Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 82


__ADS_3

Setelah akad selesai, Varel memakaikan cincin di jari manis Adel yang kini semakin cantik oleh henna putih tersebut. Gantian Adelia nyang melakukannya terhadap pria yang kini sudah sah menjadi suaminya tersebut.


Cincin itu di berikan oleh Tristan yang tampil sangat menggemaskan karena memakai bankon di kepalanya. Awalnya ia kekeuh ingin memakaikan cincin itu pada kakak iparnya. Dikira dia maianan kali, ya.


Tentu saja Varel menolaknya dan terjadilah perdebatan kecil anatra kakak beradik tersebut yang pada akhirnya di menangkan leh sang kakak dengan iming-iming mainan pesawat tentunya.


"Ini! papa nakal! Janji belitan pecawat balu. Bo'ong doca gede gunung! Ucap anak itu seraya memberikan cincin yang pegangnya dengan sewot.


Seperti pengantin pada umumnya, penghulu tak lupa meminta Adel untuk menyalami tangan suaminya yang kemudian dibalas ciuman di Keningnya.


Saat mencium kening Adel pertama kali setelah sah menjadi suami, Varel tak kuasa menahan air mata harusnya. Mengingat betapa panjangnya perjalanan cinta mereka untuk bisa sampai ke tahap ini.


.


.


.


Acara di lanjutkan resepsi pada malam harinya. Kini pasangan suami istri itu sudah berdiri di pelaminan bak seorang raja dan ratu. Tema resepsi malam ini adalah negeri seribu satu malam.


Ballrom hotel tersebut di sulap bak istana dari negri dongeng.


Adel tampil cantik dengan gaun berwarna biru pastel berbahan brokat dengan detail payet di bagian atasnya. Ia terlihat bak cinderella dengan gaun hasil rancangannya sendiri tersebut.


Sementara Varel tampil gagah dan tampan memakai atasan berwarna biru tua dengan celana putih layaknya seorang pangeran dari negeri dongeng.


Varel senang karena bisa mewujudkan mimpi sang istri. Ini merupakan langkah awalnya berusaha untuk membahagiakan Adel. Dan usaha pertamanya berhasil. Wanita yang kini berdiri di sampingnya tersebut tak hentinya tersenyum sejak tadi.


Benar kata bu Lidya dan Syafira tempo hari, ternyata untuk mewujudkan sebuah pernikahan impian tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, butuh waktu dan tenaga ekstra. Apalagi hanya dalam waktu satu bulan saja. Untung saja ia mengalah waktu itu. Kalau tidak, benar dia dan Adel sudah sah jauh-jauh hari, tapi ia tak akan melihat binar bahagia sang istri yang berbeda malam ini.


Adel benar-benar terharu saat tadi memasuki Ballrom hotel tersebut. Benar-benar kejutan untuknya. Padahal ia tak menuntut harus semenakjubkan ini. Sah saja sudah sangat bersyukur.


"Jangan nangis, ini kan hari bahagia kita, sayang," bisik Varel di telinga Adel. Ia mengusap air mata yang menetes di pipi Adel.


"Aku menangis karena bahagia. Terima kasih sudah membuat pernikahan impian aku menjadi kenyataan," sahut Adel. Ia tersenyum di sela tangis bahagia.


"Berjanjilah, stelah ini hanya akan ada senyum yang menghiasi wajah cantikmu," Varel mengusap lembut pipi Adel. Wanita itu mengangguk.


"Bisa di lanjutkan nanti sayang-sayangannya? para tamu sudah antre sejak tadi untuk memberi selamat pada kalian," bisik bu Lidya yang berdiri di samping Varel.

__ADS_1


Varel melihat para tamu undangan yang menunggu giliran untuk bisa naik ke pelaminan untuk memberi ucapan selamat. Bibirnya langsung mengatup.


Sepasang pengantin baru tersebut di temani oleh bu Lidya dan om John pada sisi kanan Varel dan Syafira beserta Bara pada sisi kiri Adel untuk menerima ucapan selamat dari para tamu.


Tristan kali ini tampil mengemaskan dan semakin lucu dengan memakai pakaian ala pangeran. Anak itu sejak tadi tak mau turun dari pelaminan meski beberapa kali di ajak oleh Nala. Ia justru meminta Varel menggendongnya. Melingkarkan tangannya pada leher kakaknya tersebut. Sehingga tak jarang tamum yang datang mengira suami Adelia adalah seorang duda anak satu.


.


.


.


Baru setengah dari para tamu yang memberikan selamat Varel sudah mengeluh.


"Kapan sih ini selesainya. Sampai besok pagi kayaknya. Mama ngundang berapa banyak orang sih?" tanyanya pada bu Lidya.


"Nggak banyak sih, mama cuma undang seribuan.sebentar lagi juga selesai, sabar aja," sahut bu Lidya. Ia sengaja mengundang cukup banyak tamu untuk menunjukkan pada mereka kalau putranya sudah laku.


"Seribu cuma? belum lagi yang diundang Syafira. Sayang kamu capek gak, mau ke kamar dulu?" Varel menatap Adelia.


Wanita itu menggeleng, meski sebenarnya ia Capek tapi tidak Mungkin meninggalkan pelaminan.


Beruntung Varel sudah tak sambil menggendong Tristan karena anak itu tadi sudah rewel mengantuk dan di ajak ke kamar oleh mbak sum.


"Selamat bro, akhirnya sold out juga!" ucap seorang pria yang menyalami Varel.


"Akhirnya bro, nggak nyangka gue. Dulu lo yang paling di gandrungi sama cewek-cewek diantara kita-kita, malah lo yang lakunya paling terakhir," seloroh temannya yang lain.


"Nggak sia-sia sih lo bertahan sampai setua ini kalau istri lo secakep ini, selamat bro! ' susul yang lainnya.


Varel hanya tersenyum dan mengucapkn terima kasih. Teman-temannya tahunya ini adalah pernikahan pertama Varel. Karena pernikahannya dengan Andini dulu tidak ada satupun yang tahu selain keluarga. Biarlah itu menjadi rahasia Varel yang tak perlu orang lain tahu.


"Tega kamu rel! Aku hamil segede ini kamu malah menikahi wanita lain, hiks!


Dasar laki-laki nggak bertanggung jawab!" tiba-tiba saja ada seorang wanita yang sedang hamil besar naik ke pelaminan dan meminta pertanggung jawaban Varel atas kehamilannya. Hal itu tentu saja membuat Adel terkejut. Jangankan Adel, Varel saja sempat shock. Tapi bukan lisa namanya kalau tak bikin ulah.


"Kurang cantik apa aku, rel? Sampai kamu tega seperti ini sama aku dan bayiku?" ucap wanita itu.


Varel mengembuskan napasnya lalu menoleh. Adelia siap menerima penjelasan darinya. Wanita yang baru beberapa jam menjadi istrinya itu menatapnya tajam.

__ADS_1


"Kamu percaya dengannya?" tanya Varel sebelum Adelia bertanya.


Adel menatap wanita itu lalu kembali menatap suaminya, kemudian menggeleng,.


Varel tersenyum, "Lihat, Sa. Istri gue nggak terpengaruh sama drama amatiran lo. Udah kebal dia, udah cinta mati sama gue!" ucap Varel pada sahabatnya waktu SMA tersebut.


Adel langsung mencubit pinggang Varel karena malu.


Lisa tersenyum, "Ia percaya, pesona Varel emang nggak ada duanya. Btw selamat ya, gue ikut happy lihat lo nikah," ujarnya.


Varel tersenyum mengangguk, "Thanks, Sa! Ucapnya tersenyum.


" Jangan masukin hati ya omonganku tadi. Aku cuma bercanda. Aku sama Varel emang suka bercanda dari dulu. Dia pria yang baik, aku saksinya yang udah temenan dari SMA. Sekali lagi selamat," ucap Lisa pada Adel.


Adel tersenyum mendengar ucapan Lisa. Ia juga mengucapkan terima kasih.


Namun ternyata drama masih berlanjut dimana ada seorang wanita yang Varel ketahui sebagai salah satu rekan bisnisnya tiba-tiba saja menciumnya cipika cipiki setelah mengucapkan selamat. Hal itu sontak membuat Adel melotot kesal.


"Sumpah, bukan aku yang pengin. Aku nggak siap untuk menghindar," baiknya pada Adel yang ia tahu kini sedang cemburu. Meski hanya cipika cipiki alias cium pipi kanan kiri, tetap saja rasanya Adel tak rela.


"tahu ah kesel!'


"jangan ngambek dong. Sumpah aku nggak tahu. Nanti di lap deh pakai tujuh sumber mata air biar bersih bekas pipinya. Atau di timbun pakai ciuman cinta ari kamu hingga yang aku ahu dan aku ingat hanya bekas bibirmu,'"


Belum juga Adel menimpali gombalan receh Varel. Sahabat pria itu sudah bersiap membuat ulah.


"Apa lagi nih si Selamet?" gumam Varel yang melihat Rasel.


Rasel datang dan langsung menubruk tubuh Varel . Tangis pria itu pecah meski tak mengeluarkan air mata.


"Udah nggak usah sampai segitunya terharu melihat gue nikah. Gue tahu secinta itu lo sama gue, met!" Varel mengusap punggung sahabatnya tersebut.


"lo tega Rel. Lo ninggalin gue, ngebiarin gue jadi jomblo sendirinya huaaaaaa!!!!"


Varel langsung mencebik, ia pikir karena Rasel sangat bahagia melihat dirinya menikah ternyata sedih karena menyadari kalau sekarang dia jomblo sendirian.


"hish, ayo turun! Malu-malu in aja sih!" Shahila datang menyusul dan menarik lengan Rasel.


Adel terkekeh melihatnya" kayaknya bentarlagiada yang bakal nyusul nikah nih" selorohnya.

__ADS_1


"iya," timpal Varel. Ia terus menatap Adelia yang tersenyum. Rasa capeknya hilang saat melihat senyuman tersebut.


...****************...


__ADS_2