Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 56


__ADS_3

Varel tersenyum dan menghapus air mata yang menetes di pipi Adel karena terharu, "Nggak ada yang salah kan dengan sebuah doa dan harapan?" ucapnya.


Adel menggelengkan kepalanya, kenapa Varel berharap sejauh itu untuk hubungan mereka yang belum jelas ini.


Setelah puas menikmati indahnya danau tersebut, Varel langsung mengantarkan Adel ke butik. Kali ini, Adel meminta Varel menurunkannya beberapa meter dari butik. Ia tak ingin Shahila kembali memergokinya seperti sebelumnya. Bagaimanapaun ia harus menjaga perasaan sahabatnya tersebut sebagai adik dari pria yang masih berstatus sebagai pacarnya.


Awalnya Varel keberatan dengan permintaan Adel tersebut, namun pada akhirnya ia mengalah juga, "Kapan kamu putus dengan Gema itu?" tanya Varel dengan raut tak suka saat menyebut nama pria itu sesaat setelah mereka sampai tempat dimana Adel minta diturunkan.


"Makasih om, udah nganterin," ucap Adel yang mengabaikan pertanyaan Varel barusan. Ia melepas seat belt lalu membuka pintu mobil.


Bukannya tak mau menjawab pertanyaan Varel, tapi lebih kepada menjaga moodnya saja. Karena, kalau di ladeni, Adel juga ingin menanyakan hal yang sama, kapan pria itu putus dengan calon istrinya. Yang ada hanya ketegangan diantara mereka. Adel tak ingin merusak suasana hatinya yang baru saja meleleh oleh sikap Varel tadi.


Varel mendengus, namun tak protes. Setelah Ade turun dari mobilnya, Varel menurunkan kaca mobilnya, "Sayang, tunggu! Ada yang ketinggalan!" ucapnya.


Adel memandangnya, "Apa?" tanyanya merasa tidak ada barang bawaannya yang ketinggalan di mobil pria itu.


"Ini!" Varel mengeluarkan tangannya dari saku celananya, jari telunjuk dan jempolnya menempel membuat bentuk litle love, "Semangat kerjanya," ucapnya sembari tersenyum.


Hati Adel kembali berbunga-bunga di buatnya, "Om, juga," balasnya tersenyum dengan wajah merona malu-malu.


"Sana jalan!" titah Varel.


Adel mengangguk, "Om boleh pergi, aku akan jalan," katanya.


"Kamu jalan dulu, aku mau memastikan kamu masuk ke butik dengan selamat. Baru aku pergi. Aku lihat dari sini," sahut Varel.


"Hem," Adel mengangguk, ia lalu memutar badannya dan berjalan menuju ke butiknya. Setelah memastikan Adel telah masuk ke butik, Varel kembali melajukan mobilnya.


.


.

__ADS_1


.


"Gila, lo! Mentang-mentang direktur, lo datang sesiang ini. Lo ngapain aja? Gue aja udah molor segala macam lo baru nongol!" ucap Rasel, ia menghadang Varel yang berjalan menuju ruangannya.


"Karena gue lagi happy, lo gue biarin ngoceh, Met. Suka-suka lo mo ngomong apa, gue bebasin, mau molor sampai sore juga terserah, mumpung mood gue lagi bagus," ucap Varel lalu melenggang begitu saja melewati Rasel.


Rasel hanya menatap punggung sahabatnya tersebut dengan heran.


Varell langsung duduk di kursi kebesarannya, ia tersenyum mengingat wajah merona Adel yang tadi ia goda, menggemaskan sekali, pikirnya.


Setelah mencurahkan apa yang ia rasakan selama ini kepada bu Lidya semalam, Varel merasa lebih baik. Jujur, selama ini pikirannya sangat kacau dan kalut. Ia ingin sekali bisa bersama dengan cinta sejatinya. Namun, disisi lain, ia tak bisa lepas tanggung jawab begitu saja atas apa yang sudah ia ucapkan.


Janjinya yang sudah terucap untuk menjaga dan melindungi Andini dengan cara menikahi wanita itu adalah beban berat yang harus ia jalani. Ia tak bisa begitu saja lepas tangan.


Tapi, di saat sanga ibu memberikan dukungan penuh kepadanya, kini Varel semakin yakin untuk mengambil keputusan membatalkan pernikahannya dengan Andini. Ya, Varel akan segera menemui Andini dan membicarakn hal ini.


.


.


.


Hal itu membuat Varel merasa kesal sekaligus khawatir. Ia kesal karena waktu pernikahan kian dekat, sedangakn Andini seolah sengaja menghindari untuk bertemu dengannya. Sementara bu Lidya sudah mendesaknya untuk segera menyelesaikan masalah ini jika Varel benar-benar tidak akan meneruskan untuk menikah,"kasihan Adel," katanya. Meski di katakan terlambat, tapi ini jauh lebih baik daripada pada akhirnya mereka akan sama-sama tersakiti.


Sementara Adel, ia hanya bisa diam pasrah. Sama sekali tak mempertanyakan apakah Varel sudah memutuskan Andini atau belum. Ia tahu posisinya. Ia hanya bisa berharap-harap cemas dalam diam.


Hubungannya dengan Varel pun tetap baik. Seperti biasa, dirumah, mereka sering main kucing-kucingan di belakang Syafira. Bertemu diam-diam. Atau lebih seringnya Varel yang datang mengendap untuk menemuinya.


Sejauh ini tak aja obrolan mereka soal rencana Varel terhadap Andini. Mereka hanya mencoba menikmati lakon mereka sebagai sepasang anak manusia yang saling mencintai tanpa berniat ingin merusaknya dengan obrolan sensitif tersebut.


Namun, di sisi lain, Varel juga merasa khawatir, pasalnya tidak biasanya Andini mengabaikannya seperti ini sebelumnya. Bahkan, wanita itu hanya membalas pesan dari Varel sekali, itupun saat pria itu sudah terlelap semalam.

__ADS_1


Andini membalas chat dari Varel yang menanyakan kabarnya saja dengan mengatakan dia baik-baik saja dan tak membalas keinginan Varel untuk bertemu dengannya perihal pernikahan mereka. Andini hanya mengatakan mereka akan bertemu nanti di pelaminan.


Antara ingi mengumpat dan merutuki diri sendiri, Varel mematahkan bolpoin di tangannya. Ia baru saja mencoba menghubungi Andini namun tidak bisa.


Varel pun memutuskan pergi ke apartemen Andini, namun ia tak juga menemukan wanita itu. Bahkan Moly, kucing milik Andini juga tidak ada di sana.


Seharusnya, nenek, paman dan juga tante Andini sekarang sudah berada di apartemen karena mereka akan datang seminggu sebelum pernikahan mereka. Namun, nyatanya mereka tak ada di sana, bahkan Andini juga ikut menghilang.


"Sial! Kemana kamu, Ndin? Apa yang sedang kamu rencanakan?" batinnya, tangannya mengepal kuat.


Karena pikirannya sedang kusut, Varell menghubungi Adel. Ia ingin mengajak wanita itu makan siang nanti. Sebagai obat galaunya.


...----------------...


Sementara di tempat lain, Adel yang sedang sibuk membuat desain terbaru untuk gaun pernikahan pelanggannya. Membuka pesan dari Varel.


"Siang nanti, aku jemput ya, kita makan siang bareng," Adel membaca pesan dari Varel. Jujur saja, sejak pagi tadi mereka tak saling tegur sapa, entah kenapa ia mendadak sedih dan kesal karena Varel yang belum juga menyelesaikan masalahnya dengan Andini.


Ting! Sebuah pesan kembali masuk.


" Tadi pagi kita udah nggak ketemu, nanti harus makan siang bareng pokoknya!" pesan dari Varel lagi.


Baru akan membalas chat dari Varel, sebuah pesan dari kontak lain masuk.


"Siang nanti temui aku di cafenya Rasel. Ada yang ingin aku bicarakan. Penting, ini soal mas Varel," rupanya pesan dari Andini.


Adel bingung, ia harus memilih yang mana antara Varel dan Andini. Tapi, mengingat ia juga harus berusaha untuk hubungannya dengan Varel, Adel pun memilih menemui Andini.


Ia membalas pesan Varel.


" Maaf om, siang ini aku udah ada janji dengan klienku. Nanti malam kan ketemu di rumah," ketiknya.

__ADS_1


"Tapi, nanti ada kakak kamu, kita nggak bebas, kucing-kucingan terus," balasan dari Varel tak di balas lagi oleh Adel. Ia sibuk menerka-nerka, kira-kita apa yang ingin Andini bicarakan. Bukankah wanita itu masih belum tahu soal dirinya dan Varel. Entahlah, Adel hanya mengikuti nalurinya saja.


__ADS_2