Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 64


__ADS_3

Adel berjalan cepat menuju ke halaman rumah sakit. Meski ia sudah memikirkan hal ini matang-matang, dimana ia harus siap untuk merelakan pria yang ia cintai tetap menikahi wanita lain. Namun, tetap saja rasa sakit di dadanya melebihi bayangannya. Ia pikir ia siap melepaskan Varel dengan legowo, tapi pada kenyataannya begitu sakit ia rasa.


"Maaf," ucap Adel yang tak sengaja menabrak pejalan kaki lainnya di rumah sakit tersebut. Ia terus berjalan dan langsung menghentikan taksi yang baru saja menurunkan penumpang di depan rumah sakit tersebut.


Tidak langsung pulang ke rumah, Adel meminta sopir taksi mengantarkannya ke danau yang tempo hari ia datangi bersama Varel.


Sampai di sana, la duduk sendiri meluapkan segala rasa di dadanya. Adel tak ingin membawa lukanya ke rumah dimana Syafira dan bu Lidya berada.


"Aku pikir aku sudah ikhlas, tapi kenapa ini begitu sakit?" gumamnya pilu sembari menatap air yang terlihat tenang namun begitu menghanyutkan di depannya.


Beberapa saat lamanya, Adel hanya diam menatap kosong ke depan dengan sesekali tangannya menyeka air mata yang menetes tanpa bisa ia cegah tersebut.


Adel berdiri lalu mendekati pohon dimana di sana tertulis harapan dan doa dari Varel. Ia menyentuh tulisan itu dan Sekali lagi ia membacanya. Hatinya seperti teriris sembilu saat membaca tulisan tersebut.


Adel mengeluarkan pena yang sama dengan yang Varel gunakan tempo hari dari tasnya, ia mulai menggerakkannya pada sisi lain pohon tersebut.


Dear hati....


Aku tahu, dirimu kini terluka dan kecewa oleh keadaan.


Kau juga pasti bertanya kenapa seketika ku memilih diam dan merelakan.


Bukan karena takut terluka lebih dalam lagi, bukan.


Kau lebih tahu jawabannya.


Terima kasih wahai hati, karena kau sudah bertahan dalam sakit sejauh ini. Selanjutnya, mari kita membersamai luka ini dengan iringan doa dan harapan untuknya yang aku tahu juga sedang berusaha menerima kenyataan.


Bantu aku merelakan dengan tanpa perasaan kecewa, marah dan terluka . Apalagi penuh tanda tanya kenapa dan mengapa, karena aku tahu kamu kuat wahai hati...


Air mata terus mengalir membasahi wajah Adel saat menulisnya. Ia tak sanggup lagi melanjutkannya dan memilih mengakhiri goresan tintanya pada batang pohon tersebut. Ia terus mensugesti hatinya sendiri jika dirinya bisa, dirinya kuat.


Beberapa saat lamanya Adel merenung di sana sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah.


.


.


.


Varel menatap Andini yang kini terlelap di depannya setelah tadi ia suapi makan lalu minum obat. Wanita itu tetap terlihat tenang dalam tidurnya meski ia tahu pasti Andini menahan sakit luar biasa.


Ia kembali teringat saat pertama kali mereka bertemu, wanita itu terus mencuri pandang terhadapnya. Bukannya Varel tak menyadari hal itu, namun ia tak menghiraukannya karena ia tahu, meladeninya sama saja ia akan memberikan harapan palsu pada wanita itu.


Tapi, ternyata takdir membawanya kepada titik dimana ia mengikrarkan sebuah janji untuk menikahinya sebagai rasa bersalahnya karena wanita yang belum lama kehilangan sosok ayah tersebut juga harus kehilangan ibunya yang merelakan nyawanya demi menolong dirinya.


"Maaf karena sudah membuatmu menderita selama ini karena sikapku, harusnya aku bisa mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku putuskan waktu itu, tapi aku malah mengabaikanmu. Maaf," ucapnya dalam hati.


"Mas..." rupanya Andini bangun, ia memanggil Varel, namun pria itu tak menyahut karena larut dalam lamunannya.


"Mas..." sekali lagi Andini memanggilnya, tangannya yang terpasang jarum infus bergerak lemah menyentuh tangan Varel hingga pria itu sadar dari lamunanya.


"Eh iya, Del..." ucap Varel tanpa sadar, dan ia langsung merasa bersalah karena telah salah menyebut nama. Namun, Andini terlihat tak kecewa sama sekali, atau lebih tepatnya tak memperlihatkannya. Entahlah....


"Em, maaf. Maksudku, Ndin. Kamu mau apa? Minum?" ralat Varel dengan cepat.


Andini menggelengkan kepalanya, "Mas pulanglah dulu, istirahat. Dari pagi mas urus aku terus di sini, mas pasti capek," ucapnya lirih.


Varel melihat jam tangannya, rupanya hari sudah mulai sore.


"Aku tidak apa-apa, nggak capek sama sekali, kok," sahut Varel.


"Tapi mas juga perlu baju ganti, pulanglah, aku nggak apa-apa,"


Ah iya, Varel baru sadar, ia masih mengenakan baju yang sama seperti semalam saat ia mengalami kecelakaan. Andini benar, ia harus mengganti pakaiannya.


"Baiklah, nanti kalau nenek datang, aku akan pulang sebentar untuk mandi dan ganti baju," ucap Varel kemudian.


Andini tersenyum dan mengangguk.


Tak berselang lama, nenek datang bersama om dan Tante Andini. Mereka menyuruh Varel untuk pulang karena mereka yang akan gantian menunggui Andini.


"Aku pulang sebentar, ya? Nanti malam aku ke sini lagi," pamit Varel pada Andini kemudian.


.


.

__ADS_1


.


Dengan wajah lelah, Varel memasuki rumahnya.


"Bagaimana keadaan Andini, Rel?" bu Lidya yang sedang membaca majalah langsung meletakkan majalahnya demi menyambut kedatangan sang putra.


Varel menggelengkan kepalanya, dari sana bu Lidya tahu seberapa parah penyakit Andini.


" Lusa, Aku akan menikahinya," ucap Varel dan tentu saja bu Lidya terkejut.


"Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang, sayang?" tanyanya karena ia tahu betul apa yang sebenarnya putranya itu inginkan. Dan bu Lidya sebagai ibunya tidak ingin sang putra menderita.


"Varel yakin sama keputusan Varel, ma," sahut Varel. Pandangannya tiba-tiba teralih pada sosok wanita yang ia cintai. Adel turun menapaki anak tangga dengan sebuah koper di tangannya. Bukannya Varel tak tahu apa artinya itu, hanya saja ia ingin memastikannya langsung.


Pandangan mereka bertemu, Adel terus berjalan di dampingi oleh Syafira yang terlihat sekali kalau wanita itu baru saja menangis. Berkali-kali ia meminta Adel untuk tidak pergi, tapi sepertinya keputusan adiknya tersebut sudah bulat.


Varel berjalan mendekat lalu berhenti tepat di bawah tangga saat kaki Adel juga menapakkan kakinya di sana.


"Mau kemana kamu?" tanya Varel.


"Seharusnya dari awal aku memang tidak ada di sini, om," sahut Adel berusaha tersenyum.


Varel memandang Syafira dan bu Lidya bergantian, "Bisa tolong tinggalkan kami berdua? Aku ingin bicara empat mata dengannya," ucapnya yang kini sudah menatap Adel kembali.


Syafira dan bu Lidya pun menuruti permintaan Varel. Mereka meninggalkan keduanya, memberikan kesempatan kepada mereka untuk bicara berdua.


"Om sudah mengambil keputusan yang tepat," ucap Adel setelah Syafira dan Bu Lidya menghilang entah kemana. Mungkin mereka mengintip dari tempat lain, tak ada yang peduli.


"Maaf," hanya itu yang bisa Varel katakan.


Adel tersenyum, "Om nggak salah. Yang salah adalah keadaan," ucapnya.


"Aku tahu, memintamu tetap di sisiku adalah egois, tapi bisakah aku tetap memintanya?" tanya Varel.


"Maaf, aku perlu menenangkan diri," sahut Adel.


"Jangan pergi!" Varel tahu, meminta Adel untuk tetap tinggal akan semakin melukai wanita itu, tapi ia masih berharap bisa bersama dengannya.


"Andini lebih membutuhkan om," ucap Adel.


"Aku perlu menyembuhkan luka ini, aku nggak bisa jika tetap tinggal, om,"


"Baiklah, kalau cuma keluar dari rumah ini, aku rela. Selama aku masih bisa melihatmu, tidak apa," ucap Varel.


Adel diam tak menyahut.


"Del...."


"Harus dengan cara apa supaya om melepasku? Bahkan dengan bicara baik-baik seperti ini pun tidak bisa?" ucap Adel. Sekuat hati ia menahan sakit didadanya. Ia tahu pria di depannya sama terlukanya dengannya.


Dari sana, Varel bisa menyimpulkan jika Adel akan kembali pergi jauh dari hidupnya dan mungkin kali ini tidak akan pernah kembali.


" Kamu tahu kan, kalau kamu pergi lagi, kali ini aku tidak bisa menunggumu kembali seperti sebelumnya?" ucap Varel.


Adel mengangguk, "Aku tahu," ucapnya.


"Aku cinta kamu, Del," Varel menyentuh pipi Adel lembut.


Lagi, Adel mengangguk, "Aku tahu, aku juga cinta sama om. Tolong biarkan aku pergi. Kali ini aku memintanya baik-baik," ucapnya dengan nada bergetar, matanya sudah panas menahan air mata.


"Kapan kamu benar-benar akan pergi?" tanya Varel.


"Lusa, malam ini dan besok aku akan menginap di butik," jawab Adel.


Kali ini Varel yang mengangguk, "Pergilah!" ucapnya dengan nada setengah tidak rela.


.


.


.


Bu Lidya dan Syafira sedang menunggu Varel yang belum juga keluar dari kamarnya. Hari ini mereka akan ke rumah sakit untuk akad nikah Varel dan Andini. Syafira tidak membawa anak-anaknya karena pernikahan akan dilaksanakan di rumah sakit, sehingga kuota yang datang juga harus di batasi. Om John dan Bara akan ikut menjadi saksi pernikahan Varel, mereka akan langsung menuju ke rumah sakit karena pesawat yang mereka tumpangi akan mendarat lima belas menit sebelum acara di mulai.


Kedua wanita itu terlihat cantik dalam balutan seragam kebaya. Meski di lakukan di rumah sakit, mereka ingin memberikan support terbaik untuk Varel.


Sebenarnya Syafira ingin sekali mengantar Adel ke Bandara, tapi Adel mencegahnya. Ia tidak akan sanggup pergi jika sang kakak mengantarnya. Adel memilih pergi sendiri dan meminta sang kakak menemani Varel ke rumah sakit.

__ADS_1


"Aku nggak akan sanggup kalau kakak mengantarku ke bandara, aku mohon biarkan aku pergi sendiri, kak," ucap Adel tadi melalui telepon.


"Makanya jangan pergi, dek. Kita pulang saja ke Jakarta, mulai hidup baru kamu di sana," bujuk Syafira.


Adel menggeleng, "Aku pasti kembali lagi kak, tapi sekarang aku butuh healing, menyembuhkan luka untuk bisa menerima takdir ini dengan ikhlas, karena jujur masih sulit kalau tetap di sini,"


Syafira tak bisa lagi mencegah, ia tahu seberapa dalam luka yang di rasakan oleh adiknya tersebut.


Lamunan Syafira buyar saat Varel keluar, pria itu sudah mengenakan jas untuk akad nanti. Tak ada senyum di wajahnya. Semua orang tahu, bagaimana perasaan pria itu sekarang. Bu Lidya mengusap air matanya yang menetes saat melihat sang putra keluar dari kamarnya.


Sekuat mungkin bu Lidya menahan supaya tidak terlihat bersedih dan menangis untuk putranya tersebut. Ia tak ingin menambah beban putranya yang malang tersebut.


"Sudah siap semua? Ayo!" ucap Varel berusaha tersenyum.


Bu Lidya dan Syafira mengangguk.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Varel sama sekali tak tenang. Ia terus melihat jam tangannya dengan gelisah. Bukan perkara pernikahannya, melainkan waktu kepergian Adelia.


"Masih ada waktu, pergilah temui dia, Rel!" ucap Syafira yang melihat kegelisahan Varel.


Varel menatapa bu Lidya, wanita itu mengangguk, "Pergilah, biar kami naik taksi ke rumah sakit," ucapnya.


Varel menghentikan mobilnya, ia langsung turun dan mencarikan taksi untuk Syafira dan bu Lidya, "Kalian pergilah ke rumah sakit terlebih dahulu, aku akan menyusul," ucapnya setelah Syafira dan bu Lidya masuk ke dalam taksi.


.


.


.


Sementara itu, Adel sedang duduk seorang diri Bandara menunggu keberangkatannya. Berkali-kali ia menarik napas panjang demi sedikit mengurangi rasa sakit di dadanya. Ia tahu, hari ini adalah jadwal pernikahan Varel dan Andini.


Berkali-kali juga Adel berusaha ikhlas dengan takdirnya. Ia mengusap air matanya lalu berdiri, bersiap untuk kembali meninggalkan tanah air.


Adel berjalan sambil menyeret kopernya, sesekali ia menoleh ke belakang, "Apa lagi yang kamu harapkan, sudahlah Del," gumamnya.


Ia kembali melanjutkan langkahnya. Tiba-tiba saja, seseorang menarik lengannya lalu mendekapnya sangat erat.


Adel tahu pria itu adalah Varel. Ia membiarkan pria itu memeluknya beberapa saat.


"Syukurlah aku masih belum terlambat," ucap Varel.


"Aku sudah harus pergi," ucap Adel penuh sesal. Ia melihat pria itu sangat tampan dengan jas rancangannya tersebut.


Varel mengurai pelukannya, "Apa benar-benar harus pergi, Del? Harus dengan cara ini?" tanyanya


Adel mengangguk.


"Aku akan mencari kebahagianku sendiri, om. Om berbahagialah dengan Andini, terima dia dengan baik dan lapang, cintai dia sepenuh hati. Om harus bisa bahagia dengannya, jangan biarkan pengorbananku sia-sia,"


"Aku tidak yakin bisa melakukannya kalau bukan kamu,"


"Om Pasti bisa. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian dari tempatku berada nanti. Pergilah, Andini pasti sudah menunggu. Terima kasih sudah menemuiku di sini," ucap Adel.


Varel menyelipkan rambut Adel, "Aku mencintai kamu, Adelia. Hanya kamu," ucapnya.


Adel menyentuh tangan Varel yang kini mengusap air matanya, "Aku selalu tahu itu, dan om tahu kalau aku juga mencintai om,"


Varel mengangguk, "Aku tahu," ucapnya.


"Kenapa takdir kita harus seperti ini?"


"Aku juga tidak tahu, mungkin benar kalau cinta itu tak harus memiliki,"


"Apa kita benar-benar tidak bisa bersama?"


"Entahlah, biarkan waktu yang menjawabnya. Aku harus pergi sekarang, lepaskan aku dengan ikhlas dan aku ikhlas menerima dan mendoakan pernikahan om dan Andini,"


Varel mengangguk, "Pergilah, aku tidak akan mencegahmu!" ucapnya melengos, matanya sudah merah dan pedih.


Adel mengangguk, ia menyeret kopernya dan berjalan tanpa menoleh. Namun, di tengah jalan ia memutar badan lalu berlari memeluk Varel. Pria itu membalasnya dengan erat.


Varel menangkup pipi Adel dan mincium bibirnya. Adel membalasnya. Beberapa saat mereka melakukannya. Varel membenturkan Keningnya dengan Kening Adel, diusapnya air mata yng mengalir di wajah Adel, "Pergilah sayang, kejar kebahagianmu meski itu bukan aku. Relakan aku menikahi Andini, ya?"


Adel mengangguk sambil sesenggukan, "Aku cinta om," kalimat terakhir yang Adel ucapkan, ia kembali melangkah tanpa kata hingga tautan tangan mereka benar-benar terlepas seiring menjauhnya raga Adel dari hadapan Varel.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2