Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
24.Kehidupan Pilu Asisten Rumah Tangga Tiar.


__ADS_3

Sepulang dari rumah Nenek Sanah aku


langsung menuju kamar untuk membersihkan diri, sebelum turun kebawah untuk sarapan aku menyempatkan diri mengecek ponselku barang kali ada kabar dari Adam Ataupun ibunya Dita.


Karena sudah sepekan lebih Dita dibawa berobat ke Singapura dan belum ada kabar perkembangannya.


Setelah melihat ternyata tidak ada pesan, aku meninggalkan ponselku dan segera turun kebawah.


Hari ini aku sarapan sendiri karena Papa dan Mama sedang ada perjalanan bisnis, sementara Nenek makan di kamarnya.


"Bik Inah tolong ajak Mbak Lastri,Pak Tarno sama Pak Man untuk makan bareng aku disini ya?" Ucapku kepada Bik Inah yang sedang mondar mandir menyiapkan hidangan.


"Memangnya ada apa Non?" Tanya Bik Inah sepertinya kebingungan.


"Ya kita sarapan bareng kayak biasanya kalau gak ada Papa sama Mama" Jawabku.


"Ah ndak usah Non, kami makan dibelakang aja" Tolak Bik Inah dengan halus.


"Yaudah kalau gitu aku ikut makan dibelakang juga" Imbuh ku.


"Eh...jangan Non dibelakang kotor, ya sudah kalau begitu saya panggilkan yang lainnya dulu" Ucapnya menyetujui permintaanku.


Tidak lama kemudian mereka datang secara bersamaan.


Kami menikmati makanan sambil bercerita dan bercanda tawa, banyak hal yang tidak aku tau dari kehidupan pribadi mereka.


Ternyata Bik Inah adalah seorang janda yang ditinggalkan suaminya sejak umur beliau masih tiga puluh tahun karena belum memiliki keturunan, perkiraan usia beliau sekarang ada lima puluh tahun lebih.


Sementara Mbak Lastri adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya di desa, karena desakan ekonomi yang tidak memadai beliau harus merantau jauh ke kota untuk melanjutkan kehidupannya, Mbak Lastri ini belum pernah menikah sama sekali, usianya sekarang sekitar dua puluh lima tahun lebih hampir tiga puluh.


Pak Tarno lebih menyedihkan lagi karena ditinggalkan istri dan anaknya setelah beliau dipecat dari pekerjaannya ketika masih menjadi seorang kurir, kini hidup Pak Tarno Juga menduda.


Lain halnya dengan Pak Man, usia beliau sudah hampir enam puluh tahun tapi beliau dikaruniai lima anak dan seorang istri yang masih utuh, meskipun hidup sederhana tapi keluarganya penuh kebahagiaan dan sangat harmonis, meskipun dari kelima anak beliau hanya dua yang terlahir dari istrinya tapi beliau tidak pernah membedakan mereka, Pak Man belum lama bekerja ditempat kami tapi beliau sudah menganggap keluargaku seperti saudaranya sendiri.

__ADS_1


Begitulah cerita mereka yang selama ini aku tidak pernah mengetahuinya, tak terasa karena asyik bercerita sampai adzan Dzuhur sudah berkumandang dari masjid jamaah komplek.


"Yaudah yuk kita sholat dulu, sekalian mau minta tolong Pak Tarno nanti antar saya belanja ya sama Bik Inah dan Mbak Lastri juga, Pak Man berjaga sendiri gak apa kan?" Tanyaku kepada Pak Man.


"Gak apa Non insyallah aman" Jawabnya.


"Kalau begitu saya naik dulu ya, Bik Inah dan Mbak Lastri nanti saya tunggu di carport segera siap-siap ya" Ujar ku kepada Bik Inah dan Mbak Lastri.


šŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒž


Satu jam setelah sholat dan siap-siap aku langsung turun menuju carport, Pak Man menghampiriku karena mendadak anaknya yang bungsu sakit jadi beliau harus pulang.


Karena keadaan darurat tanpa basa basi aku mengantarkan Pak Man pulang kerumahnya terlebih dahulu, sampai disana betapa terkejutnya aku melihat rumah beliau yang begitu memperihatinkan, ketika baru turun dari mobil Pak Man langsung berlari masuk kedalam rumah, karena merasa kasihan aku ikut turun untuk melihat situasi didalam.


Aku disambut baik dengan senyuman yang ramah oleh istri beliau dan juga anak-anaknya yang lain meskipun dalam keadaan yang masih genting.


"Pak! tadi mendadak panas tinggi terus kejang begini" Ujar istri Pak Man.


"Sudah dikasih minum obat belum Bu?" Tanya Pak Man.


"Yasudah Pak, lebih baik dibawa kerumah sakit aja sekarang ayo pakai mobil saya" Saran ku.


"Iya iya ayo Bu segera siap-siap" Ajak Pak Man kepada istrinya.


"Kalian jaga rumah ya, Bapak sama Ibu antar adek ke Rumah Sakit dulu" Ucap istri Pak Man pada ketiga anaknya, dan dibalas dengan anggukan tanda setuju


Pak Man segera memasukkan anak bungsunya kedalam mobilku, dengan cepat aku melajukan kendaraan ku menuju Rumah Sakit.


Hari ini jalanan cukup padat, sekitar tiga puluh menit berlalu aku baru sampai didepan pelataran Rumah Sakit tepatnya didepan UGD, segera perawat membawa tandu dorong dan menghampiri mobil kami untuk membawa pasien.


Pak Man dan istri mengikuti sampai didepan pintu masuk ruang UGD, aku sengaja membawanya ke Rumah Sakit besar tempat kedua sahabatku dulu dirawat karena disini alatnya sudah lengkap dengan dokter anak yang berjaga 24jam.


Keduanya mondar mandir cemas akan keadaan putri bungsunya, sesekali Pak Man menyandarkan kepalanya ke tembok.

__ADS_1


"Keluarga pasien?" Tanya seorang perawat yang menghampiriku.


"Iya saya keluarganya sus" Jawabku.


"Baik, kalau begitu mari ikut saya ke ruang administrasi terlebih dahulu untuk mengisi data pasien" Terangnya.


"Saya ayahnya sus, saya aja yang ikut" Ujar Pak Man.


"Ya sudah mari ikut saya" Ajak sang perawat mempersilahkan.


Aku tetap mengikuti Pak Man dari belakang, aku khawatir kalau-kalau ada yang diperlukan mendadak.


Sesampainya kami di meja administrasi sang perawat mulai bertanya-tanya tenang biodata, riwayat penyakit dan administrasi pengobatan.


"Umum aja sus, biar cepat ditangani" Celetukku yang sejak tadi berdiri dibelakang kursi Pak Man mendengarkan pembicaraan mereka.


"BPJS aja sus, nanti saya gak mampu bayar" Ujar Pak Man.


Sang perawat menatap ku dan Pak Man secara bergantian dengan wajah yang kebingungan.


"Pak udah, gak usah dipikirin masalah biaya yang penting anaknya bisa segera sehat kembali" Ucapku sembari menepuk pelan pundak Pak Man agar beliau menyetujuinya.


"Jadi bagaimana ini Pak? jalur BPJS atau umum?" Tanya sang perawat kembali.


"Umum, berapa total biaya penangananya nanti kasihkan ke saya ya?" Ujar ku kepada perawat.


Aku meminta pak Man menemani istrinya kembali di ruang UGD, sementara aku izin keluar sebentar.


Aku berjalan menuju Jalan Raya mencari ATM mini atau kantor cabang BRI terdekat untuk menarik uang yang nantinya akan aku berikan kepada Pak Man sebagai dana berjaga-jaga dan sisanya membayar administrasi.


Drtt...!Drtt...!Drtt...! ponselku bergetar tanda ada telepon yang masuk.


Setelah aku buka layar kunci ponselku barulah terlihat bahwa Mama yang menelepon, beliau menanyakan keberadaan ku dan juga keadaan nenek dirumah, aku memberitahu beliau bahwa nenek baik-baik aja dirumah dan saat ini aku sedang berada dirumah sakit.

__ADS_1


Beliau terkejut karena aku beritahu sedang dirumah sakit, namun karena tidak mau membuat khawatir aku langsung memberitahunya cerita dari awal aku mengapa aku bisa sampai di Rumah Sakit, sekaligus aku meminta izin menggunakan uang di ATM untuk membiayai pengobatan anaknya dan Mama pun menyetujuinya.


Setelah beliau menutup ponselnya, aku bergegas kembali lagi ke ruang administrasi untuk meminta rincian tagihan biayanya dan kembali menemui pak Man dan juga istrinya.


__ADS_2