Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 91


__ADS_3

Shahila membolakan matanya mendengar ucapan Rasel.


Dugh!


Rasel meringis karena tulang keringnya di tendang oleh Shahila," Sakit, Sha!" ucapnya.


"Biarin! Salah sendiri, mesum!" cibir Shahila. Ia berjalan lalu duduk di sebuh kursi. Wajahnya rasanya panas mengingat apa yang baru saja Rasel lakukan.


Rasel duduk di sebelah Shahila, "Gimana, Sha? aku langsung daftar KUA, ya?" tanyanya.


Shahila menoleh, "kamu serius emang?" tanyanya.


"Aku harus gimana lagi buat ngeyakinin kamu Sha. Kamu sempat marah sama aku gara-gara my baby ben..." Rasel langsung mengatup saat Shahila menatapnya tajam.


"em... Maksudku saat Adel pergi. Padahal itu bukan salahku. Tapi aku ikut kena imbasnya. Kamu tahu rasanya jadi aku gimana saat kamu blokir aku dari hidup kamu?"


"Mana aku tahu, aku bukan kamu," sahut Shahila.


"Ya, makanya ini mau aku kasih tahu, Sha. Dengerin kau ngomong dulu," ujar Rasel.


Shahila diam, menunggu Rasel melanjutkan bicaranya. Meski cuek, ia sebenarnya juga penasaran.


"Rasanya kayak jantung aku berhenti berdetak, Sha," sambung Rasel.


"Cuma kayak, kan? Nggak berhenti beneran," timpal Shahila.


Rasel mendengus, "Kalau beneran berhenti sekarang aju udah jadi almarhum, Sha," ucapnya.


Shahila kaget saat tiba-tiba Rasel menggenggam kedua tangannya," Shahila Maheswari, menikahlah denganku!" ucap Rasel serius. Tak ada keraguan dalam kalimatnya.


Shahila bingung harus menjawab apa. Ia memang ingin segera menikah jika sudah menemukan seorang pria yang cocok dengnnya. Tapi, di sisi lain ia memikirkan kakaknya. Ia ingin Gema menikah terlebih dahulu. Ia ingin memastikan kebahgiaan sang kakak terlebih dahulu sebelum ia menjemput kebahagiaannya sendiri.


"Aku mau kakakku menikah dulu, baru aku akan menikah," ujar Shahila.


"Kamu mau jadi perawan tua?"


Shahila melotot mendengar ucapan Rasel. Siapapun akan kesal jika di singgung sebagai perawan tua, sekalipun hal itu benar.


"Tahu sendiri, kakak kamu itu lagi belajar move on dari Adel. Sudah tiga tahun, tapi belum juga berhasil bukan? Kamu mau nunggu sampai kapan, Sha? Sampai rambut kamu berubah jadi uban semua?"


"Kok gitu, sih? Harusnya doain dong suoaya kak Gema cepat nikah. Biar aku juga bisa lega dan bisa nikah juga," ucap Shahila kesal.


"Daripada doain kakak kamu, mending aku doa buat diriku sendiri, Sha. Nasibku aja masih belum jelas begini, sok-sokan mau doain orang lain,"


"Emang nggak peka, dasar! Kalau kak Gema udah nikah kan kita bisa nyusul!" cetus Shahila.


"Eh, maksudnya apa?" Rasel gagal paham dengan ucapan Shahila.


"Tahu ah!"


"Sha...." rengek Rasel, meminta Shahila bicara jelas.

__ADS_1


"Jangan colek-colek! Udah sana nanti di cariin bis kamu, tuh! Di pecat makin nggak ada modal buat nikah kamu nanti,"


"Tenang, Varel lagi sama pawangnya. Aman!" sahut Rasel.


"Mau kemana lagi, Sha?" Rasel kembali mengikuti Shahila.


"Makanlah, lapar. Dengar kamu bicara terus nggak buat aku kenyang mendadak juga," jawab Shahila.


"Aku traktir, ya?" tawar Rasel.


"Ck, bilang aja modus!" cebik Shahila.


Rasel meringis, "Mau kan?" tanyanya.


"Tempatnya aku yang pilih!" putus Shahila.


"Siap!" sahut Rasel semangat empat lima.


.


.


.


Varel menciun kening Adel setelah ia menyemburkan benih terkahirnya pada permainannya dengan sang istri.


"Makasih sayang, I love you!" ucap Varel di akhir penyatuan mereka.


Baik Varel maupun Adel tak langsung beranjak. Mereka masih lelah, peluh yang membanjiri tubuh juga masih belum mengering. Varel mendekap sang istri dalam diam sembari mengatur napas.


"Abang," Panggil Adel, ia mendongak demi melihat wajah suaminya.


"Apa, sayang?" sahut Varel. Ia kembali mengecup kening Adelia.


" Waktu itu abang bilang kalau kita bakal honeymoon?" tanya Adel. Ia merasa ini timing yang tepat untuk mengatakan soal kado honeymoon dari Gema. Setelah di kasih jatah enak-enak, masa mau nolak.


"Iya, kenapa? Sudah tidak sabar, ya? Sebentar lagi, abang masih ada pekerjaan sedikit," jawab Varel.


"Em itu, soal honeymoon.... Kak Gema katanya mau ngasih kita kado honeymoon ke Swiss," Adel bicara sambil memainkan jari telunjuknya di dada sang suami yang masih polos.


Varel langsung sedikit merubah posisi rebahannya, "Kamu tahu kan, suami kamu ini lebih dari mampu untuk mewujudkan honeymoon impian kamu. Tidak perlu sumbangan, apalagi dari mantan," ujarnya.


"Aku tahu, abang lebih dari mampu. Tapi, aku tidak enak buat menolaknya. Kak Gema sangat baik kepadaku. Dan aku merasa bersalah sama dia," Adel menghentikan ucapnnya sejenak, karena aura Varel yang sudah berubah masam.


Terlihat sekali kalau pria tersebut cemburu.


Adel menarik tangan Varel dan menyetuhkannya pada pipinya," Jangan salah paham dulu. Aku merasa bersalah karena dulu aku hanya menjadikan kak Gema sebagai pelarian saja. Padahal dia sangat tulus. Aku cuma memanfaatkannya saja, karena abang..."


"Jadi kamu nyalahin anag, begitu?" potong Varel.


Adel cepat-cepat menggeleng, "Tidak, bukan begitu. Sama sekali bukan Salah abang. Tolong jangan salah paham, aku sudah memilih abang karena dari awal memang abang pemilik hati aku sesungguhnya. Katanya ini sbeagio hadiah karena kak Gema ikut bahagia atas pernikahan kita. Kalau abang nggak ngijinin aku nggak akan ter.... "

__ADS_1


"Katakan padanya aku nggak mau menginap di hotel murahan di sana. Harus yang mewah," potong Varel.


Adel memebelalakkan matanya yang berbinar mendengar ucapan Varel, "Jadi abang menerimanya?" tanyanya antusias.


"Apa kau senang?" tanya Varel.


Adel langsung mengangguk, "Terima kasih, abang. Love yu so much!" ucapnya. Ia memeluk tubuh sang suami yang masih polos tersebut.


"Anything for you, baby," balas Varel.


Jika menerima sumbangan dari Gema bisa membuat Adel senang, kenapa tidak, pikir Varel. Kebahagiaan sang istri adalah prioritasnya sekarang. Biarlah dia yang mengalah dengan menekan ego dan rasa cemburunya.


"Sayang, kalau kamu begini. Yang di bawah sana akan bangun kembali. Dan kau harus bertanggung jawab untuk menidurkannya," ujar Varel.


Dasar otak Adel sebeninng embun pagi, dia melongo ke bawah, arah yang di maksud Varel, "Di bawah tidak ada siapa-siapa," ucapnya.


"Ada," sahut varek.


"Nggak ada, abang,"


"Ada sayang," sahut Varel. Ia menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhnya dan juga Adel, "Ini yang harus kamu tidurkan,"


"Abaaaang,,,,,"


.


.


.


"Sha, jangan marah dong. Aku kan cuma pinjam doang. Tetap aku yang traktir. Nanti aku bakal ganti," ucap Rasel sesaat setelah ia dan Shahila keluar dari sebuah restauran bintang lima.


"Dasar, nggak modal banget sih. Sok-sokan mau traktir tapi nggak ada duit," cebik Shahila. Pasalnya, ia yang harus membayar makan siang mereka.


"bukan begitu, Sha. Sumpah dompet aku ketinggalan di kantor. Tadi kan aku buru-buru buat ngejar kamu, nggak ngeh kalau dompet ketinggalan. Nanti aku bakal ganti. Jangan ngambek, ya?" rayu Rasel.


Betapa malunya tadi Rasel. Sudah sok gayaan mengajak Shahila makan si restauran mewah, eh pada saat mau bayar, ia tak mendapati dompetnya. Jangankan dompet, ponsel pun tidak ia bawa. Terpaksa ia meminjam uang Shahila dari pada harus cuci piring.


"Aku mau balik ke butik," ucap Sahila.


"katakan dulu nggak marah," rengek Rasel.


"Tergantung," sahut Shahila.


"Mati kalau tergantung,"


Shahila menatapnya kesal. Rasel langsung mengatup, "Kammu makin gemesin kalau lagi mode galak ini,"


"Apa sih, nggak jelas!" Shahila memutar badannya, tak ingin wajahnya yang merona terlihat oleh Rasel.


Bisa besar kepala nanti itu laki, pikirnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2