
Varel mengajak Tristan keluar karena ia tahu ayah anak itu datang.
"Om," sapa Varel pada om John. Sementara Tristan langsung merosot dari gendongan Varel dan berlari menghampiri ayahnya.
"Jagoan papa, nakal enggak nih?" tanya om John setelah menangkap Tristan dan mendudukkannya dalam pangkuannya.
"Cedikit... Coalna abang dalak, cuka malahin Tlistan. Diem! belicik! Aku malah nih! Aku tabok nih! Aku piting nih!" Adu Tristan pada om John yang mana membuat om John bukannya marah malah tergelak.
"Kau tahu, itu tanda sayangnya abang ke kamu," Om John menjewel pelan pipi Tristan gemas. Anak itu selalu menjadi alasannya untuk segera datang ke kota B. Siapa yang mengira diusianya kini ia masih bisa memiliki keturunan. Kesuburannya tak bisa di sepelekan.
Tristan menatap Varel yang merasa tak enak dengan om John atas aduan adiknya tersebut.
"Benalkah, abang cayang Tlistan?" tanya Tristan serius.
"Enggaklah, mana ada sayang," ujar Varel iseng.
"Tuh, huaaaaa, abang dahat huaaaa!"
"Rel, jangan isengin adikmu lagi ah, kasihan dia," ucap bu Lidya yang datang membawa minuman dan snack. Ia meletakkannya diatas meja, "Minum mas," ucap bu Lidya pada om John. Dan om John langsung menyeruput teh buatan bu Lidya.
"Ish gitu aja cengeng. Kalau cengeng abang nggak sayanglah, abang sukanya jagoan!" ucap Varel karena Tristan masih menangis.
Tangis anak itu langsung berhenti, "Tlistan jagoan!" ucapnya lantang.
Varel tersenyum, "Nah gitu dong, kalau jagoan nggak nangis. Sini!"
Tristan langsung menghambur ke pelukan Varel. Mau di lihat bagaimanapun memang lebih pantas jadi ayah dan anak.
Om John menatap bu Lidya, "See...?" ungkapnya dengan sorot mata. Bu Lidya mengangguk kecil sembari tersenyum. Ia bisa melihat kasih sayang yabg tulus dari Varel.
.
.
.
Sudah seminggu sejak pertemuannya dengan Adel waktu itu, Varel kembali kehilangan jejak wanita itu. Dua hari setelah pertemuan mereka, sempat ia mendatangi butik milik Adel, namun wanita itu tak ada di sana. Varel hanya meninggalakn pesan kepada karyawan Adelia kalau dirinya datang dan meminta wanita itu untuk menghubunginya karena nomor teleponnya tak pernah ganti. Namun, hingga kini wanita itu tak juga menghubunginya.
Dugaan Varel soal Adel dan Gema pun semakin kuat, mungkinkah mereka benar-benar telah bersama? Hah, rasanya Varel ingin mengku bohong jika ia bilang sudah mengikhlaskan.
Siang menjelang sore saat itu begitu terik, membuat Varel sangat enggan untuk keluar rumah. Beruntung Tristan sedang di ajak keluar oleh bu Lidya dan om John sehingga tak ada pengusik kecil itu di kamarnya.
Semenjak kejadian tiga tahun lalu itu, Varel memang jarang keluar saat libur kerja. Ia lebih senang menghabiskan waktunya di rumah, karena beberapa tempat favorit yang dulu sering ia kunjungi selalu mengingatknnya pada sang pemilik hatinya.
__ADS_1
Varel tengah rebahan santai di dalam kamarnya sambil memandangi photo Adelia yang memenuhi sebagian besar galerinya yang dulu sering ia ambil secara diam-diam. Photo-photo Tristan yang lucu dan menggemaskan menempati urutan kedua dan sisanya soal pekerjaannya.
Tiba-tiba, Varel ingat surat yang di titipkan oleh Andini kepadanya untuk di berikan kepada Adelia. Ia meletakkannya di atas nakas.
Varel menoleh, kertas itu sudah tidak ada di sana. Ah iya, Varel ingat, bukankah minggu lalu ia membuatkan pesawat kertas untuk Tristan Tristan. Varel bangun dari rebahannya dan mencari kertas itu.
"Astaga, dimana surat itu, apa Tristan pakai kertas surat itu untuk mainannya?" gumamnya sambil mencari.
Waktu itu ia tak memperhatikan kertas yang di bawa oleh Tristan. Merasa itu adalah amanah yang harus ia sampaikan kepada Adel, Varel terus mencarinya. Beruntung, pesawat kertas itu tergeletak, berjejer rapi dengan mainan Tristan yang lainnya di dalam kamar anak itu.
Varel mengambil kertas tersebut lalu membuka lipatannya. Meski sudah tak bisa sebagus sebelumnya, setidaknya surat itu masih ada. Ia memasukkannya ke dalam saku lalu kembali ke kamarnya.
Tak berselang lama, suara mobil memasuki Halaman rumahnya. Bu Lidya dan om John baru saja kembali dari belanja kebutuhan. Di bantu oleh pembantu yang sering membantu bu Lidya setelah bekiau tinghal di sana , bu Lidya membawa belanjaannya ke dapur.
Tristan sudah tidur sejak dalam perjalanan pulang tadi. Om John langsung menggendongnya ke kamar.
"Ini semua sudah, bu? Susunya mas Tristan kok nggak ada?" tanya mbak Sum.
"Loh, emang habis ya susunya? Biasanya kan ada stok, mbak?" bu Lidya bertanya balik.
"Kan sudah saya ingatkan, buk. Habis. Tinggal satu botol kalau di buat nanti,"
"Nggak ada stok, Sum?" tanya bu Lidya dan mbak Sum menggeleng.
"Rel, beliin Tristan susu, dong. Susunya habis," ucap bu Lidya.
"Lah, kan mama habis belanja. Kenapa nggak beli sekalian, sih?"
"Mama lupa,"
"Ck, nggak heran sih kalau lupa. Faktor U!" ucap Varel bercanda.
"Udah sana, tolong beliin! Nanti adikmu nangis kalau minta susu, susuanya habis,"
"Malas lah ma, panas! Cocoknya tuh sana beliin susu buat anakmu, gitu!"
"Ya, makanya buruan menikah biar punya sendiri! Tristan jadi ada teman main,"
"Nikah udah pernah, eh langsung jadi duda,"
"Nikahnya emang pernah, tapi punya anaknya kan belum. Mama juga kepengin punya cucu dari kamu. Kamu masih menunggunya? Bukankah dia sudah kembali?"
"Dia kembali, tapi bukan untukku kayaknya," ucapnya nyengir hanya untuk menutupi sakit di dadanya saat mengatakan hal itu.
__ADS_1
Kalau sudah bahas yang melow-melow begini, Varel mending menghindar, "Aku beliin sekarang. Nggak ada anak, adik juga nggak apa-apa," ucapnya.
Varel langsung mengambil kunci mobilnya lalu pergi. Bu Lidya hanya menatap punggung sang putra,"Kapan kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri, sayang?" gumamnya.
Saat hendak masuk ke mobilnya, Varel melihat Rasel datang.
"Kebetulan lo datang, ikut gue!" ucap Varel.
"Kemana?" tanya Rasel.
"Jalan-jalan!" balas Varel. Resel pun langsung menutup pintu mobilnya lalu masuk ke mobil Varel.
.
.
.
"Si al lo! Cuma buat beli susu ke minimarket sini aja, lo ngajakin gue!" umpat Rasel setelah Varel keluar dari minimarket yang tak jauh dari rumahnya dengan membawa beberapa kaleng susu formula yang biasa diminum oleh Tristan. Ia pikir tadi Varel benar-benar mengajaknya jalan.
Mobil kembali melaju, bukan untuk jalan-jalan. Melainkn untuk pulang.
"Nyesel gue, udah kegirangan duluan tadi lo ajakin keluar. Udah kayak anak perawan diajak ngedate malam minggu sama cowok barunya. Eh tahunya! Harusnya gue curiga dari tadi, tumben lo ngajakin gue jalan duluan, biasa juga ndekem doang kerjaan lo kalau nggak gue paksa banget buat hang out! Mana nggak di beliin jajan, cuma suruh ngintilin doang. Anak kecil aja kalau ikut pasti minta jajan, Rel!" ucap Rasel panjang lebar.
Namun Varel tak menggubrisnya. Pandangannya kini justru terfokus pada sebuah mobil yang berhenti di seberang jalan sana. Lebih tepatnya, Bukan mobilnya, melainkan orangnya yang menarik perhatiannya. Ia pun langsung mengerem mobilnya mendadak. Yang mana membuat Rasel yang tak memakai sabuk pengamannya terjedot, "Hais, Anj..! Kira-kira dong kalau mau ngerem, Rel! Makin tua lo makin ngeselin, sumpah!" umpat Rasel.
"Seat belt gunanya buat apa, pajangan? Makanya pakai!" balas Varel, ia langsung membuka pintu mobilnya untuk turun.
"Lah, cuma dari minimarket ke rumah doang, nggak ada sepuluh menit juga sampai!"
"Tetap saja, seat belt harus di pakai!"
Dan sepuluh menit yang di bilang Rasel barusan, ternyata membawa Varel kembaki bertemu dengan pemilik hatinya. Padahal tadi saat berangkat, di sana tak ada siapa-siapa. Tapi, kini Ia melihat Adel sedang kebingungan di seberang sana. Varel tebak, mobil wanita itu pasti mogok. Ia langsung menyebrang jalan.
Dengan terus menggerutu, Rasel mengikuti sahabatnya tersebut, "Apa sih Rel mau jadi pahlawan kesiangan buat tuh cewek? Tumben banget!" keluhnya. Namun, mulutnya langsung mengatup begitu Varel menyapa wanita tersebut, dan wanita itu menoleh.
"Mobilnya kenapa?" tanya Varel.
Adel yang tak pernah lupa dengan suara tersebut langsung menoleh, "Om, kok bisa di sini?" bukannya menjawab, Adel. Justru bertanya balik.
"Kalau yang kemarin mungkin kebetulan kita bertemu lagi, tapi kalau yang kali ini boleh aku menyebutnya takdir?" ucap Varel.
Adel langsung mengatupkan bibirnya menahan senyum mendengar jawaban Varel.
__ADS_1
...****************...