Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 90


__ADS_3

Siang yang cerah itu dimanfaatkan oleh pasangan pengantin baru tersebut untuk kembali merasakan nikmatnya surga dunia.


Memang, kantor adalah tempat untuk mencari nafkah, namun kini bagi pasangan yang sedang di landa mabuk cinta itu menjadikan temoat yang sehsrusnya untuk mencari nafkah lahir tetsebut sebagai tempat menjemput rizki dalam bentuk lain.


Siapa tahu rizki berupa buah hati bisa mereka dapatkan di sana bukan? Suara lenguhan begitu jelas terdengar dari bibir keduanya yang memenuhi ruangan tersebut.


Untung saja ruangan khusus milik Varel tersebut kedap suara. Jika tidak, sudah di pastikan cuaca di luar yang sudah panas akan semakin panas siang itu.


Awalnya memang Adelia masih ragu dan takut untuk memulai lagi apa yang sudah pernah mereka lakukan sebelumnya. Namun, lama-lama miliknya terbiasa menerima hujaman yang di berikan oleh sang suami dan kini wanita itu justru kewalahan karena kenikmatan yang ia dapatkan.


"Udah bang, udah... Aku nggak kuat lagi. Udah udah!" rengek Adel saat ia merasa sesuatu dalam dirinya hendak meledak.


"Aku mau pipis!" Adel mendorong dada Varel dengan kuat, takut juka apa yang ia takutkan benar-benar keluar. Tentu saja ia akan malu dengan sang suami dan merasa bersalah karena sembarangan buang air kecil.


"Aku nggak sanggup, terlalu enak," ucap Adel polos.


Varel menghela napasnya panjang. Ini istri di kasih yang enak banget malah nolak, pikirnya. Padahal ia tahu jika itu tabdanya sang istri hampir mencapai puncak pendakian. Tapi, wanita itu malah menyerah.


"Sayang, nggak apa-apa, lepaskan saja apapun yang ingin keluar," ucap Varel. Ia merapikan anak rambut Adel yang menempel pada keningnya yang basah karena keringat.


"Nggak mau, malu!" tolak Adel.


Varel kembali mengernyit sembari tersenyum, istrinya benar-benar masih polos, pikirnya.


"Padahal abang suka ekspresi kamu kalau sedang kayak tadi," ucap Varel.


"Abang jangan buat aku makin malu," ucap Adel.


Varel tersenyum, ia menarik tangan Adel untuk merubah posisi. Menjadikan wanitanya tersebut di atas tubuhnya, "Sekarang giliran kamu yang memimpin permainan, sayang," ucapnya.


Dengan tetap malu - malu, Adel mulai bergerak di atas suaminya.


.


.


.

__ADS_1


Jika pasangan pengantin baru itu kini tengah asyik berkembang biak, berbeda dengan Rasel yang masih berusaha untuk meluluhkan hati Shahila.


Rasel terus mengikuti langkah kaki Shahila. Yang mana membuat wanita itu merasa jengah dan risih.


"Jangan ikuti aku terus! Risih tahu nggak!" ucap Shahila. Ia menghentikan langkahnya lalu menatap sebal pada Rasel.


"Aku bakal ikutin kamu terus sampai kamu mau dengerin penjelasanku," sahut Rasel.


"Penjelasan soal apa? tidak ada yang perlu kamu jelaskan!" ucap Shahila. Ia kembali meneruskan langkah kakinya.


Rasel; berdecak, "Mau kemana sih gadis itu? Dari tadi jalan mulu, emang nggak capek apa?" gumamnya. Ia kembali mengikuti Shahila. Kali ini lebih cepat dan menghadang wanita itu tepat di depannya dengan merentangkan kedua tangannya.


Shahila yang terkejut dengan tingkah Rasel langsung menghentikan langkahnya secara tiba-tiba," Apa sih? ngagetin tahu, nggak?" omelnya.


"makanya dengerin aku mau jelasin. Yang tadi kamu lihat maupun dengar itu..."


"Siapa kamu sampai harus jelasin sama aku segala. Nggak perlu!"


"Tapi, aku merasa harus, menjelaskan sama kamu. Itu tadi hanya becanda sam Varel. Aku nggak gitu, Sha. Kamu harus percaya!"


"Mau percaya taua tidak, kamu nggak perlu jelasin sama aku. Kita nggak sedekat itu sampai kamu harus menjelaskan dan takut aku salah paham,"


"Ya tapi kenapa?" tanya Shahila.


" Karena aku mampu kamu jadi pendamping hidup aku," jawab Rasel terus terang.


Jawaban Rasel membuat Shahila mematung di tempatnya berdiri, "Kamu lamar aku ceritany?" tanyanya.


"Anggap aja begitu nggak apa-apa," jawab Rasel.


Shahila mencebik, " Nggak romantis banget!" keluhnya.


"Iya, nanti aku siapin lamaran yang romantis kalau kamu udah beneran mau aku lamar," ucap Rasel. Ia harus sat set, tidak mampu ketinggalan jauh dari mantan jomblo karatan macam Varel.


Rasel ingin segera menyusul sahabatnya tersebut, biar kalau varel pamer ia bisa menyerang balik. Tidak mati kutu dan kepengin doang seperti tadi. Yang ada ia hanya bisa, menelan ludahnya setiap kali Varel pamer.


"Kamu serius? Emang kamu suka sama aku? Beneran? perasaan selama ini kamu biasa aja sama akku. Aku nggak lihat ada getaran dalam diri kamu kalau ketemu aku," ucap Shahila.

__ADS_1


"Lagian kayaknya kamu lebih nyaman sama cowok. Jangan jadiin aku sebagai tameng penutup aibmu! Kalau memang suka sama sesema terong aku nggak akan gimana-gimana, cuma atdi agak shock aja lihatnya,"


"Astaga, Sha! Kamu beneran nggak bisa ngerasain aku aku beneran suka sama kamu? Nggak percaya kalau aku laki-laki tulen? Padahal setiap dekat kamu gini aja udah cukup bisa buat aku bangun!" jelas Rasel gemas sendiri.


"Apanya yang bangun?" tanay Shahila dengan polosnya.


Rasel mendesahhh pelan, " Masa iya haru aku perjelas apanya yang bangun?" gumamnya gusar sendiri.


"Ish, ditanya malah bengong, sebenarnya kamu itu serius apa engg..."


Belum Shahila menyelesaikan kalimatnya, Rasel sudah membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya.


Shahila langsung terpaku di tempat, matanya membulat sempurna. Pun dengan Rasel, pria tersebut terkejut dengan apa yang dirinya sendiri lakukan.


Untuk sesaat keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Rasel merasa sesuatu dalam dadanya ingin meledak. Karena jujur, ini pertama kali ia berani mencium cewek di bibir.


Meskipun hanya menempel, tapi Rasel merasa bangga dalam hati. Akhirnya ia bisa merasakan namanya cium bibir.


Shahila mendorong dada Rasel pelan. Pria tersebut langsung mundur dan salah tingkah. Ia siap jika Shahila akan menamparnya karena berani menciumnya, di tempat umum lagi.


"Maaf, aku...." Rasel mengusap tengkuknya, ia jadi salah tingkah. Bingung juga mau ngomong apa selain maaf. Pasti Shahila akan marah, pikirnya.


Namun, respon Shahila justru lain, "Barusan kamu ngapain?" tanyanya lirih. Wajahnya merah seperti tomat. Terlihat mengemaskan sekali dimata Rasel melihat Shahila seperti itu.


"Emmm, aku cuma mau buktiin kalau aku laki-laki normal," ucap Rasel.


"Harus banget di cium emang?" tanya Shahila dengan bibir cemberut. Yang mana itu justru membuat Rasel ingin kembali menciumnya. Pria tersebut jadi mendadak gagu, tak bisa berkata-kata lagi rasanya.


"Ya, harus gimana lagi, aku mau kamu percaya sama aku dan nggak mikir macam-macam," ucap Rasel dengan malu-malu. Bibir wanita di depannya rasanya masih membekas di bibirnya.


Shahila mencubit lengan Rasel, "Ini tempat umum! malu tahu!" ucapnya.


Rasel melihat sekitar, lalu kembali mengusap tengkuknya yang tidak gatal smaa sekali tersebut, "Emang kalau di tempat sepi, kamu mau lagi?" tanyanya yang langsung mengatupkan bibirnya.


...****************...


Ealah Met! Shahila nggak marah aja udah syukur, malah ngelunjak mau lagi.

__ADS_1


Slamet nakal, ya.....


__ADS_2