Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 80


__ADS_3

Adel diam menunduk, "Aku hanya nggak mau buat kakak khawatir dan kecewa lagi," ucapnya lirih.


"Kita berhak bahagia, Adelia," kata Varel.


Adel hanya bisa semakin menunduk, menyembunyikan kesedihannya.


Varel melirik sang pemilik hatinya tersebut, ia menyerongkan tubuhnya menghadap Adel,"Lihat aku, Adelia!" pintanya. Namun, Adel bergeming.


Varel mengembuskan napasnya berat ia memaksa Adelia untuk menatapnya dengan menarik dagu wanita itu pelan, "Lihat wajah tampanku!" ucapnya dan Adel langsung mencebik. Heran dengan kenarsisan Varel yang masih di lestarikan tersebut.


"Kalau kakakmu sudah memberi restu, apa kamu mau berusaha sekali lagi untuk meraih kebahagiaan kita bersama?" tanya Varel. lembut.


"Itu nggak mungkin, om," sahut Adel, matanya sudah berkaca-kaca. Pasalnya, ia sudah mencoba meyakinkan Syafira, mengajui perasaannya selama ini, namun wanuta itu tetap kekeuh menolak.


"Kenapa nggak mungkin? Buktinya sekarang aku bisa di sini karena kakakmu," ujar Varel yang mana membuat Adel langsung mengerjapkan matanya,"Maksud om? Aku lagi malas tebak-tebakan," ujarnya.


"Ketahuilah, Adelia. Sebelum aku ke sini mencarimu, aku sudah datang ke rumah kakak ipar dan menemui Syafira terlebih dahulu,"


"Om keras kepala!" Adel semakin sedih, pasti Syafira sudah menyakiti Varel, pikirnya.


"Bukannya sudah ku bilang sebelumnya, aku tidak akan menyerah sampai dapat restu dari kakakmu dan aku berhasil mendapatkannya. Sekarang apa lagi yang kamu cemaskan? Hem?"


"Ma-Maksud, om?" tanya Adel memastika dugaannya.


Varel tersenyum lalu mengangguk. Hal itu sudah menunjukkan keraguan Adelia. Ia tak salah menduga, pria itu berhasil meyakinkan sang kakak.


"Tapi, kan om udah ada calon istri lagi?" Rasanya adel masih belum puas jika belum benar-benar jelas soal status Varel.


"Yakin nih, rela kalau aku menikahi wanita lain? Ikhlas? Ridho?" Varel merubah posisi duduk tegap kedepannya dan pura-pura cuek, ia melirik wanita di sampingnya.


Adel bergeming, tentu saja tak rela.


"Aku maunya sih sama Adelia, bukan yang lain. Tapi, kalau Adelianya tetap nggak mau, ya kepaksa aku menikahi...."


"Nggak boleh!" potong Adel cepat dan tegas. Ia nggak Rela sama sekali kalau Varel menikahi wanita lain ia tak rela posisinya di hati Varel terganti. Ia memang sempat meminta Varel untuk mencari kebahagiaan bersama wanita lain, namun praktiknya ia tak rela sama sekali. Baru dengar dari bu Lidya saja api cemburu sudah hampir menghanguskan hatinya.


Adel mengusap air matanya yang menetes begitu saja. Ia lalu berdiri di depan Varell. Pria itu refleks ikut berdiri. Takut jika Adelia memilih pergi dari sana.


Namun, di luar dugaan karena kini Adelia malah berlutut dengan bertumpu satu kaki, layaknya seorang pria yang ingin melamar wanitanya. Hal itu membuat Varel terkejut tentu saja.


Varel lebih terkejut lagi saat Adelia mulai bicara.


"Walaupun aku nggak busa masak, walauoun aku suka nyebelin dan ngeselin, kadang-kadang. Maukah om menikahiku? Aku memang tidak bisa memuaskan perut om karena aku nggak bisa masak. Tapi, aku akan berusaha memuaskan om di ranjang!" Ops! Entah dapat kalinat terakhir darimana, Adel langsung menutup mulutnya.

__ADS_1


Varel sangat terkejut, bibirnya mengatup menahan senyum. Apa wanita di depannya itu sedang melamarnya? Hati Varel merasa dag dig dud Ser rasanya. Namun, ia tahan supaya tidak terlihat kegirangan.


Kepalang tanggung, Adel pun melanjutkan kalimatnya, "Aku juga mau jadi ibu buat Tristan. Meskipun om duda anak satu, aku mau nggak apa-apa? Nggak masalah! Aku tetap cinta,"


Selama ini selalu Varel yang mengatakan cinta, sekarang giliran Adel yang mengungkapkan isi hatinya.


Varel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita itu masih salah paham soal Tristan. Ia benar-benar lupa satu hal itu.


"Ka-kamu melamarku? Nggak gini konsepnya, sayang," ucap Varel.


"Kenapa? Bukannya nggak masalah wanita lamar pria, Siti Khadijah juga yang melamar Rasulullah, kan?"


Varel tersenyum lalu mengangguk, ia meraih tangan Adelia untuk membantunya berdiri dan mengajaknya kembali duduk.


"Sepertinya ada yang harus aku luruskan soal Tristan terlebih dahulu sama kamu, aku harap setelah ini tidak merubah keputusanmu,"


Adel mengernyit bingung.


"Dengarkan baik-baik, ya. Tristan itu bukan anak aku sama Andini. Tapi, dia anak dari wanita bernama Lidya dan pria bernama John!" jelas Varel.


Sontak Adel membulatkan matanya tak percaya.


" Jadi, Si kecil menggemaskan itu adik dari om? Bukan anak?"


Varel mengangguk," Kamu ingat waktu dulu mama mual-mual di rumah? Ternyata itu karena dia lagi ngidam, bayangin!"


Adel yang memang ingin tertawa jadi tertahan, ia mengusap punggung Varel, "Nggak apa-apa, jangan sedih. Tristan lucu kok, aku juga mau jadi kakaknya. Nanti kan om bisa produksi sendiri," ucapnya.


Varel tersenyum dan mengangguk oenuh arti menatap Adelia yang langsung salah tingkah, sadar dengan ucapannya terkahir.


"Iya, meski aku duda, tapi masih masih perjaka asal kamu tahu. Andini meninggal beberapa saat setelh kami menikah," ucap Varel.


"Maaf, aku nggak tahu, om. Turut berduka atas kepergian Andini," ucap Adel, ia merasa iba dengan Varel yang langsung berstatus duda setelah menikah. Tahu gitu, dulu nggak usah pergi, pikir Adelia.


"Syafira nggak pernah bilang soal Andini?" tanya Varel penasaran.


Adel menggeleng.


Varel menghela napasnya, sepertinya memang Syafira tak ingin mereka bersama sebelumnya. Tapi, tak apa, ia paham dan mengerti perasaan Syafira. Yang penting sekarang wanita itu sudah legowo menerima.


Adel ingat Varel belum membalas lamarannya tadi, "Om belum jawab ajakan nikah aku tadi," ia mengingatkan.


Varel kembali mengatupkan bibirnya, "Setakut itu ya kehilangan aku, sampai refleks langsung gas lamar aja?"

__ADS_1


"Jawab aja kenapa sih, jangan bikin aku semakin malu"


Varel tersenyum, ia berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Adel, "Akan aku jawab setelah ini, ayo ikut aku!" ucapnya.


Adel memberikan tangnnya, "Mau kemana?"


"Ikut aja!" sahut Varel. Ia membuka pintu mobil untuk Adel.


Tak berselang lama mereka sampai di sebuah restoran yang sudah di booking oleh Varel sore tadi setelah berhasil mendapat restu syafira.


Makan malam romantis sudah siap di depan mata. Adel takjub dengan dekorasi restoran bintang lima yang kini menjelma menjadi tempat yang sangat romantis tersebut.


Bagaimana tidak, saat masuk tadi, sepanjang jalan yang dinlalui Adel dan Varel penuh Dengan bunga mawar merah dan lilin di sisi kanan kirinya. Mereka berjalan menuju ruang khusus yang sudah di siapkan. Sebuah meja bundar dengan beberapa menu. Tak lupa lilin, bunga dan juga musik menambah suasana romantis tersebut.


Sejak tiba tadi, Adel spechless. Ia terus menatap Varel tak percaya. Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk, menuntun Adelia hingga sampai ke tempat utama.


Varel menarik kursi untuk Adel duduk. Adel melihat kanan dan kiri. Suasanya begitu romantis dan hanya ada mereka berdua dan para pemain musik.


"Om? Apa ini?" tanya Adel. Varel tersenyum. Ia mengambil kotak cincin di sakunya. Ia berlutut di depan Adel lalu membuka cincin tersebut. Adel langsung menutup mulutnya, matanya kembali berkaca-kaca. Padahal Varel belum mengatakan apapun. Tapi, Adel sudah bisa menebak apa maksud pria tersebut.


"Maaf, tadi aku tahan-tahanin buat nggak langsung jawab kamaran kamu, padahal kamu tahu jawabannya, nggak mungkin aku nolak. Karena aku udah nyiapin ini semua. Seperti janjiku, aku ingin menjadikanmu ratu dalam hidupku, maka biar aku yang melamarmu, karena aku yang ingin menikahimu,"


"Aku juga ingin!" ralat Adel tak terima dengan ucapan Varel.


Varel mengangguk, kembaki mengatupkan bibirnya, "Iya, keinginan kita berdua. Tapi, aku juga ingin meninggalkan kenangan indah saat melamarmu, biar nanti kamu bisa cerita kepada anak-anak kita, bagaimana romantisnya ayah mereka saat melamar ibunya," ucap Varel dan kali ini Adel mengangguk setuju.


Varel mengambil cincin berlian dari tempatnya lalu menarik tangan Adel," Adelia Shafitri, sang pemilik rindu dan hatiku, wanita yang selalu mengisi hatiku tak peduli sejauh apapun terpisah oleh jarak dan waktu, menualah bersamaku!"


Adelia semakin tak bisa berkata-kata, satu tangannya menutup mulutnya agar tak terisak. Air matanya sudah cukup mewakili perasaan harunya. Ia hanya bisa mengangguk sebagai tanda menerima lamaran pria di depannya tersebut.


Varel memasukkan cincin berlian di tangannya pada jari manis Adelia. Ia lalu mencium punggung tangan Adelia, cukup lama.


"Terima kasih, Adelia. Karena sudah mau menjaga hatimu untukku selama ini," ucap Varel dengan nada bergetar matanya berkaca-kaca. Ia benar-benar tak menyangka akan samoai pada titik ini dimana ia menyematkan cincin tanda pengikat pada sang pemilik cintanya yang sesungguhnya.


End


.


.


.


.

__ADS_1


Tapi bohong.... šŸ˜„


...****************...


__ADS_2