Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 97


__ADS_3

Setelah puas berjalan-jalan di sekitar hotel, Varel akhirnya mengajak Adel kembaki ke hotel. Perjalanan honeymoon mereka masih panjang, bisa di kanjutkan esok hari untuk jalan-jalan.


"Kita makan di kamar aja, ya? Abang pesankan makan," ucap Varel dan Adel mengangguk setuju.


"Aku mandi dulu," pamit Adel, sementara Varel sibuk memeriksa ponselnya.


Setelah Adel selesai mandi, giliran Varel yang masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Varel di kamar mandi, Adel mencari baju yang akan ia kenakan. Ia ingat lingeri merah yang ia gunakan untuk menggida sang suami tadi pagi. Diambilnya benda pemberian Syafira tersebut. Katanya, akan sangat bermanfaat jika Adel sering memakainya saat bulan madu bersama Varel. Bahkan, Syafira memberinya beberapa helai lingeri dengan berbagai warna dan motif yang sangat seksi.


Adel menoleh ke pintu kamar mandi, haruskah ia memakai benda itu untuk menyenangkan sang suami. Pertama kali ia memakai saat malam pengantin waktu itu. Setelahnya ia tak pernah memakai pakaian macam itu lagi, terlalu malu.


Jika pagi tadi ia gencar menggoda suaminya, nyatanya kini nyalinya untuk praktik beneran sangat ciut.


"Ayolah, Del! Demi menyenangkan suamimu, dia sudah banyak mengalah untuk bulan madu ini," gumam Adel meyakinkan diri.


Lagian, tidak ada salahanya berpakaian seksi di depan suami. Toh di sana hanya ada mereka berdua, sebelumnya juga sudah saling melihat satu sama lain tanpa busana, pikir Adel. Ia semakin yakin untuk memakai benda kurang bahan tersebut.


Bukan lagi kurang bahan, tapi memang pakaian luknat. Antara memakai dan tidak memakai rasanya sama saja, Adel seerti tak memakai apapun pada tubuhnya karena lingeri yang ia pakai kali ini adalah gaun malam yang sangat transparan, hingga seluruh lekuk tubuhnya bisa terlihat jelas oleh mata yang memandangnya.


"Astaga, kakak beli dimana sih baju-baju kayak gini? Apa dia juga sering pakai buat nyenengin kakak ipar? Kalau keseringan apa nggak masuk angin?" gumam Adelia saat melihat tampilannya di cermin.


Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka. Adel berjingkat kaget dibuatnya. Ia langsung gelagapan mencari handuk kimono yang tadi ia pakai dan asal ia lempar entah kemana.


Varel berdiri mematung di depan pintu kamar mandi melihat pemandangan di depannya. Adel yang di tatap oleh sang suami langsung salah tingkah di buatnya.


"Sayang..." panggil Varel dengan nada serak.

__ADS_1


Adel tersenyum meski sebenarnya ia gugup dan malu.


Varel berjalan mendekati sang istri namun tiba-tiba bel kamar bunyi. Varel langsung menarik tangan Adel ke ranjang, di selimutinya tubuh sang istri, "Tetaplah di sini sampai aku kembali. Sepertinya itu pengantar makanan yang abang pesan," ucap Varel.


Meski ranjang dan ruang tamu kamar tersebut terpisah dengan sekat tembok, tapi rasanya Varel tetap tak rela.


Adel mengangguk patuh. Varel mencium bibirnya sekilas sebelum pergi membuka pintu," Tunggu abang kembali!" ucapnya sembari mengedipkan satu matanya.


Tak lama kemudian, Varel kembali. Ia langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Adelia. Di tuntunnya sang istri untuk berdiri. Ia membelai pipi Adelia yang tampak merona karena malu, "Mau makan sekarang atau nanti?" tanya Varel.


"Nanti saja," jawab Adel malu-malu.


Pandangan Varel tertuju pada lingeri seksi yang menempel pada tubuh Adelia.


Varel menyentuh dagu Adel supaya mendongak menatapnya, "Kenapa berpakaian seperti ini, sayang?" pancing Varel.


"Kenapa? Abang nggak suka ya? Nggak pantas ya ku pakai kayak gini? Kata kakak abang akan suka. Maaf, aku ganti dulu sebentar!" Adel langsung berbalik dan melangkah.


"Bukankah kau memakainya untukku? Llu kenapa harus ganti? Kau tahu, sayang? Kau terlihat sangat.... Seksi dan menggoda! Kemarilah!" ucap Varel.


Mendapat pujian dari suaminya, membuat rasa percaya diri Adel meningkat, "Benarkah?" tanyanya sambil berjalan mendekati Varel dengan gerakan sensual.


Tak sabar, Varel langsung menarik tangan Adel. Saat itu juga ia duduk di tepi ranjang hingga Adel jatuh terduduk di pangkuannya.


Entah memiliki pikiran nakal dari mana, Adel bersikap Agresif sore itu. Ia mengalungkan tangannya di leher Varel lalu bibirnya maju hendak mencium bibir sang suami. Namun, Varel segera memundurkan kepalanya, tangannya menyentuh bibir Adelia.


"Mau ngapain?" tanya Varel iseng. Padahal ia sudah tak sabar untuk menerkam sang istri yang kali ini benar-benar terlihat agresif dan ia sangat tergoda akan hal itu.

__ADS_1


"Mau kamu, abang!" bibik Adel tepat do telinga Varel dengan nada sensual.


"Baiklah, kau yang memulai. Jangan salahkan abang kalau tak bisa berhenti sebelum abang lelah dan puas," ucap Varel.


"Well see! Siapa yang nyerah duluan, aku atau abang," Adel membuat garis di rahang suaminya dengan jari telunjuknya.


Senyum mesum Varel langsung terbit, "Istri abang sudah pintar, nakal ya!"


Tak memberi kesempatan sang istri untuk bicara lagi, Varel langsung mencium bibir Adelia dengan penuh gairah. Tanpa melepas ciumannya, Varel mendorong pelan tubuh Adel hingga terbaring di ranjang.


"Siap memulai petualangan bulan madu kita sayang?" tanya Varel.


Adel menoleh ke arah jendela yang gordynnya terbuka lebar hingga terlihat jelas pemandangan pegunungan indah berselimut salju di depan kamar mereka.


"Tak akan ada yang melihat kita, sayang!" ucap Varel seolah tahu kekhawatiran sang istri.


Adel tersenyum mendengarnya, "Ayo kita buat Varel dan Adel junior, abang," ucapnya.


.


.


.


Tak terasa, sebulan sudah Varel dan Adel berada di Swiss. Kini mereka mengabiskan waktu di ibukota negara tersebut, Bern. Dua minggu lalu mereka pindah ke hotel yang ada di kota Bern.


Sebulan berada di Swiss membuat Adelia rindu dengan rumah mereka. Tapi, karena ada pekerjaan Varel di Bern, membuatnya mau tidak mau Varel memperpanjang waktu mereka di negara tersebut. Istilahnya sambil menyelam minum air, begitulah yang Varel lakukan. Karena ia harus menemui klien yang sedang berada di negara tersebut jadi sekalian ia memperpanjng watu bulan madu bersama Adelia. Selama bersama sang suami, tak masalah buat Adelia.

__ADS_1


Jika biasanya Adel tak merasakan yang namanya homesick, entah akhir-akhir ini ia begitu merindukan rumah. Makan apapun tidak enak rasanya di lidahnya akhir-akhir ini. Ini aneh, biasanya dia akan bisa makan apa saja tapi beberapa hari ini berbeda, ia begitu merindukan masakan bu Lidya.


...****************...


__ADS_2