
Beberapa hari setelah pertemuan kedua meraka waktu itu, Adelia sama sekali tak menghubungi Varel seperti janjinya. Hal itu cukup membuat Varel uring-uringan sepanjang hari di kantor. Pasalnya, ia ingin menghubungi wanita itu duluan, tapi tak punya nomornya.
"Nggak ketemu pusing, ini udah ketemu eh malah tambah pusing kayaknya. Ada apa lagi? Hidup lo kayaknya nggak lepas dari pusing, Rel. Mending lo letakkin kepala lo deh, siapa tahu puyengnya ilang," ujar Rasel setelah mereka selesai rapat dan menyisakan mereka berdua di ruangan. Perasaan Varel yang sedang galau ia bawa ke meja rapat, ia marah-marah tidak jelas kepada bawahannya dan Rasel paham betul apa penyebabnya. Apa lagi kalau bukan karena seorang Adelia. Dari dulu hingga sekarang masalah pria itu ya memang hanya satu itu yang ruwet. Rasel sampai hapal luar dalam rasanya.
Varel memicingkan matanya lalu mencebik, "Gue kepikiran, kenapa dia nggak hubungin gue, padahal waktu itu udah janji," ujar Varel.
"Ya lo yang inisiatif hubungi dia duluanlah, lo yang maju, pepet jangan sampai lepas lagi,"
"Gue nggak punya nomornya! Kalau gue punya udah gue hubungi dia, nggak perlu lo ajarin!" sengak Varel, mendengar ocehan Rasel membuatnya semakin pusing rasanya.
"Gitu aja kok susah, samperin ke butik ayu ke rumahnya! Lo tahu alamatnya kan? Kecuali lo amnesia!" ucap Rasel greget sendiri dengan sahabatnya tersebut.
"Kenapa lo nggak bilang dari tadi, Met!" Varel berdiri lalu melangkah pergi. Rasel segera menyusulnya.
"Lo makin tua, makin lemot otak bekerja gue rasa, deh REL! butuh ke bengkel kayaknya otak lo!"
"breng sek... Lo!" umpat Varel.
"Lo mau kemana sih? Buru-buru amat?" Rasel berusaha menyamai langkah kaki Varel yang panjang.
"Fix, otak lo yang bermasalah dan harus di bawa ke bengkel! Tadi lo bilang gue suruh ke butik atau rumahnya, dan sekarang lo tanya?"
Rasel meringis, ia langsung sedikit berlari dan menghadang Varel dengan merentangkan kedua tangannya.
"Lo ngapain? Jangan drama! Sok-sokan nyegah gue, udah kayak di drama-drama aja! Geli gue!"
"Masalahnya ini udah jam makan siang, dan lo udah janji buat traktir gue! Makan dulu lah! Biar lo ada tenaga buat ehem-ehem!"
"Apa? Pikiran lo ngeres! Sapu Met! biar bersihan dikit pikiran lo!"
"Ntar kalau udah makan,. Otak gue bersih dah pokoknya. Makan dulu, ya ya ya?" rayu Rasel.
"Ya udah deh! Utang traktir makan sama lo ribet, malas gue!" akhirnya Varell pasrah.
Mereka segera menuju cafe terdekat. Saat hendak masuk ke cafe tersebut, Varel menghentikan langkahnya, ia seperti melihat sosok yang sangat ia kenal, Adelia. Wanita itu sedang duduk berhadapan dengan seorang pria di salah satu sudut cafe tersebut. Wanita itu terlihat tersenyum saat menimpali ucapan pria di depannya.
Hatinya langsung terasa kebakar melihat adegan itu. Ingin memastikan sebelum kobaran api dalam hatinya semakin membara, Varel menghampiri mereka, Rasel yang tak tahu apa-apa hanya ngikut saja di belakangnya.
"Apa ini yang membuat kamu ragu menjawab pertanyaanku kemarin?" Adel yang sedang bercengkerama dengan pria yang di maksud oleh Syafira malam itu langsung mendongak. Ia terkejut melihat Varel berdiri di sana.
"Om...?"
Adelia menoleh pada Rasel, pria itu hanya meringis sambil melambaikan tangan, "Hai!" ucapnya tanpa suara.
"Kenapa kamu nggak menghubungi aku?" Varel mengabaikan keberadaan pria yang sedang makan siang dengan Adel tersebut.
__ADS_1
"Siapa dia, Del? Syafira bilang, kamu lagi nggak ada terikat hubungan dengan siapa-siapa makanya aku mau ketemuan sama kamu di sini. Kamu sendiri setuju buat kita ketemu dan saling mengenal lebih jauh lagi sebelum ke jenjang selanjutnya. Lalu siapa dia, apa dia... "
" Kenalin, dia Varel, adik iparnya kak Bara. Adik dari mendiang istri pertamanya. Dan ini Reno, om. Dia pria yang sekarang sedang dekat denganku," ucap Adelia ia mengalihkan pandangannya pada Reno dan Varel bergantian.
Varel mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia memilih langsung pergi dari sana tanpa bicara.
Marah? Tidak, dia hanya kecewa dengan keadaan. Tapi, marah dan kecewa dengan Adelia? Tidak mampu ia lakukan. Wanita itu berhak menentukan pilihannya. Tapi, kembali lagi pada keyakinannya, Varel sangat yakin kalau sebenarnya Adel masih mencintainya.
"Tidak, Adelia. Kali ini aku tidak akan menyerah begitu saja," gumamnya sambil mengendarai mobilnya.
Di sebelahnya, Rasel tampak cemberut karena ia gagal di trkatir makan siang enak. Ia mengusap perutnya yang bunyi.
"Malanganya nasib cacing-cacingku di perut, yang sabar ya. Dia lagi sensi, takutnya malah aku yang dimakan kalau protes," batin Rasel.
"Turun, Met!"
Rasel berjengit, tahu-tahu mobil Varel menepi di sebuah restauran bintang lima.
"Eh serius ini?" tanya Rasel tak percaya.
Varel tak menyahut, dan Rasel memilih turun.
"Nih, lo makan sepuasnya di dalam. Gue pergi dulu ada urusan!" Varel menurunkan kaca mobil lalu menyerahkan debit cardnya pada Rasel. Tanpa ba bi bu, mobilnya kembali melaju meninggalkan Rasel yang melongo.
Rasel rasanya ingin nangis guling-guling, di saat ada gratisan makan di restoran mewah, ia malah malu untuk masuk karena tak ada pasangan. Ia melihat ponselnya, iseng-iseng membukan kontak Shahila, mencoba peruntungannya. Detik kemudian bibir Rasel tersenyum lebar, nomornya tak lagi di blokir oleh wanita itu.
"Semoga saja bukan hanya kontak yang di unblokir, tapi orangnya juga," gumamnya berharap. Ia memberanikan diri menelepon wanita itu dan tersambung.
Rasel mengatupkan bibirnya saat wanita itu setuju untuk makan siang dengannya. Kebetulan dia belum makan, katanya.
" Yes! "Rasel bersorak riang," Thanks Rel, kali ini lo gue maafin!"
.
.
.
Seperti dugaan Varel, Adel memang langsung kembali ke butik tak lama setelah ia sampai di sana.
Adel terkejut saat melihat Varel sudah berdiri di depan butiknya.
"Om, ngapain ke sini?" tanya Adelia.
"Del, mobilnya udah kan, gue mau bawa!" ucap Shahila yang baru saja keluar. Ia bisa merasakan suasanya canggung di sana.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Adelia.
"Makan siang, dong!"
"Udah gue beliin, Sha! Ini!"
"Itu buat sore aja, gue lagi pengin makan yang enak-enak!" ujar Shahila yang langsung menyambar kunci mobilnya dari tangan Adel.
"Aku mau bicara, Del," ucap Varel serius setelah Shahila tak ada lagi diantara mereka.
"Duduk, om!" ucap Adel mempersilakan Varel untuk duduk di kursi yang ada di depan butik.
Varel duduk, di susul Adelia.
"Kamu benar-benar mau menyerah sekarang, Del?" tanya Varel to the poin.
"Maafkan aku om, kalau keputusanku menyakiti om," sahut Adel.
"Kenapa? Sekarang sudah tidak ada alasan lagi untuk kita terpisah. Jujur, aku masih mencintai kamu," ujar Varel.
"Aku tahu, om"
"Aku yakin, kamu juga masih cinta sama aku. Lalu kenapa? Kita bisa bersama tanpa ada penghalang lagi setelah ini, aku mohon sekali lagi kira berusaha," pinta Varel. Ia meraih tangan Adelia, sorot matanya sangat berharap.
"Maaf om, aku nggak bisa," Adelia menarik tangannya.
"Apa karena Syafira? Dia melarangmu?" ujar Varel menyimpulkan dari apa yang dikatakan oleh pria bernama Reno tadi.
Adel tak menjawab, hal itu membuat Varel membenarkan kesimpulannya.
"Del..."
"Aku mohon, om mengerti! Pergilah kalau sudah tak ada yang ingin di bicarakan lagi,"
"Sekali lagi, Del... Kita pasti bisa melewati ini," mohon Varel.
Adel menggelengkan kepalanya, "Semoga om bisa mendapat wanita yang lebih baik lagi,"
Varel berdiri, "Aku pergi sekarang! Tapi bukan untuk menyerah. Kali ini aku tidak akan melepasmu begitu saja. Aku tidak bisa lagi merelakan perasaan kita hancur. Aku akan menemui kakakmu!" ucapnya tegas.
"Om..." Adel menggeleng, matanya sudah berkaca-kaca. Varel tak menghiraukan permohonan Adelia. Ia memilih pergi dari sana.
"Kali ini aku tidak akan menyerah, Adelia?" batinnya.
...****************...
__ADS_1