan kepalanya, "Ah tahu gini, kemarin puas-puasin dulu mainnya di Swiss!" rengeknya kemudian.


"Lama banget bang, cuma nutup pintu doang," ucap Adel yang dari tadi memunggungi pintu.


Tak ada jawaban dari pertanyaannya, yang ada hanya gerakan seseorang yang merangkak naik ke tempat tidur. Adel membalikkan badannya, "Tristan?" ucapnya, ia melihat ke arah pintu dimana suaminya baru saja masuk dengan lesu.


"Tlistan bobok cini, boleh?" tanya Anak itu. Tanpa menunggu persetujuan Adel, Tristan sudah merebahkan diri, ia tarik selimutnya sendiri untuk menutupi tubuh kecilnya.


"Bagaimana ini? Kenapa dia bisa ada di sini?" Adel bertanya pada Varel melalui sorot matanya. Varel hanya mengangkat kedua bahunya lemas. Ia lalu melihat ke arah kancing piyama Adel yang masih terbuka. Ia segera mendekat dan pelan-pelang mengancingkannya kembali.


Adel yang baru sadar langsung menghela napas lega, "Untung saja dia nggak sadar lihat tadi, kalau ngeh pasti berisik banyak tanya," ucapnya.


Varell mengangguk setuju, "Gagal dong malam ini?" keluhnya.


Adel mengusap lembut pipi Varel, "Sabar, ya? Masa kita usir dia, nanti malah nangis," ucap Adel lirih.


"Ssst, jangan belicik, sudah malam. Waktuna bobok, kalau bobokna malam-malam nanti kegantengannya belkulang! Kakak tantik, nina bobok cini!" Tristan menepuk pan tatnya sendiri, meminta Adel menepuknya sembari nyanyi nina bobok.


"Hih, lama-lama gue pecat jadi adik nih bocah!" ucap Varel tanpa suara.


Adel menempelkan jari telunjuknya pada bibir Varel, kepalanya menggeleng, "Udah mau jadi papa, nggak boleh galak-galak. Nanti anaknya takut," ucapnya. Varel mengangguk patuh.


"Abang," panggil Adel.


"Ya, sayang? Udah tidur dia?" tanya Varel yang memilih memainkan game di sofa.


Adel menggeleng, "Masih merem melek. Bisa tolong ambilkan ponselku? Dari kita sampai aku belum nyalain mode pesawatnya, lupa!" ucapnya.


Varel langsung bangung dari sofa, mencari ponsel sang istei di dalam tasnya.


"Ini!" ucap Varel.


"Makasih, suami!" ucap Adel tersenyum.

__ADS_1


Varel menundukkan kepalanya, memasang pipinya tetap di depan wajah Adel. Ia menunjuk pipinya meminta bayaran atas apa yang baru saja ia lakukan.


Dengan senang hati Adel mencium pipi suaminya tersebut, namun Varel langsung menoleh hingga ia mendapay kiss di bibirnya, "Sama-sama istriku!" ucapnya mengusap lembut rambut Adelia lalu kembali ke sofa, mencari posisi ternyaman untuk kembali memainkan game di ponselnya.


Baru juga menonaktifkan mode pesawatnya, Adel sudah mendapat pesan beruntun dari Shahila.


"Abang!" panggil Adel lagi.


"Ya sayang? Apa lagi? Butuh apa? Butuh abang?" tanya Varel.


"Shahila sakit, dia keracunan! Kita ke rumah sakit sekarang, ya?" ucap Adel panik.


Varel kembali bangun lalu medekati Adel. Di ambilnya ponsel sang istri lalu di baca pesn dari Shahila.


"Sudah jam berapa ini? Besok saja, ya? Intinya dia baik-baik saja kan? Nggak sampai koma? Masih hidup kan? Buktinya bisa neror kamu dengan kirim pesan banyak begini," ucap Varel.


Benar juga, Adelia sedikit lega mendengar ucapan suaminya,"Iya besok aja. Sekarang juga masih capek banget sebenarnya," ucapnya.


"Nah, kan? Anak kita juga perlu istirahat. Tidur ya sekarang?"


Adel mengangguk, Tristan juga sudah pulas kelihatannya. Adel merebahkan diri, Varel menyelimutinya hingga ke dada. Lalu ia mengitari ranjang dan tidur di sebelah Tristan. Sudah tak semangat lagi melanjutkan gamenya, mending tidur.


Dugh! Tristan menendang Varel yang baru saja berbaring di sisi kirinya,"Sempit sempit!" ucap anak itu dengan mata terpejam.


"Dia ngimpi apa bagaimana?" tanya Varel pada Adelia.


Adel terkekeh tanpa suara, ia mengusap-usap punggung Tristan supaya anak itu lebih terlelap lagi.


Varell bangun, ia pindah ke sisi Adelia, "Aku tidur sini ya? Nggak bisa kalau nggak peluk guling hidup abang yang satu ini!" bisik Varel yang langsung memeluk adel dari belakang.


Seolah tak mau kalah, Tristan yang semula memunggungi Adel, langsung berbalik dan menaikkan kakinya ke atas pinggang Adel. Kepalanya ndusel di dada Adelia.


" Ck, dasar bayik! Tahu aja tempat yang nyaman! Harusnya aku tuh yang kayak gitu," decak Varel.


"Abang...."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2