Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
23.Kabar Dari Adam, Bertemu Nenek Sanah Dan Pria Muda


__ADS_3

Kring......!Kring.......!Kring.......! Jam Alarm diatas meja tidurku berbunyi nyaring, spontan aku terduduk karena terkejut, seingat ku pulang dari kampus aku belum mandi dan bersih bersih, sementara aku selalu menyetel pengaturan alarm jam enam pagi.


"Berarti semalam aku ketiduran?" Ujar ku setelah melihat ke arah jarum jam yang ada dalam alarm.


Kembali ku rebahkan tubuhku diatas kasur, rasanya kepalaku sedikit pening karena bangun secara mendadak.


Karena semalam memimpikan Adam aku segera meraba kasur sebelah kiri ku untuk mencari ponsel,ketika ku tatap layar ternyata ada dua puluh pesan masuk dari Adam.


[Selamat pagi calon istriku, aku baru aja sampai di Apartemen] 04.30


Isi pesan Adam membuat pipiku memerah, aku senyum-senyum sendiri membacanya.


"Berarti subuh tadi dia baru sampai dan langsung mengabari, yaampun so sweet nya" Ujar ku.


[Selamat pagi kembali calon imam ku, eh bukannya disana masih sore ya?] Balasku.


Lama tidak ada balasan dari Adam aku memutuskan untuk menunggunya sembari sholat subuh.


Selesai sholat subuh aku langsung mandi tanpa menghiraukan ponselku.


Di dalam kamar mandi aku selalu kepikiran dengan Adam padahal tidak seharusnya aku seperti itu, akhirnya karena terus kepikiran aku menyudahi mandi yang belum rampung untuk melihat ponsel berharap Adam membalas pesannya.


Belum sampai aku berjalan lima langkah, ponselku sudah berdering menandakan ada panggilan masuk.


Ketika aku mengeceknya ternyata panggilan dari Adam, sontak saja aku kelabakan karena masih mengenakan handuk mandi.


Segera aku berlari menyahut pakaian sekenanya dan mengangkat teleponnya.


"Lama banget angkatnya?" Ucapnya setelah aku mengangkat teleponnya.


"Tadi masih dikamar mandi Dam" Jawabku.


"Mandi ya?" Tanyanya menebak-nebak.


"Iya ini soalnya mau maraton sama ibu-ibu komplek" Jawabku berbohong.


"Udah selesai tapi mandinya?" Tanyanya lagi.


"Ya tentu udah dong" Jawabku kembali berbohong, padahal baru separuhnya belum rampung.


"Aku kangen banget sama kamu, pengen cepet pulang ke Indonesia" Ujarnya.


"Baru juga kemarin salam perpisahan" Jawabku.


"Liburan semester ini aku kirim tiket kamu susuk ke Amerika ya?" Pintanya.


"Aku sibuk banget Dam, Nenek minta tinggal sama Om Pram sementara orangtuaku ada perjalanan bisnis jadi aku yang harus bolak balik anter Nenek" Jawabku.


"Loh bukannya istrinya Om Pram lagi sakit?" Tanyanya.


"Makanya itu, nenek kan udah lansia jadi pikun gitu deh, maunya tetep kerumah Om Pram" Ujar ku.

__ADS_1


"Yaudah yang penting kamu tetap jaga kesehatan ya, selalu hati-hati" Perhatiannya.


"Iya sayang" Jawabku kaku.


"Udah dulu ya sayang, aku harus mandi dan istirahat soalnya besok mulai kekantor" Pamitnya.


"Oke, jaga hatinya ya" Ucapku sebelum menutup telepon.


Selesai mengobrol dengan Adam di telepon aku kembali melanjutkan mandi yang tadi belum selesai.


šŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒž


"Tiar udah lama gak keliatan, sibuk ya?" Sapa ibu-ibu komplek yang sedang berjoging.


"Eh iya Bu Joko, tugas kuliah numpuk" Jawabku ramah.


"Yaudah yuk kumpul di taman komplek, mau ada senam disana" Ajak seorang lagi.


"Boleh tuh Bu, lama gak olahraga badan rasanya bergelambir lemak semua" Jawabku.


Aku mengikuti ibu-ibu lain dari belakang, ternyata ramai sekali yang akan ikut instruksi senam.


Kami dibagi menjadi tiga barisan kelompok menurut komplek masing-masing, bagian ku bergabung dengan warga komplek sebelah.


Antusiasme mereka semua patut diacungi jempol, dari yang muda sampai usia lanjut tetap semangat berolahraga.


Instruktur senam mulai menyalakan soundnya, dan mengambil posisi pemanasan, saat melihat kearah depan tepatnya dua orang setelahku terlihat ibu-ibu yang sepertinya sangat kelelahan.


Awalnya beliau menolak tapi aku terus memaksanya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Ibu sakit atau bagaimana kok kelihatannya lelah sekali?" Tanyaku ramah.


"Satu minggu yang lalu saya baru pulang dari rumah sakit karena penyakit jantung saya kambuh" Jelasnya.


"Yaudah ini saya bawa air minum masih utuh kok, ibu minum ya" Aku memberikan sebotol kecil air mineral yang sudah aku buka tutupnya kepada beliau.


"Terima kasih banyak ya Nak kamu baik sekali padahal kita belum saling kenal, kalau boleh tau namamu siapa? biar saya ingat terus kebaikannya" Tanyanya.


"Nama saya Tiar Bu, tinggal di komplek Raflesia" Jelas ku.


"Namaku Saniah, panggil saja Nenek Sanah karena sebenarnya saya ini sudah sangat tua" Ujarnya.


"Kalau begitu saya antar pulang ya? tinggalnya di komplek mana Nek?" Tanyaku.


"Di Komplek Anggrek nomor 5 blok 1 M Nak" Jawabnya.


"Oh..berarti dekat, tetangga sebelah ya Nek? mari saya antar" Aku membantu Nenek Sanah untuk bangun dari duduknya.


Aku menyewa sepeda milik salah satu ibu-ibu komplek yang ada disana untuk membawa Nenek Sanah agar beliau tidak kelelahan berjalan.


Dengan menaikkan beliau diatas boncengan aku menuntun pelan sepeda wanita yang bagian depannya terdapat keranjang, sesekali beliau mengelap keringatku dengan handuk kecilnya.

__ADS_1


Sekitar lima belas menit lamanya kami sampai didepan pintu gerbang rumah beliau yang megah dan indah karena terdapat taman bunga tertata rapi dihalaman depan, koleksi Anggreknya bermacam-macam, mungkin itu sebabnya Komplek ini diberi nama Komplek Anggrek karena penghuninya pecinta tanaman Anggrek.


Aku memencet bel yang terpasang di tembok yang letaknya disebelah kiri gerbang, dua kali aku memencet bel dan tidak lama kemudian keluar seorang pria muda mengenakan kaos oblong celana pendek.


"Siapa ya?" Tanya Pria muda yang hanya memperhatikanku.


"Maaf Mas ini saya antar Nenek Sanah tadi kecapekan abis senam" Jawabku.


Aku merasa tidak asing dengan pria yang saat ini sedang berdiri dihadapan ku, seperti pernah bertemu sebelumnya tapi aku lupa dimana.


"Padahal udah aku larang kan tadi Nek, masih aja ngeyel udah gitu gak pamit lagi" Ujarnya.


"Yaudah yuk masuk dulu Mbak" Ajaknya.


"Oh gak usah Mas saya langsung pulang aja soalnya ini tadi sepeda minjam" Jelas ku.


"Jangan suka menolak ajakan orang lain Tiar, gak baik" Tutur Nenek Sanah.


Akhirnya dengan terpaksa aku masuk kerumah orang yang sama sekali tidak aku kenal untuk pertama kalinya.


Saat sampai di teras depan aku melihat ada mobil Pajero terparkir di carport, setelah melihat plat nomornya aku baru ingat bahwa pria muda itu adalah pria yang sama ketika aku akan menjenguk Dina, dan berarti Nenek yang dia maksud sedang kritis adalah Nenek Sanah.


"Nak ayo masuk, kok malah bengong disitu?" Tanya Nenek Sanah setelah kembali menghampiriku.


"Eh iya Nek" Jawabku singkat.


Aku Dan Nenek Sanah masuk kedalam ruang tamu yang berisi peralatan-peralatan klasik, sepertinya beliau suka sekali mengoleksi barang-barang antik.


"Ini minumnya Mbak" Ucap pria muda tadi sambil meletakkan secangkir teh hangat diatas meja kaca.


"Iya terima kasih Mas" Ucapku kemudian duduk di kursi kayu berukiran indah.


"Dari tadi aku perhatiin Mbak ini kalau gak salah yang waktu itu pakai mobil Honda Civic warna Lunar silver ya?" Tanyanya.


"Iya Mas benar, mas nya yang pakai mobil pajero bawa Neneknya yang lagi kritis ya?" Ujar ku.


"Iya benar ini neneknya yang saya bawa waktu itu, sekarang sudah sehat berkat Mbak juga nih jadi Nenek cepat ditangani" Ujarnya lagi.


"Engga lah Mas, semua itu karena kehendak Yang Maha Kuasa makanya Nenek bisa sehat kembali" Ucapku penuh senyuman.


"Oalah jadi Tiar ini yang kamu ceritakan wanita cantik baik hati itu Ga?" Ujar Neneknya yang membuat aku merasa canggung.


"Ah Nenek malu dong ada orangnya" Jawab Pria tadi.


"Kamu mah gayanya malu-malu, Yoga antar Nenek ke kamar ya? lelah sekali rasanya mau istirahat" Pinta Nenek Sanah.


"Oh ya sudah kalau begitu saya sekalian pamit ya Nek" Ucapku berpamitan.


"Nanti aja ngobrol dulu sama Yoga, Nenek bisa ke kamar sendiri Ga, kamu temani Tiar aja" Ucap Nenek Sanah kemudian pergi meninggalkan kami berdua di ruang tamu.


Suasana menjadi kikuk dan canggung, yang ada diantara kami hanya saling diam, karena hari juga sudah siang aku memutuskan untuk berpamitan pulang.

__ADS_1


Pria muda mengantarkan aku sampai di pintu gerbang supaya sekalian mengunci pagar.


__ADS_2