Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
18.Kekecewaan Adam


__ADS_3

Setelah sampai dipagar depan, dengan segera Pak Tarno membukakan gerbangnya.


Mataku terbelalak kare terkejut melihat mobil Adam sudah berada di halaman depan rumahku, namun kulihat di carport tidak ada mobil milik orangtuaku, berarti aman dia didalam sendiri belum ketemu sama mereka.


Ku tatap layar ponsel ada sepuluh panggilan tak terjawab dan lima pesan baru yang dikirim oleh Mama.


[Hari ini Papa sama Mama mau keluar kota mungkin besok baru pulang, kamu hati-hati dirumah jangan keluyuran] Pesan dari Mama.


[Satu lagi! Papa berpesan jangan sering-sering bertemu atau bahkan keluar bersama Adam lagi, tolong sedikit menjaga jarak ya sayang] Pesan kedua dari Mama.


Dan tiga pesan lainnya adalah pemberitahuan dari grup kelas.


Bahkan Adam tidak mengabari kalau dia akan kerumah.


Dengan langkah berat aku masuk kedalam rumah, bagaimanapun aku tidak bisa menghindarinya lagi.


Meskipun sebenarnya aku takut bertemu dengan Adam, aku takut dia kecewa dengan jawaban dari Papa.


Aku kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam rumah, ku beranikan diri menemui Adam.


"Hai Dam, udah lama disini?" Tanyaku setelah membuka pintu ruang tamu.


"Lumayan, sekitar dua jam yang lalu"


"Kamu ngapain kesini? kok tumben gak ngabarin aku dulu?"


"Liat ponsel kamu, aku telepon berapa kali?"


Pertanyaan Adam berhasil membuat aku kikuk tidak bisa menjawab apapun.


"Aku kesini cuma mau bilang, besok kan libur kadi aku mau ajak kamu ke Taman Cinta karena ada hal penting yang mau aku omongin" Ujarnya.


"Kenapa gak ngomong sekarang aja?" Tanyaku.


"Besok" Jawabnya singkat.


"Oh oke besok, tapi kita ketemu aja disana soalnya aku ada urusan lain dulu"


"Ya sudah terserah kamu, yang penting saling kirim kabar"


"Oke! besok aku kabarin jam berapanya"


"Yaudah kalau gitu aku pulang dulu ya?"


"Hah! gitu doang? gak mau makan dulu?" Tanyaku basa basi.


"Masih kenyang" Jawabnya singkat kemudian berlalu pergi.


šŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒž


Keesokan Harinya,


Semalam aku tidak bisa tidur karena gelisah memikirkan pembicaraan serius apa yang akan Adam bahas kali ini.


[Share located Taman Cinta Dam! aku lupa tempatnya] Isi pesanku kepada Adam sebelum berangkat.


Sepuluh menit kemudian ponselku bergetar, sepertinya Adam membalas pesanku.


[Share located]


Adam mengirimkan lokasi Taman Cinta yang kemudian aku membuka dan mengikuti petunjuk jalannya.


Empat puluh lima menit aku telah sampai di lokasi tujuan, dan segera menelepon Adam untuk mengetahui keberadaannya.


"Halo Dam" Sapa ku setelah mengangkat panggilan dariku.


"Iya Ti gimana? apa udah sampe?" Tanyanya dari sebrang telepon.


"Iya nih aku dari arah selatan, kamu dimana?"


"Jalan aja ke arah barat, aku duduk di bangku Taman tepatnya bawah gasebo" Jawabnya.


"Mobilnya gimana?"


"Gak apa biar disitu, mobilku gak jauh dari tempat kamu parkir"


"Oke aku kesana sekarang" aku kembali menyimpan ponselku dan mulai berjalan ke arah barat.


Sekitar seratus meter dari tempatku berdiri dari sudah terlihat gasebo yang Adam katakan saat di telepon tadi, tapi sepertinya tidak ada seorangpun disana.

__ADS_1


Aku berjalan untuk lebih dekat, barangkali pengelihatan ku yang salah.


"Lah katanya disini, tapi orangnya kok gak ada" Ujar ku setelah sampai di gasebo.


"Barusan sampe ya?" Sapa seseorang dari arah belakangku.


"Eh bikin kaget aja kamu, darimana aja?" Tanyaku kepada seseorang yang ternyata adalah Adam.


"Beli minum tadi disana" Adam menunjuk ke arah pedagang kaki lima yang berjualan di seberang jalan.


"Duduk dulu yuk, minum biar santai" Ajaknya.


"Langsung aja Dam, hal serius apa yang mau kamu bicarakan ?" Tanyaku penasaran.


"Jadi kamu mau langsung aja tanpa kita ya santai-santai dulu? kamu kan baru datang?"


"Aku gak punya banyak waktu Dam, soalnya ada urusan lain" Ucapku beralasan.


"Kamu inget gak ini dulu tempat apa?" Tanyanya.


"Ya Taman kan ? dari dulu mah emang Taman, gimana sih kamu kok nanyanya begitu, kita dulu kan sering main kesini kalau libur sekolah"


"Jawaban terakhir kamu itu yang aku mau dengar" Ujarnya.


"Maksudnya?" Tanyaku karena masih bingung.


"Gimana dengan ajakan ku? kamu terima atau gak? aku udah gak punya banyak waktu lagi Ti"


Aku diam seribu bahasa karena sedang menyiapkan jawaban yang tepat untuk Adam, karena tidak ingin mengecewakannya.


"Kenapa diem aja? atau gini aja deh, kita kerumah pohon sekarang"


"Ke rumah pohon? kita kan udah pernah kesana kompleknya udah kosong dan udah dikelilingi sama rumput liar"


"Tenang, aku udah suruh orang buat bersihin"


"Niat banget kamu Dam"


•••••


Pukul dua belas siang kami mengendarai mobil menuju rumah pohon, jaraknya sekitar satu jam perjalanan jika dari Taman Cinta.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya kami berdua sampai di depan portal masuk kedalam komplek.


Kami melanjutkan dengan berjalan kaki karena pengungkit portal sudah karatan jadi tidak bisa dinaikan, terpaksa mobil kami parkir diluar.


Benar saja yang dikatakan Adam, jalan menuju rumah pohon sudah bersih tidak ada semak belukar yang menghalangi.


"Akhirnya sampai juga, capek gak?" Tanya Adam setelah sampai di bawah rumah pohon.


"Lumayan, nih minum nya" Aku mengulurkan plastik berisi aneka minuman dan cemilan.


"Minumnya diatas aja lebih seru kayaknya, yuk naik" Ajaknya.


"Naik? enggak ah aku dibawah aja duduk di kursi itu" Aku terkejut dengan ajakan Adam.


Sedari dulu rumah pohon ini dibuat aku memang tidak pernah sekalipun naik diatasnya, sebenarnya aku tidak phobia dengan ketinggian hanya saja kalau sudah naik tidak akan bisa cara turunnya.


"Ayo naik Ti, rumah kamu juga lantai dua kenapa harus takut cuma sepuluh pijakan anak tangga aja" Namun Adam masih saja memaksaku untuk naik keatas rumah pohon.


"Yang ini pijakan tangganya beda Dam" Ujar ku.


"Sama aja, nih gini nih kamu injak kayunya terus tangannya pegangan di tambangnya" Ucap Adam seraya mencontohkan cara naiknya.


"Yaudah aku coba dulu" Perlahan aku menaiki pijakan pada anak tangga seperti yang sudah dipraktikkan oleh Adam barusan.


Dengan tanpa sadar aku sudah hampir sampai di puncak rumah pohon.


"Nah gitu kan berani" Ujar Adam sembari meraih tanganku untuk membantu naik keatas.


Aku dan Adam duduk bersebelahan di sisi depan dari rumah pohon, kaki kamu berayun kebawah, memandang sekeliling suasana komplek yang sudah sepi.


"Aku mau tau jawaban dari kamu hari ini" Tiba-tiba suara Adam menyadarkan lamunanku.


"Jaja....jawaban apa ya?" Tanyaku gugup.


Jantungku berdegup kencang, keringat dingin bercucuran rasanya ingin lari dari hadapan Adam.


"Jawaban dari ajakan ku bertunangan kemarin" Ujarnya tanpa basa basi.

__ADS_1


"Oh itu ya" Jawabku kaku.


"Iya, jadi gimana?" Tanyanya.


"Maaf Dam, untuk saat ini aku belum punya jawaban yang tepat buat kamu" Aku berusaha berbicara dengan tenang.


"Kenapa? orangtua kamu gak setuju?" Tebak Adam.


"Enggak kok, aku cuma masih perlu berpikir aja soalnya ini terlalu cepat" Aku menyangkal tebakannya.


"Aku gak mau kehilangan kamu lagi Ti" Ujarnya.


"Besok aku kasih kamu kepastian, untuk hari ini aku belum bisa" Jawabku yakin.


"Tolong, kasih aku kepastian hari ini Ti" Pintanya.


"Oke kalau kamu maksa, sebenarnya begitu kamu bilang itu besok paginya aku langsung bicara sama mereka sebelum pergi ke kampus, tapi ya seperti tebakan kamu, Papa belum mengizinkan aku terikat suatu hubungan pertunangan dengan seseorang bahkan beliau melarang aku bertemu dan harus menjaga jarak dari kamu, kalau mama sih aku yakin setuju-setuju aja" Aku menatap lekat kearah langit.


"Itu makanya akhir-akhir ini kamu menghindar dari aku?" Tanyanya.


"Sebenarnya aku udah mau bilang ini dari kemarin-kemarin, tapi aku takut bikin kamu kecewa dan jauhi aku" Kali ini aku menatap lekat kearah Adam, mata kami saling bertatapan.


"Ya enggak lah Ti, justru kalau kamu langsung bilang dari awal aku pasti akan cari cara untuk yakinkan Papa kamu" Jawabnya yakin.


"Maaf Dam, aku benar-benar bingung waktu itu harus gimana" Aku sangat merasa bersalah kepada Adam karena sudah menggantungkannya.


"Waktu kita gak banyak tinggal dua hari lagi, kamu mau bantu aku buat bikin Papa kamu yakin?"


Aku penasaran ingin tau apa yang akan dilakukan Adam untuk meyakinkan Papa, sedangkan aku sangat mengenal papa orangnya keras kepala jika sudah memilih suatu keputusan tidak dapat digoyahkan lagi.


"Aku akan datang ke rumahmu langsung bersama orangtuaku, siapa tau Papamu bisa luluh jika mereka yang berbicara, yang perlu kamu lakuin hanya pastiin mereka dirumah tidak sedang sibuk" Jawabnya.


"Tapi Dam, kalau misal papa tetap kukuh sama keputusannya kasian orangtua kamu, aku gak mau buat mereka nanti malu dan malah buat kita jauh" Ucapku khawatir.


"Apa salahnya kita silaturahmi sayang, janji ya kita berjuang jangan pernah menyerah" Tak biasanya dia memanggilku dengan panggilan seperti itu.


"Apa tadi apa?" Aku memintanya mengulang kalimatnya.


"Bukan apa-apa, pulang yuk udah sore ini" Ajaknya mengalihkan pembicaraan, Tidak terasa ternyata kami berdua sudah lama disini.


Kami memutuskan pulang kerumah, sebelumnya kami sempatkan untuk mampir ke salah satu rumah makan yang terkenal akan kelezatan masakannya.


ā˜˜ļøā˜˜ļøā˜˜ļøā˜˜ļøā˜˜ļø


Adam mengantarku pulang tapi hanya sampai pintu gerbang karena aku takut jika Papa sudah pulang kerumah dan mengetahui aku diantar oleh Adam pasti akan marah besar.


Setelah turun dari mobil Adam aku langsung buru-buru menyuruhnya pergi, kemudian masuk kedalam menggunakan kunci cadangan yang aku bawa.


Ketika sampai teras depan aku lihat mobil mereka belum ada di carport, segera aku masuk kedalam rumah karen hari sudah malam.


Ketika aku masuk kedalam suasana masih sepi hanya ada televisi yang masih menyala, mungkin Bik Inah atau Mbak Lastri lupa mematikannya.


"Dari mana aja Tiar jam segini baru pulang? katanya kampus libur?"


Terdengar suara yang tidak asing bagiku, segera aku mendekat ke arah sumber suara, ternyata ada Papa dan Mama yang sedang duduk dibawah sambil makan mie instan.


"Loh Papa sama Mama udah pulang? kok mobilnya gak ada?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Gak usah berlaga mengalihkan pembicaraan, kamu dari mana saja?" Ucap Papa mengulang kembali pertanyaannya.


"Dari keluar pa ada tugas mendadak" Ucapku berbohong.


"Ngerjain tugas sampai malam begini? kamu udah belajar bohong sama Papa" Ujarnya setelah duduk diatas sofa.


"Oke! Tiar keluar sama Adam Pa" Jawabku jujur.


"Oh jadi kamu melanggar perintah Papa,iya Tiar?" Amarah Papa mulai keluar.


"Pa! Tiar sudah besar, apa salahnya kalau Tiar memilih atas dasar keinginan Tiar sendiri? toh kuliah Tiar gak keganggu, nilai dan prestasi Tiar masih tetap bertahan" Berontak ku.


"Papa gak mau kamu sibuk pacaran sementara kuliah kamu terbengkalai, kamu anak semata wayang Papa! aset keluarga kita! jangan sampai membuat malu dan kecewa Papa, mulai besok jangan pernah temui Adam lagi atau kamu Papa kirim ke Inggris ikut Tante kamu!"


"Pa, jangan terlalu keras gitu ah sama Anak, Adam juga kan anaknya baik gak bakal lah dia aneh-aneh" Ucap Mama memberikan pembelaan kepadaku.


"Papa kepala keluarga disini, semua harus nurut sama perintah Papa! Mama gak usah ikut membela dia nanti jadi kebiasaan!" Ucap Papa dengan meninggikan suaranya.


"Perintah Papa egois! gak Adil! aku benci rumah ini" Ucapku kemudian berlari menuju kamar dan meninggalkan mereka yang masih bergeming satu sama lain.


Baru kali ini aku melihat Papa marah dan memaki seperti itu, padahal yang kutahu sebelumnya beliau adalah orang yang bijaksana dan sangat penyayang kepada keluarganya, sebegitu bahayakah Adam untukku dimata Papa.

__ADS_1


Aku mengunci rapat-rapat kamarku dari dalam, ku tumpahkan hancurnya perasaanku hari ini lewat air mata sampai tertidur.


__ADS_2