Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 39


__ADS_3

Adel berharap semoga Andini tidak mendengar apalagi melihat apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Varel. Jantungnya berdetak sangat cepat karena khawatir. Apalagi kini, Andini menatap Adel dengan ekspresi yang tak bisa ia artikan.


"Andini, kau...." Entah bagaimana Adel akan menjelaskannya kepada Andini. Ia merasa sedang di kuliti oleh tatapan Andini.


Namun, belum sempat Adel melanjutkan kalimatnya untuk menjelaskan, Andini tersenyum kepadanya dan berkata, "Aku juga mau ke toilet, kebelet!"


Andini mengu lum senyum ramahnya seperti biasa, yang mana membuat Adel lega sekaligus merasa bersalah.


"Oh, kalau gitu aku keluar dulu. Kak Gema menungguku untuk pulang," ucap Adel masih dengan perasaan canggung.


"Baiklah, habis ini aku sama Mas Varel juga mau pulang," sahut Andini.


Adel hanya tersenyum dan melangkah meninggalkan Andini yang juga melangkah masuk ke lorong yang mana disana masih ada Varel.


"Huft..." Adel menghela napas lega. Untung Andini tidak mendengar ataupun melihat apa yang Varel lakukan barusan, pikiranya.


Sementara Andini mendekati Varel yang tak kalah terkejutnya dengan Adel tadi saat berpapasan dengan Andini.


"Mas, kok di sini?" tanya Andini.


"Eh, ini lagi mau ke toilet pria!" Varel menunjuk arah toilet Pria yang letaknya juga harus melewati lorong tersebut.


"Ohh, ya udah sana! Aku juga mau ke toilet, habis ini pulang ya, mas?" kata Andini seraya tersenyum.


"Hem," Varel mengangguk, ia langsung menuju toilet pria yang berada di sisi kanan. Sedangkan Andini berjakan ke sisi kiri


Setelah masuk ke toilet pria, ia menghela napas lega. Untung saja, letak toilet pria yang memang mengharuskan lewat lorong yang sama yang ujungnya bercabang memisahkan arah toilet pria dan wanita.


Sementara Andini langsung mengepalkan tangannya kuat di depan cermin dengan wajah yang kembali tegang. Namun, setetes air mata jatuh dari sudut matanya.


.

__ADS_1


.


.


Adel bergegas mencari Gema, "Kak, kita pulang sekarang saja, ya? Aku capek," ucap Adel dan Gema mengiyakannya.


"Kita pamit kepada pengantinnya dulu, ya?"


Adel hanya mengangguk mengiyakan. Mereka pun pamit setelah menemui pengantin.


Dalam perjalanan pulang, Adel lebih banyak diam dan melempar pandangannya ke luar jendela. Apa yang terjadi di lorong menuju toilet tadi benar-benar susah lepas dari pikirannya. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benaknya. Kenapa Varel melakukannya? Apa maunya pria itu? Bukankah sudah jelas ia memiliki Andini, tapi kenapa ia melakukannya? Apa untuk membalas dendam atas rasa sakitnya dulu? Atau...sebenarnya pria itu masih mencintainya? Kalau iya, lantas kenapa ia memilih bertunangan dengan wanita lain, Bukan menunggunya? Sebenarnya ada apa dan kenapa ini?


Pertanyaan-pertanyaan yang mulai sedikit menggoyahkan hati Adelia. Ia bisa merasakan jika ciuman Varel tadi bukanlah naf su semata, namun juga tersirat perasaan yang begitu dalam untuknya. Semakin ia mencoba menyelami perasaannya dan juga Varel, semakin Adel merasa frustrasi sendiri.


"Tidak, mikir apa sih aku, aku nggak boleh baper! Ingat, Del. Dia udah punya tunangan, apapun alasannya, salah!" Adel menggeleng-gelengkan kepalanya. Lupa jika ia sedang berada di dalam mobil bersama Gema.


"Kenapa?" tanya Gema karena melihat Adel bersikap aneh.


Suasana kembali hening, baik Gema maupun Adel larut dalam pikirn masing-masing.


"Del!" panggil Gema.


"Iya, kak. Kenapa?" Adel menoleh.


"Saya rasa ini waktu yang tepat buat kita memperjelas hubungan kita yang sebenarnya," ucap Gema.


Adel masih diam tak mengerti kemana arah pembicaraan Gema.


Melihat ekspresi bingung dan juga tak ada respon dari Adel, Gema mencoba bicara lebih jelas lagi.


"Emmm... , maksud saya, saya berniat menjadikan hubungan kita nyata, bukan hanya bohongan. Menurut kamu bagaimana? Apa kamu mau jadi kekasih saya beneran?" tanya Gema. Ia sudah mempertimbangkan pertanyaanya tersebut sebelumnya. Ia serius menyukai Adel dari sejak pertama kali mereka bertemu.

__ADS_1


Adel terkejut mendengar pertanyaan Gema yang benar-benar di luar dugaannya tersebut. Belum pikirannya tenang karena kejadian tadi, ini Gema malah menyatakan perasaannya.


"Kak Gema, aku....,"Adel tak tahu harus menjawab apa. Ia akui jika sampai detik ini, hanya ada satu nama yang bersemayam di hatinya, yaitu Varel.


Gema tersenyum mengerti, "Tidak apa-apa. Tidak perlu kamu jawab sekarang, kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu. Dan saya harap, setelah ini apa yang saya katakan barusan tidak akan mempengaruhi kedekatan kita seperti sebelumnya, ya?" ucapnya yang sebenanrnya tak siap jika di tolak. Logikanya, pria mana yang siap di tolak oleh wanita yang ia cintai. Memang ada pepatah cinta tak harus memiliki itu, namun jika harus jujur semua pria memiliki perasaan egois untuk memiliki. Bukan hanya pria, untuk wanita pun berllaku demikian.


" Udah, janga dipikirkan, anggap saja saya tadi tidak ngomong apa-apa," ucap Gema lagi yang merasa salah tingkah dan merasa bersalah karena Adel menjadi diam tanpa bersuara.


"Aku mau!" ucap Adel spontan.


Gema menoleh demi memastikan jawaban gadis di sebelahnya, "Mau?" tanyanya sedikit ragu.


Adel mengangguk, "Aku mau mencoba, aku mau jadi pacar kak Gema," ucapnya meyakinkan dirinya sendiri dan juga Gema. Meski sebenarnya ia terpaksa menerima pria tersebut. Tak ada salahnya mencoba membuka hati untuk pria lain.


Sebelumnya, bukannya ia tak pernah mencoba move on dari Varel, melainkan selalu gagal. Saat di Canada, ia sempat di dekati beberapa pria teman kuliah jug teman sekantornya tapi, selalu saja gagal.


Bukankah cara terbaik move in dari cinta adalah menemukan cinta yang lain? Meskipun tak yakin akan berhasil, namun Adel berani mengambil langkah tersebut.


"Benarkah?" sangking senangnya, Gema sampai menghentikan mobilnya, ia terlalu bersemangat hingga tanpa sadar ingin memeluk Adel. Namun, Adel belum siap menerima pelukan pria tersebut. Ia mundur, menghindari pelukan pria tersebut.


"Maaf, saya terlalu senang jadi lepas kendali," ucap Gema tersenyum.


"Maaf, aku hanya belum terbiasa," ucap Adel lirih. Ia belum bisa menerima pelukan pria selain Varel.


"Tidak apa-apa, saya mengerti. Kalau begini boleh?" Gema menggenggam tangan Adel. Meski merasa aneh, tapi Adel mengangguk. Hanya bergandengan tangan, pikirnya


Dan malam ini, ia resmi menjadi kekasih dari Gema.


Apakah ini keputusan buru-buru yang tepat? Entahlah, Adel bahkan tak sempat memikirkan bagaimana nanti hubungan mereka akan berjalan.


Dalam hati, sebenarnya adel merasa bersalah dengan Gema yang tanpa sengaja hanya dijadikan pelarian tersebut. Namun, ya sudahlah, semua sudah terlanjur, ia tak mungkin menarik ucapannya dengan mengatakan jika ucapannya tadi adalah khilaf sesaat, bukan? Ia tak sekejam itu untuk mematahkan perasaan Gema yang saat ini sedang berbunga-bunga tersebut.

__ADS_1


__ADS_2